Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
kehilangan Kabar


__ADS_3

●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


Lanjuutt yaa👋☺..


🌷🌷🌷


🌻Firgie ....


PUKUL 19:30》SENTRA DUTA RESIDENCE


"Sepi sekali, kemana mbakmu?" tanyaku yang seminggu ini kerap ikut mampir setelah menjemput kekasihku Shifaa selepas pulang kuliahnya. Semenjak masnya menjalani penyembuhan di Negeri Jiran, Shifa memang kerap meminta langsung pulang ke rumah sebab ingin makan malam menemani Mbaknya.


Namun lagi-lagi seperti hari kemarin, rumah kekasihku lagi-lagi sangat sepi. Suara bayi-bayipun tampak tak terdengar. Sang kakak yang aku ingin melihat kondisinya tak jua turun. Hanya ada sayup orang mengajarkan mengaji, menurut Shifaa itu suara mbaknya yang sedang mengajar ngaji Mayra keponakannya. Tapi tetap aku tak menangkap bayang yang ingin kulihat.


"Ada, biasa mbakku di kamar. Jam segini ia masih mengajar ngaji Mayra. Nanti jam 8 juga mereka turun makan malam," ujar Shifa kekasihku.


"Ohh ...," lirihku.


"Mas, makan malam bersama kami saja malam ini ... mas juga sudah pernah bertemu mbakku kan? biar semakin akrab, mbakku baik kok." Shifaa ia bahkan tak tau jika aku lebih tau sifat mbaknya daripada dirinya.


"Boleh, jika mbakmu tak keberatan," ujarku.


"Mbakku tak akan keberatan, ya sudah mas tunggu sini ya..!!! aku mandi sebentar," ucap Shifa. Akupun seketika mengangguk mengiyakan.





Sepuluh menit berlalu, Shifa masih belum turun. Hingga tiba-tiba sosok wanita berhijab yang tampak tinggi nan ramping menuruni tangga dengan menggandeng seorang anak yang cantik sepertinya.


Lyra, dia turun saat ini. Wanita yang sepekan ini sangat kuhawatirkan dan akhirnya aku melihatnya malam ini. Lyra terlihat cantik seperti biasa walau gurat kesedihan tampak jelas diwajahnya. Ia tampak terkejut melihat kehadiranku di rumahnya. Namun seketika Ia dan putrinya menghampiriku.


"Kau disini? mana Shifaa?" sapa Lyra padaku. Walau hubungan kami tampak aneh kurasa setelah pertemuan kembali dan kenyataan bahwa aku kekasih adik iparnya, tapi aku senang setidaknya Lyra tidak berusaha menghindariku.


"Shifaa sedang membersihkan dirinya, apa kabarmu Ly?" tanyaku seraya terus memperhatikan wanita yang duduk dihadapanku.


"Alhamdulillah aku baik ... oya Sayang, salim dengan Om. Ini Om teman anti Shifaa." Seorang gadis kecil tampak mengulurkan tangan kearahku saat ini.


"Aku sudah kenal dengan Om, Bunda," ucap gadis kecil tersebut kearah Lyra yang dipanggil Bunda olehnya.


Lyra dipanggil Bunda, seakan menyadarkanku jauhnya jarak diantara kami kini. Iya, Lyra adalah seorang ibu kini. Bukan untuk 1 anak, tetapi 3 anak. Dan Dimas adalah suaminya. Lelaki yang entah bagaimana kondisinya. Tapi setelah kepergiannya berobat, Lyra pasti berat menjalani perannya sebagai ibu sendiri.


"Oya, kenal dimana?" Lyra tampak heran dengan ujaran sang putri.

__ADS_1


"Di tempat ketoprak. Tapi Mayra tidak tau nama Om," celoteh Mayra setelahnya.


"Coba Mayra tanya, siapa nama Om," ucap Lyra kini tampak jelas ia sebisa mungkin bersikap biasa di hadapan sang putri. Obrolan yang tampak dipaksakan, hanya sebagai pengisi waktu untuknya, mungkin guna mencari sedikit warna untuk hidupnya saat ini.


"Nama Om siapa?" dan Mayra anak manis yang penurut ternyata, ia seketika berucap manja dan bertanya namaku seperti yang Bundanya ucapkan sebelumnya.


"Nama Om ... Firgie, Mayra bisa panggil Om Firgie atau Om Gie, seperti bunda Lyra memanggil Om," kulirik sekilas wajah Lyra yang tampak kosong dan datar dengan senyum yang terlihat dipaksakan.


"Mayra panggil Om Gie saja ya Bund," celoteh Mayra yang dibalas anggukan oleh Lyra.


"Gie, tolong Shifaa tidak perlu tau hubungan kita dimasa lalu," ujar Lyra padaku tiba-tiba.


