
●Sebelum lanjut Thor mau ucapkan terima kasih untuk Readers Thor yang udah bantu komen karya Thor di Bab sebelumnya.
💗Vi_Lian
💗Armita Khairi
💗Afrendo Edo.A
💗Rasti Yulia
💗ig. marina_monalisa28
●Maaf terpaksa Thor post, karna bingung View karya ini ratusan tapi like dan komen hitungan jari aja😢
●Komentar kalian adalah semangat untuk Thor..
●Untuk My Silent Readers, Thor juga ingin mengenal kalian. Please koment😊😊
●1 like dan komen sangat berpengaruh untuk kenaikan Pop karya Thor lhoo😲
●Maaciww yang masih selalu setia❤❤
🌷
●Lanjuutt yaa👋☺..
🌷🌷🌷
🌻16:00 KEDIAMAN BUNDA DIMAS
"Cantiknya Uti, tadi siang Mayra ikut ayah ya? Apa Mayra senang disana Nak?" tanya uti Arini kepada Mayra sang cucu.
"Mayla senang Uti. Uti ... Uti bundanya ayah kan?" tampak sang cucu bertanya dengan wajah polos pada wanita paruh baya di hadapannya.
"Tentu saja sayang, kenapa Mayra tiba-tiba bertanya seperti itu?" Uti Arini tampak heran.
"Bunda itu apa Uti?" tanya Mayra lagi.
"Bunda orang yang telah melahirkan kita, dan Uti orang yang melahirkan Ayahmu," ujar Uti Arini.
"Uti ... dimana Bunda Mayla?" tiba-tiba terlontar pertanyaan yang membuat sang nenek terhenyak dan bingung akan jawaban yang harus ia beri.
"Kenapa Mayra tiba-tiba tanya tentang Bunda?" selidik Uti Arini.
"Mayla juga pengen punya Bunda sepelti yang lain," polos Mayra.
"Mayra kan punya ayah yang sangat sayang Mayra, iya kan? ada Uti juga, Opa, juga Anti Shifa," ujar sang Ibu mengalihkan.
"Mayla lagi omong tentang Bunda Uti," celoteh Mayra lagi.
"Mayla mau bunda seperti bunda Isyaa, olangnya baik, cantik pakai keludung seperti Uti, kulitnya halus, Mayla juga suka di peluk bunda, pelukan bunda wangi dan hangat sekali," Mayra masih berceloteh sendiri.
"Okee, Mayra tunggu di sini sebentar ya, nanti Uti segera kembali," lirih Uti Arini sebelum akhirnya berlalu keluar kamar meninggalkan Mayra yang tampak asik dengan boneka-bonekanya.
●●●●
🌻RUANG TAMU
Ibu Arini menuju ruang tamu kini, dilihatnya sang putra sedang membaca koran sambil meminum teh hangat.
"Dimas, ibu ingin bicara," ujar sang ibu pada putranya.
"Apa ada masalah Bu? Kenapa ibu terlihat panik?" heran Dimas.
"Apa ada yang terjadi dengan mayra tadi di Mall, Nak?" ucap ibu Arini.
"Tidak. Kenapa ibu bertanya seperti itu?" tanya Dimas masih tak memahami yang difikirkan ibunya.
__ADS_1
"Sejak pulang dari Mall tadi Mayra terus bertanya tentang Bundanya? Iapun terus menyebut seorang wanita, entah siapa yang ia maksud," ibu Arini tampak menjelaskan.
"Oya, sebentar Dimas panggil mbak Indah. Saat Dimas meeting dengan klien tadi, Mayra terus bersama Mbak indah."
"Oke tanyalah Nak," lirih sang ibu.
●●●●
"Apa yang terjadi saat di Mall tadi mbak?" tegas Dimas.
Duhh.. jangan-jangan Pak Dimas sudah tau kalau non Mayra sempat hilang tadi di Mall, gimana ya? kalau jujur nanti pasti aku kena marah tuan, batin Mbak Indah.
