Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Emosi yang mereda


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Segera kumasuki kamar Mayra-ku saat ini, ia yang sedang asik bermain boneka tampak kaget saat aku terlalu keras mendorong pintu kamarnya.


Kududukkan diriku di tepi ranjangnya setelah sebelumnya kukunci kamarnya.


"Bunda kenapa?" tanyanya saat dilihat air mataku mulai mengalir.


Aku hanya menggeleng, tak mampu berkata-kata.


Hingga tak lama kemudian ...


Tok ... Tok ...


"Sayang, buka pintunya..!!! Tolong maafkan Mas..!!!"


"Mayra, kau didalam kan Nak, tolong buka pintunya Sayang..!!"


"Mayra boleh buka pintunya Bunda?"


Tampak bunda menggeleng.


"Mayra tidak boleh buka pintu Ayah, bunda sedang sedih,"


Hahhh, Lyra-ku pasti sedang menangis di dalam. Apa yang harus kulakukan. Bodoh, sangat bodoh kau Dimas, batin Dimas.


"Mayra, kalian belum makan kan? Ayo ajak bunda makan Nak, kasihan dede bayi juga sudah lapar tuh," mas Dimas berusaha membujukku kembali.


Mayra tiba-tiba meletakkan wajahnya ke perutku, "Dede bayi sudah lapar belum? Kakak Mayra sudah lapar nih, kita makan yuk..!!!"


Oh, Mayraku bahkan saat bunda bersedih kau mampu membuat bunda ingin tersenyum dengan celotehmu.


"Kakak Mayra lapar ya? Kakak makan duluan bersama Ayah yaa!! Nanti bunda menyusul," ujarku tak ingin Mayra jadi ikut menahan lapar karenaku.


"Bunda juga belum makan kan? Bunda juga makan ya, nanti dede bayi sakit gimana?" Mayra terus berceloteh sambil tangannya menyapu wajahku.


Putriku yang pintar, sini Sayang..!! "Bunda sangat sayang Mayra." Aku menciumi wajah Mayraku kini.


"Mayra juga sayang Bunda," jawabnya sambil membalas menciumku.

__ADS_1


"Kita makan ya Bund...!!" Mata Mayra yang memancarkan pengharapan sungguh tak bisa aku menolaknya.


Akupun mengangguk, "Baiklah Sayang."


Dan kami keluar saat ini, Mas Dimas yang masih berdiri mematung didepan kamar seketika meraih lenganku dan menahannya.


"Mayra turun kebawah dulu yaa, nanti ayah dan bunda menyusul."


Mayrapun mengangguk.


Mas Dimas menarikku ke kamar Mayra hingga aku duduk di tepi ranjang seperti sebelumnya. Ia kini bersimpuh di hadapanku sambil terus menatapku, namun aku masih merasa sakit, kubuang wajahku dari tatapan mas Dimas.


"Maafkan Mas," lirih mas Dimas sambil beberapa kali mencium jemariku.


"Hari ini banyak hal buruk terjadi di ruko di Bekasi, dan saat melihat Friss semua masalah seakan kembali berkumpul diotak Mas. Terlebih saat Friss mengatakan kau yang membawanya kerumah ini, maaf Sayang seketika mas terbawa emosi dan terus menumpahkan kekesalan mas tanpa memberimu kesempatan bicara. Maaf," lirih mas Dimas, terus berusaha meredam emosiku. Tapi aku masih tak ingin menatapnya.


"Jangan seperti ini Sayang, jangan membuang wajahmu. Mas ingin menatapmu."


Tak mendapat respon, mas Dimas kini berdiri. Ia menarik kepalaku ke tubuhnya. "Lyra boleh memukul Mas, memaki Mas, tapi jangan diam."


"Baby twins pasti sedih merasakan bundanya bersedih, Maaf Sayang," ujar mas Dimas kembali sambil terus mengecup kepalaku yang tak tertutup hijab.


Air mataku mulai menetes kembali saat permintaan maaf terus keluar dari bibir mas Dimas, bagaimanapun aku juga bersalah. Aku tak meminta izin suamiku, saat membawa mbak Friss kerumah tadi. Dan aku seketika melingkarkan tanganku ke tubuh mas Dimas sebagai tanda emosiku tlah mereda.


