
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻PUKUL 12:40
"Ayo berangkat..!!!!" Mas Dimas tampak menarik pundak sang adik untuk segera berdiri padahal sang adik masih tampak mengunyah makan siangnya.
"Mass Ihhh, aku bisa jalan sendiri," Shifaa tampak berontak dari rangkulan sang kakak namun Mas Dimas tidak melepaskannya. Merekapun tampak sudah menaiki Terios saat ini.
Hari ini memang mas Dimas berangkat siang, Aldo sedang berada di Bandung dan itu berarti pengawasan Mas Dimas lebih ringan. Karena kemampuan pria berusia 25 tahun itu, entah dalam memimpin ataupun menyelesaikan setiap persoalan sudah tidak perlu di ragukan.
Diusianya yang masih muda Aldo memang tipe pekerja keras. Semua bukan tanpa alasan, melainkan karena Aldo masih memiliki 2 Adik yang duduk di bangku SMA dan 1 adik yang kuliah. Aldo memiliki tanggung jawab terhadap ketiga adiknya karena memang sang Ayah telah meninggal.
Aldo tak pernah perhitungan akan tenaga yang ia keluarkan untuk mengawasi bisnis mas Dimas, sebab dimatanya mas Dimas adalah pahlawan untuknya. Mas Dimas adalah salah seorang pemberi beasiswa di sebuah SMK berjurusan bisnis dan Manajemen di kota Bandung. Dan saat itu Aldo adalah salah satu penerima beasiswa tersebut.
Setelah berbincang dengan kepala sekolah mengenai perkembangan siswa yang memperoleh beasiswanya. Pak kepala sekolah sangat mengelukan Aldo, seorang siswa yang selalu memperoleh peningkatan nilai akademi di sekolahnya. Mas Dimas yang sedang membutuhkan seseorang yang memiliki otak encer guna mendampinginya memajukan bisnisnya merasa tertarik setelah melihat kepribadian Aldo.
Diam-diam mas Dimaspun memantau keluarga Aldo. Dan semua yang mas Dimas temukan adalah hal positif, baik perangai Aldo maupun seluruh anggota keluarga lainnya termasuk ke 3 adik Aldo, yang juga turut menjadi incaran pengawasannya di bawah kendali Bang Arman pada saat itu.
Itulah sedikit cerita tentang Aldo. Dan kini kita kembali mengenai kisah adik dan kakak yang sedang berada dalam Terios kini. Sang adik sejak tadi diperhatikannya tak lepas dengan ponsel di tangannya, ia tersenyum-senyum, kemudian mengetik, begitu seterusnya. Kenapa sih nih anak?? batin mas Dimas penasaran.
"Kemarikan ponselmu..!!!" ujar mas Dimas kini.
"Apa sih Mas?" Shifa tampak mengerucutkan bibirnya dan menahan agar ponselnya tak pindah tangan.
"Sini..!!!"
"Nggak," kukuh Shifa.
"Ngapain kamu dari tadi mas lihat senyum-senyum sendiri? Lagi chat sama siapa sih?" tegas Dimas.
"Ini sama teman sekelas Shifa Mas, bukan chat sama cowok," ucap Shifa.
"Kalau bukan chat sama cowok kenapa kamu ketakutan?"
"Ihh, Mas posesif deh, nih cek hp Shifaa," tampak Shifa menyerahkan ponselnya pada masnya.
Beberapa waktu Mas Dimas tampak kenaik-turunkan jarinya diatas layar ponsel adiknya.
"Nihh ambil ...."
"Nggak ada kan?? gak percaya sih sama adiknya, huuu ... " ucap Shifa meledek masnya. Untung chat sama mas Firgie semalem udah kuhapus, batin Shifaa.
"Udah berapa lama kenal sama teman cowokmu yang suka nganter sampe depan gerbang?" mas Dimas kembali memburu Shifa dengan tanyanya.
Dan Shifa tampak terdiam tak menanggapi pertanyaan masnya.
"Jawab..!! Ditanya kok malah diem sih??"
"Sekitar 2 bulan Mas, tapi baru deket sebulan ini," lirih Shifa sambil sesekali mengerucutkan bibirnya. Mas Dimas kepo banget sihh, batin Shifaa kembali.
"Udah ngapain kamu, dia?" mas Dimas masih bertanya dengan nada tegasnya.
"Ngapain apa sih Mas," Shifa tampak bingung.
"Ya, kamu diapain aja?? Gak ngerti juga pertanyaan Mas?"
"Ishhh Mas, dia bukan lelaki begitu kali Mas, dia jagain aku kok, megang tangan aja dia gak pernah kok. Paling ngeliat soalnya dia juga punya mata. Kalau dia buta baru dia gak bisa ngelihat aku," celoteh Shifa panjang lebar saat ini.
"Baguslah kalau begitu, mas tenang."
"Bawa kerumah biar mas kenal," ujar mas Dimas lagi.
"Iya iyaa, nanti aku bilang dulu sama orangnya," gumam Shifaa.
Beberapa saat kemudian,
"Dah, deket tuh. Turun disini yaa..! Mas mau langsung belok. Kalau nganter sampai depan kampus, mas jauh lagi cari putaran," ujar mas Dimas.
"Ihh, nyebelin banget sih punya Kakak, mending tadi Shifaa minta anter mang Diman. Lumayan kan 100 meter jalan." Shifaa tampak keluar mobil sambil menggerutu.
"Shiff ... Shifaa ..." teriak mas Dimas mengeluarkan kepalanya dari jendela.
"Apaan sih Mas??" Shifa pun menengok namun enggan mendekat.
