
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
14:50 SENTRA DUTA RESIDENCE
🌻Dimas ...
Akhirnya gerbang perumahan telah kumasuki, kulajukan landai Teriosku, beberapa kali kurasakan istriku tengah memperhatikanku namun aku tetap fokus dengan kemudiku seolah tak mengetahuinya. Hingga kulihat Yaris hitam terparkir diluar rumahku.
Itu mobil rekan Shifaa, ternyata ia sudah sangat hafal daerah sini sepertinya, batinku.
Kutengok Lyra istriku juga tampak serius menatap Yaris hitam tersebut, seketika rasanya aku ingin tertawa, lagi-lagi kami seperti pasangan kepo saat ini.
Kubelokkan ke kiri kemudiku, beberapa saat kutunggu mang Diman membuka gerbangku seraya kupicingkan mataku menatap serius ke arah mobil yang berhenti di hadapanku kini. Pandanganku terus kutuju pada kursi disisi kemudi. Memastikan apakah adikku masih di mobil tersebut atau sudah masuk ke rumah.
Kuperhatikan seksama ternyata adikku masih dimobil tersebut, ia tampak serius berbincang dengan seorang pria. Baru aku hendak mengalihkan tatapanku pada sang pria, pintu gerbang tampak terbuka, akupun melajukan teriosku kedalam saat ini.
"Mas, aku langsung istirahat di atas ya," ujar Lyraku sebelum bayangnya menghilang dari balik pintu besar berwarna putih dihadapanku.
Mbak Dinar yang menggendong Dirga serta Mayra juga tampak telah menghilang berlalu kedalam rumah saat ini. Aku menyerahkan tas bayiku kepada Bik Lasmi untuk diletakkan diatas. Sedang aku, masih di ruang tamu kini menunggu adikku masuk.
5 Menit berlalu, sosok yang sedang kutunggu menampakkan dirinya. Tampak Shifa berjalan sambil terus tersenyum saat ini, anak itu kenapa terus tersenyum, batinku.
Hingga kini ia melewati pintu utama rumahku, ia tampak melenggang cantik hingga akhirnya ia tampak terkaget melihat kehadiranku.
"Mass," Shifaa tampak menyapa dan mencium tanganku saat ini.
"Sikembar mana Mas, aku kangen mau cium mereka?"
"Tunggu, mas mau bicara, duduklah..!!" seketika kupanggil adikku yang tampak hendak berlalu ke lantai atas menemui bayi kembarku.
Dan adikku tampak menurut dan duduk dengan manis di hadapanku.
"Mengapa temanmu tidah diajak masuk?" tanyaku.
"Tadi sudah ku-ajak Mas tapi menu-rutnya kalian sedang sangat letih," ucap adikku tampak terbata kudengar.
"Apa itu bukan alasan dia saja?"
"Bukan Mas, sebelumnya ia juga bilang ingin kenal dengan mas dan mbak," ujar Shifaa terus membela temannya.
Baguslah kalau memang begitu, kabari saja kalau ia ingin kesini," ujarku.
"Siap Mas, sudah kan Mas, aku naik keatas ya?"
"Ehh, tunggu dulu. Cerita dulu sejauh mana hubungan kalian. Kalian sudah jadian kah?"
Kutatap lekat wajah adikku yang tiba-tiba terus tersipu dan tersenyum.
"Heii, kalau ditanya tuh jawab bukan senyum..!!!"
"Hee, maaf Mas. Iya sudah Mas," jawab Shifa saat ini.
"Sudah apa maksudnya? Yang jelas kalau bicara.!!!" kutatap kembali adikku malu dan terus menahan senyumnya.
Tergambar jelas adikku sedang jatuh cinta saat ini. Seketika aku teringat Lyra yang sering malu mengungkapkan perasaannya, mungkin wanita seperti itu kali ya, ia akan malu jika membicarakan tentang rasanya. Dan aku jadi ikut tersenyum-tersenyum juga saat ini.
"Ihh, mas gak jelas deh. Kenapa juga ikut senyum-senyum? kepikiran mbak Lyra yaaa,"
"Apaan sih anak nakal," seketika mas Dimas menarik hidungku.
"Ahh sakit Masss," ucap Shifaa seraya terus menyentuh hidungnya.
