
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻Pukul 04:00
Seperti biasa alarm otakku membuatku selalu terbangun di jam ini. Tubuhku terasa nano-nano saat ini, ada letih, pegal, perih kurasakan.
Dan tangan dihadapanku ini, tangan yang masih mengukungku nyaris membuat tubuhku dan tubuh mas Dimas tak berjarak. Aku tidur membelakangi tubuh mas Dimasku, dan tubuhnya melekat rapat pada punggungku.
Kubalikkan diriku menghadap mas Dimasku ... Kuangkat sedikit tubuhku sambil kugenggam selimut agar tetap menutupiku. Kemudian kutatap wajah Mas Dimas dihadapanku ...
Ini adalah wajah suamiku, orang yang telah menghalalkanku. Orang yang semalam telah mengobrak-abrik diriku, Ohh ... malunya aku mengingat kejadian semalam, habis sudah tubuhku oleh pria ini, pria nakal, ia mengambil semua yang kupunya dalam satu malam, batinku.
Mulai kusapu wajah dihadapanku ...
Kurekatkan wajahku kini ke sebagian wajah mas Dimasku, "Mas sangat nakal ...," lirihku hampir tak terdengar.
Tak berselang lama, sepasang tangan mulai menarik tubuhku. Dan Ohh, mendaratlah kembali tubuhku di dada bidang mas Dimasku. Kuangkat perlahan wajahku, dan benar manik mata itu telah terbuka, tampak ia menaik-naikkan alisnya kearahku.
Ohh, habislah kembali diriku. Kenapa aku harus berbalik menghadapnya tadi, andai tadi aku segera mandi dan meninggalkannya ... Bahkan rasa perih semalam masih belum sirna. Bagaimana jika mas Dimas minta mengulang aktivitas semalam, gumam dalam batinku.
"Ada apa Sayang, jangan berbicara dalam hati!" ujar mas Dimas.
Ohh, apa mas Dimas bisa mendengar kata hatiku?
"Bisa," ucap mas Dimas kembali tiba-tiba.
Ohh, mas Dimas mendengar lagi ucapanku. Apa hal seperti ini benar-benar ada? Apa Mas Dimas benar-benar bisa mendengar bisikan hatiku? batinku kembali.
"Sudah jangan terus berbicara sendiri," Mas Dimas mengeratkan pelukannya padaku.
"Mas lepas, aku mau mandi," ujarku.
"Sebentar lagi Sayang ...," lirih mas Dimas.
"Aku mau sholat Mas."
"Belum adzan."
"Sholat malam Mas," lirihku.
"Untuk mandi waktunya sudah habis, sebentar lagi subuh Sayang."
"Ahh, benarkah??" kutatap jam disisi ranjang kami. 04:25, benar kata mas Dimas,tinggal 5 menit lagi. Mana cukup?
"Benarkan? Sambil menunggu adzan biar tetap diposisi ini." Tangan mas Dimas mulai menggerayangiku bahuku.
Dan tubuhku mulai menerima sinyal sentuhan mas Dimas, dan kurasa iapun merasakan sinyal ditubuhnya juga.
Mas Dimas seketika memiringkan tubuhnya perlahan dan membaringkanku di ranjang.
__ADS_1
"Mas yang mandi duluan, Mas mau ke Masjid. Lyra siapkan koko Mas ya!" ujarnya, hingga tak lama bayangnya telah menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Ohh syukurlah, aman ...
●●●●
🌻PUKUL 04:50
Terdengar seseorang membuka pagar saatku melantunkan ayat-ayat cinta Robbku ...
Tak berselang lama, terbukalah pintu kamarku ... mas Dimas mengambil bantal dan merebahkan dirinya di dekatku. Beberapa ayat kubaca kembali, baru akhirnya kuakhiri tadarus pagiku.
Shohaqollohu'adziimm ...
"Kenapa berhenti?"
"Gak fokus ada Mas, Mas ngapain sih tiduran disini?" ujarku sambil melihat penampilan suamiku yang tampak berbeda dengan koko di tubuhnya.
"Mas kan mau dengar Lyra membaca Al-Qur'an. Suara Lyra indah, Mas tenang dan adem sekali dengarnya," ujar mas Dimas serius.
"Ahh, gombal," ujarku sambil kubuka mukena yang menutupiku, kemudian kuletakkan AlQur'an-ku di nacash di sisi ranjang kami.
Akupun duduk di meja rias saat ini, kusisir rambut lurusku yang baru kukeringkan dengan handuk sebelum menjalankan ibadah subuhku tadi. Kemudian kuambil hairdryer setelahnya, untuk mengeringkan rambutku yang basah.
Dan Mas Dimas tampak memperhatikanku dikejauhan.
"Jangan menatapku seperti itu Mas," ujarku merasa salah tingkah dengan tatapannya.
Tak lama kulihat mas Dimas membuka koko yang dikenakannya, ia kemudian menggantungnya di hanger. Dan ia tampak menghampiriku saat ini.
