Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Tertidur ...


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻Mas Dimas menepikan Jazznya kini kesisi sebuah taman yang terlihat agak sepi. Ia menatapku dan menarik kepalaku kedadanya ...


"Maafkan Mas tidak bisa menjaga Lyra dengan baik," lirih mas Dimas.


Aku terdiam, tetesan air kembali memaksa keluar saat ku-mengingat peristiwa yang kualami beberapa saat lalu.


Mas Dimas lagi-lagi menyapu kepalaku yang tertutup hijabku.


Kutarik kepalaku dari dada mas Dimas. Kualihkan wajahku ke jendela dan aku melanjutkan tangisku disana.


"Mas tidak boleh peluk Lyra?"


Aku menggeleng.


Sudah banyak hal yang terjadi malam ini dan tidak Robbku sukai, dengan membiarkan mas Dimas memelukku, Robbku akan lebih marah, batinku.


Mas Dimas mengambil bantal Mayra di jok belakang dan memberinya padaku.


"Peluk ini sebagai ganti pelukan Mas," lirih mas Dimas.


Aku melihat bantal tersebut beberapa saat, menatap mata tulus mas Dimas, baru kemudian kuambil bantal Mayra dan memeluknya.


Kembali kuarahkan pandanganku ke luar jendela saat ini.


"Apa pria brengsek itu lama menahanmu tadi?"


Aku mengangguk.


"Kau pasti ketakutan ... " lirihnya.


Aku kembali mengangguk. Butiran air terus memaksa keluar dari sudut mataku kini.


Mas Dimas mengambil tisu di laci mobilnya dan memberinya padaku.


"Apa saja yang ia lakukan padamu?" tanya mas Dimas, mungkin memastikan apa kehormatanku masih terjaga.


"Seperti yang mas lihat tadi," lirihku.


"Apa itu sakit?" lirih mas dimas kembali.


Aku mengangguk.


"Kurang ajar!!!" mas Dimas mengepalkan tangannya dan memukul jok mobil sekuatnya.


"Ada hal lain yang ia lakukan?" tanya mas Dimas kembali lirih sambil terus menatapku yang masih menghadap ke jendela.


Akupun menggeleng.


"Lyra marah kepada Mas?"


Aku kembali menggeleng.


"Lalu mengapa tidak mau menatap Mas?" terlihat mas bingung dengan sikapku. Dan akupun mulai bicara ...


"Maaf, karena aku mas jadi terluka," lirihku dan tak bisa kubendung air mataku yang kembali menetes saat kupaksa menatap mas Dimas dengan sudut bibirnya yang memar.


"Heii, jadi Lyra tidak mau menatap Mas karena luka ini kah?"


Aku mengangguk.


"Sudah Mas katakan ... Mas tidak apa-apa, ini luka biasa Lyra. Tidak sakit! Yang sakit disini ( mas Dimas menyentuh dadanya ). Hati mas sakit karena telah gagal menjagamu," lirih mas Dimas kembali.


"Mungkin bersamaku akan tidak baik untukmu Mas." ujarku.


"Kau bicara apa?"


"Sudah takdirku selalu tersakiti Mas, hari ini karena aku, kau dan sepupumu berkelahi. Entah akan ada apa lagi dalam perjalanan hidupku. Dan aku tidak ingin Mas menanggung perih atasku," lirihku kembali.


"Tidak ada seperti itu, mas tidak perih, tidak sedih, tidak sakit. Mas bahagia bersama Lyra, jangan pernah bicara hal yang tidak masuk akal lagi. Bukankah kita akan bermimpi bersama? Menyambut pagi bersama dan tertawa bersama. Sekarang, berhentilah menangis!! Mas ingin Lyra selalu tersenyum, oke!!."

__ADS_1


Aku masih menatap mas Dimas kini, kata-kata yang sangat indah dan aku senang melihatnya begitu bersemangat untuk hidup bersamaku. Akupun mengangguk.


"Oya, tunggu!! jawab dengan jujur!! Apa malam saat di rumah Mas tempo hari, tiba-tiba kau menabrak dan memeluk mas, apa itu juga karena ulah Rendi?" tanya mas Dimas serius.


Aku kembali mengangguk meng-iyakan.


"Ya Robb, kenapa Lyra tidak menceritakan pada Mas malam itu," selidik mas Dimas.


"Ada Rendi di dapur saat itu."


"Astagfirulloh ... maaf, bahkan mas tidak memahamimu Lyra."


"Di malam setelahnya, kenapa juga tidak cerita, mungkin jika mas mengetahuinya sejak awal kejadian malam ini tidak akan terjadi," ujar mas Dimas.


"Aku fikir Dia akan menetap di Bali dan tidak akan menggangguku lagi Mas. Terlebih kalian saudara, sebisa mungkin aku berusaha menghindari konflik antara kalian, tapi kenyataan berbeda dari yang kufikir."