"Lagi pada ngapain sih kayaknya seru banget?" seketika Lyraku yang baru turun dari lantai atas menghampiri kami.
"Sini Sayang, Mas lagi tanya-tanya tentang kekasih Shifa," ucapku, tampak Lyraku bersemangat mendekat dan kini sudah duduk di sampingku.
Lyraku tampak terdiam beberapa saat hingga kemudian ia menarik nafas dan berujar ...
"Kekasih? memang kamu sudah jadian Dek?" tanya Lyra saat ini.
Dan adikku tampak mengangguk saat ini.
"Jujur aja sebenarnya mbak gak suka kamu jadian-jadian sama cowok, takut dia cuma manfaatin kamu, belum tentu juga dia jadi suami kamu."
"Curhat ya Mbak," aku seketika menggoda Lyraku dengan menyapu hidungnya.
"Ya sudah, silahkan sesama wanita saling berbagi pengalaman. Mas mau siap-siap ke toko."
Dan aku segera beranjak ke kamar atas mengganti outfitku baru setelahnya kumenghambur keluar siap bertugas mencari rupiah untuk anak-anak dan istriku.
🌻***Lyra*** ...
__ADS_1
Aku turun kelantai bawah hendak kedapur bertemu Bik Lasmi, namun di tengah perjalanan kudengar riuh suara 2 saudara di ruang tamu. Akupun segera menghampiri mereka.
Mas Dimas seketika berujar bahwa ia sedang mencari tahu tentang kekasih Shifa, aku yang mendengar memacukan langkahku ikut bersemangat ingin tau tentang pria itu. Aku duduk di sisi suamiku hingga tiba-tiba aku teringat bayangan lelaki yang bersama Shifa mirip *Fir-gie*.
Aku segera memfokuskan diri kembali dan mempertanyakan kebenaran status Shifa dan laki-laki itu. Akupun mengemukakan pendapatku setelahnya ...
"Jujur aja sebenarnya mbak gak suka kamu jadian-jadian sama cowok, takut dia cuma manfaatin kamu, belum tentu juga dia jadi suami kamu." ucapku kala itu.
Dan seketika itu pula mas Dimas menggodaku dengan mencolek hidungku, ia berujar ... *Curhat ya Mbak*??
*Apaan sih Mas Dimas gak jelas bikin malu aku aja di depan Shifa aja*, batinku.
Setelah bersiap beberapa saat di kamar, mas Dimas tampak turun dengan kemeja katun berwarna Soft blue dan berpamitan padaku dan Shifaa. Tak lama pula kudengar Teriosnya telah keluar dari gerbang rumah kami.
Kulanjutkan kembali obrolanku dengan Shifaa saat ini,
Tampak Shifaa menanggapi pendapatku sebelumnya, "Mbak, mbak tenang aja Shifa bisa jaga diri kok lagi pula pacar Shifa ini orang baik kok. Kalau bisa sih Shifaa maunya juga pacaran sekali dan dia adalah jodoh Shifaa."
"Sudah berapa lama hubungan kalian?"
Sifa mengacungkan 4 jarinya kini, "4 hari Mbak," ujarnya polos.
Akupun ingin tersenyum dan menggeleng-geleng saat ini.
"Mas orangnya dewasa Mbak, dia ngemong aku, baik dan jagain aku," ujar Shifaa.
Mendengar Shifaa memanggil kekasihnya dengan panggilan Mas, aku jadi teringat Mas Dimas yang meminta di panggil Mas saat di PT dulu, dan seketika aku ingin tersenyum mengingat masa laluku bertemu masnya.
"Ihh, mbak sama anehnya sama Mas Dimas dan Masku itu," ucap polos Shifa.
"Memang kami aneh kenapa?" tanyaku penasaran.
"Suka senyum-senyum sendiri gak jelas. Mas Dimas tadi juga begitu, inget sama Mbak Lyra dulu, Mas pacarku ia juga sering tiba-tiba senyum sendiri katanya inget mantannya, dan sekarang Mbak, Mbak inget dulu waktu pacaran sama mas Dimas ya??"
Aku seketika mengangguk sembari tersenyum. *Duhh anak ini kenapa bisa bener sih omongannya, udah tau aku gak bisa bohong orangnya*, batinku.
