Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
My Sweet Diyara ...


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Dan ketika baby Dirga mencampai pucuk kantung susuku. "Ahhh ....


"Ada apa Sayang?"


"Panggil dokter Mas, sepertinya Diyara mulai mengajak keluar ...."


"Dokk ... Dokter ....


"Iya Dad."


"Bayi kedua saya sudah mengajak keluar Dok ...."


"Oke, tenang Dad, Sus ambil baby boy dan segera bersihkan."


Seorang suster seketika mengangkat Dirga dari tubuhku dan berlalu. Mas Dimas tampak merapikan kancing bajuku kembali. Terlihat pula suster yang berbeda bersiap mendampingi Dokter Catrina membantu persalinanku selanjutnya.


"Sebentar Dok, mulasnya sedang hilang ...."


Dokter memeriksa jalan lahir bayiku saat ini, "Oke bagus kepala bayi sudah dekat, saat bayi mulai mendorong kembali, Mom lakukan seperti sebelumnya, atur nafas dan buang dan bersiap mengejan tanpa mengangkat boko*ng. Biasanya yang kedua akan lebih mudah karena jalan sudah dilebarkan oleh Kakaknya tadi, mengerti bukan?"


Akupun mengangguk.


"Mass ...." kutatap wajah panik dengan senyum yang dipaksakan disana.


"Kenapa menatap Mas? Jangan berfikir macam-macam. Tetap positif thingking.!! Lyra sangat hebat, mas bangga, dan Mas sayang sekali pada Lyra dan anak-anak kita, Lyra dengar Mas??" bisik lembut mas Dimas menenangkanku.


Dan aku mengangguk dengan air mata yang seketika menetes di pelipisku.


"Jangan menangis, Lyra tidak cantik kalau menangis," dan seketika aku tersenyum.


Dan "Akhh ... Mass ...."


"Dok, mulas sudah terasa ... "


"Good, atur nafas Mom..!!!


Okee, ayo dorong Mom,,,


Lebih kuat sekali lagiiii ...."


ALLOOOHU AKBARR ... teriakku seperti sebelumnya, dan ...


"Oke Good ..."


"Dok, bayi tidak menangis ...." ucap seorang suster yang seketika membuatku dan Mas Dimas panik.


"Ada apa dengan bayi saya Dokter???" mas Dimas seketika bertanya.


"Mass ...."


Dokter mengangkat sebelah tangannya kearah kami, mengisyaratkan untuk tak bertanya dahulu.


Terlihat dokter saat ini menepuk-nepuk, menggosok perut, punggung, dan dada bayiku, dokter juga menekan telapak kaki baby Diyara. Ada apa sebetulnya??


Tak lama kemudian ...


Oekkk ... Oekkk ... Oekk ..


Dan aku mendengarnya, tangisan bayiku seketika pecah. Hal yang sejak tadi seakan membuat jantungku dan mas dimasku seakan berhenti.

__ADS_1


"Masss ...." Dan mas Dimas seketika memelukku dengan tangis kami berdua yang turut tumpah setelah drama beberapa saat lalu.


"Syukurlahh, baby kedua berjenis kelamin perempuan dan sangat cantik," ucap dokter catrina tampak wajah lega dengan senyum terpancar terlihat disana.


Seperti sebelumnya, perawat membersihkan tubuh bayi dan menyerahkannya pada Mas Dimas untuk di adzani. Setelahnya baby Diyara di letakkan ke dadaku untuk proses IMD, dan seperti sebelumnya tampak takjub kurasa saat ini. Sesosok bayi kecil sedang merayap mencari pucuk kantung susuku, sebagai media transfer nutrisi untuknya. Dan seperti sebelumnya, rasa geli kurasa saat ini. Tampak wajah kecilnya berkali-kali menubruk tubuhku, dengan mulut terbuka yang terus mencari-cari penyegar dahaganya.


Karena terpesonanya aku dengan malaikat kecil dengan polah merayapnya, juga sebab terlalu bahagiaku, sampai tak sadar proses penjahitan sedang berlangsung di bawah sana.


"Oke selesai, bagaimana?? Ohh, baby masih berusaha rupanya.. Ayo sayang semangat!!" ujar Dokter menyemangati putri kecilku yang sempat membuat kami syok dengan drama tanpa tangis beberapa saat sebelumnya.


