
●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤
●Menuju ending😊
●Lanjuutt yaa👋☺
🌷🌷🌷
Kossan bertingkat bernuansa biru muda dengan banyak pintu berjejer tertangkap mata kami saat ini. Kossan yang berada di pusat kota Bandung dengan dilengkapi berbagai fasilitas tampak dihadapan kami saat ini.
Namun kossan ini tampak sepi seakan tak berpenghuni, akhirnya kami memilih mendekati satpam yang sedang berjaga diluar.
Setelah berbincang beberapa saat menanyakan sosok penghuni bernama Bumi, satpampun menyampaikan ujarannya bahwa telah beberapa hari ini nak Bumi pulang ke kampung halamannya.
Kamipun terhenyak, dan saat kami menanyakan adakah seorang bayi bersamanya saat ia pamit pulang kampung, satpam berujar benar ada bayi perempuan dan menurut nak Bumi itu adalah keponakannya.
kamipun bertanya kembali, berapa lama biasanya Bumi pulang kampung. Satpam tampak menggeleng menanggapi ketidaktahuannya.
Aku dan Mas Dimas sangat bingung dan panik. Kamipun bertukar nomer hp kepada Satpam tersebut dan meminta agar pak Hadi satpam tersebut untuk menghubungi mas Dimas saat pemuda bernama Bumi itu telah kembali.
Kami kembali ke rumah dengan langkah gontai, ibu yang menghadang di depan pintu berharap melihat cucu yang dirindukannya terlihat kecewa dan hawatir dimana keberadaan cucunya.
Mas Dimaspun tiba-tiba teringat sesuatu,
"Bu, aku akan menghubungi Om Banu dan memintanya untuk membantu menemukan keberadaan Bumi, bagaimana menurut ibu?" ujar mas Dimas penuh pengharapan.
"Tidak bisa Nak, Mas Banu sedang di tugaskan ke daerah pedalaman memantau sekelompok orang yang meresahkan warga disana, dan menurut mbak Rita istrinya daerah itu tak ada sinyal bahkan iapun belum memperoleh kabar suaminya," lirih ibu.
"Ya Rob, lalu apa yang harus kita lakukan," ucap mas Dimas.
"Tidak ada jalan lain, kita harus menunggu hingga pemuda bernama Bumi itu kembali ke Bandung. Ia bekerja disini bukan?" tanya ibu seraya menatapku yang tampak sedih dengan kenyataan hari ini yang lagi-lagi belum ada titik terang tentang keberadaan Diyara.
"Menurut ibu panti ia bekerja paruh waktu di Bandung," ucap mas Dimas.
"Ohh, apa dalam benak bocah itu, 19 tahun pekerja paruh waktu tapi berani ingin merawat seorang anak. Akan diberi makan apa cucuku? Awas saja kalau cucuku sampai kondisi gizinya buruk," geram ibu.
"Ibu ...." isakku kini, tak tahan rasanya mendengar kenyataan yang mungkin terjadi pada Diyara.
"Maaf, ibu seharusnya tak berfikir buruk, kita sama-sama mendo'akan Diyara selalu sehat dimanapun ia berada. Ajak istri dan anakmu ke kamar Dim, mereka butuh istirahat," ucap ibu.
Tak diduga esok harinya pak Hadi satpam di kossan tempat Bumi tinggal mengirim pesan bahwa baru saja Bumi datang, namun hanya merapikan barangnya kemudian pergi lagi. Iapun menyatakan benar Bumi membawa bayi perempuan. Mas dimas segera ke kossan tetapi jejak Bumi lagi-lagi tak ditemukan, ia telah pergi.
*🌻***1 Bulan** **berlalu** ...
Kami masih belum memperoleh kabar keberadaan Diyara, disela memantau bisnisnya mas Dimas senantiasa berputar-putar wilayah Bandung, berharap menemukan jejak Bumi dan Diyara, namun hasilnya lagi-lagi nihil. Ratusan gambar Diyara entah berapa puluh kali di sebar Aldo dan Firgie tapi belum ada satupun yang menghubungi keluarga kami.
