Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Kebenaran Dimas


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Matahari yang mulai meninggi, menebar hawa panas yang terus mengikuti. Hingga masuklah Terios kami ke gerbang rumah besar berwarna putih saat ini. Tampak terparkir pula di pelataran, sebuah Innova hitam yang asing dan belum pernah aku lihat sebelumnya.


"Sepertinya sedang ada tamu di rumah Mas," ujarku pada suamiku yang terlihat tampan dengan kaos oblong berwarna abu-abu yang menempel di tubuhnya kini.


"Itu mobil Bulik Har, Sayang ..." ucap Mas seraya menarik kunci mobilnya kini.


Tak menunggu lama kamipun turun, Mas Dimas segera membawa tas bayi yang berada di bagasi belakang. Mayra tampak telah berlari lebih dulu menuju rumah. Aku dan Mbak Dinar beriringan seraya menggendong si kembar diikuti mas Dimas di belakang kami tampak santai sambil sesekali menggoda Diyara dalam gendonganku.


Dan di ruang tamu, kami berhenti. Terlihat disana Bulik Har, Paklik Ihsan, dan seorang gadis seusia Shifa tampak duduk manis di sisi Bulik Har saat ini.


"Bulik, Paklik ...," sapa mas Dimas seketika mendekati adik dari Ayahnya dan istrinya tersebut, akupun mengikuti suamiku mendekati mereka setelah sebelumnya kusuruh mbak Dinar menidurkan Dirga dikamar atas.


"Dimas, Lyra, kalian sedang menginap disini to?" ucap bulik tampak kaget dengan kehadiran kami.


"Iya Bulik, ini Dek Tiara kan? Sudah besar yaa, kayaknya Dimas terakhir ketemu pas kamu masih SD, sekarang lo kok tingginya sudah menyamakan Mas," ujar Mas Dimas menggoda keponakannya.


"Ya sudah besar to Dim, Tiara dan Shifa kan seumuran, adekmu saja sudah besar begitu ya Tiara juga tentunya. Bulik dengar kini Shifa tinggal denganmu di Bandung?"


"Iya Bulik, Shifa kuliah disana," ucap mas Dimas.


"Lha mau gimana lagi Dek, wong anaknya disuruh kuliah disini gak mau, maunya ambil Design. Nah di Cikarangkan sekalinya ada jaraknya jauh. Kalau di Bandung dekat dari rumah Masnya. Ya sudahlah biar disana," sela ibu yang tiba-tiba datang dari arah dapur bersama Mbok Rumi dengan nampan berisi teh ditangannya.


"Iyalah Mbak, anak biar mengikuti mimpinya, sambil kita tarik ulur memantaunya. Oyaa, Ini Diyara kah?" dan Bulik Har tampak memperhatikan Diyara saat ini.


"Iya BuLik," jawabku.


"Anakmu cantik Ly, sebelumnya maaf ya, Bulik gak bisa dateng kesyukuran di rumahmu setelah kepulangan Diyara tempo hari,"


"Iya gpp Bulik, yang penting do'a dari seluruh keluarga itu sudah cukup, terlebih rumah Dimas juga jauh," ucap mas Dimas memaklumi.


"Lalu sekarang kondisi Diyara bagaimana?"


"Alhamdulillah kondisi Diyara stabil, ia aktif seperti anak-anak lainnya Bulik," jawab mas Dimas tampak lugas.


"Alhamdulillah, penyakit jantung memang lebih bagus diketahui di awal sehingga cepat diatasi dan tingkat penyembuhannnya akan lebih besar. Kamu ingat anaknya bude Sugi, ia masih pantaran kamu lho Dim, tiba-tiba ambruk dan meninggal katanya kena serangan jantung. Dan parahnya gejala penyakit itu sudah ia rasa tapi diabaikannya. Nah kalau begitu apa gak bodoh?"


"Huk ... Hukkk ...." dan seketika kulihat mas Dimas terus batuk. Ibu dengan cekatan menyuruh mas Dimas minum dan terus menatap wajah putranya dengan pandangan yang tak bisa kubaca. Seperti kemarahan atau kehawatiran.


"Ada apa Mas?" ujarku terkaget pula.


"Dimas tidak apa-apa Buk ..., Mas baik Sayang." ujar mas dimas tersenyum membuang kehawatiranku dan ibu.


"Apa Bulik boleh lihat bekas operasi itu Ly?"


Akupun mengangguk. Seketika kusingkap gaun Diyara keatas hingga tampaklah bekas operasi di tubuh mungilnya.


"Ohh, anak yang malang ...


Oekk ... Oek .... Diyara yang sebelumnya tenang dalam pangkuanku seketika menangis, ia seperti merasakan ketidaknyaman saat ini.


"Lyra kedalam dulu menyusui Diyara Bulik," ujarku segera naik ke lantai atas dan menyusui Diyara di kamar.


"Kamu harus extra dengan Diyara lo Dim, yang Paklik tau tidak ada penyakit jantung yang sembuh total, Diyara tidak boleh terlalu letih dan emosinya harus selalu di jaga," ujar Paklik Ikhsan saat ini.


Mas Dimaspun mengangguk.




🌻***Dimas*** ...



**Pukul 20:00**


Kata-kata Bulik Har terus terekam diotakku saat ini, Putra Bude Sugi meninggal tiba-tiba karena penyakit ini. Bagaimana jika semua terjadi padaku, aku belum siap. Lyra-ku, Mayra, si kembar ... mereka masih membutuhkanku. Aku harus mengikuti saran ibu dan segera mengobati penyakitku. Aku harus hidup lebih lama untuk orang-oang yang kucintai.



