
Pukul 17:05
Ia masih duduk di tempat ia biasa duduk.
Biasanya aku akan membuka hijabku saat sampai di koss tapi tidak saat ini.
Aku ikut duduk di sisinya namun tak sedekat biasanya, memberi jarak padanya.
"Ceritakan tentang yang terjadi padamu hari ini Ly ..." ujar Firgie memulai pembicaraan.
Akupun mulai bicara menjawab tanyanya,
"Kau tau Gie ternyata di PT ku ada kajian setiap hari Jum'at dan aku baru mengetahuinya hari ini," sengaja aku membicarakan hal ini ke Firgie, aku sangat ingin tau bagaimana responnya.
"Lalu ..." ia terlihat antusias ingin mengetahui lanjutan ceritaku.
"Kajiannya di auditorium, ternyata banyak pula yang hadir Gie. Dan Mbak Alika, tadi menyuruhku tilawah 3 ayat kedepan ..."
"Oya, kau bisa?" ujarnya meragukanku.
"Bisalah Gie," jawabku.
"Bagus, lalu??" Firgie masih antusias mendengar kelanjutan ceritaku.
"Tadi ada Umi Aisyah sebagai pengisi kajian. Orangnya sangat anggun Gie, memakai gamis dan berhijab lebar. Ia mengisi kajian tentang hijab ... "
"Apa yang ia sampaikan?" tanya Firgie.
"Hijab itu tanda cinta Alloh terhadap kita, agar wanita tidak mudah di ganggu," ujarku.
"Benar, bukankah kau sudah mengetahui itu bukan?" ujarnya.
"Aku mengangguk,"
"Apa lagi yang Umi Aisyah itu sampaikan?" firgie menunggu kelanjutan ceritaku.
"Tentang yang termasuk aurat bagi wanita," ujarku lagi.
"Apa saja?" tanya Firgie.
"Menurut surat An-Nur yang boleh dilihat hanya yang biasa tampak, yaitu muka dan telapak tangan."
Tampak Firgie mengangguk.
__ADS_1
"Aku baru tau Gie ternyata kaki termasuk yang tidak boleh terlihat."
Kulihat Firgie kembali mengangguk.
"Gie, kata Umi Aisyah waktu ayat hijab turun, seluruh wanita muslimah di zaman itu segera mengambil apa yang dilihatnya, ada yg mengambil kain sarung atau pakaian bagian bawahnya, sebegitunya mereka taat kepada Alloh. Aku sangat malu mendengarnya Gie ..."
"Gie, aku akan belajar berhijab di rumah, bagaimana menurutmu?"
"Bagus, sejak awal melihat kau tak berhijab di rumah. Aku sebetulnya ingin memberitahu, tapi tak ingin terlihat mengguruimu" ujarnya sambil kulihat ia tersenyum.
Ahh Gie, ternyata kau sudah lebih paham, batinku.
"Tapi kaki juga aurat, apa harus pakai kaos kaki di rumah juga?" tanyaku.
"Pakai kaos kakinya saat keluar, ibu biasa seperti itu," jawabnya.
Aku mengangguk..
Aku sebetulnya ingin melanjutkan ke bahasan siapa yang bisa melihat aurat wanita, tapi sepertinya kau sudah lebih tau Gie, karna keluargamu lebih paham agama. Aku saja yang sangat awam.
ALLÒHU AKBAR ALLÒHU AKBAR..
Adzan Magrib berkumandang.
Aku mengangguk.
Kukecup punggung tangan Firgie setelah ia selesai memakai sepatunya.
Ia mengusap bahuku sebelum pulang..
"Aku senang kau belajar banyak hal hari ini sayang ..." bisiknya.
Aku tersenyum..
"Hati-hati di rumah" ucapnya terakhir sebelum kemudian bayangnya menghilang di balik pagar besi pembatas kossanku.
Ampuni aku Ya Robb, aku menyadari hubungan ini salah. Tapi berfikir untuk mengakhiri terasa sesak kurasa, rasa ini sudah sangat dalam. Kalau boleh memilih, tentu aku tak ingin kehilangan kembali. Izinkan kami bersama saling memperbaiki diri ya Robb, batinku.
🌷🌷🌷
20:05
Setelah ibadah isya kutunaikan, kucek ponsel yang sejak tadi masih mendekam dalam tasku.
__ADS_1
Tampak beberapa pesan di ponselku saat ini,
Nama Mbak Alika tertera disana.
"Assalamu'alaikum Lyra,"
"Wa'alaikum salam Mbak ..." jawabku.
"Besok pagi jadi ikut kajian ke radio dakta?" tanyanya.
"In Syaa Alloh Mbak, kita bertemu dimana besok? soalnya aku belum tau dimana radio dakta." Ujarku.
"Di Halte bulak kapal jam 8 ya ..." balasnya.
"In sya Alloh Mbak."
"Makasih ya Lyra, selamat istirahat dan sampai bertemu besok. Assalamu'alaikumm"
"Wa'alaikum salam mbak."
Kuletakkan ponsel disisiku kini.
Kurebahkan tubuhku,
Dreettt... drettt...
Suatu panggilan tiba-tiba muncul di layar ponselku. Firgie..
👨"Assalamu'alaikumm Ly ...."
👩"Wa'alaikumussalam."
👨"Lagi ngapain?"
👩"Tiduran aja."
👨"Besok ku jemput jam 8 yaa!!"
👩"Besok? Jam 8???"
🌷🌷🌷
#Kira-kira Lyra milih jalan sama Firgie atau ikut kajian ya??
__ADS_1
#Ayo di komen dan jangan lupa juga di like yaa❤❤