Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Menggenggam Tangan


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻19:45 KEDIAMAN DIMAS


"Assalamu'alikumm," tampak sebuah suara mengentakkan kami yang berada dalam ruang keluarga tersebut. Shifa adik Dimas tampak baru pulang saat ini.


"Wa'alaikum salam," jawab kami bersamaan.


"Apa sedang ada acara penting Mas?" tanya Shifa kepada Mas Dimas, wajah yang pertama kali di tangkapnya di ruangan tersebut.


Shifapun segera mencium tangan satu persatu orang yang ada dalam ruangan tersebut.


Hingga sampai di hadapan Lyra, Shifa tampak memperhatikan wanita dihadapannya, wajah mbak ini cantik, bersih, ia tinggi dan berhijab, tercium wangi parfum dari tubuhnya, saat bersalaman tangannya sangat halus, kenapa aku jadi teringat sosok bunda yang di gambarkan Mayra, batin Shifa.


Ia menengok kearah Masnya, tampak Dimas menaikkan kedua alisnya saat ini seakan berkata "Ada apa? ada masalah?." Shifa yang memang pribadi ceplas ceplos dan apa adanya sketika berkata ...


"Mbak bunda Irsya ya?" tanya yang membuat seisi ruangan tampak terheran.


●Kenapa anak ini bisa tau Lyra bunda Irsya, batin kak Fida.


●Anak ini baru pulang seenanknya aja bicara, Lyra kok dibilang bunda Irsya, batin Ibu.


●Anak nakal, pintar sekali menebak, habislah aku pasti anak itu akan terus menggodaku nanti, batin Dimas.


●Dan ayah hanya menggeleng-geleng ...


"Heiii anak ini, baru pulang sembarangan sekali bicara, ini Mbak Lyra ... bukan bunda Irsya," ucap ibu seketika.


"Oh, gpp tante. Ini Shifa yaa??..." ucap Lyra.


Shifa tampak mengangguk.


... ucapan Shifa gak salah kok tante, Lyra memang bunda Irsya ...," tambahku meluruskan.


"Lho bukannya Lyra bilang tadi belum menikah?" ibu tampak bingung.


"Irsya anak kami Tante," sela Kak Fida menunjuk bocah yang setelah sampai tadi seketika tertidur dan ia sedang berbaring di sofa saat ini.


"Ohh..." Ibupun kini menyadari. Bocah laki-Laki yang dimaksud Budi tempo hari pasti Irsya putra Fahmi. Ibupun lega kebingungannya akhirnya terjawab.


Dan Shifa ...


Oh jadi ini yang namanya Mbak Lyra, selama ini aku hanya tau gambaran mbak Lyra dari Ibu. Karna aku tidak ingat wajah Mbak Lyra 7 tahun lalu, saat itu aku masih SD, dan ternyata ... tebakanku dimeja makan saat sarapan itu benar, mbak Lyra adalah sosok yang dipanggil bunda oleh mayra,. Mbak Lyra memang cantik pantas Mas Dimas tak bisa melupakannya, batin Shifa.


"Apa kita akan terus disini Dim? Bagaimana jika kita lanjutkan obrolan di meja makan," ujar ayah mengingatkan putranya karna waktu semakin malam saat ini.


"Boleh," ujar Dimas.

__ADS_1


"Ehhh, tunggu, tunggu ... sebelum makan ibu ingin bicara dengan Dimas dan Lyra, bisa kan Dim?" pinta ibu.


Seketika mas Dimas menatap kearahku, ia menarikkan alisnya keatas dan disana aku mengangguk menjawab bahasa isyarat mas Dimas. Mas Dimaspun segera berujar..


"Tentu boleh Bu," ucap Dimas.


Tante Arini segera berjalan di depan, ia mengarahkan kami untuk mengikutinya. Hingga sampai kami di ruang kerja ayah saat ini ...


●●●●


🌻POV TANTE ARINI


Ayah tiba-tiba mengajak kami melanjutkan obrolan di meja makan. Akupun tersentak, aku ingin bicara dengan Dimas dan Lyra lebih dahulu.


