
Lanjuutt yaa👋☺..
👉"Kenapa mesti ada pelakor?"
❤Pelakor muncul untuk mengukuhkan cinta, hiii author ngeles😃😃
🌻Tenang ya my readersku, novel Lyra sampai akhir bulan ini aja, tetep ikuti yaa😘
🌷🌷🌷
🌻FLASHBACK
Hahh, mbak Friss lagi-lagi mengarahkan pisau ke nadinya, ia tampak tidak main-main, ia menggoreskan pisau kelengannya. Darahpun seketika menetes, kedua susterpun kaget, demikian pula denganku.
Seseorang Suster tampak menghampiriku kini, ia memintaku meyakinkan Mbak Friss untuk menghentikan aksinya. Iapun berkata aku akan ikut bertanggung jawab jika sampai terjadi hal buruk pada mbak Friss. Kata-kata yang membuatku seketika bergidik dan tak ingin semua sampai terjadi.
"Apa yang bisa kulakukan untuk merubah ide burukmu Mbak? Kau harus tetap bersemangat hidup," hanya kata itu yang ada diotakku saat ini, tak kufikir akibat yang akan kuhadapi kedepan. Satu-satunya yang kufikir adalah bagaimana menghentikan mbak Friss saat ini.
Iapun memintaku mengembalikan kasih sayang Mayra padanya, dengan pertimbangan ia adalah ibu kandung Mayra, akupun mengiyakannya.
Namun tak sampai situ, mbak Friss kembali meminta hal lain dariku. Ia memintaku membawanya untuk tinggal bersama kami ...
Permintaan yang pasti tidak suamiku sukai, karena mas Dimas sangat tidak suka orang asing masuk kerumahnya, terlebih ia adalah mbak Friss mantan istri yang pernah menduakannya. Bagaimana ini?
Akupun terdiam beberapa saat, kututurkan kembali setelahnya bahwa aku harus meminta izin suamiku. Namun lagi-lagi kata-katanya menggoyahkanku, ia berujar kalau ia adalah ibu kandung Mayra dan mas Dimas akan marah dan kecewa jika aku tak menolongnya, mungkinkah mas Dimas akan berfikir seperti itu? Iapun berujar bahwa kehadirannya tidak akan mengganggu hubunganku dan mas Dimas.
Aku sangat bimbang saat ini sedang ponselpun sedang tak kubawa. Untuk menenangkan mbak Friss, kuputuskan membawa mbak Friss kerumahku sambil kucoba bicara perlahan mencari menyelesaian dengan mas Dimas di rumah nanti.
Setelah luka mbak Friss selesai diobati, dan kuberi jaminan pada suster bahwa mbak Friss segera akan melakukan kemoterapi kembali. Merekapun mengizinkan mbak Friss pergi.
Kulangkahkan kakiku saat ini ketempat dimana kutinggalkan putri kecilku dan Bik Lasmi sesaat tadi. Tampak putriku segera menghambur memelukku, namun kulihat wajah panik dalam tatapan Bik Lasmi. Aku tahu keputusanku tidak benar tapi aku tak punya pilihan.
Bik Lasmi terus menatapku, sampai kuanggukan kepalaku seolah kusampaikan semua akan baik-baik saja. Baru kemudian Bik Lasmi melepaskan tatapannya.
"Mayra, kemarilah Nak, aku ibumu Nak!!!" seketika mbak Friss berucap kata-kata yang membuat Mayra takut. Mayrapun bersembunyi dibelakangku menghindarinya.
Kurendahkan tubuhku menyamai tinggi putriku, kemudian kuberujar, "Sayang, ini teman bunda, orangnya baik sekali. Ayo cium tangan padanya!!" lirihku.
Mayra menatap wajah mbak Friss beberapa saat, dan melihat anggukanku setelahnya baru kemudian ia mau menjulurkan tangannya.
"Kau sangat cantik Sayang, panggil aku Mama ya Nak!!!"
Mayra kembali memelukku saat Friss mulai berceloteh mengenai panggilan Mama untuknya.
"Namaku sudah dipanggil Bik?"
"Sudah Bu, di plastik ini semua resep ibu. Tadi dikasir saya diberi kartu ini," ujar bik Lasmi.
