
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like,komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Saat ku masuk rumah. Pukul 20:05 kulihat Jam dinding di kamarku.
Kubuka hijabku. Bersiap membersihkan tubuhku yang sudah lengket keringat sejak pagi.
●●●●
Kupilih pakaian di lemariku.
Aku bahkan belum sempat menyetrika.
"Huhh..tinggal beberapa pcs saja pakaian ku," ujarku.
Kupilih kaos oblong berwarna abu-abu.
Kuambil celana selutut bermotif amry.
Ku sisir kemudian ku gulung rambut panjangku.
Poni sampingku kubiarkan terurai.
Kubiarkan pula wajahku tanpa riasan sehingga tampak natural.
Kurebahkan tubuhku di atas kasur, berusaha mengingat setiap hal di hari ini.
"Banyak hal yang terjadi," fikirku.
Mbak Fris ... dengan kegilaan cintanya.
Mas Dimas ... dengan senyum yg dipaksakannya selalu setelah mendapat telpon dari ibunya, menahan setiap hal namun matanya tak dapat berbohong.
Mereka seperti misteri.
Menyimpan banyak tanya di benakku.
Tiba-tiba terekam pula kebersamaanku bersama mas Dimas.
"Ohh mas Dimas ...," ujarku sambil tersenyum sendiri.
Pukul 20:30
"Tok..Tok..."
Ohh ... bunyi itu, dari rumahku kah??
"Siapa yang datang malam2 bgini??"
Kuintip sedikit jendela.
"Mas Dimas, bukankah tadi ia sudah pulang," ujarku heran.
seketika ku buka daun pintu yang membatasi aku dan mas Dimas.
"Mas Dimas ...."
Mas Dimas tanpak terkejut melihat penampilanku yang berbeda dari yang biasa ia lihat.
"Lyra ...."
"Mas kok ada disini?" tanyaku heran.
"Boleh mas masuk??"
"i- ya boleh Mas."
Ia duduk di ruang TV. Matanya sesekali memandangku.
"Mas mau minum apa?"
"Gak usah Ly, maaf ya mas balik lagi," ucapannya terpotong.
flashback:
Sebenarnya mas Dimas masih enggan untuk pulang, tak ingin ibu mengintimidasinya ketika di rumah. Dan Lyra, Ia ingin memberitahu segalanya pada gadis itu. Tapi dalam benaknya takut jika gadis itu akan menjauhinya ketika tau yang sebenarnya.
Tapi tak ingin pula Lyra mengetahui sgalanya dari orang lain. Ia terus berfikir masih tak beranjak dari gang itu, gang kontrakan Lyra berada.
__ADS_1
Hingga setelah beberapa lama ... ia berfikir untuk kembali, "semoga anak itu belum tidur," batinnya.
"Ly ... " panggilnya sambil memperhatikan penampilanku dari ujung kepala hingga kaki.
Kebenarkan posisi dudukku. Kututup sebagian lututku yang terlihat dengan jemariku. Sepertinya mas Dimas risih melihatku tanpa hijab.
"Maaf ya mas, aku kalau di rumah seperti ini," ujarku melihat mas Dimas sepertinya tak nyaman dengan penampilanku.
"Kenapa gak dipakai hijabnya di rumah?" tanyanya dengan kelembutan menjaga setiap kata agak tak menyakiti gadisnya.
"Iya mas, masih proses. Mas gak suka ya?" dengan hati-hati Lyra menjawab. Matanya malu bertatap dengan Mas Dimas.
"Bukan gak suka, tapi hijab bisa menjaga kamu. Apalagi kalau ada orang asing yang kemari," ujarnya.
"Mas saja yang menjagaku," jawabku spontan.
"Heiii ... mas serius dengar mas!" matanya serius menatapku.
"Kecantikan ini kamu simpan dulu, ditampakannya untuk....
"Untuk siapa mas??" potongku menggodanya lagi," aku juga sebetulnya tau mas untuk suamiku kelak. Tapi jiwa mudaku masih minta proses untuk mengubah diriku sepenuhnya, batinku.
"Untuk yang berani menghalalkanmu," jawab mas Dimas. Yang pasti sosok itu bukan mas.. lirihnya dalam hati.