Dan ibu Arini akhirnya memutuskan kembali ke Bekasi, karena memang tugasnya adalah mendampingi Ayah. Dan Ibu Fatia, ibuku lagi-lagi hanya bisa terus menangis di telfon tatkala membahas Diyara yang entah berada dimana.
__ADS_1
Firgie masih seperti biasa mengantar dan menjemput Shifaa. Mengingat kondisi keluarga kami yang sedang terpuruk, ia tak pernah lagi membahas tentang pernikahan. Tapi hubungannya dengan Shifaa terlihat serius dan tidak main-main, melihat ia selalu ada dan selalu siap membantu keluargaku sesibuk apapun aktifitasnya.
•
•
•
*Hari ini* ... tepat 6 minggu kepergian Diyara, mas Dimas seperti biasa pulang tengah malam setelah berkeliling menjadi rutinitasnya mencari jejak sang putri.
*Mas Dimas* ... tetap menghargai keingianku, untuk tidak seranjang dengannya. Memang ini salah ... tapi saat ini, luka ini masih sangat dalam untukku. Berharap waktu akan menyembuhkan dan kami bisa hidup normal, tapi belum saat ini.
Dan sofa adalah pembaringan mas Dimas, kusiapkan beberapa bantal dan selimut tebal menjadi penghangatnya. Terkadang kurasakaan mas Dimas diam-diam menyapu kepalaku atau mengecup keningku di malam hari tapi aku berpura-pura terlelap tak ingin masuk dalam rasanya.
*Dirga* ... ia sudah berusia 11 bulan lebih, ia mulai berani melangkahkan kakinya walau jangkauannya masih pendek dan ia akan memilih merangkak untuk mempercepat geraknya mengejar kami. Aku bahagia melihat perkembangan bayi kecilku yang mulai berjalan, walau disudut hatiku tersimpan sesak yang teramat, mengingat Diyaraku hidup jauh dari kami. Do'a selalu agar suatu hari waktu mempertemukan kami kembali, walau jauh darinya sangat menyesakkanku.
*Diyara-ku ... kau pasti sudah belajar berjalan kini. Semoga pemuda bernama Bumi itu memberikan kasih sayang tulus padamu dan dilimpahkan rezeki yang banyak dan berkah hingga hidupmu tak kekurangan Diyara-ku ... walau raga kita terpisah hati ibu slalu dekat denganmu* ...
*Mayra* ... ia adalah kakak yang pintar, ia menjaga Dirga seperti seorang ibu menjaga anaknya, ia sangat cerewet terhadap hal kecil mengenai adiknya. Mayra selalu mendapat nilai bagus di sekolah, dan kini ia sedang mengikuti tes masuk Sekolah Dasar Favorite di Bandung. Ia sangat antusias dan selalu berkata kelak dewasa ingin menjadi Dokter Jantung, agar bisa mengobati setiap orang yang sakit seperti ayah dan adik kecilnya ...
🌻Pukul 04:00
Segera kubersihkan tubuhku, rasa dingin yang kerap membuatku menggigil beberapa waktu belakangan ini tetap kuabaikan hingga saat keluar kamar mandi aku tak tahan, kuberjongkok disisi ranjang menahan menggigilku.
Dan entah bagaimana seketika mas Dimas terbangun dan kaget melihatku meringkuk di tepi.
"Sayang, kau kenapa?" lirihnya didekatku.
"Di-ngin Ma-sss, ucapku bergetar.
"Astagfirulloh," ucap mas Dimas, diambilnya jaketku yang tebal dan pakaikan ditubuhku menutupi daster rayon yang kugunakkan.
"Sudah lebih hangat?"
"Ma-sih di-ngin,"
"Ahhh, maaf ...." diangkatnya tubuhku ke ranjang dan dipeluknya tubuhku.
"Maa-sss," lirihku berusaha kudorong tubuh suamiku, tak ingin terlalu dekat dari tubuhnya.
"Berhenti!! Kau kedinginan, paling tidak sampai menggigilmu hilang. Dan mas akan melepaskanmu," lirihnya.
Dan aku tak berdaya kini, aku memang sangat merasa dingin, dan pelukan mas Dimas terasa hangat dan nyaman.
"Kau sering seperti inikah setelah mandi?"
"Se-ming-gu ini," lirihku.