"Ishhh, mas nakal, iya aku jorok. Sana jangan dekat-dekat denganku!," gumamku sambil kudorong tubuh yang mulai mendekat padaku.
"Duhh, jangan mudah marah Sayang. Mas hanya bercanda kok," ujar mas Dimas mengangkat daguku keatas, dan ia mulai merangkum bibirku, awalnya aku tak membalas ... namun kepiawaian tangan mas Dimas yang mulai mencari celah untuk membakar hasratku, akhirnya benteng pertahananku roboh juga. Kubalas kecupannya hingga akhirnya mas Dimas yang melepaskan lebih dulu penyatuan bibir kami.
"Lyra nakal," bisik mas Dimas di telingaku kini.
"Mas yang mengajariku," ujarku tak mau kalah membalas ucapannya.
Seketika mas Dimas mendorong tubuhku ke-ranjang, iapun memposisikan tubuhnya kembali.
"Mass, mau apa??"
"Mau Lyra ...," ujarnya.
"Semalam-kan sudah Mas,"
"Mas mau nambah."
"Ishh Mass ...."
"Boleh yaa ??"
Terlintas selalu ucapan ibu di rumah, bahwa ada kebutuhan suami yang harus di penuhi. Dan juga ucapan kak Fida, dosa lo menolak keinginan suami, kurang lebih begitu ujar Kak Fida malam itu. Dan akhirnya akupun mengangguk mengiyakan keinginan nambah mas Dimas.
__ADS_1
Tak menunggu lama, terjadilah penyatuan di pagi hari yang membuat kami kembali berpeluh. Diakhiri do'a yang kembali kami panjatkan.
Tak tertinggal pelukan, ucapan terima kasih serta ucapan cinta yang mas Dimas terus bisikkan di telingaku membuat letihku lebur seketika tertinggal secercah senyum karna telah membuat suamiku bahagia dan nyaman atasku.
●●●●
🌻Pukul 07:00
Nasi goreng telah tersaji kini di meja makan, tinggal menunggu sang ayah serta sang putri turun dari peraduannya.
Dan kini bayang 2 orang kesayangan telah mulai terlihat, sang ayah dengan gaya casual rumahannya, celana pendek dan kaos oblong tampak menggandeng cantik jemari kecil sang putri dengan taburan bedak yang agak berlebih diwajahnya.
Mas Dimas memang yang mengambil alih memandikan Mayra pagi ini. Aku tak memintanya, melainkan mas Dimas sendiri yang dengan cekatan sudah inisiatif melakukannya. Mungkin karena mereka pernah tinggal hanya berdua sebelumnya.
Kudekati gadis kecilku saat ini, kurendahkan posisiku mengikuti tingginya. Kurapihkan bedak yang tampak tak beraturan di wajahnya. Dan kemudian kuciumi wajah cantik putriku tersebut.
Seketika gadis kecilku memelukku erat,
Ia menyentuh keningku berkali-kali. Aku yang heran segera memandang wajah mas Dimas yang berdiri disisiku. Dan mas Dimas tampak menggeleng, tampak heran pula dengan prilaku Mayra.
"Bunda sakit?" ujar Mayra.
Akupun menggeleng.
"Kenapa lehel bunda melah-melah," tunjuk Mayra pada leherku yang penuh tanda buatan ayahnya tersebut.
Ohhh, aku bahkan tak terfikir memakai hijabku tadi. Bagaimana ini?
Kembali kutatap wajah mas Dimas yang bukannya membantuku mencari alasan, malah terlihat tersenyum-senyum disana.
"Ohh, ini semalam Bunda digigit nyamuk Sayang, Bunda tidak apa-apa nanti juga hilang kok," ujarku bingung harus berkata apa.
"Kenapa melahnya besal, apa nyamuknya besal?" celoteh Mayra kembali.
"Iya, nyamuk di kamar Bunda besar Sayang, makanya Mayra jangan tidur di kamar Bunda yaa," sela mas Dimas tiba-tiba.
Nakal, bisa-bisanya mas Dimas mengambil kesempatan ini untuk menakuti Mayra tidur di kamar kami, batinku sambil kulirik wajah mas Dimas yang berpura serius disana.
"Ihhh, Mayla takut. Mayla gak mau tidul di kamal Bunda ada nyamuk besalnya," ucap lugu Mayra.
Dan aku hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan suamiku.
Kamipun memulai sarapan saat ini. Rasa letih kami semalaman, membuat hidangan penuh dipiring terasa sangat sedikit. Kamipun telah melahap habis sarapan kami, tertinggal Mayraku tampak masih tetap bersemangat menghabiskan makannya walau juara 3 tetap menjadi predikatnya.
Mas Dimas pengambil ponselnya kini. Ia terlihat menekan tombol On disisi smartphone-nya. Karena memang sejak semalam ia mematikan ponselnya karena sedang di charge.
Iapun tersentak melihat banyaknya panggilan kedalam smartphonenya.
Dan dilihatnya pula beberapa pesan masuk untuknya ...
Segera ke Bandung Mas!! Ruko cake Mas kebakaran ...
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy Reading❤❤