
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Setelah aku dan mas Dimas yang tertidur karena teramat letih, setelah Maghrib mas Dimas tampak mengajak Mayra keluar mencari makan untuk kami sekeluarga. Sementara baby Dirga dan Diyara kusuapi dengan bubur merah seachet yang kubawa selalu dalam tasku.
Azan Isya berkumandang bertepatan dengan masuknya terios Mas Dimas di pekarangan rumah kami. Tak lama tampak Mayra masuk dengan beberapa bungkusan plastik yang terlihat berat untuk ukuran tangan kecilnya.
Seketika pula Mbak Dinar membantu Naya membawa barang kedapur, aku masih menyusui Dirga. Sedang Diyara tampak merangkak kesana kemari dengan lincahnya.
"Ayah mana Sayang?" tanyaku pada Mayra yang telah duduk di sisiku saat ini.
"Ayah langsung ke masjid Bun," ucap polos gadis kecilku yang selalu menggemaskanku. Tampak ia sedang menciumi adiknya kini.
Beberapa saat kemudian ...
Mas Dimas tampak sudah pulang, kami beriringan menuju ruang makan saat ini.
Langkahkupun terhenti dihadapan pengasuh bayiku, "Ayo makan bersama Mbak," ujarku pada mbak Dinar yang sedang duduk di karpet memperhatikan Dirga dan Diyara yang masih belum letih bermain. Aneka boneka Mayra tampak berserakan di lempar-lempar oleh si kembar.
"Silahkan Ibu duluan, biar saya menjaga sikembar dulu Bu,"
"Begitukah, baiklah," ujarku kemudian melanjutkan langkahku ke ruang makan saat ini.
"Mas beli apa saja?" tanyaku melihat beberapa bungkusan yang masih terbungkus dengan kertas nasi di hadapanku.
Dan Mayra tampak dengan cekatan segera mengambil alih jawab atas tanyaku,
"Ini nasi goreng seafood punya Ayah," diletakkannya bungkusan nasi goreng di hadapan mas dimas.
"Ini ketoprak punya Mayra yang nggak pakai cabe," Mayra tampak meletakkan makanannya di atas piringnya.
"Ini ketoprak punya bunda yang cabenya 2" dan seketika Mayra meletakkan bungkusan dihadapanku.
"Dan ini yang terakhir nasi goreng ampela untuk Mbak Dinar," Mayra tampak menepikan bungkusan untuk mbak Dinar.
"Anak Ayah yang pintar," sapu manja mas Dimas ke kepala Mayra seketika.
Tak menunggu lama, Mas Dimas dan Mayra mulai memakan makanan mereka saat ini. Tapi aku sepertinya sedang tak ingin makan ketoprak, entah mengapa melihat ketoprak sesak rasanya dadaku.
"Bunda kenapa gak dimakan ketopraknya?" tanya Mayra melihatku belum membuka bungkusanku.
"Kayaknya lihat ayah makan nasi goreng, bunda jadi pengen nasi goreng nih. Bunda tukeran sama Mbak Dinar saja ah."
"Mbak, mbak makan ketoprak gpp kan?" teriakku pada mbak Dinar.
"Iya gpp bu," jawabnya.
"Ehh, jangan Sayang, ketoprak tetap kau makan nanti nasi gorengnya makan bareng punya Mas aja, Mas juga terlalu banyak ini."
"Tapi aku sedang tidak ingin ketoprak," lirihku.
"Ini ketopraknya enak Bunda belinya di tempat kita pernah beli lho, yang di deket Mall XX."
"Kenapa sayang?? tumben sih, bukankah ini kesukaanmu?" mas Dimas tampak bingung disana.
"Sekarang aku tidak suka lagi," ujarku. Kuabaikan wajah mas Dimas yang tampak bingung disana.
"Ohh, oke oke. Ya sudah tukeran dengan mbak Dinar yaa," ujar mas Dimas menatapku lembut, ia ingin aku segera makan dan tak bersungut.
