Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Rumah kita


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


"Kita akan kemana lagi setelah ini Mass?" ujarku penasaran akan ada kejutan apa lagi yang diberi Mas Dimas dalam diamnya.


"Hmm, kalau Mas beritahu bukan kejutan namanya, Lyra sabar yaa?" ujar mas Dimas kearahku.


Dan Mayra mulai tertidur saat ini. Seperti biasa aku membalikkan tubuh kecil Mayra kearah tubuhku dan aku memeluknya.


Tiba-tiba Mas Dimas menepikan Jazz Silvernya. Ia keluar dari mobil dan membuka pintu bagian tengah, tampak ia memompa matras mobil yang diambil dari pintu belakang mobilnya dan memasang matras di bagian tengah joknya, memberi bantal, baru setelahnya mengambil Mayra dalam dekapanku dan memindahkannya ketengah.


Setelah memastikan Mayra tertidur dengan nyaman, Mas Dimas kembali ke posisi kemudi di depan.


"Kenapa dipindah, aku senang memeluk Mayra Mas," ujarku.


"Mayra semakin besar, tubuhnya pasti berat, nanti kakimu pegal terus memangkunya Ly, sedangkan mas belum boleh memijat kakimu, kan?"


"Mass, jangan mulai ...."


"Iya, mas hanya bercanda," tampak senyum di wajahnya saat ini.


"Ly ... "


"Hemm," sahutku.


"Kata orang pernikahan kita sudah didepan mata, tapi Mas merasa 1 bulan itu sangat lama. Kadang mas takut segalanya tak nyata dan tiba-tiba segala mimpi akan hilang dalam sekejap," lirih mas Dimas menunjukkann sisi sensitifnya. Ia berkata dengan suara yang berat, dan kulihat matanyapun mulai berkaca.


"Mass, aku disini. Jangan khawatir berlebih, kita sedang ber-ikhtiar, harus optimis dan positif thinking pada sang Maha Berkehendak, benar begitu bukan?" lirihku, yang sejujurnya aku sedang menasehati diriku sendiri pula.


"Iya, secara teori mas paham. Tapi mengingat rasa sepi yang mas alami beberapa tahun belakangan ini, kadang terselip tanya dihati, apa memang sudah saatnya kebahagiaan datang dalam kehidupan Mas? Atau semua hanya akan menjadi angan semu?" lirih mas meluapkan isi hatinya.


Hmm, aku sejujurnya memahami yang mas rasakan, bahkan akupun demikian, sering bertanya dalam hati, apa aku berhak bahagia?aku juga ingin bahagia, aku ingin bermimpi. Semua yang dulu samar kini nampak terang setelah Mas kembali, tapi memang perjuangan ini belum berakhir. Dan kita harus selalu meluruskan dan mengukuhkan niat kita hingga hari H datang Mas ..., lirihku berkata dalam diamku.


Mas Dimas menatapku yang hanya terdiam.


"Maafkan Mas, Lyra. Lyra pasti membenci mas setelah kata-kata mas barusan, Mas memang tidak sekuat yang terlihat. Tolong!! Jangan pernah membenci Mas," ujar mas Dimas kembali.


"Aku tidak membenci Mas, Mas harus tau!!aku siap bermimpi dan mewujudkan mimpi bersama Mas, Oke!!" tegasku.


"Benarkah?"


Aku mengangguk sambil terus menatap mas Dimasku, setidaknya dengan memberinya kekuatan aku sedang memberi kekuatan untuk diriku sendiri.


"Terima kasih Ly." Mas Dimas mulai menampakkan senyumnya kembali.


Akupun membalas senyumannya kini.


Beberapa saat kemudian, kuhadapkan diriku ke jendela setelah beberapa kali ku pastikan Mayra masih nyaman dengan tidurnya. Tiba-tiba kutersadar sesuatu, jalan ini ... aku tak asing.


"Kita akan kerumah Kak Fida kah Mas?" ujarku memperhatikan jalan yang kulewati saat ini. Dan ini adalah rute ke rumah Kak Fida yang baru.


"Bukan," jawab Mas Dimas singkat.


Jazz Silver mas Dimas masuk ke gerbang sebuah perumahan bertuliskan GREEN SQUARE RESIDENCE.

__ADS_1


"Kali ini surprize mas tidak mengejutkanku, ini sangat jelas. Mas akan membawaku ke rumah Kak Fida dan Mas Fahmi, bukan?"


"Sudah mas bilang, kita bukan ingin kerumah mereka," ujar mas Dimas.


"Ada rekan Mas yang lain yang tinggal disini juga kah?" tanyaku kembali.


Mas Dimas tampak menggeleng dan tersenyum.


Aku masih terus berfikir, hingga Jazz Mas Dimas berhenti di depan sebuah rumah dengan warna dan arsitektur mirip seperti rumah Kak Fida.


"Rumah siapa ini Mas?" heranku.


"Ayo kita masuk dulu." Mas Dimas seketika membuka pintu mobil bagian tengah dan menggendong Mayra yang masih tertidur di bahunya.


Mas Dimas kini membuka gerbang rumah tersebut.