"Se- be- narnya tadi di Mall.....
"Ada apa di mall??" tegas Dimas tak sabar dengan perkataan yang terbata dari bibir sang pengasuh.
"Ta- di Non Mayra sempat hi- lang Pak ...." lirih mbak Indah.
"Apa? kenapa bisa hilang? Apa kau begitu lalai menjaga putriku? Dan kau ... menyembunyikannya dariku??" geram Dimas.
"Mohon maaf Pak, kejadiannya begitu cepat, saya sedang mengantri es Krim yang Nona ingin, tapi Non sudah tidak ada," lirih kembali mbak Indah.
"Lalu, bagaimana kau bisa menemukannnya?" tanya Dimas lagi.
"Saya menemukan Non sudah memakan Es Krim dengan temannya dan bundanya," ujar Mbak Indah.
"Temannya? Siapa nama temannya?"
"Irsya namanya kalau tidak salah Pak," tutur Indah masih dipenuhi rasa takut.
Irsya? Irsya bukannya putra Fahmi, jadi yang dimaksud Mayra bunda adalah Istri Fahmi rupanya, aku harus berterima kasih pada Fahmi karna istrinya telah menemukan dan menjaga Mayra-ku, batin Dimas.
"Sekarang kau pergilah Mbak, ingat jangan ulangi hal ini, kau tidak boleh menyembunyikan apapun dariku!! Kau mengerti!!" tegas Dimas.
"I- ya terima kasih Pak," mbak Indahpun segera berlalu.
●●●●
Dimas masuk kedalam kamarnya kini, di tatapnya Sang putri cantik yang sibuk berbicara sendiri memainkan bonekanya.
Pandangannya syahdu menatap ketenangan dari wajah polos yang terpancar dari Mayra sang malaikat kecil miliknya.
Seketika Dimas memeluk tubuh mungil sang putri..
Sayang tak tau bagaimana jadinya hidup ayah, jika tiba-tiba kau menghilang dan tidak berada disisi ayah Nak. Ayah sudah pernah kehilangan, dan ayah tak sanggup merasakan hal itu lagi.
"Ayah jangan peluk Mayla dong, Mayla lagi main nih," celoteh sang putri membuat Dimas semakin gemas dan ingin terus mencium buah hatinya tersebut.
"Belhenti ayah ... Mayla geli, ayah sana aja dih main sama Uti, Mayla lagi sibuk," celoteh Mayra lagi mengikuti ucapan sang ayah jika sedang tidak ingin di ganggu.
"Sayang, ayah mau bicara," ujar Dimas.
"Bicala saja, Mayla dengal kok," polos Mayra.
"Tadi Mayra bertemu Irsya di Mall ya?" tanya Dimas.
"Iya, Mayla cali Mbak Indah tapi gak ada malah Mayla beltemu Isyaa dan Bunda," jujur Mayra.
"Ohh, dengan Om Fahmi juga kah?"
"Tidak." singkat Mayra.
"Oya ayah, sekalang Mayla sudah punya Bunda. Kata Isyaa bunda Isyaa jadi Bunda Mayla juga, boleh kan ayah?" ucap Mayra lagi.
Maafkan Ayah sayang tidak bisa memberi keluarga utuh untukmu, sampai-sampai kau menganggap ibu orang lain sebagai ibumu.
Dimas seketika mencium pucuk kepala Mayra.
__ADS_1
"Ayah, Mayla suka bunda Isyaa, bunda Isyaa cantik dan baik. Dia juga sayang Mayla, bunda bersihkan pipi Mayla yang kena es klim dengan lembut, Mayla juga senang dipeluk Bunda. Tubuh bunda sangat harum dan hangat. Ayah, Mayla juga mau punya bunda sepelti bundanya Isyaa," celoteh Mayra kembali.
"Sayangg, sini peluk ayah," tangan Dimas seketika mengangkat Mayra kepangkuannya.
