
Dengan semangat terus kulangkahkan kakiku menuju kontrakanku berada ...
🌻Pukul 19.45
"Alhamdulillah ... sampai juga."
Kuambil kunci dalam tas ku.
Kuputar kunci perlahan.
Terasa hawa yang menyejukkan masuk kedalam kontrakanku saat perlahan pintu mulai terbuka.
Home sweet home, batinku.
Segera ku bersihkan tubuhku dan kulaksanakan ibadah Isyaku. Kini saatnya kupenuhi hak perutku.
Kuambil bungkusan nasi goreng dalam tasku.
Bismillah. Segera mulai kumakan dan beberapa saat kemudian sudah tak tersisa lagi nasi goreng didepanku. Alhamdulillah, batinku.
Kurebahkan diriku di kasur kini. Kuambil ponsel yang sejak pagi tak kuhiraukan keberadaannya. Kucek satu persatu pesan yang muncul disana. Pesan Firgie selalu menjadi nomer 1 muncul dilayarku. Ada beberapa pesan darinya. Seperti biasa Ia menanyakan kabarku, aktifitasku, ibadahku dan makanku. Firgie terima kasih atas segala perhatianmu, batinku.
Agar tak terkesan sombong kujawab pesannya, "Alhamdulillah hariku menyenangkan Gie."
"Senang kau membalas pesanku Lyra. Kau sedang apa saat ini?" tampak dengan cepat muncul balasan dari Firgie.
Aku membacanya namun enggan membalasnya.
Kulihat lagi pesan lain diponselku.
Mas Dimas, setelah semalam seakan mendapat angin segar. Mas Dimas mulai berani mengirim pesan kepadaku lagi.
"Aku sudah sampai Lyra. Kau sedang apa?"
Kuabaikan pesan darinya.
Kembali kuteringat kejadian siang tadi. Saat kami duduk bersama di kantin. Mbak Friss berterima kasih padaku. Ia telah percaya tak ada apa-apa lagi antaraku dan mas Dimas. Namun sebaliknya aku dan Mas Dimas masih bertemu di belakangnya, seperti malam ini. Betapa jahatnya aku.
Ya Robb, apa yang harus kuperbuat agar aku tak mengulang kisah yang salah ini?
Hmm .... Bagaimana ya? kuterus berfikir.
Selama aku masih disini dan memakai nomer ini Mas Dimas akan selalu bisa menjangkauku. Atau lebih baik aku pindah saja dan mengganti nomerku. Ya Mungkin itu solusi terbaik. batinku.
Tapi kemana aku akan pindah bahkan aku belum banyak tau daerah Bekasi dan lagi. Akankah Mbak Susi mengijinkannnya? biarkanlah urusan izin dengan mbak susi belakangan. Siapa ya yang bisa mencarikan kontrakan oh tidak kossan saja. Aku kan sendiri.
Ku telfon Kak Fida.
"Assalamu'alaikum Kak,"
"Wa'alaikumsalam Ly ...."
Aku mengtarakan niatku untuk pindah kos padanya dengan berbagai pertimbanganku. Dan Kak Fida ternyata sangat mendukungku.
"Aku setuju sekali ly, tapi aku sepertinya sulit membantumu. rumahku kan area perumahan, jarang kossan sekitar sini. Kenapa kau tidak coba menghubungi Firgie mungkin ia banyak kenalan dan bisa membantumu!"
"Begitukah menurutmu Kak?"
"Coba saja kau hubungi Firgie oke! Maaf aku tak bisa membantumu," ujarnya mengakhiri pembicaraan kami.
Firgie, haruskahku meminta pertolongannnya??
Kutatap nama Firgie di kontak ponselku. Hubungi gak ya? tapi aku harus segera pindah. Dengan spontan tanganku menekan tombol telfon berwarna hijau itu. Memanggilnya.
__ADS_1
Tutt ... Tutt ....
"Assalamu'alaikum Ly," Firgie menjawab, suaranya telah muncul.
"Wa'alaikumsalam Gie, aku mengganggumu kah?" ujarku. Terdengar suara beberapa pria diujung sana.
"Tentu tidak. Ada yang bisa kubantu Ly?" tanyanya.
Kau tau saja Gie kalau aku memang membutuhkan bantuanmu saat ini.
"Bisa kita bertemu besok setelah pulang kerja? Ada yang ingin ku bicarakan," Sepertinya tidak baik menyampaikan permintaan tolong melalui telfon, fikirku.
"Okee ... di tempat biasa Kafe Holala kau masih ingat bukan?"
"Iya, sampai ketemu esok Gie!Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam"
●●●●
🌻Kafe Holala 16:10
Melangkahkan kaki ke tempat ini membuatku teringat awal pertemuan kami. Dikenalkan sebagai teman kondangan. Ohh ... pertemuan yang aneh.
Kudekati sosok pria yang telah melihatku di kejauhan.
"Kau sudah lama Gie?" ujarku
"Baru tiba," jawabnya sambil tangannya mempersilahkanku duduk dihadapannya.