Tiba-tiba ponsel dalam sakuku terus saja berdering.



"*Assalamu'alaikum*, halo Mang. Tumben menghubungi? Bagaimana kondisi rumah?"



"*Wa'alaikumsalam* ... Rumah aman Pak, hanya saja Mbak shifa ...,"



"Ada apa dengan Shifa? Apa ia sakit?" tanyaku dengan penuh kehawatiran.

__ADS_1



"Mbak Shifa sehat Pak, tapi beberapa hari ini saya gak boleh nganter dan jemput Mbak Shifa," lirih suara Mang Diman dari dalam ponsel yang digenggamnya.



"Lalu bagaimana ia berangkat dan pulang??" heranku kembali.



"Ada yang menjemput Pak,"



"Pria dengan Yaris hitamkah?" terkaku, karena hanya dia teman Shifa yang kutau.



"Benar Pak."



"Apa Shifa pernah mengajaknya ke rumah?" dan aku mulai berfikir macam-macam dengan adikku. Hawatir terjadi sesuatu padanya.



"Pernah 1x Pak, lelaki itu sopan kok Pak. Dia menunggu mbak Shifa diluar rumah mengobrol dengan saya."



"Baiklah. Tetap jaga kondisi rumah, In syaa Alloh besok saya pulang."



"Baik, maaf mengganggu Pak. *Assalamu'alaikum*."



"*Wa'alaikumsalam*," kuletakkan ponselku setelahnya ke atas nacash.



Shifaa, siapa lelaki itu? Apa ia serius denganmu? Aku harus bertemu dengan lelaki itu setelah sampai di Bandung ...







*Tok ... Tok* ...



"Siapa?" terdengar suara ibu dari dalam kamar saat ini.



"Dimas Bu,"



"Masuklah Nak," ucap ibu kembali.



Kubuka perlahan pintu yang membatasi kami, terlihat ayah nampak sedang duduk di sofa dengan ponsel di tangannya, dan ibu di sisinya tampak menatap dalam.



"Kemarilah Nak?" lirih ibu memanggilku.



Akupun turut duduk di sofa saat ini.



"Kau jadi kembali ke Bandung besok Dim?" tanya ayah padaku saat ini setelah meletakkan ponselnya di meja.



"Jadi Yah," jawabku.


__ADS_1


"Bagaimana kau sudah memikirkannya Dim?" ucap ibu.



Akupun mengangguk.



"Yah, ada yang ingin kami sampaikan padamu," ibu tampak menatap ayah dengan serius kini.



"Ada apa ini, mengapa wajah kalian begitu serius, apa Diyara sakit kembali kah?"



"Bukan, bukan itu Yah. Tapi ini mengenai Dimas," lirih Ibu.



"Ada apa denganmu Nak? Katakan saja jangan sungkan..!! Kau membutuhkan dana kah?" terka ayah kembali.



"Yahh, tunggulah anakmu bicara."



"Ayah, Dimas mengidap jantung pula seperti ibu dan Diyara," dan aku akhirnya memberitahu kenyataan penyakitku pada ayahku. Kulihat ia tampak tertegun seolah tak percaya dengan yang di dengarnya.



"Apa-apaan ini, suatu penyakit tidak patut dijadikan bahan candaan," tampak kegusaran di wajah ayah.



"Dimas tidah bercanda Yah. Dimas mengidapnya pula," lirihku.



"Benarkah itu Bu?"



Dan ibupun mengangguk.



"Sejak kapan ini? kau juga membantu putramu merahasiakannya padaku Bu?" ayah tampak marah padaku dan ibu.



"Semua salah Dimas yah, ibupun belum lama mengetahuinya."



"Jawab, sejak kapan Dim?" tanya ayah kembali dan merubah posisinya di sebelahku kini.



"Sebelas bulan yang lalu. Saat Friss kembali hadir, Dimas sering merasakan sesak di dada Dimas. Diam-diam Dimas melakukan cek dan hasilnya memang ada masalah di jantung Dimas. Tapi menurut dokter saat itu, jantung Dimas masih bisa diobati dengan bantuan obat, sambil terus melihat perkembangannya."



"Perkembangan apa? Kau menahan sakitmu hingga pingsan. Anakmu ini pernah pingsan 2x yah. Dan jantung itu harus sering dilakukan cek. Kapan terakhir kali kau cek kembali jantungmu, jawab ibu Dimas?" ujar ibu mulai terisak.



"Tidak lagi setelah 11 bulan yang lalu."



"Kau lihat itu Yah, dan kemarin anakmu bahkan menolak dilakukan cek atas jantungnya. Apa kau ingin menjadi orang yang bodoh seperti putra bude Sugi. Apa kau tega meninggalkan istrimu dan ketiga anakmu? Ibu kesal dengan cara berfikir putramu Yah, Dan lagi kau tau Yah, ia juga pernah bicara ingin mendonorkan matanya setelah tiada. Apa kau begitu bahagia berfikir untuk meninggalkan kami?? Kau tidak memikirkan perasaan ibumu? Ayahmu? Istrimu? Anak-anakmu?? Dan seluruh keluargamu?? Kau sangat egois Dim ...." ujar ibu dengan air mata yang terus berlinang.



*Krek* ....



*Ada apa ini Mass*??



🌷🌷🌷



🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


__ADS_2