"Tadi dia mengatakan kau wanita yang dicarinya, apa sebelumnya kalian pernah bertemu?" mas Dimas kembali mencari jawab atas kejanggalan yang masih dirasanya.


"Iya, kami pernah bertemu 7 tahun lalu di sebuah cafe," jawabku singkat.


"7 tahun lalu? lebih dulu mas atau dia yang hadir?"


"Dia hadir setelah aku berpisah dengan Mas," jawabku.


"Ohh, bagaimana sikapnya kala itu?" tanya mas Dimas kembali.


"Seperti malam ini, ia berusaha melecehkanku," singkatku.


"Brengs*k, jadi ia telah berkali-kali berusaha menyakiti dan melecehkanmu rupanya."


"Kau ingin menceritakan pada Mas yang terjadi padamu 7 tahun lalu itu kah?"


"Mas sungguh ingin mendengarnya?"


"Iya."


"Suatu saat akan kuceritakan, tapi tidak malam ini," ujarku.


"Kenapa tidak sekarang? apa dalam kejadian tersebut ada sosok Firgie?" pertanyaan yang terang-terangan terucap dari bibir mas Dimas saat ini.


Aku menatapnya seksama, dan mengangguk setelahnya.


"Mas yang mengingatkannya," ujarku.


"Dia pasti pahlawanmu saat itu."


"Apa ia juga terluka seperti mas malam ini?"


"Tidak ada betadine di mobilmu mas?" tanyaku.


"Ada kotak P3K di laci," ucap mas Dimas.


"Kenapa tidak dijawab pertanyaan Mas?" ujar mas Dimas lagi.


Aku masih terdiam menanggapi setiap tanya mas Dimas, aku mengambil kotak P3K saat ini, betadine dan plester sudah di tanganku kini.


"Apa setelah menolongmu kau memeluknya?" ujar Mas Dimas lagi, masih menerka kejadian 7 tahun lalu itu.


Aku meliriknya sekilas, kuhadapkan wajahku kini kewajah mas Dimas.


"Diam!! Jangan bicara lagi!! Biar ku-obati luka Mas," ujarku.


Kuberi betadine kini di atas lukanya,


"Ahh, pelan-pelan Sayang ...." rintih mas Dimas menggodaku, tampak ia terus memperhatikan wajahku.


"Mass jangan mulai ... dan hentikan tatapan seperti itu!!" Kupasang plester kemudian setelahnya.


"Selesai," ujarku.


Tiba-tiba mas Dimas melingkarkan tangannya kepinggangku,


"Mas, jangan!!!"


Mas Dimas seketika menarik kembali tangannya dan menghadap kedepan..

__ADS_1


"Mas akan antar Lyra pulang."


Aku mengangguk.


●●●●


🌻DEPAN KOSSAN LYRA


●POV DIMAS


Lagi-lagi wanitaku tertidur pulas di mobil, dan lagi-lagi pula aku bingung membangunkannya. 15 Menit sudah aku menunggunya terbangun, hingga puas kutatap cantiknya calon istriku ini.


Sisa-sisa tangis masih membekas di wajah mulusnya, mata sembabnya masih jelas terlihat. tapi tak mengurangi sedikitpun kecantikannya.


Setelah insiden malam ini, ingin rasanya kupeluk wanitaku, meredakan sesaknya, tapi wanitaku lagi-lagi menolaknya. Yahh aku harus banyak bersabar sampai benar-benar menghalalkannya.


Pukul 22:05 saat ini, kucoba menyalakan radio kesukaannya, mungkin saja dengan mendengarnya ia akan terbangun.


Radio Dakta 107 FM terputar kini ,


Tampak alunan lagu nasyid mulai diputar saat ini ...


●●●●


Perhiasan yang paling indah


Bagi seorang abdi Allah


Itulah ia... wanita sholehah


Ia menghiasi dunia


Aurat ditutup demi kehormatan


Kitab al-Qur'an didaulahkan


Suami mereka ditaatinya


Walau perjuangan di rumah saja


Karena iman dan juga Islam


Telah menjadi keyakinan


Jiwa raga mampu dikorbankan


Harta kemewahan dilaburkan


Di dalam kehidupan ini


Ia menampakkan kemuliaan


Bagai sekuntum mawar yang tegar


Di tengah gelombang kehidupan


Wanita sholehah...


Wanita sholehah...


Wanita sholehah...


( Wanita Sholehah - The Fikr )


●●●●


Otakku mengikuti setiap lirik yang kudengar saat ini ...


Kata-kata yang indah dan alunan yang merdu terekam di sanubariku ...


Hingga akhirnya aku terkantuk ...


Dan ikut terlelap dalam Honda Jazz-ku ...


🌷🌷🌷

__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


🌻Jangan lupa komen yaa😊😊


__ADS_2