Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Membulatkan Tekad


__ADS_3

Bismillah...


Maaf setelah sekian lama thor baru melanjutkan kisah Lyra..


Lanjutt yaa❤❤


🌷🌷🌷


Hembusan angin pagi


Tetesan embun


Mentari yang tampak malu


Keluar dari peraduannya


Menyapa jiwa yang tertatih


Keluar dari lingkaran rasa


Sebab takut pada Sang Pencipta


Satu-satunya pemilik sejati raga


"Semangat pagi," satu kata yang membersamaiku pagi ini..


Masih kutatap setiap episode hidupku..


Merindu bahagia, Merindu Cinta itulah aku..


Namun tak ingin membuat Sang Maha cinta cemburu..


Senin Pagi,


Seperti biasa kuhadirkan semangat dalam setiap aktifitasku, kulahap setiap produk di depanku, aku dan seluruh rekan lineku berusaha melakukan yang terbaik yang kami bisa agar planning hari ini tercapai..


Hingga saat istirahat,


Kutatap layar dalam ponselku..


Kata-kata penyemangat muncul disana


Dari seseorang yang telah meletakkanku dihatinya, Firgie...


Terfikir dalam benakku, hari esok akankah sama dengan hari ini jika aku luapkan segala gundah akan percikan iman yang mulai memenuhi jiwaku..


Akankah Ia memahami setiap gundahku?


Kuketik dengan hati-hati satu persatu kata, yang akan kukirim padanya..


"Sore nanti maaf tidak perlu menungguku di tempat biasa Gie, datanglah setelah isya. Ada hal yang ingin kusampaikan.." tulisku.


Seperti biasa, dalam hitungan detik balasan darinya telah muncul.


"Apa ada hal serius? Kita makan bersama sore ini oke?" ajaknya.


Maksudku bertemu malam adalah untuk mempersempit waktu kita bertemu. Jika bertemu sore, jarak ke malam akan sangat panjang dan aku berusaha menghindari itu.


Kembali kubalas pesannya,


"Datang malam saja! Maaf..."


"Baiklah, sampai bertemu nanti. Selalu jaga dirimu dimanapun Ly," jawabnya.


"Terima kasih," ujarku.


Malam ini, sejujurnya malam yang tak ingin kulalui.


Malam yang tak ingin kubayangkan.


Entah apa reaksinya.


Dan apakah aku telah siap menerima apapun keputusannya?


Mungkin setelah malam ini tak ada lagi kata-kata cinta dan perhatian..


Sanggupkah aku, membuang rasa ini?


Bisakah aku bertahan dalam ketetapan hijrahku?


Bagaimana jika aku merasa sepi?


Ya Robb, sungguh aku semata-mata melakukannya karena takut padaMu..


Takut Kau marah atas kebersamaan kami..


Bel masuk telah berbunyi,


Segera kusingkirkan segala gundahku.


Masalah hati tak boleh mempengaruhi pekerjaanku..

__ADS_1


Dan akhirnya jam pulangpun tiba, segera kulangkahkan kaki menuju bis jemputanku.


Tak lupa kusapa Babe yang selalu setia mengantar dan menjemput kami ketika kulangkahkan kaki masuk kedalam bis yang di akan dilajunya.


🌷🌷🌷


Dan sampailah aku di kossanku kini, segera ku bersihkan tubuhku dan kemudian kutunaikan ibadah asharku.


Kuambil ponselku, kulakukan panggilan pada seseorang, seseorang yang mengerti gundahku. Aku sangat butuh kekuatan darinya saat ini, Mbak Alika..


"Assalamu'alaikum Mbak.."


"Wa'alaikum salam Lyra," jawabnya.


"Apa Mbak sibuk?"


"Tidak, katakan saja jika ada yang ingin kau sampaikan Ly," tanyanya seakan tau membuncahnya gundahku malam ini.


"Mbak, malam ini aku akan meminta kepastiannya," ujarku.