__ADS_1
Dan aku mulai makan nasi goreng ati ampela di hadapanku saat ini, sesekali mas Dimas mengulurkan sendok kemulutku, agar aku juga mencoba nasi goreng seafood miliknya. Akupun menerimanya. Hingga kini makanan di hadapan kami bersama telah habis dan perutku yang kenyang sudah tak perlu diragukan lagi.
•
•
•
Pukul 21:30 saat ini, kedua bayi kembarku telah terlelap, Mayrapun demikian di kamarnya. Mas Dimas tampak sibuk dengan laptopnya. Dan aku sedang tak ingin menunggu mas Dimas. Kumiringkan tubuhku membelakangi sofa tempat mas Dimas berada. Kupeluk gulingku dan entah mengapa air mata seketika menetes tak terbendung. Astagfirulloh, ada apa denganku? Aku tidak boleh seperti ini? Bahkan Mas Dimas tidak boleh melihatku menangis ...
Segera kutarik nafasku panjang dan membuangnya, terus kulakukan seperti itu hingga emosiku mereda. Beberapa saat kemudian kurasakan sebuah tangan mulai menyelusup meraih pinggangku. Segera kubalikkan wajahku kini.
"Mass," lirihku.
"Sebenarnya apa yang terjadi di rumah Fida? Kau tampak berbeda sejak kita disana," ucap lembut mas Dimas seraya tangannya terus menyapu kepalaku.
Kutatap wajah suamiku, Mas Dimas, orang yang telah menghalalkanku. Dan wajah ini, sudah banyak perih dan bahagia yang kualami bersamanya. Goresan kecil tak boleh melemahkanku, aku seutuhnya milik lelaki ini. Tidak boleh ada hal apapun yang kusembunyikan darinya ...
Segera kubangun dari posisi berbaringku, kusandarkan bahuku ke background ranjang. Tak lama mas Dimas mengikuti posisiku. Ia tampak menatapku dalam, menanti kata yang keluar dari bibirku saat ini.
"Lyra ingin berbagi pada Mas?" lirih suara mas Dimas sambil meraih jemariku dan mengecupnya.
Kutatap kembali wajah tulus suamiku, wajah yang tampak menanti jawabku, akupun memulai ujaranku, "Mas, tadi kak Fida bercerita sesuatu ...
"Tentang??"
"Mas, sebelumnya janji dulu, tolong jangan salah paham..!!"
Kulihat anggukan di wajah mas Dimas dan akupun melanjutkan kembali ujaranku.
"Mas, Kak Fida beberapa kali makan ke bakulan ketoprak milik ....
Akupun mengangguk, dan mas Dimas tampak menghela nafas panjang setelahnya, baru kemudian ia berucap, "Lalu?"
"Kak Fida tak sengaja mendengar obrolan pegawai disana, kalau atasan mereka yaitu sang pemilik bakulan adalah pria yang ...
"Buta," ucap mas Dimas seketika dengan tegas.
"Mas ...," akupun terkejut mungkinkah mas Dimas selama ini ....
"Kau boleh bertanya pada Mas, jika ada yang ingin kau ketahui," lirih mas Dimas kini seakan tau apa dalam hatiku.
"Mas ...."
"Maaf aku tidak memberitahumu yang sebenarnya,"
Dan aku sungguh tak menyangka dengan ujaran mas Dimas. Jadi selama ini mas Dimas sudah tau bahwa Fir-gie buta kah??
Beberapa saat aku terdiam dan hanya bisa menatap mas Dimasku, kenapa kau menyembunyikannya Mass?? batinku.
"Lontarkan saja tanyamu jangan hanya bicara dalam hati," ucap kembali mas Dimas lagi-lagi seakan ia tahu isi hatiku.
Masih kutatap wajah suamiku yang juga sedang menatap lekat wajahku.
Seketika mas Dimas menarikku dalam pelukannya, kuberusaha melepasnya namun malah semakin kuat ia mengunciku.
"Jangan marah pada Mas," bisiknya kemudian.
Aku tak bergeming tak kuasa menolak tubuh yang semakin erat mengunciku dan kini aku pasrah menerima peluknya.