"Dok, maaf sebentar ... apa tidak masalah yang terjadi pada bayi kami sesaat tadi? mengapa ia tidak langsung menangis?" ujar mas Dimas menghentikan dokter yang hendak beranjak keluar. Aku yang mendengar turut menyimak dengan was-was hawatir dengan kondisi Diyara.


"Sejauh ini belum ditemukan masalah pada Baby Mom dan Dad karena kami menangani baru sampai membuat baby Mom dan Dad menangis karna itu menandakan pernafasan bayi sudah stabil. Untuk memastikan keseluruhan organ baby bagus diperlukan banyak tes dan smua baru bisa dilakukan saat bayi memiliki berat dan ketahanan tubuh cukup, biasanya sekitar 3 bulan. Tapi jika tidak ditemukan hal yang janggal saya rasa tidak perlu, tapi kembali keputusan pada Mom dan Dad."


"Apa yang menyebabkan bayi kami tadi tidak menangis Dok?" tanya mas Dimas kembali.


"Intinya terdapat sumbatan pada saluran napas bayi. Sumbatan tersebut dapat berupa lendir, cairan ketuban, darah, tinja bayi, maupun lidah yang terdorong ke belakang tenggorokan. Inilah yang menyebabkan bayi menjadi sulit bernapas sehingga tidak bisa memberikan respon dengan menangis. Jika tidak ada yang ditanyakan, saya akan melakukan persalinan Mommy yang lain."


"Baik, silahkan Dok. Terima kasih atas informasinya." Dan sekejap bayang Dokter telah menghilang dari hadapan kami.


"Kita positif saja Mas In syaa Alloh Diyara sehat, sambil kita amati perkembangan Diyara kedepannya."


"Iya Sayang, kau benar."


Dan kamipun memfokuskan diri pada baby Diyara kembali yang masih berusaha mencari kantung susuku. Mas Dimas tampak menyemangati bayi kami saat ini,


"Ayo Sayangg, seperti kakakmu tadi. Ikuti


tanda Ayah Sayang."


"Mas Ishhh ...," dan aku kembali teringat dengan noda yang membuatku malu seketika.


Mas Dimas tampak sudah pasrah dengan hasil kenakalannya yang terlihat orang-orang di sekitar kami. Ia tampak mengusap dahiku saat ini, mengeringkan sisa keringat dengan tisu yang diberikan perawat sesaat lalu seraya berkali-kali mengecup wajahku.


"Lihat Sayang, bulu-bulu halus di tubuh bayi kita sangat banyak."


Setelah beberapa saat, ahh ... akhirnya sampai juga. Baby Diyara tampak mulai mengecap pucuk kantung susuku.


Cap ... Cap ... Capp ...


"Hik ...,"


"Ada apa Sayang?"


"Aku terharu Mas, sekarang aku benar-benar menjadi seorang ibu." lirihku dan butian air kembali menetes di pelupuk mataku.


"Iya dan kau adalah ibu yang hebat," bisik mas Dimas sambil mengusap air mataku.


Tak terasa 5 menit sudah baby Diyara telah memperoleh hak nutrisinya.


"Okee, sudah dulu ya Cantik," tampak seorang perawat datang dan mengangkat bayi kami dari tubuhku.


"Mau dibawa kemana Sus??"


"Dipakaikan baju Pak. Nanti menyusunya di lanjut di kamar ya Bun. Akupun mengangguk.


"Kita persiapkan Bunda untuk ke kamar ya Pak," ujar sang perawat dan seketika mas Dimas merengkuh tubuhku dan mendudukkanku ke kursi roda saat ini.


"Apakah sakit?" bisik mas Dimas.


"Perih sedikit," jawabku.


Dan sampailah kami di kamar perawatanku, Ibu tampak sedang menggendong baby Dirga di tangannya saat ini.


"Heiii itu Bunda sudah sampai," ujar ibu seketika menghampiri dan mengecup kepalaku. " Terima kasih, kau sangat hebat Sayang." Dan kulihat ibu meneteskan air mata saat ini. Menggendong cucu pertama yang sesungguhnya, darah daging putra tercintanya, dan calon penerus keluarganya.

__ADS_1


Ayahpun seketika mendekat dan mencium pucuk kepalaku juga.


