
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YAβΊβ€
VOTE DAN RATE JUGAAAππ
πππ
"Lyraa... Lyra kan?" ujar lelaki tersebut tampak sedikit keraguan di matanya, karna melihat perbedaan penampilan gadis yang pernah di kenalnya dulu.
"Kau masih ingat padaku Lyra?"
πππ
"Ka' Ridho ..."
"Good ternyata kau masih mengingatku Lyra, bagaimana kabarmu? Kenapa kau seakan menghilang setelah malam itu? Apa aku berbuat salah padamu? Bahkan pesan-pesanku pun tak kau balas?" Ka'Ridho langsung menggencarkan berbagai tanya kepadaku.
"Seperti yang Kaka lihat kabarku baik ka." Jawabku.
"Yaa, aku melihat kau tampak baik dan bertambah cantik Lyra. Kau belum menjawab, kenapa kau menghilang seakaan menghindariku?" tanya ka'Ridho lagi.
"A- ku ...." Kata-kataku terpotong ketika kusadari Firgie yang saat ini berdiri disebelahku. Tampak tatapan dingin disana, seakan siap menerkamku jika aku sampai bicara berlebihan.
"Oya Ka', kenalkan ini Firgie kekasihku," ujarku kemudian.
"Ohhh Lyra, betapa kecewanya aku."
Ka'Ridho spontan mengulurkan tangannya ke arah Firgie "Hai Aku Ridho" ujar Ka' Ridho dengan penuh percaya diri.
Firgie masih menampilkan kekakuannya, ia bahkan tak membalas uluran tangan Ka' Ridho.
"Owh ... oke. Lyra, boleh aku meminta nomer ponselmu kah? yaa walau kita hanya sebatas teman" melihat sikap dingin Firgie, Ka' Ridho seakaan sengaja semakin memancing emosi Firgie.
Dan benar saja Firgie disana seakan kalut, awalnya hanya lirikan mata yang memancarkan kesan dingin kini bibirnya seakan ikut mempertegas kemarahannya. Di naikkan sebagian bibirnya ke atas, sangat terlihat wajah tidak bersahabat disana.
"Ohh... maaf Ka, aku tidak bisa memberi nomerku" ujarku.
"Owh okee, aku mengerti" ucap Ka' Ridho sambil melirik ke arah Firgie.
"Maaf Ka', aku ada keperluan. Permisi aku duluan," ujarku.
"Oke. Oya Ly, katakan pada kekasihmu. Tersenyum itu lebih baik!!"
"Kurang ajar kau ..." Firgie yang tak senang dengan sindiran Ka' Ridho seketika menarik kerah kemeja ka'Ridho.
"Giee ..." lirihku sambil berusaha menarik tangan Firgie yang masih menarik kerah kemeja ka'Ridho.
"Ayo kita pulang sayang ..." kuberi senyuman terbaik yang mampu meluluhkan Firgie. Iapun melepaskan tangannya.
"Lyra, kekasihmu itu ternyata kekanakan. Jika suatu saat ia menyakitimu, kau bisa mencariku." teriak Ka' Rido ke arah kami yang sudah berjalan menjauh.
Firgie tampak bertambah geram, aku menggenggam tangannya, menariknya terus berjalan kedepan kearah parkiran motor berada.
Kami duduk di sebuah kursi kayu dekat Satria merah berada..
"Gie, jangan begitu lagi ya?" ujarku.
"Kau membelanya Lyra?" Firgie menatapku tajam.
"Bukan begitu, kau lihat kan tadi Gie. Ka' Ridho sengaja membuatmu marah karna kau tak ingin berjabat tangan dengannya. Kau jangan sampai terpancing." lirihku.
"Tapi matanya selalu menatapmu dan terlihat masih mengharapkanmu."
"Tapi aku tidak meresponnya, bukan?"
"Lyraa, maafkan aku! Aku hanya tak suka ada orang yang mengusik milikku."
"Giee" aku memeluk lengannya.
"Kemarahan itu tidak baik sayang ..." bisikku.
__ADS_1
"Memang siapa dia Ly?"
"Dia laki-laki yang di kenalkan mbak Dewi tempo hari padaku, yang membuatmu marah malam itu."
"Jadi dia orangnya. Oya Ly ... jujur, apa masih ada laki-laki lain yang belum aku ketahui dan pernah dekat denganmu? beritahu aku jika memang ada, biar aku bisa bersiap-siap menahan amarahku jika bertemu" tegas Firgie.
"Tidak ada lagi Gie. Oya mau kemana kita sekarang?" ujarku meredam suasana.
"Mmm, entah. feel ku jadi buruk bertemu lelaki itu. Jika tau di rumah Dewi kau akan bertemu beberapa laki-laki dari masa lalumu, aku akan memilih tidak datang," jawabnya.
"Gie,"
"Dimas juga, kau lihat dia di dalam tadi, matanya tak berhenti menatapmu." Firgie masih meluapkan kemarahannya.
"Dia akan jadi seorang ayah, kau tidak harus cemburu padanya!" ujarku.