"Apa semua sangat menganggumu? Apa kau menyesal bersama Mas??" semakin dalam suara Mas Dimas semakin menyayat hatiku. Aku terbawa sesak dengan prasangka mas Dimas atasku.
__ADS_1
Kujernihkan otakku dalam keheninganku, perlahan kueratkan tanganku membalas pelukan suamiku. Tak seharusnya aku marah, angin apa yang membuatku seolah begitu sesak. Tidak boleh sesak atas orang lain, sesakku harusnya hanya untuk suamiku. "Maafkan aku Mass," lirihku kini.
Beberapa saat, mas Dimas akhirnya melepaskan peluknya, ia terus menatapku. Aku berusaha tersenyum kini. Senyuman yang mungkin masih tampak dipaksakan tapi tetap kulakukan agar suamiku tahu, aku tak marah padanya.
"Sejak kapan mas tau?" lirihku bersandar di bahu suamiku kini.
"Kau ingat, saat kita kembali dari tangerang setelah menikah, siang itu Mayra merengek minta ketoprak, dan kita ke bakulan Firgie."
Akupun mengangguk.
"Siang itu aku membuat kau tetap di mobil juga Mayra yang kubuat asik bermain dengan ponselku, hingga aku masuk sendiri ke dalam memesan ketoprak saat itu. Entah mengapa aku ingin menemui laki-laki itu dan menanyakan mengapa ia bisa begitu tega menyakitimu? dan jujur sebagai pria yang tahu sulitnya melupakan, aku agak curiga saat malam itu kau menceritakan tentang perubahan Firgie juga smua kata-katanya."
Dan aku masih mendengar seksama potongan kisah dalam bingkai puzzleku yang selama ini kuanggap hilang.
"Siang itu akhirnya aku mengetahui yang sebenarnya, juga alasan mengapa ia melukaimu dengan kata-katanya."
"Apa yang ia katakan??" lirihku seraya kuhapus air mata yang terus memaksa keluar dari pelupukku.
"Hari itu saat hendak menemuimu di hari perjanjian kalian, sebuah sedan menerjang tubuhnya,"
"Akhhh," dan akupun turut merasakan sakit membayangkannya.
"Apa boleh mas melanjutkannya?"
Aku menenggelamkan wajahku kini di dada mas Dimas dan seketika mengangguk lirih.
"Tangan dan kakinya patah, dan matanya terhujam benda tumpul yang sangat keras. Ia buta. Dan ia sengaja mengucapkan kata-kata kasar padamu, agar kau bisa melupakannya. Sebab ia merasa tak bisa menjagamu dengan kondisinya."
Dan aku tersedu kini di dada suamiku.
Mas Dimas menyapu kepalaku kini, berusaha menenangkanku.
•
•
•
Beberapa saat berlalu, emosiku telah mereda. Kudengar mas Dimas memanggilku lirih, "Sayang ...."
"Hemm," jawabku.
"Apa kau menyesal menikah dengan Mas setelah mengetahui semuanya?"
Dan aku menatap mata suamiku saat ini, "Mengapa Mas berfikir demikian?"
"Karena kau terlihat begitu sedih. Andai kau mengetahuinya lebih awal, mungkin saja kalian bisa menghadapinya bersama," lirih terdengar suara mas Dimas kini.
"Tapi nyatanya ia berbohong. Dan aku benci kebohongan," ujarku.
"Jika saja kau bersamanya, kau tidak akan menanggung beban yang begitu besar dengan memiliki Diyara. Dengan Firgie kau pasti akan memiliki anak yang sehat-sehat. Tidak seperti Diyara yang menderita jantung bawaan dari keluargaku."
"Stop Mass, jangan ucapkan hal-hal seperti ini. Kau suamiku, jangan membandingkan dirimu dengan pria lain. Aku hanya akan hidup denganmu, aku milikmu seutuhnya, kau mengerti?" ucapku kini seraya mengeratkan pelukanku ke tubuh suamiku.
"Sungguhkah demikian?"
Kau meragukanku Mas??
🌷🌷🌷
🌻Happy Reading❤❤
__ADS_1