Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Petuah Pernikahan


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻BA'DA MAGRIB


Setelah sholat Magrib, ibu menuju kontrakan dimana terdapat seluruh keluarga besar mas Dimas berada, aku dan mas Dimas juga sedang berkumpul disana.


Ibu mengajak kami semua untuk makan malam bersama di kediamanku. Dan di-iyakan oleh keluarga mas Dimas, sekalian akan berpamitan setelahnya, fikir ibu Arini.


Kami sedang makan malam bersama saat ini, makan malam dengan alas tikar/lesehan yang menambah kekeluargaan kami. Karena memang di rumah kami tidak ada meja makan, juga karena jumlah tamu yang banyak hingga lebih tepat makan bersama dan duduk bersama di lantai menjadi solusi kami.


Menu yang di sajikan masih sama seperti menu yg ada saat prasmanan tadi siang hanya saja ada tambahan sate yang dibeli Bapak beberapa saat sebelumnya..


Semua tampak makan dengan lahap tanpa suara, tak terkecuali Mayra yang sedang kusuapi saat ini, ia sangat senang karena sate ayam salah satu menu kesukaannya.


Beberapa saat kemudian, makan di piring kami masing-masing habis. Adikku Ersha mengumpulkan piring-piring dan di bawanya kedapur. Tak lama adikku Sherly datang membawa teh hangat untuk kami.


Aku sendiri memang sudah diperingatkan ibu tidak perlu membantu, "fokus dengan anak dan suamimu saja," kata ibu.


"Duh jadi iri deh mbak, punya anak perempuan semua ternyata enak, banyak yang bantuin pekerjaan kita," ujar tante Arini saat ini.


"Ya sama saja kok mbak. Semua anak itu istimewa bukan perkara laki-laki atau perempuan. Pasti mereka memiliki kelebihan yang terkadang kita tidak menyadarinya. Kalau perempuan memang lebih lembut dan cenderung suka membantu," ujar Ibuku.


"Iya memang. Oya mbak, saya dan keluarga mengucapkan matur nuwun kathah inggil (terima kasih banyak atas) penyambutannya, senang mendapat keluarga baru, diterima dengan baik dan acara ingkang tersusun sanget, dekorasi yang cantik dan semua saya suka dengan acara tadi, dan terlebih matur nuwun sampun nampi dimas sandingan kalih (terima kasih sudah menerima Dimas bersanding dengan) putri ibu, Lyra," ujar ibu Arini dengan bahasa campur jawa dan indonesianya, karena memang tau keluarga Lyra juga orang jawa perantauan.


"Sami-sami Mbak, matur nuwun inggil dugi sadayaning keluwargi ageng Dimas wonten griya Lyra (terima kasih keluarga besar Dimas sudah datang ke rumah sederhana Lyra), mohon maaf jika dalam penyambutan ada yang dirasa kurang berkenan Mbak," ujar ibu membalas ucapan ibu Arini.


"Hayoo sudah malam, perjalanan kita masih jauh Bu," ujar ayah memotong obrolan dua ibu yang mulai nyaman.


"Ya sudah kami pamit Mbak, jangan sungkan menasehati Dimas kalau bandel sama Lyra, namanya anak-anak selalu butuh arahan orang tua," ujar Ibu Arini.


"Lyra-pun demikian Bu. Tolong anggap dia seperti putri Ibu sendiri," balas Ibu.


"Mayra mau pulang bareng Uti?" tanya ibu Arini pada sang cucu.


"Mayla baleng ayah dan Bunda, Uti. Uti duluan aja. Hati-hati Uti," celoteh Mayra.


Ibu Arini segera memeluk sang cucu.


"Jangan nakal ya Sayang," ujar Uti Arini kembali pada Mayra yang berada dalam pelukannya.


"Iya Uti," ucap Mayra.

__ADS_1


"Bye Mayra," ujar Shifaa setelah mencium ponakan lucunya.


