
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻Masih lanjutan POV Shifaa ...
Itulah penggalan kisahku sebulan yang lalu. Kalian penasaran apa yang terjadi setelah sholat hari itu, hmm ... hari yang menyenangkan berubah menjadi hari yang menyebalkan saat itu. Mas Firgie yang sudah tak sabar kutemui usai ibadah Magribku, nyatanya ia raib beserta mobilnya pula, ia meninggalkanku.
Memang kepergiannya tak begitu saja, sebab ia ternyata mengirimkanku pesan sebelum lenyapnya ia di muka masjid malam itu.
"Maaf aku ada keperluan, pulang sendiri gpp kan??"
Sangat menyebalkan... menyebalkan.!!!! Makiku lirih.
Laki-laki macam apa itu? Tega sekali!!! Memang hari itu aku bisa langsung pulang lantaran ada Mang Diman yang selalu standbye di rumah Mas-ku. Tapi bagaimana jika saat itu baterai ponselku habis, aku bahkan pendatang baru di Bandung ini, jika aku tersesat bagaimana?? Kesal rasanya malam itu kurasa.
Tapi alhamdulillah, kekesalan itu sekejap kemudian sirna, semua lantaran otakku mulai bekerja kembali. Yahh, setidaknya aku punya alasan untuk bertemu dengan mas firgie kembali.
Pertemuan kedua, ketiga, dan keempatpun terjadi, makan bersama sudah menjadi aktifitas kami. Sesekali mengobrol dan bercuri pandang kerap terjadi. Walau ia sepertinya hanya menghadirkan raganya, mungkin ia butuh teman kurasa, karena ia juga perantauan sepertiku. Dan kami berteman saat ini, hubungan yang menurutku okelah sebagai pembuka di awal. Sebenarnya cukup sering aku menampilkan getar-getar rasaku padanya, tapi aku hanya dianggap bocah kecil dimatanya. Kesal sebetulnya, tapi mau gimana lagi? melihatnya tersenyum dan mau berbicara denganku sudah sesuatu untukku.
•
•
•
°°Dan hari ini, adalah pertemuan ke 5 kami, Kelasku memang di mulai jam 13:30 siang dan berakhir pukul 17:30. Aku memiliki waktu luang setelah ba'da Magrib, dan diaturlah pertemuan sesuai jadwalku.
"Jam 19:00 di bakulan pecel Ayam ya Mas..!!!"
Sebuah pesan yang kini tak menunggu lama lagi di balas, tidak seperti di awal-awal pertemuan kami. Aku bahkan harus berkali-kali bertanya atau berpura-pura salah kirim pesan baru ia akan merespon. Dan saat ini, dalam hitungan detik jawabannya tampak sudah tertera ...
"Iyaa."
Laki-laki ini memang pelit kata-kata, tapi aku mulai terbiasa.
~~
Aku duduk di bakulan pecel lele saat ini, mang Diman sudah langsung kuminta pulang setelah mengantarku kesini tadi. Semilir angin selalu menjadi rekanku tatkala orang yang kunantikan tak jua terlihat.
Guna menghilangkan bosan kuperhatikan orang yang seakan tak pernah habis berlalu-lalang melewatiku, muda-mudi dengan pakaian rapi maupun santai tampak berbaur. Entah ia merehat sambil memberi hak perutnya ataupun hanya sekedar berkumpul bersama orang terdekatnya menjadi tontonan mataku.
Hingga 5 menit berlalu, Yaris hitam yang mulai kuhapal platnya D 4R17 AFR sedang mencari celah untuk turut berbaris bersama kendaraan lainnya.
Dan tak lama sosok dengan gaya cool tampak berjalan kearahku. Kutarik nafasku panjang berusaha menormalkan pacuan jantungku yang mulai memompa lebih cepat didalam sana.
Ia tampak duduk di hadapanku saat ini,
"Sudah pesan??"
"Belum, kan tunggu mas datang," ujarku bersemangat namun dibalas tampang datarnya.
"Mang, pecel hayamna 2 porsi sareng 2 es teh nyak!!!" ucap santun mas Firgie terhadap pelayan bakulan saat ini.
__ADS_1
"Mangga Cep diantos," seketika dijawab santun pula oleh sang pelayan sambil berlalu menjauh dari meja kami.
"Bagaimana pekerjaan Mas hari ini?" ujarku memulai tanya.
"Alhamdulillah," ujarnya seraya menyeruput es teh manis yang telah diantar lebih dulu sesaat tadi.
"Kau sendiri bagaimana belajar hari ini?"
"3 bulan ini materi masih aman Mas, walau sambil menahan kantuk aku masih mendengar cuitan pengajarku."
"Berusahalah dengan keras, yakin hasil tidak akan menghianati proses," ujarnya bijak dan lagi-lagi membuatku meleleh mendengarnya.
Tampak pelayan meletakkan pesanan kami saat ini,
"Nuhun Kang," ucap spontan mas Firgie dibalas anggukan oleh sang pelayan.
"Ayo, sambil dimakan..!!"
Akupun mengangguk.
"Mas, boleh tanya gak?" ujarku serius.
"Mas kan udah mau 30 tahun, kok belum nikah sih??" tanyaku dibalas senyuman kecil olehnya.
"Ditanya kok malah senyum sih Mas?" ujarku kemudian kumasukkan suapan pecel ayam kemulutku.
"Gak ada yang suka sama aku,"
"Masa sih??" ucapku heran, pria ini senang sekali merendah, batinku.
"Kalau gitu mas sama aku aja, aku siap disakiti kok. Namaku kan Shifa, sesakit apapun hatiku nanti, aku akan bisa mengobatinya," gurauku sambil kusunggingkan senyum kearahnya.
