Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Pagi Berwarna


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻SENTRA DUTA RESIDENCE


Seperti hari biasanya, kami berkumpul di meja makan pagi ini. Namun sajian pagi ini nampak berbeda, bubur ayam menjadi menu kami.


Kenapa bisa ada bubur ayam pagi-pagi di rumah kami? bubur ini bukan buatanku ataupun Bik Lasmi. Tapi buatan sang pedagang bubur ayam di bundaran perumahanku.


Mas Dimas mulai rutin joging akhir-akhir ini setelah fakum lantaran membantuku mengurus si kembar, juga mendampingi Diyara kala itu. Dan sekarang si kembar sudah mulai teratur jam tidurnya, tidak sering rewel di malam hari. Karena memang di siang hari mereka sangat aktif jadi malamnya mereka gunakan untuk rehat.


"Buka mulutmu Sayang A ...," seperti biasa mas Dimas kenapa senang sekali menyuapiku. Aku memang sedang memangku Dirga saat ini, Dirga ikut bangun pagi setelah sholat subuh tadi. Dan aku menghadirkan Dirga di sarapan kami pagi ini, sambil menyuapi bubur ayam kemulut kecilnya.


Aku masih mengunyah bubur dimulutku hingga mas Dimas telah menyodorkan kembali suapan selanjutnya.


Kugelengkan kepalaku sambil kutunjuk bibirku dengan jariku. Ishh Mass, aku belum selesai mengunyah kacang dimulutku, batinku.


Dan aku melakukan hal sama pula pada Dirgaku, terus menyuapinya..


Ta ... ta ... ta .. taa ...


Terdengar celoteh lucu Dirga saat ini, ia bergumam sambil menyemburkan bubur dari mulutnya..


"Bunda, lihat buburnya buat mainan Dirga," celoteh Mayra melihat prilaku adiknya.


"Jangan sambil mengoceh saat makan Sayang," ujarku seraya membersihkan mulut Belepotan Dirga.


"Udah kenyang kali Bun jadi buat mainan," ucap mas Dimas yang kubalas anggukan, ia juga sih udah lumayan yang masuk, apalagi belum lama habis Mik ASI juga.


"Mbak Dinar tolong rapihkan Dirga yaa," panggilku pada pengasuh Dirga yang sudah kupercaya itu. Tak lama Mbak Dinarpun membawa Dirga ke lantai atas untuk dimandikan.


"Bagaimana kuliahmu Shif?" mas Dimas memulai cakap pada adiknya yang sering pulang malam belakangan ini.


"Alhamdulillah semua baik Mas,"


Aku menyimak obrolan kakak beradik dihadapaanku, sambil kuacungkan sendok kemulut mas Dimas saat ini. "A mass ...," mas Dimas tampang menyerngitkan alisnya. Tapi tetap tak menolak suapan dari tanganku.


"Sudah ya Sayang, biar mas makan dari mangkuk Mas sendiri," ujarnya kemudian setelah kunyahan terakhirnya di telan. Akhirnya aku memakan sendiri bubur di hadapanku.


"Mas lihat kamu sekarang sering pulang malam, kalau punya temen deket, ajak dong kesini, kenalkan pada Mas dan Mbakmu," ujar Mas Dimas sambil menyuap bubur ke mulutnya.


"Ahh, nggak ada Mas. Cuma temen biasa aja kok."


"Temen juga gpp diajak main biar kami yang di rumah tenang melihat siapa teman yang sering pergi denganmu," ujarku menimpali.


"Kalau sudah saatnya pasti Shifaa ajak ke rumah kok." Dan mas Dimas kini mengangguk-angguk.


"Yang penting jaga diri yang benar," tambah mas Dimas.

__ADS_1


"Ayah, Bunda, Anti ... Mayra berangkat sekolah yaa." celoteh Mayra yang tiba-tiba menghampiri dengan tas dan sepatu yang telah terpasang.


"Iya, belajar yang pintar ya Sayang," ucapku sambil mengecup keningnya.


Hal yang sama dilakukan pula oleh Mas Dimas dan Anti Shifaa. Hingga obrolan berlanjut kembali ...


"Emang orangnya asli mana dek?" tanyaku.


"Orang apa sih Mbak, kita cuma temen aja kok," terlihat malu di wajah Shifaa saat kami mulai banyak bertanya tentang sosok yang kerap ia temui.


Oek ... Oek ... Oekk ...


"Sepertinya Diyara sudah bangun, aku duluan ya Mas, mbak duluan Dek." Mas Dimas dan Shifaa tampak mengangguk dan senyum secara bersamaan kearahku.


Dan benar saja malaikat cantikku sedang memiring-miringkan tubuhnya dan seketika duduk di ranjang saat ini, ia tampak tersenyum menatap kehadiranku.


Kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku sambil perlahan mendekatinya,


"Mana ya anak bunda, ciluukk baaa ...." kubuka tanganku mengagetkannya, iapun seketika tertawa geli sambil menjatuhkan tubuhnya kebelakang ... Kini aku bersembunyi dibalik ranjang, ia tampak mulai merangkak mencariku, dan seketika "Baaaa ...." dan ia kembali tersenyum seraya menjatuhkan tubuhnya kesamping, lucunya putri kecilku, batinku.





Taa ... Taa ... Taa ...


Dan seketika pula air mataku berlinang ...


Masih kutatap wajah polos tanpa dosa yang kini masih mengoceh dengan tangan bermain-main keatas seakan ingin meraih wajahku. Segera kututup tubuh bertanda Diyaraku, tak sanggup melihatnya. Hingga seketika kurasakan sesuatu diatas kepalaku kini.


Tak lama sebuah tangan mendekap kepalaku. Mas Dimasku ternyata mengecup kepalaku sangat lama disana. Hingga kecupan itu turun kekeningku, baru setelahnya ia duduk di sisi Diyara.


"Hai cantiknya ayahh, apa Chayangg??? mau celita?? celita apa cihh??? sambil ayah pakaikan baju yaa,"


Pa ... paa ... pa ... paaa ...


"Iya Chayangg, kenapa Nakk?? Hah.. Bunda cengengg, Hmm ... Bunda tadi nanis, Diyala liyatt?? Hmm, Bunda nakal nih nangis di depan kesayangan Ayah, nanti biar Ayah jewer Bunda yaaa,... Dann, selesaiii.. Nahh, kalau sudah memakai pakaian kan putri Ayah, tambah terlihat cantik. Sekarang tinggal bedaknya ...."


puk ... pukk ... ayah Dimas tampak sedang memakaikan bedak di wajah Diyara saat ini.


"Bagaimana sudah cantik kan putri kita??" ucap Mas Dimas kearahku sambil menarik kedua alisnya, menunggu tanggapanku.


"Ayah yang nakal, putri cantikku dibuat seperti badut," seraya tersenyum ku hapus bedak berlebih yang tertempel di wajah Diyara-ku.


"Kalau Bunda tersenyum seperti ini jadi tambah cantik, ayah suka. Ayah jadi pengenn ...." Dan tak menunggu lama kedua telapak tangan Mas Dimas sudah merangkum wajahku, "Kiss yang mana dulu yaa???"


"Mass Ishhh ... " kutengok ke kanan dan kiri menghindari wajah suamiku yang sudah sangat dekat dari wajahku saat ini.


"Cup ...." kecupan di dahi sudah di daratkan kini.

__ADS_1


"Cup ...." pipi kanan.


"Cup ...." pipi kiri.


"Masss ...." semakin aku ingin membuang wajahku, semakin erat pula tangan yang menghimpitku untuk menahannya.


"Cup ...." dagu.


"Okee, yang terakhir ... baru saja saja kecupan itu mengenai bibirku. Tiba-tiba ...


"Permisi Buuu ... Ohh, maaf Bu, saya tidak lihat apa-apa, maaf bu, tadi pintunya terbuka jadi saya tidak tau, maaff ... " seketika tangan mas Dimas berpindah ke bahuku.


"Ada apa Mbak Dinar?" tanya mas Dimas tenang seolah santai saja kelakuannya dipergoki oleh pengasuh anak kami.


"I- ni Pa-kk, Dirga su- dah tidur ma- u saya pin- dahkan ke ranjang Pa-kk," jawab terbata mbak Dinar kini.


"Silahkan taruh, dan segera keluar," tak lama Mbak dinar telah meletakkan Dirga dan beranjak keluar ...


"Mbak Dinarr," teriak mas Dimas membuat mbak Dinar terkejut disana.


"A -da apa la-gi Paakk??" lirihnya.


"Jangan lupa tutup pintunya!!!"


"Iya Paakkk."


~~


Dan aku sedang menyusui Diyara saat ini,


"Hahhh, mengganggu saja," lirih mas Dimas seraya menciumi pipi Diyara. "Hahh, Diyara anak yang pintar. Ia sangat tenang."


"Oya Sayang ...."


"Hmmm???"


"Bukankah Diyara belum makan?" tanya mas Dimas dengan gelagat aneh disana.


Akupun mengangguk mengiyakan.


"Duhh, kalau anak belum makan jangan disusui dulu dong Bun, nanti ia jadi tidak mau makan. Ayo ikut ayah Sayangg," mas Dimas seketika mengambil Diyara dari dekapanku.


"Mau dibawa kemana Diyara Mas??" tanyaku heran.


"Biar disuapi mbak Dinar. Kau jangan kemana-mana Bun..!!!!" teriak Mas Dimas kini sambil mengerdipkan matanya.


Ayah yang nakal ...


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


__ADS_2