Setelah suasana telah mencair mas Dimas duduk di sisiku. Aku menatap wajah tulus mas Dimasku, iya ... tidak semua salah mas aku juga bersalah, batinku.


"Maafkan aku Mas,"


"Mas ... mas tidak menjawab maafku??" ujarku lagi saat kulihat mas tidak merespon ucapanku.


"Tadi Mas sudah banyak bicara sekarang waktunya Lyra bicara, Mas akan mendengar ...," ujar mas Dimas tak melepaskan tatapannya.


"Di rumah sakit tadi aku melihat mbak Friss ingin mengakhiri hidupnya Mas. Sel kankernya sudah menjalar, serangkaian kemoterapi harus dilaluinya dan ia merasa tak ada semangat untuk menjalani hidup. Untuk menghentikan aksi nekatnya terpaksa aku menyetujui syaratnya, yaitu untuk mendapatkan cinta Mayra sebagai semangat hidupnya. Dan tadi aku tidak membawa ponsel untuk meminta izin pada Mas jadi aku memutuskan semua sendiri, maaf. Tapi bukan berarti aku tidak menghargai Mas. Sejujurnya aku juga tidak suka mbak Friss ada disini, tapi aku benar-benar tidak ada pilihan.


Aku juga tidak pernah menganggap rumah kita penampungan, hingga harus membawa orang asing. Akupun sadar mbak Friss bisa menjadi ular dalam hubungan kita. Tetapi aku lebih yakin kalau Mas akan berusaha menjaga pernikahan kita. Iya kan Mas??"


Kulihat mas Dimas mengangguk.


"Dan Mayra, aku hanya akan membuat Mayra menyayangi mbak Friss tapi tidak untuk mengambilnya dariku. Mayra putriku. Betul kan Mas??"


Mas Dimas mengangguk kembali kini.


"Hanya itu yang ingin kusampaikan Mas, smoga Mas, memahami kondisiku saat itu, hingga harus membawa mantan istrimu kerumah kita."

__ADS_1


"Sayang, kenapa kau begitu baik. Mas tau Friss, ia bisa melakukan apapun untuk mendapatkan yang diinginkannya. Dan mas hawatir ...."


"Mungkinkah yang diinginkan mbak Friss adalah dirimu Mas??"


"Husss, buang fikiran seperti itu, Mas sudah jijik padanya. Lagipula otak Mas masih waras untuk tidak tergoda dengannya. Tapi Mas menghawatirkanmu, Mayra dan calon bayi kita. Terlebih dengan sikapmu yang terlalu baik padanya."


"Kita lanjutkan lagi nanti, Mayra pasti sudah lama menunggu kita di bawah. Ayo kita turun..!!" ujar mas Dimas kembali.


Dan akupun mengangguk.


●●●●


"Bunda dan Ayah lama sekali, Mayra sudah lapar."


"Apa Non mau makan lebih dulu saja?" ucap bik Lasmi.


"Mayra mau makan bareng bunda dan adik bayi, Bik."


"Oh, oke. Kalau gitu sabar tunggu sebentar lagi ya Non."


Duhh, jangan-jangan ibu lagi dimarahin Pak Dimas. Baru 1 hari bu Friss disini, jam makan malam langsung mundur, batin bik Lasmi.


"Haii cantikk," Friss yang baru datang tiba-tiba langsung mencium Mayra.


"Tante jangan cium-cium Mayra, Mayra nggak suka dicium orang asing," polos Mayra.


"Aku bukan orang asing. Oya, mana ibu dan ayahmu?" ucap Friss.


"Masih diatas, Mayra disuruh duluan tadi," celoteh Mayra.


"Ibumu pasti tadi menangis?"


"Darimana Tante tau."


Hmm, baguslah berarti Dimas sudah marah pada Lyra, batin Friss menyeringai.


"Itu ayah dan bunda," tunjuk Mayra pada 2 sosok yang sedang menuruni tangga saat ini. Mayra dan bik Lasmi tampak senang melihat Ayah merangkulkan tangannya di bahu bunda, menandakan keduanya baik-baik saja. Sudah baik-baik saja lebih tepatnya.


Dan Friss, ia tercengang ... bagaimana ini bisa terjadi??


Dulu mas Dimas bisa berhari-hari diam jika aku membuat kesalahan, tapi mengapa emosinya kini cepat mereda??


🌷🌷🌷

__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2