Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Akan Menunggu


__ADS_3

"Kenapa ingin cepat balik? kau tau Lyra, entah mengapa malam ini aku sangat takut untuk pulang dan kehilangan bayangmu.


"Aku takut esok kau tak ingin lagi menemuiku ...."


🌷🌷🌷


Aku masih terpaku mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Firgie.


Kenapa bisa begitu pas ...


Jika boleh jujur hasratku juga ingin merasakan hari-hari seperti dulu bersamamu, tanpa beban seperti saat ini.


Astagfirulloh, segera ku ketuk hatiku kembali. "Kau mulai menyalahkan hidayah yang datang kepadamu kah Ly?" batinku berbisik.


Aku tidak boleh goyah, aku seorang hamba yang harus patuh terhadap RobbNYA*.


"Lagi-lagi kau termenung Sayang ... " Firgie seketika merangkul bahuku.


"Itu tidak akan terjadi kan Ly?" tanyanya tiba-tiba.


Aku masih tak bergeming mendengar tanyanya. Apa yang harus kujawab?


"Oya, tadi bukankah ada hal yang ingin kau sampaikan Lyra? Bagaimana jika kau sampaikan disini, udara disini sangat nyaman dan lampu-lampu disana sangat indah. Suasana yang sangat menyenangkan."


"Aku ...."


"Hem?? kenapa tak kau lanjutkan?" ia terlihat penasaran.


"Aku ingin pulang skarang Gie," tegasku.


"Baiklah kalau begitu," lirihnya.


🌷🌷


21:05 Kossan Lyra


Kami duduk di tempat biasa kami duduk.


"Oya Ly, sebelum kesini tadi ibu titip pesan untukmu, "Kau harus sering main ke rumah," katanya."


Kubalas ucapan Firgie dengan senyuman.


"Gie, aku ....


"Ayah juga tak mu kalah tadi, Ia juga penasaran ingin bertemu denganmu, katanya."


"Kapan kau akan main ketempatku lagi?"


"Gie ...


"Oiyaa, Mbak Shinta tadi juga main, iapun menanyakanmu. Seperti saat kau dirumahku, tadi ia terus menggodaku. Ia mengatakan pada ayah harus buru-buru menikahkanku, tapi kau tau aku belum memiliki apapun untuk menanggung hidupmu, apa kau akan bahagia bersamaku Lyra??

__ADS_1


Kulihat mata Firgie berkaca.


Firgie, mengapa kau mengatakan hal-hal seperti ini? batinku.


Aku mematung, terus kutatap sosok dihadapanku yang tau jua berhenti bicara.


"Kau tau Lyra, bahkan adik-adikku masih membutuhkan uluran tanganku. Kuliah Fikra, walau ibu dan ayah tak pernah meminta, tapi aku sebagai anak tertua merasa memiliki kewajiban kepada mereka. Akupun slalu berfikir saat kelak aku memutuskan menikah, aku tak ingin membebani mereka. Aku akan menebus calon istriku sendiri, akupun tak ingin keluarga calon istriku mengeluarkan uang banyak. Untuk itu aku harus mengumpulkan uang dahulu. Dan itu akan memakan waktu tentunya ....


Dadaku sangat sesak mendengar tiap kata dari bibir Firgie. Tak terasa kumpulan sesakku selama beberapa hari ini tumpah. Dan Firgie meraih tubuhku dalam pelukannya.


Ia menutup Pintu kamarku dengan kakinya.


Suasana hening saat ini, hanya isakan kami sayup terdengar.


Aku berusaha melepaskan tangannya yang dengan kuat mengunci tubuhku, tapi sangat sulit, sesakku membuat seakan tenaga yang kupunya hilang.


"Darimana kau mengetahui apa yang ingin kusampaikan?" lirihku.


"Maaf, aku sudah disini sejak magrib dan aku mendengar pembicaraanmu di telpon dengan Mbak Alika temanmu itu, aku mendengar semuanya Lyra ...."


"Aku segera beranjak ke mushola diujung jalan saat kau menutup panggilanmu pada mbak Alika."


"Apa yang harus kulakukan Ly? Keputusan apa yang harus kubuat?"


Aku hanya bisa menangis saat ini, kembali terngiang ucapan Mbak alika, dua orang yang berpisah karna Alloh termasuk yang mendapat nanunganNYA, dan kebersamaan kami, siapa yang akan menanggung dosanya?Apakah perih sesaat dan kebahagiaan selamanya atau kebahagiaan sesaat namun penyesalan selamanya .... Tidak, semua ini salah. Segera kudorong tubuh Firgie sekuatku.


"Lyra ...," panggilnya lirih.