"Opa balik ya Nak, nanti harus sering-sering ajak ayah dan bundamu menginap di rumah Opa," ujar Ayah.


"Iya Opa."


"Ibu balik ya Lyra, tolong dampingi selalu Dimas," bisik ibu saat memelukku.


Akupun mengangguk.


"Ingat pesan Ibu, jangan nakal. Sayangi istrimu," ujar ibu mencubit hidung anaknya lalu memeluknya. "Semoga bahagia selalu Nak," bisik ibu kembali saat memeluk sang putra.


"Iya Bu, jaga kesehatan Ibu," mas Dimas tampak mencium kening ibunya.


"Nakal, sudah dibilang jangan mencium ibu di depan umum," cubit ibu lagi ke hidung putranya.


"Silahkan pimpin keluargamu dengan baik," ujar Ayah sambil merangkul putranya.


Mas Dimaspun mengangguk.


Akupun mencium tangan ayah setelahnya.


Aku dan mas Dimas juga berpamitan pada bude, pakde, bulek dan paklek yang hendak pulang pula.


Hingga beberapa saat kemudian, mobil-mobil tampak menjauh dari kediaman Lyra. Suasana kembali hening tinggal keluargaku, aku, Mayra dan mas Dimas kini.


Mayra tampak manja dalam gendongan mas Dimas. Dan Mas Dimas seketika merangkul bahuku dan kamipun masuk kedalam setelahnya.


●●●●


🌻Pukul 19:30 saat ini, terdengar alunan Adzan Isya berkumandang mengisyaratkan kerinduan sang Kholiq untuk berjumpa dengan kami.


"Ayo kita ke Musholla Nak Dimas," ajak Bapak saat melihat kehadiran kami masuk kedalam rumah.


Mayra seketika turun dan berlari ke kamar Anty Ersha saat ini, akupun masuk kamar menjalankan ibadah Isyaku.


🌻Pukul 20:30 kini, udara semakin dingin, angin bertiup semakin leluasa. Seakan berusaha mencari celah untuk masuk kerumah dan menghembuskan dinginnya pada seluruh penghuni rumah.


Terbawa letih dan hawa dingin yang mengusik, adik2ku sudah masuk ke kamarnya. Dirumahku terdapat 3 kamar tidur, kamar Bapak dan Ibu, Kamar adikku Sherly dan Kamarku. Namun semenjak aku merantau, kamarku telah dimiliki adikku Ersha, kami akan tidur bersama jika ku pulang. Lain halnya dengan malam ini, kamar Ersha telah dihias sedemikian rupa menjadi kamarku dan keluarga kecilku. Kata orang sih, kamar pengantin, tapi jujur aku sungkan menyebut seperti itu, malu rasanya diri ini. Dan saat ini adikku Ersha tidur bersama adikku sherly di kamarnya.


Aku dan Mayra masih di kamar Ibu saat ini, sedang mas Dimas tampak asik mengobrol bersama Bapak di teras.


Mayra terlihat asik bermain game edukasi diponselku sambil merebahkan diri di kasur Ibu, dan Ibu terus memberi petuah-petuah pernikahan padaku kini.


"Ibu kayaknya masih kayak mimpi kamu udah menikah Nok, udah jadi istri sekaligus langsung jadi ibu, kita jadi wanita tuh susah-susah gampang, Kalo kata Ustadzah di pengajian Ibu, gampangnya ya dengan bersikap baik dan taat pada suami disertai taat pula dalam menjalankan Ibadah Sholat 5 waktu, In syaa Alloh pintu syurga sudah dibukakan untuk kita. Namun dalam kenyataannya, peran wanita itu macem-macem, taat beribadah sudah jelas, namun taat pada suami jangkauannya tuh luas, ada anaknya suami yang harus kita didik, ada uangnya suami yang harus kita atur, ada perutnya suami dan anak yang harus kita isi, ada rumah suami yang harus kita rawat, ada kebutuhan suami yang harus kita penuhi, dan masih banyak lagi.