"Semua pasti tidak mudah untukmu Lyra, mbak bangga kamu cepat mengambil keputusan ini. Yakin Alloh sudah tak sabar ingin merangkulmu Ly, tetap semangat dan jangan goyah." ujarnya senyemangati.


"Mbak, bagaimana jika setelah ini aku merasa kesepian?" tetesan air yang telah kutahan akhirnya tumpah..


"Kau menangis? Semangat Lyra, Alloh telah memilihmu menjadi hamba yang lunak menerima hidayahNya. Apa jadinya jika Alloh membiarkanmu tetap bersama temanmu itu? berbagai kebersamaan kalian, siapa yang akan menanggung dosa yang terselip di dalamnya. Alloh sangat mencintaimu Lyra, yakinlah.."


"Mbak, kenapa aku harus merasakan cinta ini, cinta padanya, jika Alloh ternyata tidak menyukainya. Kenapa kehilangan selalu senang menemaniku?" ujarku kembali.


"Karna kau manusia yang memang di ciptakan Alloh dengan nurani dan hati, beda dengan makhluk Alloh lainnya seperti hewan dan tumbuhan. Yakinlah dari setiap hal menyesakkan yang kau rasa akan ada kebaikan yang banyak untukmu. Kebaikan yang menghantarkanmu ada bahagia yang sesungguhnya, karena kau memang melakukannya karena takut akan Robbmu bukan?" ujarnya.


"Iya mbak," lirihku.


"Diriwayatkan oleh Abu Huraira ra, dari Nabi sallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda Ly: 


"Ada tujuh orang yang akan Allah naungi di Naungan-Nya pada Hari ketika tidak ada naungan kecuali Naungan-Nya; seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Agung, seorang pria yang hatinya melekat pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak berzina oleh wanita cantik dan berposisi tinggi tetapi dia menolak, seseorang yang memberi amal dan menyembunyikannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian hingga meneteskan air mata."


In syaa Alloh dengan keputusan yang kau buat, kau termasuk dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah. Dan itu sangat mulia Lyra.. Walau pastikan akan ada perjuangan setelahnya karna Alloh memang tidak akan membiarkan seseorang hamba mengatakan beriman tanpa mengujinya," jelasnya.


"Terima kasih Mbak, riwayat yang sangat indah. Tolong do'akan Lyra agar tetap teguh dalam hidayah ya mbak,"


"Tentu sayang.."


"Sudah dulu ya mbak, maaf sudah mengganggu waktu mbak. Assalamu'alaikum.."


"Jangan sungkan, Wa'alaiikumussalam Lyra,"


ucapnya yang terakhir mengakhiri obrolan kami.


🌷🌷


Akupun mulai menjalankan ibadahku.


15 menit kemudian...


*Tok.. Tok...


Kubuka pintu yang membatasi kami,


Wajah ini, tampak sebagian rambutnya basah..


Wajah sayu yang meneduhkan ini..


Apa malam ini akan jadi malam terakhir aku melihatnya..


"Ada apa?" tanpak suaranya membuyarkan lamunku.


Seperti biasa iya menyodorkan tangannya kearahku, dengan mengenyampingkan imanku, kukecup punggung tangannya..


"Ampuni aku ya Robb," batinku.


"Ayo masuk" ujarku.


Iapun masuk dan duduk di tempat biasa ia duduk..


Setelah memberinya air mineral, aku ikut duduk disisinya..


Gemuruh di dadaku saat ini, bagaimana memulai pembicaraan ini. Bahkan menatapnya saja sudah membuatku meleleh dibuatnya. Firgie..


"Kau sudah makan?" tanyanya.


Perhatian seperti biasa, ia bahkan tidak tau apa dalam benakku beberapa hari ini. Ia mengira semua baik. Tapi sesungguhnya tidak Gie. Bagaimana ini ya Robb?


"Sudah," jawabku singkat.


"Aku belum makan, ayo kita keluar cari makan! tangannya segera menarikku.."


"Gie, tunggu.." aku menahan tarikan tangannya.