Dan ia kulihat hanya menggeleng-geleng.
"Gimana Mas??"
"Makan yang tenang nanti tersedak. Kamu nggak ngerti apa yang kamu ucapkan."
"Aku serius Mas,"
"Kamu masih muda, pakai usiamu untuk belajar. Kalau sudah waktunya baru bermain dengan yang namanya hati."
"Kata-kata Mas ini kok mirip sama ucapan mbakku sih, dia nyuruh aku sekolah yang bener, kalau udah siap nikah baru ngomongin cowok, begitu katanya."
"Oya, berarti aku sama mbakmu sehati."
"Ishh dasar," lirihku sambil mengerucutkan bibirku.
"Mas, Mas tau gak, aku juga punya kakak laki-laki seusia Mas," ucapku sambil mengunyah makanan di mulutku.
"Oya, apa dia sudah menikah??"
"Sudah. Sudah 3 anak masku," ucapku.
"Aku jadi berasa tua, gadis kecil yang tempo hari kamu bawa itu anak Masmu?"
__ADS_1
"Iya, itu anaknya yang sulung. Yang 2 kembar, gemesin deh. Nanti kapan-kapan mampir dong Mas, sekalian kukenalkan Mas Firgie dengan Mas dan Mbakku."
Dan mas Firgie hanya tersenyum menanggapi ajakanku.
"Oya Mas, kan banyak kota di Indonesia. Kok Mas milih buka cabang di Bandung sih??"
Mas Firgie tampak tak bergeming ia seakan berfikir keras untuk menjawab tanyaku. Hingga tiba-tiba ia berkata lirih, "Aku mencari seseorang disini."
●●●●
🌻POV Firgie
"Hallo selamat siang, dengan Bapak Firgie?"
"Saya sendiri."
"Apa benar Bapak sedang membutuhkan donor mata untuk saat ini?"
•
•
•
Laksana hujan emas saat ini kurasa. Setelah hujan batu terus menghujaniku bertahun ini. Mungkinkah keajaiban itu ada?? tapi memang tidak ada yang tidak mungkin jika Sang Pencipta telah berkehendak. Dan hari ini, seseorang mengabari bahwa telah tersedianya donor mata untukku.
Hal yang sangat mengherankan kurasa saat ini, sebuah rumah sakit besar disuatu wilayah Elit tiba-tiba menghubungiku dan telah mempersiapkan operasi untukku. Tempat yang jauh dari jangkauanku, bahkan aku baru mendengar nama daerah itu saat ini. Darimana Rumah Sakit itu tau bahwa aku membutuhkan donor mata? Siapa yang mendaftarkanku disana? Bagaimana ia tau nomer kontakku? banyak tanya berputar diotakku saat ini.
Namun aku tak ingin membuang kesempatan yang datang padaku, hal langka yang mungkin tak terjadi 2 kali, ada pasien yang rela mendonorkan kornea matanya untukku. Mengenyampingkan semua tanyaku, aku didampingi Fikra dan ayahku mendatangi rumah sakit besar itu, segala peralatan telah disiapkan disana. Sesuai jadwal yang mereka katakan. Di jam itu operasiku berjalan.
Setelah 2 jam, operasi akhirnya selesai, dan 3 hari setelahnya perbankupun di buka. Hari itu aku melihat warna kembali, wajah-wajah yang selama ini selalu mensupport kondisiku semua ada dihadapanku. Seluruh keluargaku hadir disana. Hatiku berbisik, andai orang yang kurindukan juga ada disini. Oh, kata-kata bodoh, bahkan dia sudah menikah dan pasti berbahagia dengan mantan kekasih pertamanya, Dimas.
Hal yang pertama tersirat diotakku adalah, siapa orang di balik ini? Bahkan rumah sakitpun tidak menerima sepeserpun uang pembayaranku. Ada apa ini?? Ia pasti orang yang mengenalku.
Kudatangi ruang dokter yang menanganiku saat ini, namun ia tak jua bergeming, kukuh dalam diamnya. Ia hanya berkata,
Suatu saat anda akan tau ...
Teka-teki apa ini, siapa orang yang rela mengorbankan banyak hal untuk kesembuhanku.
Tiba-tiba aku jadi teringat sosok lelaki bajinga*n yang pernah menawariku mata. Tidak, tidak mungkin itu dia. Aku sudah jelas-jelas menolaknya hari itu. Sepasang mata untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga orang lain.
Apalagi kehidupan rumah tangga orang tercintaku, imanku tidak serendah itu. Lalu siapa sosok itu?? Terus kudesak sang dokter, hingga keluarlah 1 clue itu, "Sentra Duta" orang yang memperjuangkan kesembuhanku tinggal di sekitar Sentra Duta.
Dan aku membuka cabang disini, jauh dari keluargaku sebab rasa penasaranku pada orang yang membuatku melihat warna dan seluruh keindahan ciptaanNYA. Aku merasa berhutang terima kasih padanya.
Memang semuanya samar untukku tapi bukan tidak mungkin suatu saat aku akan menemukan orang tersebut. Dan gadis dihadapanku, entah skenario apa hingga ia masuk kedalam kehidupanku. ia memberi warna berbeda dari lukisan warna hitam gelap yang diliputi sepiku menjadi lukisan berwarna yang memberi nyawa dalam bingkai persahabatan yang ia tawarkan.
Gadis yang aneh, bahkan aku seusia kakaknya yang telah memiliki 3 putra. Tapi entah mengapa ia terus merapat padaku. Dan entah mengapa pula aku selalu mengiyakan ajakan gadis tersebut.
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
🌻Sambil nunggu up, boleh mampir ke karya terbaru thor😊
__ADS_1