Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Berteman Akhirnya.


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


19:30 KEDIAMAN CIKARANG


Dan kakiku melangkah lagi kerumah ini, setelah drama susu kedelai siang tadi terhampar, kini semua tampak kembali normal. Aku sudah ikut makan malam bersama seluruh keluarga saat ini, karena kurasa tubuhku telah sangat baik, tiada diare, lemahpun tlah hilang.


Yang tersisa hanya sebuah kenyataan yang masih terngiang di sudut hati mas Dimas "Mbak Friss berusaha mencelakai aku dan calon bayinya." Aku pribadi sudah tidak mempermasalahkan itu. Yang terpenting semua telah berlalu, kondisiku membaik dan bayiku masih sehat seperti sebelumnya.


Kucari tatapan mbak Friss, namun ia merunduk tenang, menyantap hidangan tanpa suara, dan Mas Dimas terus saja meletakkan lauk ke piringku. Senyum kembali di sunggingkannya tatkala mata kami saling bertatap. Aku berusaha menggeleng "sudah cukup" batinku. Tapi mas Dimas tak mengindahkannya. Jadilah perutku ini full, terlalu kenyang.


"Ada apa Lyra?" ibu yang melihat gelagat anehku lantas berujar.


"Tidak apa-apa Bu," lirihku.


"Lyra langsung istirahat saja di kamar ya Nak," ujar ibu kembali melihat makanan di piringku telah habis.


"Kau juga Dimas, pasti kalian letih," tambah ibu.


Dan kamipun segera ke kamar saat ini beserta Mayra yang terus bergelayut di lengan mas Dimas.




Kami di kamar kini,


"Besok kita pulang ya Sayang," ujar mas Dimas seketika sambil meraih bahuku. Dan Mayra tampak sedang menciumi perutku sambil berceloteh dengan calon adik-adiknya.


Akupun mengangguk mengiyakan.


"Tapi kau sudah bicara pada ibu, Mas." tanyaku hawatir ibu belum mengizinkan kami kembali ke Bandung setelah kejadian hari ini.


"Besok pagi mas baru akan bicara. Lyra benar-benar sudah baik kan?"


"In syaa Alloh sudah Mas."


"Alhamdulillah mas tenang kalau begitu."


"Mayra belum mengantuk? tidur yuk Sayang, Bunda sudah mengantuk nii," ujarku sambil menyapu kepala putri kecilku.


"Sebentar lagi Bunda, ini dede bayi masih ajak Kakak main. Ayah sini, pegang disini tadi dede tendang Kakak." celoteh Mayra.


"Mana sih, soleh dan solehah Ayah masih asik main ya? sudah malam Sayang, Bunda, kakak dan Ayah mau tidur."


"Sini Mayra tidur sama Bunda, dede memang mainnya kalau malam hari. Tidak apa-apa, kita tidur ya Nak."


"Ayah lanjut pekerjaan Ayah dulu ya," dan Mas Dimas lagi lagi sibuk dengan pekerjaannya, sedang aku tidur bersama Mayra kini.


__ADS_1



Ditengah malam kuterbangun saat kurasakan sebuah tangan terus menyapu perutku. Perlahan kubuka mataku, tampak sosok penjagaku masih duduk disisiku. Ia menatapku sangat dalam. Akupun menangkap lirih suaranya ...


"Maaf Mas membangunkan Lyra,"


"Mas kenapa belum tidur?" ujarku masih berusaha melebarkan kelopak mataku.


"Terkadang Mas takut tertidur dan tak bangun lagi, kembali kehilangan Lyra seperti dulu," ia kembali berkata lirih tentang sesuatu yang tak masuk akal, ia mulai menyapu kepalaku kini. Dan aku masih terus menatapnya, mata sayu yang mulai berkaca kufikir, tampak tak begitu jelas sebab pijar lampu tidur yang meremang.


"Lyra tidurlah kembali,"


"Mas juga tidur ...," ujarku.


"Iya." Perlahan mas Dimas merebahkan tubuhnya disisiku. Akupun dalam sekejap menangkap tubuhnya. Tidur dengan posisi ini membuatku nyaman, tidur mendekap dan merasakan harum tubuh suamiku. Hingga kemudian kurasakan pula sebuah tangan mendekapku hangat dan kecupan berkali-kali kurasakan mendarat di keningku.


●●●●


🌻PUKUL 09:00


"Bye Utii, Opaa, Antii," teriak Mayra saat mobil kami mulai menjauh dari kediaman ayah dan ibu di Cikarang. Tampak pula wajah kesedihan seorang wanita di sudut sana, kesedihan akan perpisahan dengan putri yang telah disiakannya, tangannya tampak membawa paper bag cantik, hadiah dari seorang kawan yang selama ini tak dianggap kawan.


Tangan kamipun saling melambai, tanda perpisahan dan pengharapan akan bertemu kembali secepatnya.


FLASHBACK :


"Mengapa begitu cepat Sayang, apa kondisi Lyra sudah benar-benar baik?" ibu lagi-lagi memastikan kondisiku saat mas Dimas mulai mengutarakan rencana kepulangan kami ke Bandung.