"Itu dia, sudah mau jadi ayah tapi matanya menatap gadis lain. Tidak tau malu."
"Hentikan Gie, bibirmu sangat tidak cocok berbicara buruk," aku menggodanya.
"Iya ... maaf ..." lirihnya.
"Kau mau main ke rumahku Ly? Ibu dan adik-adikku pasti senang dengan kedatanganmu. Saat ini ada ayah juga kau belum pernah bertemu dengannya bukan?" ajak Firgie.
"Hmm ... kalau ke rumah mu tidak dulu Gie, lain waktu pasti aku main," ujarku.
"Kita ke rumah Ka' Fida bagaimana?" tambahku.
"Bolehhh, " ujar Firgie.
"Tapi kita ke kossanku dulu ya! aku ingin mengganti pakaianku."
"Kenapa Lyra? Kau sangat cantik dengan gamis ini, tak usah di ganti!" ujar Firgie.
"Bukan begitu Gie, ompolan Kalisha tadi membasahiku sampai ke dalam. Aku harus membersihkan diriku dahulu" ujarku.
πππ
Aku sudah mengganti pakaianku saat ini. Karena sampainya kami ke tempat kost pas
dengan adzan Zuhur, maka Firgie meminta izin untuk pergi ke masjid. Akupun segera membersihkan diri dan menjalankan ibadah zuhurku.
Firgie kembali dari masjid ketika ku masih sibuk menggunakan hijabku. Ia duduk di sisi pintu saat ini, matanya yang memperhatikanku, tertangkap olehku dari balik pantulan kaca.
"Berhenti menatapku seperti itu Gie," ujarku.
Ia terlihat tersenyum saat ini.
"Sejak kapan kau menggunakan hijab Ly?"tanyanya.
"Sejak SMA kelas 3 Gie"
"Pasti banyak lelaki yang menyukaimu di sekolah dulu" ujar Firgie lagi.
"Tidak, aku tidak memikirkan hal seperti itu Gie. Aku hanya fokus belajar saat sekolah."
"Kalau gitu Dimas orang pertama di hatimu?"
Aku mengangguk.
Seketika wajah Firgie berubah, aku menghampirinya.
"Tadi kau bertanya dan aku menjawab, apa aku salah?" ujarku.
"Aku minta maaf jika aku salah. Firgie, dengarkan aku ... yang terpenting bukan yang pertama atau bukan tapi siapa yang berada disisiku saat ini. Dan itu adalah kau" kuberikan senyum terbaikku pada Firgie saat ini.
Ia baru kemudian tersenyum.
"Okee, kau sudah siap? apa jadi kita ke rumah Fida?"
__ADS_1
Aku mengangguk.
Kamipun bergegas ke rumah Ka'Fida saat ini.
πππ
Sebuah rumah dengan bangunan sederhana berada di depan kami saat ini.
Sesuai petunjuk Map ini adalah rumah Ka'Fida.
"Assalamu'alaikumm," ujar aku dan Firgie.
"Wa'alaikumussalam" jawab seseorang dari balik pintu.
Pintupun terbuka tampak seorang wanita paruh baya dengan hijab lebar keluar dari dalam rumah tersebut.
"Maaf cari siapa ya?" tanya ibu tersebut.
"Benar ini rumah ka'Fida bu?" tanyaku.
"Ohh, ini temennya Fida ya? Benar ini rumah Fida. Ayo masuk ..." ujar ibu itu lagi.
"Fid, Fida ... ini ada temanmu"
Tak lamapun Ka'Fida keluar dari balik kamar dengan hijab instan di kepalanya.
"Lyra, kirain nanti sore kesininya," ujar ka'Fid.
"Maaf kami ganggu kakak ya?" ujarku.
"Nggak ko gw lagi nyantai aja di rumah. lo tadi jadi ke tempat mbak Dewi Ly?" tanyanya.
"Iya jadi ka" jawabku.
"Anaknya cewe/cowo siapa namanya?"
"Cewe anaknya ka. Kalisha namanya."
"Ohhh...."
*Tak lama datang seorang wanita bercadar ke dalam rumah.
"Udah pulang mbak?" tanya ka'Fid
"Iya. Eh ada tamu ..." wanita tersebut mengulurkan tangannya kepadaku. Sebaliknya melipat kedua tangannya ke arah Firgie.
Keluarga Ka'Fid ternyata sangat agamais*, bahkan tidak mau berjabat dengan Firgie yang bukan muhrim untuknya, malu kurasa saat ini, batinku.
Ia memperkenalkan diri, "Farida" ujarnya.
"Ini temanmu yang habis nikah itu ya?" ujar Ka'Farida lagi.
"Maaf, bukan Ka ..." jawabku dengan cepat.
"Ohh ..." lirih Ka' Farida sambil melirik terhadapku dan Firgie.
*Ya Robb,
Perasaan apa ini? Perilaku Ka'Farida membuatku malu ....
Berjabat tangan saja ia tak mau ...
Bagaimana dengan kedekatanku dan Firgie selama ini??
Bagaimana ini ???
ππππππππππππππππ
#Happy readingπ*
__ADS_1