"Bayimu yang satu dimana?" ujar ayah tiba-tiba.


"Sedang di pakaikan baju Yah, nanti akan dibawa kemari setelah siap," tegas mas Dimas.


Mas Dimas merengkuh tubuhku kembali dan meletakkanku di atas ranjang perawatanku. Aku duduk bersandar pada sisi ranjang dengan bantal sebagai penyangga pinggang belakangku. Dan ibu menyerahkan baby Dirga ke pangkuanku saat ini.


"Cucu kita sangat tampan Yah," ujar ibu seraya mengecup lembut pipi Dirga.


Menurut perawat Dirga belum mengecap nitrisi dari kantung susu Lyra. "Sekarang Lyra menyusui dulu yaa..!!" ujar ibu bersemangat.


"Lho kenapa diam saja?" ujar ibu heran melihat aku hanya terpaku.


"Malu ada ayah Bu," lirihku.


"Haduhh Sayang, Yahh keluar dulu sana!! menantumu sangat pemalu rupanya."


Dan ayahpun segera keluar.


Aku memulai membuka 1 persatu kancing bajuku. Dan Ohhh, "Apa ini?? jangan bilang kalau semalam kalian ...."


Dan kami menunduk dalam saat ini.


"Anak nakal," Ibu seketika menjewer telinga mas Dimas. "Istri sudah menjelang persalinan masih sempat-sempatnya membuat tanda seperti itu. Berarti Dokter dan perawat juga melihatnya tadi?" mas Dimas tampak mengangguk.


"Ibu, siapa juga yang tau Lyra akan melahirkan maju dari tanggal yang diperkirakan."


"Namanya juga perkiraan bisa maju atau mundur. Memalukan orang tua saja. Masih sempat-sempatnya juga kamu menjawab Ibu." Dan sekali lagi ibu menjewer telinga mas Dimas.


"Buu, sudah tidak apa-apa, jangan di jewer lagi mas Dimas Buu," lirihku.


"Anak nakal, untung istrimu membelamu kalau tidak ibu akan terus menarik telingamu."


"Eh tunggu Lyra, posisi menyusuimu salah Sayang, nanti pu ting susumu bisa lecet jika posisimu salah, dengar ibu yaa..!!! Posisikan wajah bayi pada kantung susumu, pastikan perut bayi menyentuh tubuh ibu, posisikan pinggul dan wajah bayi menghadap ibu, atau bisa juga gunakan bantal menyusui untuk membantu, terakhir dekap bayi dengan lembut ke bagian dada. Oiya jangan lupa pastikan semua pu ting masuk penuh ke mulut bayi ya Nak..!!!"


"Seperti ini Bu?"


"Iya Bagus, dekap Bayi erat Sayang agar ia merasakan kasih sayangmu."


Dan Dirga mulai menyesap pucuk kantung susuku, rasa yang menakjubkan, seakan tertarik seluruh isi didalamnya.


"Ternyata Dirga sangat pintar, aku memeperoleh saingan sepertinya," bisik mas Dimas.


"Mass, jangan bicara nakal."


"Hanya bercanda Sayang. O ya, mengapa kantung susumu sangat keras Sayang??"


" Entah, dan sakit Mas ..."


Coba tanya ibu, mas Dimaspun bertanya pada ibu yang seketika memberi jawab. "Itu karena ASI Lyra full, setelah ASI diberikan rutin nanti tidak akan seperti sekarang,"


"Oyaa, Ibu darimana mengetahui nama bayi kami Dirga?" tanya mas Dimas.


"Ibu tau karena melihat rajutan nama dipakaian bayi kalian, Dirga dan Diyara. Ibu suka dengan kedua nama yang kalian pilih," ucap ibu sambil terus tersenyum merona.


Seorang perawat tampak masuk ke ruangan perawatanku dengan membawa bayi mungil dalam pelukannya.


"Ohh inikah cucu kedua Ibu?" Mas Dimas seketika mengangguk. "Cantiknya cucu Uti, kau pasti juga haus bukan?, tapi kau harus bersabar setelah kakakmu yaa." Ibu tampak mengayun-ayun Diyara saat ini.


"Ibu lihat-lihat wajah Diyara mirip sepertimu waktu bayi Nak."


"Oya ....


🌷🌷🌷

__ADS_1


🌻Happy reading❤❤



__ADS_2