"Kau benar," tampak Firgie mengangguk.


"Maaf aku takut Robbku marah terhadap hubungan kita Gie, dan kelak kita akan saling menyalahkan di akhirat, karena dosa yang tercipta dari hubungan ini. Sejujurnya akupun berat, sesak terus menyelimutiku akhir-akhir ini. Berfikir tentang perpisahan sungguh aku tak mampu, tapi akupun tak berhak memaksamu harus menikahiku. Lalu aku harus bagaimana jika Iman yang mulai merasuk dalam didiriku tak menghendaki kehadiranmu," lirihku.


Suasana tampak hening,


Hingga terdengar kata dari bibir Firgie.


"Lyra, jika kau bersedia. Tunggulah aku 1 tahun ini!!" tegas Firgie.


"Maksudmu?"


"Aku akan berusaha mengumpulkan uang dalam 1 tahun ini, kau mau menungguku?" ujar Firgie kembali.


"Tanpa komunikasi dan pertemuan, aku akan menyetujuinya," lirihku.


"Haruskah tanpa bertemu?" lirihnya.


"Akan sama saja jika tetap bertemu, akan terus mengotori hati dan keimanan kita Gie."


"Baik, tanpa komunikasi dan bertemu," ujarnya kemudian.


"Bisa ku dengar kau mencintaiku Lyra?"

__ADS_1


"Kau masih meragukannya?" tanyaku.


"Hanya memastikan, bisakah?" lirihnya kembali.


"Iya."


"Iya apa?"


"Aku mencintaimu, Firgie ...," lirihku.


Kulihat Ia menekan tombol di ponselnya.


"Ini akan menjadi kata penyemangat untukku,"


Rupanya Firgie baru saja merekam ucapan cintaku, Firgie ...


"Besok masih bisa kita bertemu?" tanya Firgie.


"Tidak," jawabku.


"Kalau begitu biarkan aku menatapmu, aku akan merekam wajahmu di hatiku Lyra."


Akupun akan merekam wajahmu Gie, batinku


Tampak Firgie terus tersenyum ke arahku kini.


"Terima kasih selama ini terus menemaniku Lyra, kau kekasihku yang hebat. Kau mengingatkanku saat ku salah, kau tak pernah menuntutku, tak pernah pula meminta apapun. Kau sangat baik, kelak kau jangan terlalu baik pada pria manapun atau ia akan salah pengertian nanti terhadapmu. Setelah pulang kerja tak usah berkeliling sendiri. Langsung pulang dan istirahat saja, kau juga harus menggemukkan sedikit tubuhmu, jangan lalai saat makan. Harus dipaksa makan seletih apapun tubuhmu. Kau harus menjaga dirimu dengan baik, Lyra-ku ...."


Entah berapa banyak tetesan air terus memaksa keluar dari mataku.


"Lyra, maaf atas kenakalanku, pernah memintamu melakukan hal yang kau tidak kau sukai, tapi terima kasih kau menjagaku atau aku mungkin bisa berbuat lebih buruk, terima kasih."


"Maaf juga aku sering cemburu berlebihan, tidak pernah terlintas sedikitpun untuk menyakitimu, aku hanya takut kehilanganmu."


"Kau memahami perasaanku kan ly?"


Aku mengangguk.


"Kau ada disini Ly, sangat dalam menancap dihatiku, sudah tak bisa terlepas dan tak akan kuhilangkan sosokmu. Kau harus tau, sejak awal pertemuan kita, aku sudah tertarik padamu. Tak hanya karena rupamu yang cantik tapi karena dirimu sangat apa adanya, baik dan memiliki tekad yang kuat. Sayangnya aku bukan orang pertama di hatimu, Dimas sudah lebih dahulu mengisi hatimu. Tapi atas kehendakNYA. Dimas bukan takdirmu, dan aku kini akan mempertahankanmu disisiku. Aku ingin menjadi takdir untukmu. Kau tidak boleh untuk yang lain. Kau mengerti Lyra??"


Aku mengangguk dan tersedu.


"Aku tunggu kau di tanggal ini di tahun depan Gie, aku akan tetap ada disini menunggumu.


Firgie ...


Apa setelah ini kau akan benar-benar pergi??


Mulutku mengatakan tak ingin bertemu tapi aku menyangsikan hatiku. Apakah hatiku akan mudah melupakanmu, walau kelak kau berjanji akan datang. Tapi aku harus fokus mendekatkan diri pada Robbku, dan menghilangkanmu untuk sementara waktu. Bisakah itu??


🌷🌷🌷

__ADS_1


Happy reading❤❤


__ADS_2