
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻13:00 MASIH DI KEDIAMAN LYRA
"Oya Pak, ada yang mau Dimas bicarakan berdua bisa?" ucap mas Dimas kembali sesaat kemudian.
Bapakpun mengarahkan Mas Dimas untuk ke teras mengikutinya..
"Ada apa ya Nak?" tanya Bapak saat keduanya telah menjauh dari penghuni rumah.
"Bapak, semalam Lyra bercerita kepada Dimas tentang hal yang mengganggu fikiran Bapak dan ibu ....
Bapak tampak mendengarkan dengan seksama.
.... Masalah biaya pernikahan, Bapak dan Ibu tidak perlu memikirkannya, biar semua dari Dimas."
"Tapi Nak ..." sanggah Bapak.
"Tolong Pak, tidak ada maksud merendahkan tapi Dimas benar-benar ikhlas ... dan Dimas memang sudah mempersiapkannya."
Mas Dimas tampak mengambil sesuatu dari sakunya, sesuatu terbungkus amplop coklat kecil berada di tangan Mas Dimas kini,
"Sebelumnya mohon maaf Dimas tidak sempat mengambil uang cash, ini ada cek Pak, bisa Bapak cairkan di Bank yang tertera dengan bantuan adik Lyra, smoga nominal ini bisa dipergunakan untuk persiapan pernikahan Dimas dan Lyra kedepan Pak," ujar Mas Dimas setelahnya.
"Nakk Dimas, tidakkah ini terlalu cepat?" ujar Bapak.
"Bahkan Dimas sudah menunggu Lyra sejak 7 tahun yang lalu Pak," lirih Mas Dimas.
"Tapi orang tua Nak Dimas ...."
"Mereka akan menyetujuinya. Oya Pak, Dimas ingin semua terjadi dalam 2 bulan ini. Cukup bukan untuk Bapak mempersiapkannya?"
"2 Bulan? Oh.. baiklah. In syaa Alloh bisa Nak."
"Kabari Dimas jika nominal tersebut kurang. Mari masuk Pak jangan buat yang lain lama menunggu."
"Ba-ik Na-kk."
Anak ini ternyata tidak main-main ingin mempersunting Lyra, semoga segalanya dimudahkan, ucap bapak dalam hati.
🏡🏡🏡
🌻BERSIAP PULANG
"Kami pamit ya Pak Buk, terima kasih atas segala sajiannya," ucap mas Fahmi hingga kemudian mencium tangan Bapak dan Ibu, tampak Irsya dalam gendongan mas Fahmi ikut menciun tangan. Tak kalah Kak Fidapun mengekor suaminya dan melakukan hal yang sama pula. Tampak ibu memeluk Kak Fida kini.
"Jaga kesehatanmu ya Nak, semoga dimudahkan saat persalinan nanti," ujar ibu kepada Kak Fida karena ibu sering kuceritakan jika Kak Fida sudah seperti Kakak untukku.
"Dimas undur diri Pak Buk.
"Bapak beberapa kali menepuk bahu mas Dimas dan dibalas anggukan oleh mas Dimas.
Kedua laki-laki ini mengapa aku merasa jadi begitu dekat, mungkin karena di rumah kami tak ada anak lelaki jadi Bapak senang seolah memilikinya sekarang, batinku.
Selanjutnya Mas Dimas mencium tangan ibu, dan Ibupun tak mau kalah ikut merangkul bahu mas Dimas, "Ibu titip Lyra ya Nak Dimas," ujar ibu kemudian diikuti tangisan di wajah ibu.
"Ibu kenapa?" ujarku memeluk lengan ibu.
"Gpp, ibu hanya tidak menyangka sudah ada yang akan meminangmu Nok," ucap ibu sambil terus menatap mas Dimas.
__ADS_1
"Putrimu cantik Nak Dimas," ujar ibu sesaat setelah tangan kecil Mayra mencium tangan Ibu dan Bapak.
"Terima kasih sudah main kerumah Uti dan Akung ya anak pintar," ucap ibu setelahnya.
Mas Dimas tampak tersenyum dengan panggilan yang diajarkan Ibu kepada Mayra, tanda penerimaan orang tua Lyra akan kehadiran Mayra.
Akupun seketika memeluk Ibu dan Bapak bergantian saat ini,
"Kamu sudah ada yang punya, jaga diri baik-baik Nok," ujar Ibu sebelum aku berlalu.
Akupun mengangguk.
Kak Fida dan Mas Fahmi sudah dimobil mereka saat ini. Mas Dimas sedang berjalan menuju mobilnya, tampak Mayra terus menarik lenganku mendekati mobil ayahnya.
"Maaf sayang tapi bunda ikut naik di mobil Om Fahmi," ujarku yang membuat mas Dimas yang baru saja ingin masuk kemobilnya tiba-tiba menatapku.
"Bunda baleng Mayla saja," rengek Mayra dan terus menarik lenganku ke mobilnya.
Duhh bagaimana ini, batinku.
Ibu seketika mendekat dan mendorong tubuhku sampai naik ke mobil mas Dimas, "kamu ya naik mobil calon suamimu-lah Ly, gimana to," ucap Ibu tampak sedikit kesal.
Dan aku duduk di jok mobil mas Dimas kini, Mayra duduk disisiku tampak bahagia diwajahnya. Akupun melambaikan tangan kearah kedua orang tuaku saat mobil mas Dimas semakin menjauh.