"Mayra sudah izin sekolah 3 hari Bu, akupun harus mengecek bisnisku disana. Banyak yang harus Dimas kerjakan, mohon pengertian Ibu," ujar mas Dimas bersungguh-sungguh.


"Hahh.. ini keluargamu. Kau yang berhak memutuskan apapun untuk mereka, baiklah! Tapi sebelum berangkat datanglah ke kamar ibu, ada yang ingin ibu bicarakan," ujar ibu lagi-lagi dengan bijaknya.




Tok Tok ...


Kubuka pintu yang membatasiku dengan sosok yang sangat berniat ingin menemuiku, dan saat ini memang mas Dimas sedang bersama ibu hingga sendiriku kini.


Krek ...


"Mbak Friss, masuklah!!"


Iapun ada di kamarku kini, wanita yang pernah menjadi istri suamiku, wanita yang melahirkan Mayra-ku, juga wanita yang pernah berusaha menyakiti calon bayiku. Tapi semua adalah cerita masalalu untuknya.


Kini, wanita ini adalah saudara untukku, tak akan ada habisnya keburukan dibalas keburukan. Alangkah bijak menyikapi keburukan dengan ketenangan dan keikhlasan. Sebab yang terjadi tak lepas dari goresan pena sang kholiq yang menyimpan makna dan hikmah. Setidaknya itu yang kufikirkan walau nyatanya susah memasukkan fikirku pada rasa suamiku yang telah terlanjur ternoda oleh setiap sayatannya.


Dan wanita ini lagi-lagi memelukku erat dan sangat hangat. Sebuah ucapan manispun terucap darinya,


"Terima kasih untuk hatimu yang telah lapang memberi maaf untukku Lyra."


Akupun tersenyum, setelah ia melepaskan pelukannya dan terus menatapku.

__ADS_1


"Hanya kau yang pantas menjadi ibu Mayra, bersamamu Mayraku memiliki kehidupan utuh, ayah, Uti, Opa, Anty, juga kelak ia akan memiliki 2 adik. Kumohon!! Jangan pernah membedakan Mayra dengan putra putrimu kelak Lyra, seburuk apapun khilaf putriku, tolong jangan pernah berteriak padanya, kau mau berjanji padaku Lyra?"


"Aku marah padamu Mbak!!!" kunaikkan nadaku karna aku tak suka ucapannya barusan.


"Ada apa Lyra?"


"Kau bicara seolah aku orang asing bagi Mayra, Mbak!!! Mayra putriku, tanpa kau minta aku takkan membedakannya. Dan masalah bagaimana aku bersikap pada putriku, itu sepenuhnya hakku sebagai ibunya."


"Maaf Lyra aku hanya ingin memastikan perasaanmu pada Mayra, dan aku senang jika memang sedalam itu rasamu padanya. Setelah ini, aku akan berpisah dari putriku, dan aku ikhlas Lyra. Karena berusaha masuk dalam rumah tanggamu itu suatu kesalahan."


"Terima kasih Mbak," ujarku dengan ketulusanku.


"Aku akan tinggal di Cikarang bersama ibu, aku bahagia karena keluarga ini memberi kesempatan untukku menjadi lebih baik, mereka akan menyayangiku seperti putri mereka. Dan semua yang kudapat sudah cukup menjadi pelengkap hidupku."


Aku menyapu bahunya kini, wanita yang terlihat sangat bahagia atas kesempatan keduanya.


"Lyra, bisakah aku meminta 1 hal untukmu?"


"Katakanlah Mbak..!!!"


"Izinkan aku tetap berkomunikasi dengan Mayraku, Lyra. Seminggu sekali saja, bolehkah??" lirih mbak Friss penuh pengharapan.


"Mbak boleh menghubungi Mayra kapanpun Mbak mau,"


"Sungguh?"


Akupun mengangguk. Dan mbak Friss kembali memeluk dan berterima kasih padaku.


"Mbak tunggu..!!!" panggilku saat kakinya hendak meningalkan kamarku, iapun segera menoleh kearahku.


"Ini untukmu Mbak, aku tak tau seleramu, tapi semoga kau menyukainya."


"Ini gaun yang indah Lyra, terima kasih banyak." ujarnya setelah melihat hadiahku untuknya.


"Kenapa kau memikirkanku Lyra?"


"Karena aku percaya mbak Friss sebetulnya wanita yang baik, karena hanya wanita baik yang akan dianugrahi putri yang baik pula."


"Bisakah kita berteman Lyra?"


"Dengan senang hati Mbak ...."


Kamipun saling berpelukan kembali hingga tiba-tiba pintu kamar terbuka.


"Aku permisi Lyra," bisik mbak Friss saat melihat Mas Dimas memasuki kamar dan iapun segera keluar dari kamarku setelahnya.


●●●


Ketulusan itu seperti mentari yang tak pernah meninggalkan bumi, walau ia terkadang tertutup awan namun hangatnya tetap terasa ...


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


__ADS_2