"Iya aku paham." Segera ku-iyakan pintanya. Iapun tampak mengangguk.


"Oya, bagaimana kabar Dimas?" kutanyakan akhirnya kabar suaminya yang sungguh dilubuk hatiku penasaran sekali. Sebab ku-tanya beberapa kali pada Shifaa mengenai Masnya, Shifaa hanya menggeleng tidak tau, ujarnya.


"Mas Dimasss ....


"Mbak Lyra, Mbak disini ternyata. Aku mencari mbak ke kamar tapi mbak nggak ada," Shifaa seketika datang dengan menggendong Diyara ditangannya dan memotong ucapan Lyra yang baru saja hendak menjawab tanyaku tentang Dimas.


"Haii Om Filgie, aku Diyala," celoteh Shifaa membawa Diyara dan duduk disisiku.


"Diyara bangunkah?"


"Ya sudah, mbak menyiapkan makan malam dulu ya," ucap Lyra seketika berlalu. Padahal aku masih ingin berbincang dengan Lyra tapi ia malah meninggalkan kami.


"Oiya, temanmu nanti makan malam disini juga kah?"


"Iya Mbak," jawab Shifaa seraya tersenyum padaku.





🌻Lyra ...


Diruang makan ini, biasanya mas Dimas akan sangat senang menyuapiku. Dan kini semua tampak sepi. Perlahan kumulai memakan makanan di piringku. Kutatap satu persatu anggota keluargaku. Shifa dan Mayra tampak sangat lahap. Firgie yang malam ini ikut makan malam bersama kami tampak mulai menyuap suapan pertamanya. Hingga suara mobil menepi dipelataran.


"Assalamu'alaikumm, Mbak."


"Wa'alaikumsalam, langsung bergabunglah makan Al," ujarku.


Setelah beberapa lama melirik Firgie, Aldo tampak mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Aldo memang beberapa hari ini ikut tinggal bersamaku. Walau awalnya aku risih tapi ia mata dan tangan mas Dimas saat ini. Bahkan mungkin ia lebih dekat saat ini dengan mas Dimas. Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya, sebab kulihat Ia sopan dan bahkan bisa berperan selayaknya keluarga kami sendiri, walau Shifaa kulihat kurang cocok dengan Aldo.


Setelah meletakkan tas yang dibawanya serta mengganti kemejanya dengan kaos harian, kini Aldo tampak duduk membaur dengan kami.


"Makanlah yang banyak Mbak, Mas akan sedih jika mengetahui makan Mbak sedikit," ujar Aldo setelah menatap hidangan dipiringku yang tak banyak.


Mas Dimas, mendengar namanya ... sesak kurasa. Apa benar kau masih peduli padaku Mas??


Seketika ingin kumenangis tapi sebisa mungkin kutahan, hanya senyum tipis yang mampu kusunggingkan menanggapi ujaran Aldo. Mayra yang tampak sejak tadi menyimak kami obrolan kami ikut berujar kini,


"Bunda pasti ingin disuapi Ayah yaa??" celoteh Mayra membuat dadaku semakin sesak mengingat ayahnya.


"Mayra saja yang suapi Bunda, ayo A, buka mulutmu yang besar Sayang ...," ujar Mayra seraya menjulurkan sendok berisi nasi dan lauk ke mulutku saat ini.


"Apa Mayra sudah seperti ayah, Bun??" tanyanya saat ini. Anakku ini, mengapa begitu menggemaskan, seketika kusapu kepala putri kecilku yang masih berusaha memasukkan sendok kemulutku.


"Terima kasih Sayang, Bunda akan makan sendiri," ujarku.


"Kau harus makan yang banyak, karena Kau menyusui 2 bayi kita, Lyra," Mayra kembali berceloteh kini mengikuti gaya dan ucapan ayahnya seraya menutup mulut setelahnya menahan tersenyum.


"Mayra, nakal ihhh. Tapi Mayra benar Mbak, kau harus makan yang banyak karena kau memberi ASI untuk sikembar," tampak Shifa berbicara kini.


Akupun mengangguk mengiyakan.


Dan dikejauhan, tampak Firgie juga terus menatapku tapi kuabaikan. Aku sedang terlarut dengan bayangku akan suamiku tak ada tempat memikirkan yang lain.


Kamipun kembali makan saat ini dalam keheningan, suap demi suap kupaksa masuk kemulutku, hingga akhirnya hidangan dipiringku habis juga.


"Al, jika kau sudah selesai Mbak ingin berbincang denganmu di ruang kerja..!!!" ujarku memanggil Aldo yang sedang minum dan tampak piring dihadapannya telah kosong.


"Iya Mbak," jawabnya.




"*Apa Mas Dimas ada menghubungimu Al? Mungkin kau tau bagaimana kondisi mas Dimas*?"



🌷🌷🌷



🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


__ADS_2