"Apa Mayla juga bisa punya Bunda ayah? Mayla juga mau dipeluk Bunda saat tidul, dicium Bunda, diantal Bunda sekolah juga dibacakan celita saat Mayla mengantuk ..." Mayla masih terus berceloteh mengeluarkan semua yang difikirkannya.
Mayra, ia menginginkan Bunda..
Andai segalanya bisa dengan mudah,
Tapi tidak seperti itu Sayang..
Mencari Bunda berarti mencari pasangan untuk ayah.
Dan ayah, belum siap memulainya kembali,
Mengenal sosok baru dengan usia ayah saat ini bukan hal mudah, terlebih ia juga harus orang yang benar-benar tulus menyayangimu ...
●●●●
🌻Beberapa saat kemudian ...
"Assalamu'alaikum Bro," sapa Dimas terhadap sahabatnya "Fahmi".
"Heii, wa'alaikumsalam. Ada apa Dim?" tampak terdengar suara Fahmi kini menjawab sapa Dimas.
"Fah, aku ingin mengucapkan terima kasih pada istrimu," ujar Dimas.
"Istriku? Untuk apa?" Fahmi tampak bingung.
"Tadi putriku tersesat di Mall, Irsya dan bundanya yang menemukan Mayra. Sampaikan terima kasihku pada istrimu telah menjaga Mayraku sampai bertemu pengasuhnya tadi," ucap Dimas menerangkan.
"Tadi? Di Mall?? maaf Dim, mungkin kau salah. Istriku sejak pagi bersamaku, kami sedang kontrol ke dokter karena keadaan istriku sedang kurang baik saat ini," terang Fahmi.
"Benarkah begitu? tapi menurut cerita Mayra, ia bertemu dengan Irsya dan bundanya. Bahkan Mayraku tak berhenti menceritakan tentang istrimu. Perlakuan istrimu saat di Mall telah menghipnotis putriku Bro ... Bahkan Mayra mulai meminta Bunda padaku," tutur Dimas.
"Tunggu, tunggu ... agar kau tahu, saat ini Irsya tidak bersama kami. Karena kondisi Fida, kami terpaksa menitipkan Irsya pada Bundanya. Tapi bunda yang dimaksud bukanlah istriku Dim," ujar Fahmi.
"Aku tak mengerti maksudmu Fah, bundanya Irsya tapi bukan istrimu?"
"Ada seorang wanita Dim, ia sahabat istriku. Hubungannya sangat dekat dengan keluarga kami. Karena tulusnya kasih sayang yang wanita itu miliki, putra kami sangat nyaman menganggapnya bunda, pasti wanita itu yang dimaksud putrimu?" ujar Fahmi.
"Benarkah ada wanita yang bisa tulus menyayangi anak yang bukan anaknya?" ucap Dimas.
"Ada, wanita itu contohnya. Ia sangat menyayangi Irsya. Karena memang kondisi Fida yang sering tidak stabil, bahkan sejak Irsya bayi, wanita itu yang membantu merawat Irsya," tegas Fahmi atas pernyataannya.
"Okelah, tolong sampaikan terima kasihku pada wanita itu Fah," ucap Dimas kemudian.
"Maaf aku tidak bisa menyampaikannya Dim."
"Maksudmu?"
"Ucapan terima kasih tidak sopan dititipkan melalui orang lain. Kau harus menyampaikannya sendiri Dim!!" ujar Fahmi.
"Tidak Fah, bagaimana jika suaminya salah paham." Dimas tampak ragu.
"Ia belum menikah, kukirimkan nomernya padamu."
"Oke sudah dulu Dim, dokter memanggilku." ujar Fahmi lagi.
"Cepat sembuh untuk istrimu Bro."
"Thanks Dim."
🌻Dreettt ... Dreett ... sebuah pesan WA-pun masuk, tampak sebuah kontak atas nama Bunda Irsya tertulis disana ... Dimaspun menyimpannya.
●●●●
__ADS_1
🌻Happy Reading❤❤