"Kenapa tidak bangunkan Mas? Mas tidak akan mengganggumu. Mas melihatmu seperti ini sedih tak ada di dekatmu."
Ingin menangis sebetulnya mendengar kata-kata mas Dimas, tapi kehilangan ini memaksaku menghindarimu Mass, rasa bersalahku masih membuncah teringat tragedi malam itu, batinku.
"Sudah cukup Mass, sudah tidak dingin," lirihku tak ingin terbawa rasaku.
"Baiklah," seketika mas Dimas melepaskan pelukannya.
"Mas akan mandi, siapkan baju koko Mas ya!" ujar mas Dimas setelahnya.
__ADS_1
Dan tak lama adzan subuh berkumandang dan mas Dimas bergegas ke masjid sedang aku menjalankan ibadahku di rumah.
•
•
•
🌻Pagi menjelang aktifitas pagi seperti biasa dimeja makan, mbak Dinar tampak sedang menyuapi Dirga, Mayra sudah tampil cantik dengan seragam TKnya, mas Dimas terlihat tampan dengan kemeja berwarna navy, dan Shifa tampak masih dengan piyama tidurnya. Sedang aku ... tampak sangat tak bersemangat pagi ini.
Kumasukkan suapan pertamaku, kutahan rasa makanan yang ingin berbalik kembali keluar dari mulutku, kukunyah perlahan-lahan baru kemudian kupaksa menelannya. Mas Dimas seperti biasa menjulurkan sendoknya kearahku, namun untuk pagi ini, aku sedang menahan perutku yang seakan menolak makanan masuk. Kugelengkan kepalaku menolak suapan suamiku.
"Ada apa?" dan mas Dimas tampak heran kini.
"Hari ini aku makan sendiri saja," ucapku.
"Mas perhatikan baru satu suapan masuk keperutmu, ayo buka mulutmu, Sayang! Kita makan bersama seperti biasa," ujar mas Dimas seraya terus menatapku.
"Mas ... aku kan sudah bilang, aku mau makan sendiri, jangan memaksaku!!" ucapku marah seraya terisak dan aku ingin pergi ke kamar saat ini. Kulangkahkan kakiku dengan cepat menuju lantai atas.
"Tumben Mbak Lyra marah Mas? Mas dan Mbak sedang marahan?" ucap Shifaa.
"Tidak ada. Ayo kita lanjutkan makan! Sepertinya mbakmu sedang kurang sehat, nanti biar Mas bawa makanan keatas."
"Mayra akan keatas temui Bunda," celoteh polos Mayra.
"Tidak Sayang, Mayra lanjutkan makan, bukankah Mayra harus ke sekolah? Biarkan bunda sendiri dulu, okee!." Dan Mayrapun tampak mengangguk.
•
•
•
Beberapa saat kemudian ...
"Sayang, mas buka pintunya yaa?" dan Mas Dimas masuk ke kamar saat ini membawa potongan buah untukku.
"Kalau tidak mau makan ya sudah, tapi makan potongan buah ini ya! Bagaimanapun Lyra menyusui jadi harus makan."
"Menjauhlah dariku Mas, parfummu sangat menyengat aku mual didekatmu ...."
"Oya, sepertinya mas memakai parfum seperti biasa, tidak berlebihan," ujar mas Dimas merasa aneh.
"Mass, kubilang jangan mendekat padaku, aku mual."
"Oke, okee baiklah .... Sejauh ini apakah masih tercium parfum Mas?"
"Tidak. Mas disana saja jangan mendekat!"
Kutatap suamiku yang berdiri mematung di depan pintu memperhatikanku berusaha memakan potongan buah di hadapanku, entah mengapa aku ingin tersenyum melihatnya berdiri disana ...
*Ada apa dengan istriku, belum lama ia marah, dan kini ia terlihat tersenyum, tapi biarkanlah ... walau hanya boleh menatapmu dikejauhan, paling tidak Mas masih bisa melihat senyummu*, batin Dimas.
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
🌻Besok In syaa Alloh End😊😊
🌻Untuk yang penasaran keadaan Diyara, bisa mampir ke Novel terbaru Thor, ❤***My Handsome Dad***❤
__ADS_1