"Eh tunggu, tunggu mas pacarmu masih inget pacarnya kah? jangan-jangan kamu cuma buat pelarian dia Dek ...," ucapku.
"Nggaklah Mbak, dia sama mantannya udah lama pisahnya kok. Mantannya juga udah nikah sama orang lain. Dia mau belajar mencintai lagi katanya."
"Ohh, Oya ... kamu kok manggilnya Mas sih, emang berapa usia dia?" tanyaku kembali.
"29 mau 30 mbak."
__ADS_1
"Gak ketuaan itu Dek sama kamu, pantaran mas dimas dong?" ujarku.
"Emang sih udah mau 30 tahun tapi wajahnya masih kayak 24 tahun kok Mbak, orangnya ganteng. Kayak Mas Dimas juga udah 30 tahun tapi masih kelihatan muda,"
"Dia kerja apa?"
"Dia punya usaha ke...
*Oekk ... Oekkk* ...
"Nanti lanjut lagi ya Dek, Mbak keatas dulu," dan seketika akupun berjalan cepat menelusuri tangga saat ini..
●●●●
Pukul 19:30 saat ini,
kami sekeluarga berkumpul untuk memberi hak pada perut kami. Tampak opor ayam, sambel goreng kentang menjadi primadona malam ini.
Kamipun sangat bersemangat kini menyantap hidangan yang disajikan Bik Lasmi tersebut. Berkali-kali Mayra tampak minta di tambahkan kuah opor ayam ke piringnya, Shifaa tampak lahap menyantap hidangan di piringnya sambil sesekali ia terlihat tersenyum sendiri. Dirga dan Diyara bermain di kamar bersama mbak Dinar.
Dan aku sedang ingin menyuapi suamiku saat ini, "A Mas, ayo buka mulut Mas..!!!" ujarku.
"Biar Mas makan sendiri Sayang," ucap mas Dimas sambil terus menatapku.
"Ayolah Mas, untuk malam ini aku mau menyuapi Mas," lirihku.
"2 suapan saja yaa, selebihnya biar mas makan sendiri," ujar mas kembali dan aku mengiyakan.
Kamipun memakan makanan kami masing-masing setelahnya.
"Gimana Dek kapan mau dibawa kesini temanmu?" ujarku seraya melahap makanan di sendokku.
"Besok malam bawalah temanmu ke rumah, jika ia memang serius ...," terdapat kata tantangan dari ucapan mas Dimas disana.
"Hmm, nanti aku obrolin dulu ya Mbak, Mas," ucap Shifaa setelahnya.
🌻Kamar Tidur
Kuberjalan dengan segelas air saat ini mendekati pemilik hatiku berada. Dan lelaki disana tampak telah menanti kedatanganku.
Segera kuberikan air yang kubawa saat lelakiku telah berdiri dihadapanku. Kulihat ia membuka suatu botol berisi tablet berbentuk hati yang biasanya selalu diminumnya dengan sembunyi-sembunyi ... dan kini ia meminumnya dihadapanku.
"Mass, besok jadikan kita ke dr. Riyan memeriksakan jantungmu," ucapku saat kulihat mas Dimas mulai duduk disisiku yang bersandar di ranjang.
"Sayang, bukan Mas menolak. Hanya saja Mas sedang tidak merasakan Sakit. Bagaimana jika nanti saat mas merasakan sakit kita baru berobat."
Mass ... haruskah menunggu sakit dahulu, batinku bergejolak.
🌷🌷🌷
🌻Terima kasih banyak atas dukungan kawan-kawan readersku masih setia membaca Kisah Lyra yang semakin panjang seperti sinetron karena tuntutan NT😊😊
🌻Terima kasih pula pada readersku yang selalu menyelipkan komen setiap selesai baca tiap babnya, walau Thor gak sempat balas semua, tapi Thor selalu menunggu komen kalian dan selalu Thor sematkan like di komen kalian❤❤
🌻Mohon bantuan kalian juga ya, jika memang suka karya Thor untuk ikut mempromosikan karya ini agar bisa memiliki banyak pembaca😊🙏🙏
__ADS_1
🌻Yang jelas Thor berterima kasih atas support selama ini😘😘
🌻Happy reading❤❤