__ADS_1


Letih itu pasti wong jaminannya syurga, tapi yah harus bersabar. Dan Ibu seneng kamu dapet Dimas, dia kayaknya sayang dan cinta banget sama kamu. Walau awalnya ibu ragu karena statusnya itu, tapi ternyata ia baik dan gak malu masuk ke keluarga kita yang cuma keluarga sederhana. Oya, balik ke perasaan Dimas, buat kita wanita, merasakan dicintai lebih utama dari pada kita mencintai. Mencintai itu bisa sakit tapi dicintai itu membuat kita bahagia. Kamu mencintai Dimas to?" tanya ibu.


Aku mengangguk perlahan, berusaha memantapkan hatiku.


"Nah, itu lebih bagus. Karena rasa cinta itu penting dalam hubungan pernikahan, ikatan pernikahan itu selamanya, perjalanannya panjang, dan perjuangannya bukan untuk bahagia bersama di dunia saja tapi juga sampai akhirat, kamu paham to?"


"Iya Bu," jawabku.


"Kalau bisa samakan visimu dengan Dimas, mau membentuk keluarga seperti apa? Yang cuma seneng jalan-jalan, habiskan uang atau sebaliknya mau memperbaiki diri bersama, duduk di pengajian bareng dan saling berbagi kepada sesama. Apalagi suamimu pasti bisa beri materi cukup untukmu, Ibu cuma mau kamu dan Dimas bijak menyikapi setiap hal. Tau kemana arah tujuan, jadi jika suatu saat badai datang, sudah memiliki kepercayaan dan bisa saling menguatkan dan bukan menyalahkan satu pribadi. Kamu ngerti maksud ibu?"


"Iya Bu."


"Astagfirulloh, ngobrol sampai lupa waktu ibu, jam berapa ini?" tanya ibu.


"Jam setengah 10 Bu," jawabku setelah melihat jam di dinding.


"Sudah 1 jam rupanya kita ngobrol. Sudah, keluar kamu sana! Dimas pasti sudah nunggu kamu," ujar ibu tiba-tiba mengusirku dari kamarnya.


"Mayra tidur dengan Uti yaa," ujar ibu kepada Mayra yang kini sedang asik bermain boneka milik Anty Ersha.


"Mayla tidul dengan Ayah dan Bunda, Uti," ucap Mayra.


"Sama Uti aja, dikamar Bunda banyak nyamuk," ujar ibu lagi masih berusaha merayu Mayra.


"Nggak, Mayla maunya sama Bunda," celoteh Mayra kembali.


"Sudahlah Bu, biar Mayra tidur sama Lyra dan Mas Dimas," ujarku.


"Ya, jangan. Atau tidur di kamar Anty Sherly saja ya?" ujar ibu langsung menggenggam tangan Mayra keluar menuju kamar Sherly.


Tampak diluar Bapak dan Mas Dimas duduk di ruang tamu sambil menonton TV.


"Lho Mayra belum tidur Sayang?" ujar mas Dimas seketika.


"Mayla mau tidul baleng Bunda tapi disuluh tidul dikamal Anty Shelly sama Uti," celoteh jujur Mayra pada sang ayah.


"Gpp bu, Mayra biar tidur bersama kami, iya kan Ly?" ujar mas Dimas melempar tanya padaku.


"Iya, aku juga sudah bicara seperti itu pada Ibu, mas," ucapku.


"Ibu ... ibu, ya sudah ayo kita ke kamar, Bapak sudah ngantuk!" ujar bapak mengajak ibu ke kamar sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istrinya.


"Sudah malam, ajak anak dan istrimu ke kamar Dim," ujar Bapak menoleh kepada Mas Dimas sebelum masuk ke kamarnya.


🌷🌷🌷

__ADS_1


🌻Happy reading


__ADS_2