
🌻Di kantin Jam makan siang
"Lo kenapa sih Ly gw perhatiin di line kerja cemberut aja, tengak tengok terus kedepan kayak orang gak tenang. Bukannya harusnya lo seneng udah balik ke stage lo lagi dan gak gantiin yang gak masuk?" tanya Kak Fida padaku.
Aku memang gak menceritakan kejadian beberapa hari ini kepada Kak Fida.
"Bagaimana aku memberitahu tentang rasaku pada Pak Dimas, bisa jadi Kak Fida mentertawaiku," fikirku.
"Gapapa ko ka," ujarku.
"Oya, gimana tuh Bayu? berani datang lagi gak tuh dia?"
Aku memang menceritakan kejadian sore itu pada kak Fida.
"Semenjak kejadian itu, gak pernah sih Kak," jawabku.
"Gw jadi penasaran sosok mas Rino, Lyra, kapan-kapan kenalin dong," ujarnya antusias.
"Hmm, boleh. Nanti ya ka kalau waktunya pas."
"Bener ya Ly, gw tunggu janji lo. Kayaknya dari cerita lo dia dewasa banget. Hmm, jadi pengen ketemu aslinya mas Rino seperti apa?" tambahnya lagi.
"Iya Kak Fidakuu," kulanjutkan kembali makanku sambil sesekali ku tengok kekanan dan kekiri, mungkin saja aku akan menemukan sosok bertopi putih yang 3 hari kmarin selalu menjadi semangatku. Kumerasa ada sesuatu yang hilang, karna sejak pagi mataku belum menangkap bayangnya.
Kucari ... dan terus kucari,
Sampai pandanganku tertuju pada sosok lelaki yang duduk sekitar 5 meter dari tempatku.
Itu sosoknya.
Sosok yang ku cari.
"Dia ada ... benarkah??" seakan tak percaya.
Dan memang benar itu sosok Pak Dimas Anggoro..
__ADS_1
Akhirnya kumenemukannya.
Tak lama berselang seorang wanita membawa nampan makan siang menuju bangku di sebelahnya, aku mengenali sosok itu. Ia adalah Mbak Fris yang dikabarkan tak pernah menyerah merebut hati Pak Dimas.
Dan kini kulihat dengan mataku sendiri, bagaimana 2 sejoli yang terlihat cocok berdampingan.
Pak Dimas yang cukup tampan dan mbak Fris yang manis. Kuperhatikan mbak Fris tak henti-hentinya berbicara dan bercerita pada Pak Dimas. Namun ada hal yang membuatku aneh. Wajah Pak Dimas tak menampilkan rona bahagia, biasa saja lebih tepatnya. Ia cenderung diam mendengar setiap celoteh mbak Fris, walau sesekali ia menanggapinya dengan anggukan. Aku jadi bersemangat kembali.
"Setidaknya masih ada peluangku .... Hahh, fikiran apa ini, bisik hatiku lagi.
Otakku terus berputar sambil memperhatikan Pak Dimas.
Ingin rasanya melihat sosok tersebut dari dekat.
Sosok bertopi putih yang belakangan ini selalu membuyarkan daya kerja otakku.
Yang sejak pagi mataku tak pernah berhenti mencarinya.
Bagaimana ya, cara untuk menunjukkan kehadiranku padanya, batinku.
Tanpa menghiraukan kehadiran Mbak Fris.
Spontan kuberdiri dari tempat dudukku.
Keberjalan menuju water dispenser yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.
"Aku akan berjalan santai seolah tak menyadari kehadiran dia disana," fikirku dalam hati
Setelah sampai tepat di depan water dispenser tujuanku, kulirik tempat pak Dimas berada.
Dan..
Dimana dia?
Hanya ada sosok mbak Fris sedang makan disana..?
__ADS_1
Bukankah tadi ...
●●●●
"Apa kamu sudah selesai ambil minumnya??" tanya seseorang padaku.
Merasa tak ada jawaban dariku.
Ia kemudian menepuk pundakku yang masih tak bergerak memperhatikan bangku tempat Pak Dimas tadi berada.
°°Akupun tersadar, "Bisa minggir sedikit!" ucap sosok itu lagi.
"Kenapa tak asing suara ini," lirihku.
Kubalikkan tubuhku.
"Bapak ...." Kupandangi dan kutelusuri tiap bagian wajahnya, antara malu dan rasa bahagia bisa melihatnya sedekat ini. Dan seketika jantungku kembali memompa lebih cepat dan sesak rasanya.
Begitu sempurna Tuhan menciptakan tiap garis wajahmu Pak, lirihku dalam hati.
"Sudah puas melihatku," ujarnya membuyarkan keterpakuanku.
"Sudah Pak," jawabku spontan.
Oh, knapa mulutku begitu jujurnya. Kututup mulutku seketika.
Kuberlalu menuju tempat dudukku berselimuti rasa malu di otakku.
Berkali kulirik sosok bertopi itu yang tampak berbinar pula dengan kejadian tadi.
Dan di sudut sana Mbak Fris ternyata memperhatikan kami..
●●●●
🌻happy reading❤❤
__ADS_1