"Mass, tidak sopan masuk rumah orang tanpa izin," lirihku.


Tanpa menghiraukanku, mas Dimas membuka kunci pintu bagian depan saat ini.


Dan pintupun dibukanya.


"Ayo masuk!" ajak mas Dimas kepadaku.


"Hahh, masuk? jawab dulu ini rumah siapa Mas?" tanyaku kembali semakin bingung dan tidak baik menurutku masuk kerumah orang diam-diam seperti ini.


"Kau ingin tau ini rumah siapa bukan? Oke akan mas jawab, ini akan menjadi rumah kita Lyra."


"Mass ... " Kutatap wajah mas Dimas kini meyakinkan bahwa iya sedang bicara benar.


"Iya ... mas tidak bercanda. Ini rumah kita. Setelah menikah kita akan tinggal disini. Bagaimana, kau menyukainya?" tanya mas Dimas lagi sambil sesekali membenarkan posisi Mayra di bahunya.


"Terima kasih Mas, aku suka sekali designnya, minimalis dan tidak berlebihan."


"Semua furniture ini, kau sendiri yang memilihnya-kah Mas?" Tanyaku kembali karena kulihat rumah sudah sangat rapi dan tertata, bahkan sangat detail menurutku, hingga lukisan, keramik-keramik kecil yang berjejer diatas meja, juga foto-foto kecil Mayra tampak tersusun indah di dinding berwarna softgrey tersebut.


"Iya, mas yang memilihnya, jika kurang sesuai menurutmu, kita akan menggantinya," ujar mas Dimas.


"Sebaliknya, aku sangat suka pilihanmu mas," ujarku, sambil terus kutelusuri setiap sudut dan bagian rumah yang kami datangi tersebut.


"Benar? Alhamdulillah kalau memang kau suka," ucap mas Dimas tampak bahagia di wajahnya.


"Ayo kita lihat ke lantai 2!" ajak mas Dimas.


Aku mengangguk dan kuikuti mas Dimas yang berjalan didepanku.


"Mas ingin lantai 2 jadi tempat privasi kita, disebelah tangga terdapat sofa minimalis panjang berwarna dark grey dengan home theater dilengkapi beberapa lukisan abstrak yang tersusun acak namun indah. Ini akan jadi ruang keluarga kita Ly ...."


"Ahhh, foto ini ... ini foto pre-wedding kemarin bukan? kenapa mas letakkan disini? dan mengapa ukurannya begitu besar?" ujarku malu melihat tampilanku sendiri.



"Agar Mas selalu menangkap bayangmu di setiap sudut rumah ini," ujar Mas Dimas.


"Foto Mayra juga tampak cantik sekali."


__ADS_1


"Foto kalian berdua harus selalu ada."


"Lalu dimana fotomu?" tanyaku.


"Foto mas tidak perlu dipanjang, tapi cukup di simpan di hatimu," lirihnya, tampak sebuah senyum yang manis tampak di wajah mas Dimas saat ini.


"Mass ... " kubalas senyumannya kembali.


●●●


🌻Dan kini, tampak Mayra mulai terbangun,


"Ayahh, kita dimana?" ucapnya saat ia melihat sekeliling yang tampak asing untuknya.


"Kita sedang di rumah, Sayang," jawab Mas Dimas.


"Lumah siapa?" tanya Mayra tampak bingung.


"Rumah Mayra tentunya. Di rumah ini nanti Mayra, Ayah dan Bunda akan tinggal bersama," Dimas menjawab pertanyaan sang putri dengan sangat lembut.


"Kita akan tinggal belsama Bunda?" celoteh kembali Mayra tampak memastikan.


Dimas pun mengangguk.


"Kita akan tinggal bersama Bunda jika sudah saatnya nanti, okee!!" tambah mas Dimas.


"Yeaaa, okee ayah," ujar Mayra.


"Oya, dilantai 2 ini ada 2 kamar, yg disana kamar kita Ly, yang itu kamar Mayra. Ayo kita lihat kamar kita!" ajak kembali Dimas.


Dibukalah kamar dihadapanku,


"Ohh, sangat cantik dan elegan Mas, terima kasih ... aku menyukainya," lirihku.



"Sekarang ayo kita lihat kamar Mayra!," ajak Mas Dimas disambut antusias oleh Mayra.


Dibukanya pintu kamar Mayra saat ini, dan ...


"Cantik kamal Mayla ayah, makacii ayah," celoteh Mayra.



"Cantik Mas, terima kasih segalanya," lirihku menatapnya.


Mas Dimas sketika membuka kedua tangannya,


"Ada apa Mas?" ujarku pura-pura bodoh.


"Tidakkah kau ingin memeluk Mas?" lirih mas Dimas.


"Peluknya di pending setelah menikah Oke!!" bisikku kemudian segera meninggalkan Mas Dimas dalam keterpakuannya.


Wanita ini, awas nanti setelah menikah mas akan tagih semua janjimu, batin mas Dimas.


🌷🌷🌷

__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


🌻Duhh nge-halu rumah baru indah yaa😃😃


__ADS_2