Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Wanita yang tak asing


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻PUKUL 22:10


Aku masih duduk bersandar di ranjang dengan ponsel di tanganku, dan Mas Dimas terlihat sedang meletakkan laptopnya ke meja di sisi sofa, iapun menghampiriku kini ...


"Sudah selesai tugasnya Mas?"


"Sudah, sedang lihat apa sih? Belum mengantuk?"


"Ini sedang lihat-lihat mukena di toko online untuk Mayra, tadi dia sudah minta Sholat Mas."


"Alhamdulillah, terima kasih Lyra sudah mendidik Mayra dengan baik. Walau ia bukan ..."


Kusela dan kutatap mas Dimas seketika, "Bukan apa Mas? Mayra putriku, aku tidak suka mas berbicara seperti itu," geramku tak menyangka mas Dimas akan berujar seperti itu.


"Maaf, Mas spontan tadi mengatakannya. Jangan marah Sayang, iya kau Bunda Mayra, satu-satunya Bundanya Mayra." Mas Dimas seketika memelukku yang masih kesal dengan ucapannya barusan.


"Tapi memang kau benar Mas, aku memang bukan Bunda Mayra yang sebenarnya. Aku hanya bunda pengganti." Tiba-tiba kesedihan sangat dalam kurasakan dan air mataku seketika mengalir.


"Huss, itu tidak benar. Maaf Sayang, maaf." Mas Dimas mulai mengecup wajahku setelah sebelumnya menyeka air mata yang keluar dari sudut mataku.


"Mas, hentikan!!! Mas ...." ucapku merasa geli dengan yang mas lakukan.


"Katakan dulu kau memaafkan Mas."


"Mass, berhenti!! I-ya baiklah, aku memaafkan Mas," ujarku kemudian.


"Terima kasihh, jangan pernah menangis lagi Sayang. Mas tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi," lirih mas Dimas penuh penyesalaan.


Sebuah kecupan singkat didaratkan di bibirku setelahnya.


"Kemarilah ada yang ingin mas bicarakan," Mas merangkul bahuku dan seketika kusandarkan kepalaku.


"Sayang, jujur kau lebih senang tinggal di Bekasi atau di Bandung?"


"Bekasi sudah seperti rumahku, aku mengetahui setiap sudutnya. Disana juga ada Kak Fida sahabatku tapi disana juga terlalu banyak hal menyakitkan yang kupernah kualami. Aku memilih di Bandung Mas, cuaca disini sangat sejuk, pemandangannya juga asri. Disini seperti hal baru dan mimpi yang baru," lirihku sambil kuselipkan senyum tipisku pada mas Dimas suamiku.


"Bagus, mas-pun berfikir demikian," ucap mas Dimas sambil mengecup keningku.


"Tapi jika kita menetap disini, bagaimana dengan rumah kita di Bekasi?"


"Mas akan cari orang untuk sesekali membersihkan rumah kita, kita akan menginap disana saat kita berkunjung ke Bekasi."


"Apa tidak di kontrakkan saja?"


"Tidak Sayang, mas tidak suka jika rumah kita diacak-acak orang lain, paham?"


Akupun mengangguk.


"Mass, besok aku izin yaa,"


"Mau kemana??" Mas Dimas tampak kaget mendengar ucapanku.


"Keluar dari perumahan kita sebelah kiri ada TK, kmarin aku lihat spanduk membuka pendaftaran. Aku mau minta brosur TK itu Mas, tahun ini sudah waktunya Mayra masuk sekolah."


"Iya kau benar. Kau di rumah saja, sekalian ke toko besok pagi aku akan mampir mengambil brosur di TK tersebut. TK apa namanya?"


"Kalau tidak salah CAHAYA MEDINA INSANI."


"Baiklah, sekarang Lyra tidur yaa!!"


"Ada satu lagi Mas ...," lirihku.


"Apa lagi Sayang??" mata mas Dimas menatap penuh kewajahku.


"Mas kan banyak teman di Bandung, carikan aku tempat taklim Mas. Semenjak kita di Bandung aku tidak pernah duduk di majelis."


"Ahh, Mas fikir Lyra mau minta apa. Siapp Sayang nanti Mas carikan, maaf selama ini Mas sibuk dengan kepentingan Mas dan tidak memikirkan hak ruhanimu."


"Terima kasih Mas," akupun membaur memeluk tubuh mas Dimasku.





🌻 PUKUL 01:30

__ADS_1


Malam semakin larut, bahkan dini hari telah menjelang. Dingin malam semakin merasuk kekulitku, tampak 2 jiwa disisiku yang tertidur dengan pulasnya. Namun tidak denganku saat ini, mataku tak bisa terpejam, 2 jiwa yang mendiami tubuhku seakan kembali meminta hak perutnya.


