Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Ciuman Mas Dimas


__ADS_3

H-1 Pernikahan Dimas


"Apa kau sedih Lyra?" tanya Firgie yang saat ini sedang berada di kossan Lyra.


"Hemm..." tampak Lyra tak mendengar jelas apa yang di tanyakan Firgie.


"Aku bertanya padamu sayang, apa kau sedih esok Dimas akan menikah?"


Aku menggeleng..


"Sungguh?? Jika kau sedih, kau boleh menangis di bahuku.." ujar Firgie lagi.


"Aku sudah mengikhlaskan mas Dimas, Gie" lirihku.


"Lyra.. Bolehku tau, bagaimana perasaanmu terhadap Dimas saat ini?" tanya Firgie.


"Entah Gie, yang ku tau. Aku senang mas Dimas akhirnya menikah bersama mbak friss. Aku sangat letih Gie. Hubungan kami seakan Mencari Jarum Di dalam tumpukan jerami, sekeras apapun kami berusaha hasilnya akan tetap nihil. Dan lagi aku telah memilikimu, kenapa aku harus menyibukkan diri dengan sesuatu yang dimiliki orang lain" ujarku.


"Terima kasih Lyra.." ujar Firgie mengambil tanganku dan menggenggamnya.


"Jam berapa besok kau ku jemput?" tambah Firgie.


"Jam 10 kita berangkat, menurutmu bagaimana?" jawabku.


"Okee. Aku akan menjemputmu di jam itu." Ujarnya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Bekasi Timur Pukul 09.00


Kulihat tampilan diriku di cermin, wajah polos tanpa make up terlihat disana..


Fikiranku berkelana..


Hari ini.. Hari yang begitu besar untuk mas Dimas..


Sepenggal cerita akan menjadi kenangan mulai hari ini..


Apa benar aku tak bersedih?


Aku memang tak harus bersedih..


Bersedih untuk apa?


Cinta yang pernah hadir kah?


Atau cinta yang tak termiliki?


Atau takdir hidupku?


Berkata takdir, akan sangat tidak bersyukurnya diriku..


Memang masih ada sedikit sesak tertinggal disana..


Tapi sesak itu telah tertutup oleh setiap hal manis yang Firgie beri untukku..


Ya...


Robbku telah mengirim Cinta lain untukku..


Apa patut jika aku bersedih?


Ku hapus butiran air yang memaksa keluar dari sudut mataku..


Firgie tak boleh melihat butiran ini..


Kurias setiap bagian wajahku..


Hari ini akan menjadi hari terakhirku bertemu mas Dimas..


Entah mengapa aku ingin tampil berbeda..

__ADS_1


Kupilih beberapa pakaian di lemari..


Pakaian apa yang harus ku pakai?


Akhirnya kupilih sebuah gaun brokat yang berpadu dengan satin yang elegan.


Pukul09.45


Aku telah siap hanya tinggal menunggu Firgie datang..


Tok.. Tok.. Tak lama Firgie pun datang.


Kubuka daun pintu yang membatasi kami.


Firgie tampak tak bergeming melihat penampilanku..


"Apa penampilanku begitu buruk Gie..?" tanyaku.


"Lyra.. Kau sangat berbeda.." jawabnya.


"Apa aku begitu berlebihan Gie?" tanyaku lagi.


"Tidak sayang, aku benar-benar beruntung berada di sisimu, hanya saja...


"Kenapa Gie??" potongku.


"Sayang sekali dengan penampilan anggunmu, aku hanya bisa membawamu menggunakan motor bututku." Ujarnya.


"Ishhh, apa yang kau katakan Gie. Aku tidak masalah.. Atau aku ganti pakaianku lagi dengan yang casual seperti biasanya?"


Firgie menarik lenganku saatku hendak berbalik masuk..


"Tidak.. gaun ini sangat pas untukmu sayang. Aku anak membawamu dengan sangat hati- hati ke pesta itu" ujarnya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Bagaimana saksi sah??" ujar seorang dengan jas dan peci yang duduk di depan kedua mempelai.


Dan di jawab oleh sorak sorai orang-orang di sekitar mereka "Sah... Sah.. Sahh...."