"Terima kasih Bik. Ini kartu asuransi saya."
__ADS_1
"Ibu tidak bayar?"
"Sudah langsung dibayarkan dari asuransi yang dibayarkan mas Dimas setiap bulan Bik," jelasku.
"Ohh, begitu ya Bu. Maaf saya kurang paham berobat pakai kartu Bu," polos bik Lasmi.
Dan akupun tersenyum menanggapi ucapannya.
"Ayo kita pulang," ujarku setelahnya.
•
•
•
🌻Masih diperjalanan ...
"Lyra, apa kita bisa mampir ke rumahku dulu ambil pakaianku?"
Akupun mengangguk.
"Mang Diman kita ke rumahku dan mas Dimas yang lama!!"
Uhh, mendengar kata-kata seperti ini, rumah mbak Friss dan mas Dimas, sabar Lyra ... Mbak Friss sedang menghalu masa lalunya, batinku.
"Bu, Ibu yakin bawa Ibu Friss ke rumah Ibu," tanya Bik Lasmi saat mbak Friss sedang masuk ke rumahnya.
"Saya terpaksa Bik, tadi mbak Friss nyaris memotong nadinya," ujarku sambil melirik Mayra yang terlelap dipangkuan bik Lasmi.
"Bapak pasti marah Bu, ada orang asing masuk rumahnya," ujar bik Lasmi sambi membetulkan posisi Mayra di tangannya.
"Saya hanya berminat menolong Bik, ada sel kanker bersarang dipayudara mbak Friss dan menurutnya usianya tak akan lama," lirihku.
"Bu Lyra terlalu baik tapi Ibu harus tau, Bu Friss bisa berbuat apa saja untuk yang ia inginkan."
"Oya, itu orangnya datang. Entahlah Bik, bismillah saja, semoga Alloh selalu menjagaku dan keluargaku."
"Aamiin Bu."
●●●●
🌻KEDIAMAN SENTRA DUTA 13:05
"Langsung bawa Mayra ke kamarku saja ya Bik," ujarku saat Jazz Silver telah memasuki pelataran rumah kami.
"Mbak kau ikuti aku,"
Mbak Friss-pun mengangguk.
__ADS_1
•
•
Kuarahkan kakiku ke kamar tamu saat ini,
"Ini kamarmu Mbak, maaf sudah lama tak di tempati. Akan kusuruh Bik Lasmi membantumu membersihkan kamar ini," ujarku.
"Lyra, tunggu!!!" panggil mbakk Friss saatku berbalik kearah pintu keluar.
"Ada apa Mbak?"
"Kenapa tadi kau tak memberitahu Mayra kalau aku ibu kandungnya? Apa jangan-jangan kau berbohong padaku?"
"Bersabarlah Mbak, aku selalu memegang ucapanku. Kau lihat tadikan, Mayra terus sembunyi saat kau menekannya untuk memanggilmu Mama, aku akan memberitahunya dengan caraku."
"Baguslah."
"Makanlah yang banyak Mbak. Siapkan jadwal kemoterapimu selanjutnya. Kau harus bersemangat sembuh jika kau ingin tetap tinggal disini."
Seketika kutinggalkan mbak Friss di kamarnya, dan kulangkahkan kakiku ke lantai 2 menuju kamarku.
Kulaksanakan ibadah Zuhurku dan kututup dengan do'a setelahnya.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
Baru kemudian kurebahkan diriku dikasur sambil mengingat setiap hal yang terjadi hari ini? Semoga mas Dimas tidak marah dan memahami keputusanku ya Robb ...
Kutatap gadis kecil disisiku kini ...
Mayraku,
Bunda terpaksa membawa ibu kandungmu kerumah ini,
Hanya karena empati bunda atas penyakitnya,
Cinta bunda selalu untukmu Sayang,
Tidak akan bunda biarkan siapapun menyakitimu apalagi merebutmu dari bunda ...
Kau selamanya anak bunda ...
Kuciumi gadis kecil disisiku, dan iapun merasakannya. Melingkarlah kini tangan mungil Mayra memeluk perut buncitku, pelukan untukku sekaligus untuk kedua adiknya. Akupun ikut terlelap setelahnya ...
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1