"Nanti malem jangan lupa yang mas bilang tadi pagi. Pulang cepettt..!!! Pulang cepett yaaa!!!! Mas mau jalan sama Mbak Lyra," teriak mas Dimas saat ini.
"Isshhh ... Iya Mass cerewettt," dan shifaa berbalik dan melanjutkan jalannya. Teriak-teriakan di jalanan. Malu-maluin aja sih mas Dimas, gerutu kembali Shifa dalam hatinya.
🌻**PUKUL 20:00**
"Buruan siap-siap..!!!" mas Dimas tampak terus menggangguku yang masih asik merajut nama dipakaian si kembar.
"Shifaa juga belum pulang kan Mas? sebentar lagi yaa," ujarku.
"ASI nya udah disiapin??"
__ADS_1
"Udah ayah gantengg. Tadi sore aku udah pump buat stok pas kita tinggal nanti," lirihku sambil coba kulepaskan tangan yang merangkulku sangat kuat dari samping.
"Pintar," ujar mas Dimas seraya mengecup pelipisku kemudian berlalu mendekati jendela.
"Ada apa Mas??" ujarku penasaran apa yang sedang diperhatikan suamiku ditepi balkon.
"Mobil yang mengantar Shifa ada di bawah," ujar mas Dimas sangat serius tanpa menoleh kearahku.
"Keren juga adikmu Mas, baru 2 bulan di Bandung sudah punya teman bermobil pula," ujarku sambil fokus merajut.
"Entah, kenal dimana anak itu?"
"Mobilnya apa Mas?" dan aku jadi ikut kepo saat ini.
"Yaris hitam."
"Orangnya seperti apa Mas? ganteng gak??" tanyaku lagi.
"Gak keluar tuh orangnya, sudah siap-siap sana..!!!" ucap mas Dimas masih terus menatap kebawah.
akupun ikut melihat kebawah saat ini dan mas Dimas tidak menyadari kehadiranku.
"Wahh betul, mobilnya boleh juga, jadi penasaran wajahnya"
"Ehhh, kau disini juga. Mengagetkan Mas saja..!!!!"
"Husss, nakal ..." dan mendaratlah cubitan kini dihidungku.
"Ahh, sakit mas,"
"Maaf Sayang. Sudah ganti pakaian sana .!!"
"Sebentar lagi Mas, itu itu ... Shifa sudah keluar. Mungkin saja lelaki itu sebentar lagi akan keluar Mas."
"Ishhh, kayaknya jadi kau yang lebih bersemangat ingin tahu saat ini.
"Nakal, sudah sudah ... ayo masuk, kita bersiap. Kita jadi keluar kan??"
Akupun mengangguk seraya tersenyum.
•
•
Beberapa saat kemudian aku telah bersiap kini, tapi tak kudapati mas Dimas di kamar. Aku turun, dan ternyata mas Dimas di dapur saat ini. Tapi ... sedang apa Mas Dimas di tepi? ia membawa air ...
"Mass ... " kusapu bahunya kini.
__ADS_1
"Oh, Uhuk ... Huukkk ... Lyraa." Mas Dimas tampak kaget dengan kehadiranku.
"Mass, apa ini?" kuambil sebuah botol kecil dalam genggaman tangan suamiku. banyak tablet berukuran kecil berbentuk hati disana.
"Sini, bukan apa-apa," dan mas Dimas seketika mengambil botol tersebut dari tanganku.
"Mass, mi-num o-bat? Apa Mas sa- kit??" tanyaku terbata dengan otakku yang mulai tak terarah.
"Heiii, jangan berfikir macam-macam. Ini hanya vitamin sayang," dan mas Dimas mengunci tubuhku kini.
"Mas, tidak sedang membohongi sesuatu padaku-kan?" tanyaku lirih dengan sangat hati-hati.
"Jangan berfikir apapun lagi, sekarang jawab!! apa mas telihat lemah?"
Akupun menggeleng.
"Nahh, Mas sangat sehat. Sakit itu saat Mas tidak bisa melihat wajahmu lagi."
"Masss ... aku serius tapi mas malah bercanda," ujarku seraya terus menatap suamiku.
"Masss, dengar aku ... aku juga akan sakit jika tidak bisa melihat Mas lagi." Kupeluk tubuh suamiku kini.
"Sayangg, sudah.!! Jangan bicara dan berfikir macam-macam lagi. Kita berangkat sekarang??"
Akupun mengangguk.
"Tersenyumlah dahulu," lirih mas dimas karena belum menemukan senyum di wajahku.
Dan akupun tersenyum ...
"*Cantikkk* ...."
"Oya Shifaa??"
"Shifaa sudah di kamar kita, Bik Lasmi dan Mbak Dinar tidur di sofa ruang TV atas," sanggahku menjawab semua yang ingin ditanyakan mas Dimas suamiku.
*Istriku yang pintar* ...
●●●●
🌻**Sesaat sebelumnya di muka rumah**.
**Firgie**..
Shifaa tinggal di rumah ini, Perumahan Sentra Duta. Kujadi teringat orang yang memperjuangkan kesembuhanku juga berada di Sentra Duta.
*Tapi begitu banyak perumahan di wilayah Sentra Duta. Dimana orang itu berada? Semuanya tampak abu-abu dan seperti teka-teki. Mungkinkah aku akan menemukan sosok tersebut?? Ia bisa dimanapun dan aku tak mengenalinya, dan mungkin pula ia berada di sekitarku pula saat ini dan aku tak menyadarinya* ...
Tak lama Yaris hitam dengan plat D 4R17 AFR sudah tak terlihat lagi disana ...
__ADS_1
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