"Ada apa? kau tidak ingin keluar bersamaku?" tanyanya heran dengan sikapku yang biasa menurut.


Bagaimana ini Ya Robb, apa aku menemaninya makan dulu. Kasihan dia belum makan, nanti setelah makan baru aku akan menanyakan keseriusannya, batinku.

__ADS_1


Entah rasa kasihan atau memang kelemahan imanku..


"Baiklah, aku akan temani kau makan,"


Dan iapun tersenyum..


Aduh senyuman ini, meleleh hatiku dibuatnya. Segera kupalingkan wajahku seketika.


Entah apa di benak Firgie, banyak bakulan makanan kami lewati, tapi ia tak jua menghentikan laju motornya..


"Mau makan dimana?" tanyaku diiringi sepoi angin malam menyapu kebersamaan kami.


"Nanti belum ada yang cocok makanannya," jawabnya.


Ia masih melajukan satrianya, dan bukan mempercepat lajunya karna lapar, sebaliknya kurasa laju yang Firgie kemudikan semakin melambat, ia mengendarai satrianya dengan perlahan. Dan seketika Ia menarik kedua tanganku ke pinggangnya.


Semakin aku tahan tubuhku, ia semakin menarik dengan kuat tanganku hingga tubuh kami tak berjarak.


"Aku kedinginan," ujarnya..


Haduhh, ternyata keputusanku menemaninya makan adalah salah.. Ya Robb, lagi-lagi aku lemah...


Setelah beberapa waktu kami berputar-putar. Firgie akhirnya menghentikan lajunya.


Kami berhenti dibakulan pecel lele.


"Benar sudah makan?" tanyanya memastikan.


Aku mengangguk.


"Makan apa?" tanyanya lagi.


"Mie kuah," jawabku polos.


Ia tampak menggelengkan kepalanya.


"Pesen 2 porsi ya Pak," ujarnya berteriak pada pemilik warung.


"Bagaimana pekerjaan hari ini?" ia yang melihatku hanya terdiam tampak memulai obrolan.


"Alhamdulillah lancar," jawabku.


Ia terus menatapku.


Wajah ini apa tidak bisa memperhatikan yang hal lain..


"Jangan menatapku seperti itu?" lirihku.


Ia tersenyum..


Makananpun datang ke meja kami,


Firgie langsung melahapnya..


"Ayo dimakan, kuperhatikan belakangan ini kau tampak lebih kurus," ujarnya melihatku belum menyentuh makananku.


Akupun mulai makan akhirnya..


Setelah beberapa saat makanan dipiring kami berdua telah habis,.


Dan seperti biasa ia menjauh dan duduk diatas satria merahnya menghisap gulungan rokok di tangannya. Matanya masih tak lepas menatapku.


Pemandangan seperti ini, apa esok aku akan melihatnya. Entah kenapa aku tak bisa melepaskan pandanganku darinya saat ini.


Ia tampak tersenyum kini disana..


Perlahan ia berjalan mendekat, duduk disisiku kembali masih di bakulan pecel lele.


"Ayo tatap aku lagi seperti tadi," ujarnya.


"Hahh.. tidak, maaf"


"Kenapa meminta maaf? Sudah lama aku tidak melihat matamu menatapku, aku senang kau menatapku Ly," lirihnya.


Aku menunduk mendengar setiap kata yang fiegie ucapkan.


"Sudah selesaikan? Ayo kita pulang?" ajakku.


"Kenapa ingin cepat balik? kau tau Lyra, entah mengapa malam ini aku sangat takut untuk pulang dan kehilangan bayangmu....


Ku angkat kepalaku menatapnya..


"Aku takut esok kau tak ingin lagi menemuiku ...."


*Firgie apa ia merasakan apa yang akan kukatakan padanya malam ini?


🌷🌷🌷


Happy reading❤❤


*Setelah sekian lama gak update, ada kekhawatiran "readers Takdir Cinta Lyra apakah masih ada dan setia menunggu??"

__ADS_1


__ADS_2