"O- yaa, mas kenapa balik lagi?"
Pertanyaan Lyra menyadarkan Dimas akan apa yang harus ia sampaikan.
"Ly, terima kasih untuk hari-hari belakangan ini kamu selalu menemani mas ya. Kamu memberi hari mas berwarna. Mas seperti memiliki semangat baru," ucap mas Dimas sangat serius sambil meraih jemariku.
Tatapan matanya sangat dalam kulihat matanya berkaca. Aku mencoba menatapnya. Mencari apa penyebab resahnya.
"Aku juga senang dekat sama mas. Aku yang seharusnya berterima kasih. Mas sudah mau membuka hati untukku, gak terlintas sdikitpun bisa duduk sedekat ini sama mas. Jangankan bisa jalan-jalan berdua. Dulu melihat mas saja aku sudah gugup," kembali terekam momen-momen pertamaku bertemu mas Dimas. Ingin tertawa rasanya mengingat smua itu.
"Oya, boleh Ly bertanya sesuatu pada Mas?"
"Selama Mas bisa jawab pasti Mas jawab,"
"Ada hubungan apa mas dengan Mbak Fris?"
Seketika mas Dimas menengok ke arahku.
"Mengapa Lyra tiba-tiba bertanya tentang Fris? Apa ia tau kami? Ahh...tidak mungkin, Fris tidak akan berani mengatakannya."
flashback:
"Untung kamu udah pulang Mas. Buruan mandi sana!! Jangan sampai keluarga Fris dateng kamu masih belum siap."
Ruangan keluarga telah di tata sedemikian rapi.
Berbagai makanan di sajikan di meja makan.
Seluruh keluarga telah berdandan rapi siap menerima tamu yang sedang dalam perjalanan menuju rumah mereka.
Ibu menggunakan gamis brokat berwarna mustard dengan model kekinian dengan bagian bawah yang tampak lebar dipadu hijab berwarna gold.. menambah kecantikan ibu yang berpostur tinggi dengan badan rampingnya, riasannya cantik tidak berlebihan walau pucat di wajahnya tak dapat di tutupi.
Ayah menggunakan Kemeja batik panjang berwarna coklat dengan variasi 2 garis berwarna mustard senada dengan pakaian ibu.
Shifa adik Dimas yang berusia 10 tahun. Menggunakan gamis cantik model babydoll berwarna cream dengan variasi rompi berwarna mustard pula senada dengan yang lain.
Dimas keluar dari kamarnya.
Menggunakan kemeja hitam. Tampak sekali ia tak menyukai acara yang akam di adakan d rumahnya.
"Pakaian apa yang kamu pakai ini Dimas?" ibu tampak marah melihat anaknya yang akan menjadi bintang malam ini berdandan semaunya.
"Pakai pakaian yang sudah ibu siapkan di tempat tidurmu!" ujar Ibu.
"Tapi Bu ... "
"Dimas, dengarkan Ibu mu, Ayah tak mau ada drama disini!! Kamu kan tau kondisi ibumu?" dengan nada keras ayah menegur Dimas.
"Oke Yah.." Dimas berlalu dan kembali dengan pakaian yang disiapkan ibunya.
Kemeja berwarna Mustard dengan 2 garis bermotif batik senada yang di pakai sang ayah.
Semua telah bersiap.
Hingga akhirnya tamu yang di tunggu tiba..
Friska dan keluarga telah berkumpul di ruang tamu.
__ADS_1
Kedua orangtua tampak berbincang dengan nyamannya sesekali tawa dan canda mengiringi pertemuan 2 keluarga tersebut.
Di sisi kanan Friska dengan gaun pinknya terlihat sangat berbinar. Hari yang selama ini di nantinya akhirnya tiba. Sesekali ia melirik lelaki yang duduk jauh di sebelah kirinya.
Lelaki yang terlihat begitu tampan dimatanya.
Ia mengabaikan kehampaan dimata lelaki tersebut.
Seluruh acara telah dilakukan dengan baik.