Kuarahkan keduanya saat ini ke ruang kerja ayah, ruangan yang saat ini kosong dan privasi ku fikir. Keduanya masih terus mengikutiku hingga sampailah kami ke tempat yang ingin kutuju. Aku duduk di sofa saat ini, dan Dimas segera duduk disisiku, Lyra masih berdiri hingga kulihat kembali Dimas mengisyaratkan Lyra untuk turut duduk. Lyrapun segera duduk.


Apa-apaan ini, mereka ingin menikah tapi aku merasa mereka tak lepas, Lyra tampak agak berbeda dari dulu kami bertemu. Sejak dulu ia memang pribadi yang tak banyak bicara dan kini ia lebih pendiam dari dulu kurasa, walau aku tau ia masih Lyra yang baik seperti dulu. Apa yang membuatnya berubah??


Kutatap wajah gadis yang terus mengisi hati putraku. Walau ia kini tampil dengan hijab yang berbeda, hijab yang di pakai kini menutup dadanya. Bentuk suatu kedewasaan kufikir, 7 tahun telah mengubah ia tentunya. Kulihat pakaian yang ia kenakan, perpaduan wolfis dan brukat dipakainya kini, gamis syar'i namun tetap terkesan modis. Dari dulu aku memang suka cara berpakaiannya, dan Lyra sekarang tampil lebih rapi dan elegan, ia pintar menutup apa yang harus ditutup namun tidak terkesan kuno. Dan wajahnya masih tetap cantik seperti dulu walau tak banyak polesan, tapi terlihat cantik natural.


Dan putraku, kini aku mengerti mengapa sejak pagi tadi, senyum tak lepas dari bibirnya. Putraku ternyata telah menemukan yang dicarinya, bahkan in sya Alloh akan segera memilikinya. Setelah dulu aku memaksakan hatinya, kini hatinya seakan bebas dan cinta masa lalu kembali menjadi pilihan putraku. Karena kutahu ia memilih wanita yang baik apalagi ternyata baru kuketahui cucuku-pun telah memanggilnya bunda, akupun akan mendukungnya. Ohh, hidup memang sulit di terka.


"Buu, tadi katanya ingin bicara kenapa kini hanya diam saja," ucapan putraku seketika menyadarkan lamunku.


"Ohh, i-ya." ujarku.


Aku berpindah duduk disisi Lyra saat ini, ia sangat harum ternyata, seperti yang dikatakan Mayra.


"Iya bu," kudengar jawabnya lembut.


"Lalu bagaimana hasil pembicaraan dengan orang tua Lyra kemarin? kapan kalian rencananya menikah, dan kapan ayah dan ibu bisa berkunjung kerumah Lyra," tanyaku pada Dimas putraku.


"Aku meminta kesanggupan orang tua Lyra untuk mempersiapkan pernikahan dalam 2 bulan ini Bu, untuk kerumah Lyra terserah ayah dan ibu kapan senggang saja." jawab Dimas.


"Ohh baiklah. Dim, jujur ibu senang Nak, kau terfikir melanjutkan hidupmu kembali. Kau tau Ly, Dimas sebelumnya selalu acuh jika membahas pernikahan kembali dan hati ibu selalu teriris saat mengingat telah memaksa Dimas menikah saat itu, mengingat Friss yang menyakiti Dimas, mengingat Mayra tanpa Ibu dan juga membayangkan Dimas selama ini merawat sendiri putri kecilnya."


"Dimas ... maafkan ibu Nak, kau pasti membenci ibu, ibu bukan ibu yang baik Karena telah memaksakan kehendak ibu," lirihku tak mampu kubending tetesan air mata penyesalanku yang selama ini terus kupendam.


Putraku menghampiriku, ia duduk bersimpuh dihadapanku, "Ibu jangan bicara lagi, Dimas ikhlas terhadap jalan hidup Dimas dan Dimas tidak membenci ibu," ujar putraku. Berkali-kali ia menciumi tanganku, putraku yang baik. Akupun memeluk putraku kini. Hingga sebuah tangan turut mengusap-usap bahuku, Lyra turut menenangkan-ku.