Ya, aku sangat lapar ... bayangan sate ayam terus berputar diotakku. Tapi ini tengah malam, mana ada penjual sate yang lewat di jam ini. Tapi aku sangat menginginkannya, kubalikkan tubuhku kekanan dan kiri mencari posisi yang pas untuk memejamkan mataku, untungnya tangan mas Dimas tidak terlalu kuat mengunci tubuhku. Jadi aku masih bisa leluasa bergerak. Hingga suatu suara ...


"Ada apa Sayang? Kenapa kau gelisah dan terus memutar tubuhmu?"


"Maaf mengganggu tidurmu Mas tapi akuu ..."


"Ada apa?"


Kubisilkan kata di telinga mas dimas saat ini, "Aku lapar Mass ... baby twins mu tak membiarkanku memejamkan mata," lirihku.


"Baby twins mau apa?"


"Sate ayam sangat nikmat Mas," ucapku.


"Sate?? Jam berapa ini??" Dan mas Dimas seketika terkejut saat di lihatnya jam weker di dinding 01:30. Dimana aku menemukan penjual sate di jam ini? batin mas Dimas.


"Bagaimana Mas?" lirihku.


"Sayang, untuk malam ini makan yang ada di dapur yaa? besok malam baru kita beli sate. Bagaimana?"


"Kau dengar Nak, ayahmu tak meyayangi kalian, ia tak mau memberi yang kalian inginkah," lirihku saat ini seolah berbicara dengan baby twins-ku. Dengan sebelah tanganku terus menyapu perut yang menjadi rumah sementara 2 janinku.


"Sayang bukan seperti itu, your dad's really loves you so much. Tapi ini sudah malam, apa ada penjual sate di jam ini?"


"Mas jahat," dan aku mulai memiringkan tubuhku membelakangi mas Dimas.


"Hahhh, baiklah ... wait, daddy will be come bring the food that you want," ucap mas Dimas sambil mengecup keningku sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.





Setelah berputar-putar menerjang dinginnya malam Bandung, akhirnya Mas dimas menemukan bakulan sate yang masih beroperasi. Dengan senang hati mas Dimas pulang dengan sebungkus sate di tangannya.


Dan ohhh, ternyata sang istri cantikku tengah tertidur pulas saat ini ...


●●●●


🌻 3 BULAN KEMUDIAN


"Memasuki usia 17 minggu kehamilan, ukuran janin Mom kira-kira sudah sebesar lobak dengan panjang badan dari kepala sampai kaki sekitar 12 sentimeter dan berat badan sekitar 150 gram. Kini, tempurung kepala bayi yang tersusun dari tulang rawan mulai mengeras. Proses mengerasnya tulang-tulang dalam tubuh janin disebut juga dengan osifikasi. Kaki dan telinga bagian dalam lah yang akan menjadi bagian tubuh pertama yang mengeras. Sampai sini Mom jelaskah?"


"Jelas. Dok diusia ini apa jenis kelamin sudah bisa terlihat?"


"Mom penasaan rupanya. Oke kita lihat yaa, semoga baby twins-nya tidak malu dan menutupinya. Oya ... tumben pemeriksaan ini tidak didampingi Dad-nya?"


"Ayah ke Bekasi Dokter," celoteh Mayra yang juga ikut saat ini. Beberapa hari belakangan, Mayra sangat giat belajar huruf R, dan alhamdulillah ia sekarang udah fasih, sampai-sampai huruf L pun dibaca R saking antusiasnya dengan huruf yang baru ia kuasai.


"Oh, Dad sedang keluar kota rupanya. Ini siapa? cantik sekali. Ini putri pertama Mom kah?"


"Ia Dok," ujarku sambil sesekali membelai Mayra yang ikut berdiri menatap layar 14 in di tepi ranjang tempatku diperiksa saat ini. Kami memang berdua saja masuk keruangan ini. Ada Bik Lasmi juga sebetulnya, tapi ia memilih menunggu di depan ruang tunggu poli kebidanan. Dan Mang Diman menunggu kami di lobi.


Karena aktivitas mas Dimas yang sibuk dan tidak setiap saat bisa mengantarku. Kami membeli motor 2 bulan yang lalu. Sebagai sarana transportasi yang bisa menembus ruang sempit dan meloloskan diri dengan mudah dari kemacetan, ujarnya. Dan PCX Hybrid menjadi pilihan kami, motor matic keluaran terbaru sebagai tandingan NMAX sudah menarik mata kami saat pertama melihatnya.


"Nah ini dia, jelas ya Mom 1 Baby memiliki tgu monas, artinya ia berjenis kelamin laki-laki."


Oh senangnya, ada jagoan kecil yang akan menjadi teman bermain bola Mas Dimas, batinku. Dan demikian pula Mayra, ia tampak begitu gembira melihat pantulan adik bayinya dalam layar.


"Kalau yang 1 nya Dok?"


