Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Kerinduan Yang Tertahan


__ADS_3

Kurebahkan kembali diriku setelah ibadah Isya kutunaikan.


Seminggu sudah setelah kejadian malam itu.


Saat kami sama-sama sepakat untuk saling melupakan.


Aku yang di siang hari tampak kuat. Berusaha membuang pandang terhadap mas Dimas saat bertatap namun selalu mencari dan mencuri pandangnya saat jauh.


Mas Dimasku kini selalu terlihat makan bersama Mbak Friss. Ia sudah berjanji membuka hatinya, dan ia bersungguh-sungguh melakukannya. Wajah mbakk Friss yang kini selalu memancarkan kebahagiannya. Berbeda terbalik denganku yang berusaha menutupi sesakku. Berusaha tersenyum dan baik-baik saja di depan yang lain. Namun saat malam tiba hatiku gundah, resah, sepi sangat menyelimutiku. Dan semua hanya bisa kuluapkan dengan tangisku.


Mas Dimasku .... Apa kau sudah benar-benar melupakanku mas? tetes demi tetes air mataku kembali pecah, mengingatmu selalu menyisakkan sesak untukku.


Dan seperti malam-malam sebelumnya, walau ragaku sangat letih namun mataku sangat sulit di pejamkan. Kubalik badanku ke kanan dan Kiri, kembali kucoba memejamkan mataku. Tapi bayangmu yang sedang bersama Mbak Friss selalu mengikuti, goresan hari-hari yang kita lalui selalu terekam jelas dalam otakku.


Aku letih Mas ... Sampai kapan bayangmu terus mengikutiku? bayang yang tak dapat kumiliki. Bagaimana caranya membuangmu dari hati ini? Sampai kapan sesak ini akan terus kurasa? Haruskah aku membuka hati untuk sosok lain agar bayangmu tak kembali hadir?


Kuambil ponsel dari dalam tasku. Seperti biasa banyak pesan dari Firgie muncul disana. Walau sering tak kujawab pesannya bahkan kuabaikan lebih tepatnya. Ia seakan tak pernah letih memberi perhatian padaku.


Mungkinkah dimatanya aku begitu patut dikasihani? Ya, mungkin itulah yang difikirkannya setelah kejadian dipesta hari itu.


Tiba-tiba ponselku berbunyi.


Nama Kak Fida tertera disana. Setiap malam memang ia rajin menelefonku. Sedikit mengurangi sesakku.


Segera kujawab telfon darinya, "Assalamu'alaikum Kak."


"Lagi ngapain Ly?" tanya kak Fida dari sebrang sana.


"Tidur-tiduran aja ka, biasa gak bisa tidur," ujarku.


"Ayo dong Ly stop mikirin masa lalu, lo buka hati lo buat Firgie aja," ucapnya.


"Gak semudah itu Kak. Biar luka di hati Ly mengering dlu," jawabku.


"Supaya cepet kering lo butuh obat Ly, dan Firgie obat yang pas. Kurang apa sih dia? Ganteng, iya. Baik, iya. Sholeh, iya. Lo mau cari yang gimana lagi?"


"Bukan masalah itu Kak, tapi aku masih trauma. Takut sakit lagi," ujarku


"Duhh, klasik banget sih. Belum tentu semua cowo itu sama dan brengsek kayak Pak Dimas."


Kenapa hati begitu sakit saat Kak Fida berkata buruk tentang mas Dimas, ia masih salah paham, aku harus meluruskannya, batinku.


"Kak, mas Dimas gak seburuk itu, dia orang yang baik kak, hanya saja keadaan yang ....


"Mulai deh, bela-belain tuh orang. Udah ah gw mo tidur, lo juga cepet tidur Ly, besok kita masuk pagi loh. Assalamu'alaikum," ujar Kak Fida segera menutup telfonnya.


Begitulah Kak Fida setiap kali aku ingin meluruskan yang sebenarnya. Dia selalu memotong ucapanku.

__ADS_1


🌻Saat ini Pukul 22:30


Ponselku bergetar, ada pesan masuk disana.


Mbak Susi, tumben. Ada apa ya? Harusnya saat ini ia sedang bekerja ko sampai menyempatkan mengirim pesan padaku, apa ada yang serius??


📩Ly ... kamu udah denger belum gosip dilingkungan kita yang beredar? kamu harus hati-hati di rumah yaa. Tampak isi pesan yang di kirim mbak Susi.


📨Gosip apa mbak? tanyaku.


📩Beberapa hari belakangan katanya kalo malem suka ada laki-laki kayak preman mantau area kontrakan. Mbak hawatir sama kamu Ly, kamu kan selalu sendiri d rumah.


📨Masa sih mbak?


📩Iya Ly ... bajunya rapet pakai kupluk juga, takunya dia mau mencuri atau niat gak baik lainnya. Kamu jangan keluar-keluar sekarang kalo malem ya!" ujarnya sungguh-sungguh.