Beberapa saat berlalu. Tampak getaran dari dalam tasku kini, langsung kuraih ponselku ternyata ada pesan dari ibu rupanya,
"Astagfirulloh Ly, ternyata tadi Nak Dimas ngobrol sama Bapak itu sambil ngasih cek, buat ngurus pernikahan kalian katanya. Dan kamu tau berapa isi ceknya 100 juta Ly. Ibu sampe lemes ini, duit semua ini? artinya dia sangat serius sama kamu, kamu yang hati-hati jangan sampai nyakitin dia lho."
Seketika kutatap wajah pria disebelahku.
"Ada apa melihat Mas?" ujar sang pemilik wajah sadar sedang diperhatikan.
"Mas ... makasih untuk hari ini," lirihku.
"Kenapa berterima kasih, mas yang senang sudah diterima dengan baik di rumah Lyra," ujarnya lagi.
"Mas gak merasa di repotkan. Bahkan senang melakukannya," ujarnya lagi.
"Dan cek yang mas beri ke Bapak, kenapa mas memberi sebanyak itu?" tanyaku.
"Kamu sudah tau rupanya, itu tanda terima kasih mas karna Lyra sudah menerima dan memberi mas kesempatan."
"Mass, tidak harus seperti itu," lirihku.
"Berapa kali mas bilang, mas senang melakukannya dan tidak merasa repot dan terbebani, jelas!!!"
"Mas, apa keluarga mas sudah tau hal ini?"
Tampak Mas Dimas menggeleng.
"Keluarga belum tau, tapi mas sudah memberi cek sebesar itu, bagaimana jika mereka tidak setuju?" lirihku kembali.
"Mas akan bawa kamu kawin lari."
"Hahh ...," kagetku.
"Mas bercanda, mereka pasti setuju, Lyra tenang aja, okee!! " yakinnya.
Sekarang mas tanya, "Kenapa tadi gak mau naik mobil mas?" mas Dimas tampak serius.
"Gpp, menjaga aja," ujarku.
"Apa takut mas berbuat macam-macam?"
__ADS_1
"Bukan begitu mas, kata Umi Hana di taklim, kalau berdua dengan non muhrim yang ke3 adalah syetan," ujarku membawa nama Umi Hana agar tak terkesan menggurui.
"Siapa bilang kita berdua, kamu tidak menganggap Mayra." Dan Mayra yang namanya merasa disebut seketika menoleh,
"Apa ayahh?"
"Tidak, lanjutkan sayangg ... " tampak Mayra kembali bermain ponsel milik sang ayah dalam pangkuan Lyra..
"Jadi jelas-kan, kita tidak berdua Lyra."
Aku pun akhirnya mengangguk.
"Ly, boleh mas tanya sesuatu?" ujar mas Dimas kembali beberapa saat kemudian.
"Silahkan," ucapku.
"Dimana Firgie?"
DEG ...
Mengapa mas Dimas membahas dia, tolong mas jangan sebut namanya, batinku.
Akupun hanya terdiam kini ...
"Tidak ingin menjawab? Apa ia sangat membekas dihatimu Ly?"
Kuberi senyum kecil tanpa kata pada mas Dimas.
"Berarti Firgie sudah berhasil menyingkirkan mas dari hati Lyra kah?"
Kembali aku hanya menatap mas Dimas tanpa berkata.
"Dengar Lyra!! Seperti Dia yang sudah menyingkirkan Mas, Maspun akan menyingkirkan dia dari hatimu, semua asalkan Lyra mau membuka hati untuk Mas."
Akupun mengangguk dan masih terus menatap laki-laki yang berada tak jauh dariku, entah mengapa aku ingin menangis saat ini. Mungkin karena mas Dimas selalu memahami bahasa diamku. Mas Dimas ...
"Mayra,"
"Iya ayahh,"
"Coba Mayra peluk bunda, sepertinya bunda Lyra sedang bersedih saat ini." Ucapan mas Dimas seketika membuatku memalingkan wajahku dan menatap keluar jendela kini, sesaat kemudian kurasakan tubuh kecil sedang memelukku dengan erat. Dan air matakupun mulai tumpah saat ini.
"Jangan ditahan jika ingin menangis," ucap mas Dimas kembali.
Kutatap mas Dimas, sambil kukerucutkan bibirku, jangan meledekku, batinku.
"Bunda kenapa?" celoteh Mayra sambil terus menghapus air mata yang menetes dipipiku.
"Bunda sedang ingat mantannya," ceplos Dimas.
"Mantan apa?" polos Mayra.
"Mas, jaga bicaramu didepan Mayra," lirihku.
"Bukan apa-apa Nak, bunda juga tidak apa-apa kok. Mayra boleh main hp ayah lagi," ujarku.
"Akhirnya bunda mengeluarkan suara," ucap mas Dimas, tampak senyum getir diwajahnya. Bagaimana tidak, ia harus menyaksikan calon istrinya menangisi pria lain dihadapannya.
Akupun segera menghadapkan wajahku kembali keluar jendela.
Setelah rasa sakit yang mas pernah beri, mungkin hatimu saat ini sudah bukan milik mas lagi. Tapi mas melihat luka dimatamu, entah apa yang telah Firgie lakukan padamu. Tapi mas berjanji akan mengobati lukamu Ly, yang terpenting kamu berada disisi Mas, itu sudah membuat mas senang, batin mas Dimas.
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤
🌻Mohon dukungannnya selalu😊😊