Segera kulepaskan pelukan putraku. Emosiku mereda, kutatap kembali putraku yang masih bersimpuh dihadapanku dan Lyra yang berada disebelahku. Ku sapu wajah-wajah mereka. Kugenggam jemari Lyra dan kusatukan bersama jemari putraku kini.


Berkali-kali Lyra hendak menarik tangannya yang terhimpit dibawah tangan Dimas tapi aku tidak membiarkannya, mungkin Lyra malu, fikirku.


Kutatap keduanya saling bertatap kini dan aku senang melihatnya. Kurasakan tangan Dimasku menggenggam erat tangan Lyra kini.


"Ibu akan persatukan kalian, ibu merestui kalian, kalian harus hidup dengan bahagia ..."


Kutatap putraku mengangguk sambil terus tersenyum, dan Lyra, ia masih terus menatap putraku hingga beberapa saat Lyrapun akhirnya mengangguk juga.


"Terima kasing Sayang," akupun memeluk calon menantuku kini, pelukan yang sangat lembut dan hangat.

__ADS_1


Baik, ayo kita bergabung kembali dengan yang lain sayang, aku masih merangkul Lyra saat ini, tulang bahunya sangat kurus.


"Gemukkan badanmu Nak, kenapa tubuhmu begitu kurus?" ujarku.


Iapun menjawab dengan senyum dan anggukan.


Kamipun segera keruang keluarga kini.


●●●●


Kami keluar dari ruang keluarga saat ini ...


Masih kutatap pria yang berjalan beriringan denganku, desiran aneh kurasa saat ia menggenggam tanganku tadi. Mas Dimas jahat mengambil kesempatan menyentuhku ...


Ia yang menyadari rona kemarahan dalam tatapanku, segera melipat kedua tangan kearah dadanya seakan meminta maaf sambil memberi wajah memelasnya. Aku yang marah seketika ingin tersenyum melihat wajahnya kini, awas saja kalau mas mengulanginya, batinku. Hingga kusadari ada yang hilang, dan aku belum menemukannya sejak tadi,


"Mass, dimana Mayra?" tanyaku.


Seketika kulihat samar 2 pasang kaki menuruni tangga yang berada 3 meter dihadapan kami, sepasang kaki panjang dan sepasang kaki kecil disebelahnya, kulihat mereka saling bergandengan.


Hingga mereka berdua kini berdiri menunggu kami, 2 meter di hadapan kami tepatnya. Mayra yang menangkap bayangku seketika berlari memeluk kakiku ...


"Bundaa," panggilnya. Akupun seketika berlutut menyamakan tinggi kami. Kutatap Kak Fida, Mas Fahmi dan yang lain berjalan semakin menjauh, hanya mas Dimas disebelahku yang masih menungguku.


"Hai sayang ...." Segera ku cubit gemas hidung kecilnya.


"Sakit bundaa," ucapnya.


"Ohh, maaf sayangg.. mau gimana lagi bunda sangat gemas melihatmu. Bagaimana harimu, apakah Mayra bahagia hari ini?" tanyaku sambil terus ketelusuri wajah cantik di hadapanku.


"Aku senang hali ini, kalena kata ayah bunda akan datang," celotehnya.


"O- ya?? ... "


Tak lama, kumelihat sepasang kaki yang berjalan mendekat kearahku dan Mayra. Sepatu ini seperti tak asing, sepatu kets army dengan gambar bintang disisinya.


Dimana pernah kulihat sepatu ini sebelumnya??


Aku terus berfikir ....


Hingga kuteringat sepasang kaki yang kuinjak pada malam itu, ia menggunakan sepatu yang sama seperti ini ...


Mungkinkah??


Segera kuangkat wajahku keatas..


Dan Ohhh ... terbelalak mataku seketika ...


●●●●


🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


🌻Jangan lupa komen yaa😊😊


__ADS_2