Setelah penanda tanganan, foto-foto dan acara adat yang di lakukan terhadap kedua orang tua mempelai. Akhirnya kedua mempelai masuk ke dalam untuk mengganti costum mereka.


Di kamar ganti Dimas tampak berbincang dengan Friss...


"Kau ingat janjimu kan Friss?" ujar Dimas.


"Dan kau juga ingat janjimu kan Mas...?" ujar Fris sambil terus membelai dan menggoda Dimas.


"Hentikan Friss!!" ujar Dimas yang merasa risih dengan prilaku Friss terhadap dirinya.


"Kita sekarang suami istri sayang.. tentunya ini hakku" ujar Friss masih terus menggerayangi Dimas.


"Friss..." Dimas tampak menaikkan nada bicaranya.


"Oke.. okee.. sayang.. kita akan melanjutkannya nanti malam" Fris tampak hendak berlalu keluar namun Dimas menahan tangannya.


"Tunggu Friss!!"


"Kau ingin sekarang kah??" ujar Friss spontan.


"Ishh.. buang fikiran kotormu Friss. Friss, kau akan membiarkanku berbicara dengan Lyra nanti bukan?" ujar Dimas.


"Yup.. Berbicara untuk yang terakhir kali." Tegas Fris.


"Dan kau juga jangan lupa janjimu Mas!" ujar Friss lagi..


"Kau akan beri aku ciuman seperti malam itu, kau ingat janjimu kan Sayang??" tambah Friss lagi.


"Iya.." pasrah Dimas. Apapun akan kulakukan agar bisa berbicara dengan Lyra hari ini, batin Dimas.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Pukul 10:45


Kedua mempelai tampak keluar dari ruang ganti mereka.


Keduanya bergandengan, tampak Friss menggunakan gaun pengantin dengan aksen bordir Silver yang sangat mewah.


Dengan model yang sangat di sukai Friss, model dengan pundak yang terbuka.


Rambutnya tampak di gulung ke atas dengan hiasan rambut yang di buat dari berbagai bunga yang di rangkai melingkar. Iapun memakai mahkota yang membuat penampilannya nampak seperti putri saat ini.


Dimas menggunakan tuxedo, rompi bagian dalam berwarna Silver senada dengan gaun yang di pakai Friss. Dan warna hitam untuk jas bagian luar senada dengan dasi kupu2 dan celana yang ia kenakan. Tampak terdapat bordir di bagian kanan Jas, sepadu dengan bordir di gaun Friss. Dimas tampak gagah dengan tuxedo mengepas tubuhnya sangat tampak dada bidang yang ia miliki.


Tante Arini tampak risih sebetulnya dengan gaun yang di gunakan Friss tapi ia tak bisa berbuat banyak sebab menantunya tersebut agak sulit di beri masukan jika menyangkut outfit yang di pakai.


Ayah Dimas beberapa kali terlihat mengelus bahu sang istri, menjaga sang istri tetap tenang dan tidak menjadikan ini suatu masalah.


Friss dan Dimas masih berdiri di depan. Tampak tamu-tamu begitu takjub dan antusias melihat penampilan kedua mempelai. Suasana tampak ramai, seluruh kerabat, kolega, rekan-rekan Dimas dan Friss tampak hadir. Tak lupa rekan-rekan bisnis kedua orang tua Dimas dan Friss juga hadir dalam pesta bernuansa putih tersebut.


*Friss tiba-tiba menangkap kedatangan Lyra dan Firgie..


"Mas.. cium aku sekarang!!!" bisik Friss di telinga Dimas.


"Jangan sekarang, banyak anak kecil disini.."


"Kalau kau ingin berbicara dengan Lyramu itu, cium aku sekarang!!" desak Friss kembali.


"Friss.......


Belum lagi Dimas melanjutkan ucapannya, Friss seketika menempelkan bibirnya ke bibir Dimas. Mencium bibir Dimas dengan penuh emosi. ******* dan terus masuk ke bagian dalamnya. Dimas yang awalnya tak membalas, akhirnya mengikuti alur yang dimainkan Friss. Tak ingin para tamu beranggapan kalau ia tidak merespon wanita yang telah menjadi istrinya tersebut. Mereka saling ******* cukup lama, Friss semakin menarik tubuh Dimas dan tak membiarkan Dimas melepaskan bibirnya...