Tanpa kendala. Dimas menurut seluruh prosesi yang harus dilakukannya, matanya sesekali melirik pada sang ibu. Sang ibu yang membuatnya berada pada keadaan ini. Sang ibu yang tampak tegar mengatur segalanya namun sebetulnya raganya rapuh. 4 tahun Sakit Jantung telah dideritanya. penyakit yang telah menghabiskan daging di tubuhnya. Tubuhnya kurus. Ia harus pandai menjaga emosinya, nafasnya sering terengah-engah, dadanya sering kali sesak.
Namun ia merasa menanggung beban budi yang di berikan keluarga Fris pada keluarganya.
Saat kondisi mereka benar-benar terpuruk sang ayah terkena pengurangan karyawan di PT nya. Dimas yang saat itu masih duduk di bangku SMP dan Shifa yang baru saja di lahirkan. Sang ayah kesana kemari mencari pekerjaan namun hasilnya nihil. Beruntung ada seorang kawan menjadi penyelamat mereka. Ayah Fris.
Ayah Fris merekomendasikan ayah Dimas di perusahaan rekannya. Dan proposal disetujui, dengan pengalaman yang dimiliki, ayah Dimas langsung dipercaya menjadi Asisten Manager di perusahaan itu.
Saat di bangku SMA, Ayah Fris yang melihat gerak gerik putrinya menyukai Dimas. Tak berfikir lama, segera membicarakan dengan keluarga Dimas. Dan terang saja karna Budi yang dimilikinya keluarga Dimaspun menyetujui tanpa butuh persetujuan sang putra.
Dengan syarat biarkan sang putra menyelesaikan kuliahnya.
Dan terjadilah hari ini.
****
Acara telah selesai.
"Bisa kita berbicara sebentar!" tampak Dimas menghampiri Fris yang dengan berbinar menyambut pangerannya.
"Aku sudah melakukan yang keluargaku inginkan, dan semua pasti akan terjadi sesuai keinginanmu. Tapi ada satu yang aku ingin kau berjanji padaku.
SEBELUM KAU MENJADI ISTRIKU JANGAN PERNAH IKUT CAMPUR DENGAN URUSAN PRIBADIKU ATAU DENGAN SIAPA AKU BERGAUL!!! Kau bisa berjanji untuk itu??"
"Apa itu harus ?? kenapa harus apa perjanjian seperti itu?? Kau adalah calon suamiku Mas. Aku berhak atas diri dan hatimu!!"
"Bahkan kau tahu Fris kalau aku melakukan smua ini untuk ibu dan keluargaku. Aku pasti akan jadi suamimu tapi Kau bahkan belum masuk kedalam hatiku Fris."
"Buka hatimu Dimas!!" Fris dengan tatapan memohon.
"Berjanjilah padaku Fris! atau aku akan berubah fikiran atas pernikahan ini!!."
"Jangan Dimas! jangan pernah katakan kata-kata seperti itu. Kau tahu betapa aku mencintaimu sejak lama. Kau adalah hidupku Dimas!!" Fris merengek.
"Kau harus berjanji!!" ujar Dimas lagi.
"Okee, aku berjanji. Asalkan kau menjadi suamiku nanti ...
●●●●
"Kenapa Mas gak jawab pertanyaanku??" Suara Lyra menyadarkan kediaman Dimas.
"Ohh ... apa yang kamu tanya tadi Ly?"
"Tentang hubungan Mas dan Mbak Fris."
"Dulu ia teman sekolahku."
"Tapi mengapa ia----
Belum lagi kulanjutkan ucapanku Dimas menghentikannya.
"Ganti topik aja ya, mas gak mau membicarakan wanita lain."
"Membicarakan wanita itu tepatnya," tambah mas dimas dalam hati.
Tiba-tiba mas Dimas menatapku sangat dalam sambil memegang jemariku dengan erat.
"Ly denger yaa!" tatapannya sangat serius
Aku mengangguk sambil ikut menatapnya.
"Apapun yang terjadi hari esok, Lyra harus tau dalam hati mas Dimas hanya ada kamu. Gak ada sedikitpun niat mas mempermainkan Lyra. Lyra percaya kan sama mas?"
Aku mengangguk lagi.
"Anak pintar," Mas Dimas tiba-tiba tersenyum melihat ku menggangguk dengan polosnya.
"Mas gemes sama kamu," ucapnya lagi sambil mengelus kepalaku hingga kemudian menarik kepalaku ke dadanya.
●●●●
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