📨Iya mbakku ... aku juga sekarang memang setelah maghrib sudah d rumah terus dan jarang keluar".


📩Yauda bagus mbak lanjut kerja dlu ya! Ini mbak lagi izin ke toilet Ly. Assalamu'alaikum"


📨Wa'alaikumsalam


Masa sih ada orang bgitu di sekitar sini, serem banget sih kalo emang benar, batinku.


Kurebahkan kembali tubuhku di kasur, berusaha memejamkan mata. Lagi-lagi aku mengingat momen-momen bersama Mas Dimas, hatiku tiba-tiba sesak.


Mengapa kami tidak bisa bersama Ya Robb? mengapa Mas Dimas harus sudah di tunangkan? Mas dimas aku benar-benar rindu padamu dan kembali mataku basar karenanya.


Siapa ya?angkat gak ya?


Mungkin saja penting sampai menelepon di tengah malam begini.


"Hallo, Assalamu'laikum," tanyaku. Tidak ada jawaban dari sana.


"Assalamu'alaikum.." Kuucapkan salam ku lagi, hingga ba-tiba beberapa saat kemudian ada jawaban dari ujung sana.


"Ly ....." Tiba-tiba jantungku berdetak kuat! Suara ini.


"Kamu belum tidur Ly?" tanyanya lagi.


"Belum mas," jawabku.


Tangis dimataku tak mampu kubendung, sosok yang selalu kuridukan. Ia sedang berbicara denganku, salahkah aku? Hah biarkanlah, untuk malam ini saja, batinku mencari pembenaran.


"Lyra ... " terdengar suara yang sangat berat darinya.


"Mas dimas ... " kusebut namanya. Beberapa kali Sesenggukanku tak dapat kutahan.

__ADS_1


"Kau menangis Ly?"


"Mas ... " hanya kata itu yang mampu kuucapkan.


"Kau merindukanku Ly?" tanyanya dengan nada yang juga sendu disana.


"Mas Dimas," ucapku lirih padanya.


"Kau baik-baik saja Ly?"


Aku terdiam, Aku tidak baik mas ... batinku.


"Ly, jika boleh mas ingin bertemu!" kata-katanya terdengar tertahan, khawatir sang gadis menolak keinginannya.


"Maksud Mas?"


"Aku diluar Ly," jawabnya.


Diluar? Maksud mas Dimas, diluar kontrakankah? Segera kuberhambur ke ruang tamu, kuintip sedikit dari sudut jendelaku. Mas Dimasku apa benar ia disini? Dan benar ... IA DISANA? entah perasaan apa ini, bahagia yang diliputi sesak. Segera kubuka daun pintu yang membatasi kami.


Mata kami saling bertatap, setelah sekian lama aku berani menatap cukup lama mas Dimas, ia tampak berbeda dengan kupluk di kepalanya.


Ia masih berdiri mematung. Apa harus kuajak masuk? Tapi ini sudah sangat malam. Akhirnya kududukan diriku dilantai teras kontrakanku. Mas Dimas mengikuti duduk disisiku.


Oh, karna begitu terburu-buru tadi, aku tidak memperhatikan penampilanku. Aku memakai celana diatas lutut saat ini, walau dengan kaos oblong longgar tapi sangat malu rasanya. Kututup dengan kedua tangan bagian pahaku yang mulai terlihat saatku duduk. Aku bergegas berdiri ingin mengganti celanaku dengan yang lebih sopan, tapi mas Dimas menahanku.


Jangan pergi Ly, aku hawatir saat kau masuk aku tidak akan melihatmu lagi, batin mas Dimas.


Mas Dimas membuka jaket hitamnya, di letakkannya jaketnya kini di pahaku agar tak terekspos matanya.


Suasana hening. Kami saling menengok dan bertatap. Mata mas Dimas berkaca, begitu pula dengan mataku.


"Kenapa mas disini?" tanyaku mencairkan suasana.


"Aku merindukanmu Ly," tetesan kesedihan tumpah dari sudut matanya.


Mas Dimas, akupun merasakan hal yang sama denganmu mas. Kerinduan ini, rasa yang tertahan ini ... air mataku pun tumpah seketika.


Mas Dimas mendekatkan tubuhnya padaku, seketika menarikku dalam dekapannya tanpa permisi.


"Mas ...."


Aku mematung menerima peluknya. Kurasakan tubuhnya hangat dan sangat jelas kurasa detak jantungnya yang memompa sangat cepat seakan bersahutan dengan detak jantungku saat ini. Aroma tubuhnya tercium jelas, wangi yang sangat kurindukan.


Setelah menahan tak membalas peluknya, akhirnya aku kalah. Aku terbawa emosiku dan memeluk tubuh kekarnya.


Tangis kami sama-sama pecah, tangis kerinduan.

__ADS_1


●●●●


🌻Happy reading😍


__ADS_2