Dari arah luar Lyra dan Firgie masuk ke area riuhnya pesta..


Mereka tampak saling bertatap, "Ada apa di depan sana?" fikir keduanya. Mereka melangkahkan kaki semakin maju kedepan, namun keduanya kemudian terhenyak saat di dapati pemandangan di hadapan mereka. Pemandangan yang sangat memuakkan bagi Lyra. *Mas Dimas....batinnya. Seketika ia ingin berbalik namun Firgie menahannya, air mata Lyra terus memaksa ingin keluar namun Lyra terus menahannya.. Firgie yang melihat, membawa Lyra ke tepi. Memberi bahunya untuk gadis tercinta yang sedang syok melihat kelakuan sang mantan kekasihnya.


"Wahh Rin, anakmu yang alim itu ternyata pemain yang hebat" ucap segerombolan ibu2 kepada Tante Arini ibunda Dimas yang merupakan ketua dari Yayasan Bani sosial yang juga saat itu terperanjak kaget dengan ulah putranya di depan. Baru beberapa menit Dimas bersama dengan Friss, putranya seakan berubah menjadi Dimas yang tidak ia kenal.


*Bagi yang melihat perilaku Dimas akan mengira seakan Dimas orang yang lihai dan sering melakukan adegan tersebut. Tapi sebetulnya, ia sangat tabu sebelumnya. Ini kali kedua Dimas melakukannya bersama Friss.


Pertama kali saat Dimas dan Friss ingin memberi undangan pernikahan pada Lyra. Friss meminta Dimas menciumnya malam itu sebagai syarat ia akan membiarkan mereka berdua untuk mengobrol di kantin esok siangnya.


Saat itu Friss mengontrol kendali Dimas. Ia mengajari Dimas bercumbu, dan Dimas ternyata sangat cepat belajar...


πŸ‚πŸ‚


Seketika Tante Arini mencari Shifa putri kecilnya yang kemudian berpapasan dengan Lyra disana. "Sayang..." ia mengelus bahu Lyra kemudian berlalu kembali mencari Shifa. Ia merasa tenang sebab sang putri ternyata sedang bermain di taman bersama bocah2 kecil lainnya sehingga tidak melihat adegan yang dilakukan kakaknya di dalam.


Ibu Arini mencubit pinggang putranya setelah keduanya selesai dengan aksi hot kiss di atas panggung tadi. "Tahan dirimu Dimas! setidaknya tunggu nanti malam. Kau lihat disini banyak anak kecil seumuran adikmu" bisik tante Arini pada sang putra dengan nada tegas.


Friss yang melihat tampak tersenyum penuh kemenangan..


"Friss, kau lihat akibat ulahmu tadi" bisik Dimas.


"Tapi kau melakukannya dengan hebat sayang, kau juga membalasku" jawab Friss tak mau kalah..


"Tapi tadi......" Ahh.. akan sulit berdebat dengan wanita ini, batin Dimas.


Padahal ia melakukannya untuk menjaga nama baik istrinya, apalah jadinya jika para tamu tahu hati sang mempelai pria tidak pada istrinya. Dan ia menolak sang istri di depan para tamu.


Saat ini sedang diadakan acara pemotretan kedua mempelai.


Namun mata mempelai pria terus mencari-cari sesuatu.. Mencari sosok yang di tunggunya.. "Kenapa Lyra belum datang?" batinnya. Ia tidak menyadari bahwa Lyra sudah disana sejak tadi...


"Mas Dimas, tolong fokus menghadap kamera!" ujar sang fotografer melihat gelagat Dimas yang tidak siap di foto.


"Mas, beri waktu kami sebentar" ujar Friss kepada sang fotografer.


"Kau mencari Lyra kan? dia di sudut sana sejak tadi" ujar Friss.


Sejak tadi??* Apa Lyra melihat ciumannya dengan Friss tadi.. batin Dimas kembali bergejolak.


*****

__ADS_1


#Mohon dukungan untuk thor ya.. like, komen, rate dan vote untuk karya Thor☺❀


#Happy reading😍


__ADS_2