"Sebentar ya, ini dia. Baby satunya berbeda dari yang pertama, tanpa tonjolan diarea kelaminnya, 80% menandakan ia perempuan. Tapi kembali ya Mom ini hanya prediksi. Karena isi rahim sepenuhnya rahasia Sang Pencipta."


"Adik Mayra laki-laki dan perempuan Bunda?"


"In syaa Alloh Sayang," dan Mayra seketika memeluk dan menciumku.


"Ohh, manisnya. Mayra pasti kelak jadi kakak yang baik," lirih Dr. Catrina pada Mayra dan seketika dibalas anggukan dan senyuman oleh Mayra.


"Dok, apa ukuran janin saya normal? kenapa baru memasuki 5 bulan perut saya terlihat begitu besar, normalkah ini. Dan berat badan saya juga sudah naik hampir 6kg."


"Menurut tampilan layar, ukuran dan berat baby twins normal. Untuk kehamilan kembar memang perut lebih besar ya Mom karena memang ada 2 baby di rahim Mom. Kenaikan BB Mom juga masih normal."


"Oke sekarang kita dengar detak jantung Baby Moms dulu yaa."


Dokter seketika menempelkan sebuah alat ke perutku. Dan terdengarlah kini bukti kehidupan dalam rahimku ....


dug ... dug ... dug ... dug ...dug ...dug ...


Detak jantung putraku ... sesak penuh kebahagiaan kurasa saat ini. Ia hidup dan berkembang. Terima kasih ya Robb, kuhaturkan rasa Syukur sebesarnya pada Robbku saat ini.

__ADS_1


"Dan baby yang satunya Dok,"


"Sebentar ya Moms, oke ini dia. dug ... duug ... duug ... dug ... duug ...."


"Kenapa suaranya agar berbeda dari yang pertama Dok?" tanyaku heran.


"Ini biasa terjadi Mom, seperti halnya manusia saat panik, terlalu bahagia, takut. Jantung akan berdetak tak menentu. Sepertinya salah satu baby Mom termasuk sosok yang sensitif. Kita akan pantau di bulan berikutnya ya Mom."


"Alhamdulillah kalau semua masih nornal."


"Ada yang ingin di tanyakan lagi kah?"


"Sepertinya cukup Dok."





Dan kami keluar dari ruangan Dokter saat ini.


Bik Lasmi seketika berdiri melihat kami,


"Bagaimana Bu?"


"Alhamdulillah Bik, In Syaa Alloh bayi saya sepasang laki-laki dan perempuan Bik."


"Alhamdulillah, Bibik ikut seneng Bu ... Ayo kita lekas pulang Bu, sejak tadi Pak Dimas terus menelepon saya. Katanya hp ibu gak bisa dihubungi."


"Iya Bik, karena terburu-buru saat berangkat saya lupa membawa ponsel yang saya charge sejak semalam. Nanti setelah di rumah saya akan langsung menghubungi Mas."


"Bunda, Mayra mau bakso cuanki ...."


"Iya, nanti kita mampir beli ya Nak."


"Ayo Bik!!."


Kamipun berjalan menuju bagian apoteker untuk penukaran resep saat ini.


Hingga di tengah perjalanan kami ...


"Lepas ... Lepaskan aku!!!, untuk apa aku hidup ... Biarkan aku matii!! Lepaskan aku suster bod*h!!!"


Seorang wanita tampak sedang di tahan oleh 2 suster, ia berusaha melepaskan dirinya, ia berontak dan terus berteriak.


"Sus, maaf. Apa yang terjadi disana?" aku yang penasaran seketika bertanya pada suster yang melintas di dekatku.


"Seorang pasien kanker Bu, ia frustasi dengan penyakit yang di deritanya. Sudah 3 hari ia di rawat, tak pernah terlihat keluarga yang menjenguk. Ia berusaha kabur dari kamar isolasi diatas, dan kami menemukannya di bawah. Ia berkali-kali berusaha mengakhiri hidupnya, jadi kami hawatir. Permisi Bu, ada yang hendak saya kerjakan."


"Oh baiklah, maaf menganggu," ujarku.


"Kasihan sekali wanita itu."


"Sudah jangan dilihat Bu," lirih Bik Lasmi.


Tunggu, mengapa wajah itu seakan tak asing ...


"Bik, saya akan segera kembali, Mayra duduk bersama Bibik dulu yaa!!"


"Ibu mau kemana?? Bu ...."






"Bunda kemana??"


Haduhh, mana Bapak terus menelepon lagi, gimana ya? batin Bik Lasmi.


"Kita tunggu Bunda ya Non, pasti sebentar lagi kembali."


Dan Mayrapun mengangguk.


🌻Tak berselang lama ...


"Itu Bunda Bik ...,"


"Alhamdulillah, lho kenapa ibu bersama Bu Frista??"

__ADS_1


🌷🌷🌷


🌻Happy Reading❤❤


__ADS_2