Pria dengan kaos abu-abu dan celana jeans hitam itu tak berubah, tetap menampilkan sikap sopan dan menyenangkan.
"Kau mau minum atau makan sesuatu?"
"Es Jeruk saja," ujarku.
"Jadi. Apa yang bisa kubantu Lyra?"
"Firgie..maaf sebelumnya aku menelofon hanya untuk merepotkanmu."
"Jangan sungkan lyra. Kau bisa minta tolong apa saja padaku. Selama aku bisa, aku akan senang melakukannya."
"Gie, aku berniat pindah dari kontrakanku saat ini. Ingin ngekost sendiri saja. Apa kau bisa membantuku mencarinya?"
"Hmm ... Oke nanti aku akan hubungi beberapa temanku. Dan segera mengabarimu," ujarnya.
"Jika ada secepatnya lebih baik Gie," tambahku.
"Maaf, kau ada masalah dengan teman kontrakanmu kah?"
"Tidak, bukan itu. Aku ingin menghindari seseorang." Entah mengapa bibirku spontan mengatakannya.
"Apa ia Dimas tunangan Friss?" tebak Firgie tanpa basa basi.
"Gie, bagaimana kau bisa menebaknya?" tanyaku heran.
"Itu bukan hal sulit Lyra. Kejadian tempo hati di pesta Dewi telah menggambarkan segalanya," ujar Firgie.
Aku menunduk. Mengapa aku tak terfikir itu ... Iya kejadian itu mempertontonkan kisahku dan mas Dimas dihadapan Firgie. Tiba-tiba air mata menetes dari sudut mataku.
"Sebenarnya aku menunggumu yang menceritakannya Lyra. Tapi kau tetap menjaganya sendiri. Sekarang kau harus menjawabku. Hubungan seperti apa antara kau dan Dimas? Itupun jika kau ingin menjawabnya," ujar Firgie.
"Mas Dimas kekasihku Gie. Dan aku baru tau saat di pesta itu kalau ternyata ia telah bertunangan dengan mbak Friss. Karnanya kau lihat hari itu aku begitu hancur," jawabku sambil sesekali mengusap butiran air yang menetes.
__ADS_1
"Kurang ajar!! Laki-laki brengsek," ujar Firgie terlihat sangat marah dimatanya.
"Tidak begitu Gie ...."
"Kenapa Ly, setelah yang ia lakukan. Kau berbaikan dengannya kah?"
"Gie ... Setelah hari itu aku telah berpisah dengannya. Tapi mendengar alasannya aku luluh dan tidak bisa membencinya," ujarku.
"Kalian masih sering bertemu?" tanyanya lagi.
"Beberapa kali. Oleh karnanya pindah adalah solusi menurutku agar ia tak bisa lagi menjangkauku. Aku harus benar-benar menjauh darinya Gie," lirihku.
"Kau tenang Ly, aku akan mendapatkan tempat kost untukmu."
"Terima kasih Gie. Kau benar-benar teman yang baik."
Terlihat senyum diwajah Firgie, senyum yang meneduhkan.
"Ohh ... sudah setengah 5 lewat. Kau belum sholat kan?"
"Iya," jawabku.
"Kita sholat dulu nanti kita lanjutkan," ujarnya.
🌻Pukul 17.15
2 insan sudah duduk di bakulan ketoprak di depan Mall XX.
"Kau makan yang banyak Ly?" Aku hanya tersenyum mendengar perhatian yang Firgie berikan.
"Sepertinya Dimas sudah sangat menyita fikiranmu. Apa kau tidur dengan baik selama ini Lyra?"
Aku menggeleng.
"Pantas, terlihat gurat-gurat letih di wajahmu. Jaga kesehatanmu Ly!!"
Aku mengangguk mengiyakan.
"Ayo makan!!" ujarnya lagi saat 2 piring ketoprak disajikan dihadapan kami.
Kami masih duduk disudut bakulan ketoprak saat ini.
"Ternyata berbagi masalah itu menenangkan ya," ujarku pada Firgie yang tampak sedang menghisap rokok di bibirnya.
Ia melirikku dan tersenyum sangat manis.
"Kau bisa bercerita apapun padaku Ly," ujarnya sambil melepas perlahan gumpalan asap dari bibirnya.
"Apa merokok begitu menyenangkan untukmu?"
"Hanya suatu kebiasaan kecil Ly. Awalnya SMA aku ikut-ikutan teman, terbawa sampai sekarang. Tapi porsi merokokku gak banyak ko, 1 sampai 2 batang saja perhari." Ia kembali tersenyum menatapku.
"Kau tidak menyukainya kah Ly?"
"Hmm ... Sedikit tidak terbiasa melihat orang merokok."
"Aku bisa menguranginya jika kau memintaku." Firgie kembali menatapku dengan pandangan yang tak biasa namun segera memalingkannya.
Deg ... rasa apa ini? Jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan mendengar tiap kata dari bibir Firgie.
Hati ...
Apakah ini suatu tanda kau telah siap membuka hati lain memasukimu??
__ADS_1
●●●●
🌻Happy reading❤❤