Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Menyalahkan Diri


__ADS_3

Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


Lanjuutt yaa👋☺..


🌷🌷🌷


"Bodoh!!! Bayi siapa yang kalian bawa ini? Aku menyuruh kalian mengambil seorang anak perempuan bukan bayi perempuan, kerja tidak becus kalian!"


"Tapi Bos, loe gak bilang tadi kalau ada bayi perempuan juga di rumah entu, gua kira anak perempuan ya ini. Di tuh kamar cuma ada 2 bayi, satu laki dan satunya ya anak perempuan ini. Gak salah dong gua? Sekarang mana bayaran gua! Jangan macem-macem loe sama gua," elak seorang pria berkepala plontos yang merasa tidak mau disalahkan tersebut.


"Gak ada bayaran untuk suatu kesalahan! Dan kalian semua bodoh!! Ini bukan anak saya, bukan anak ini target saya. Jadi jangan harap kalian mendapat bayaran kalian!!" umpat kembali Rendi kepada 3 orang dihadapannya.


"Kurang ajar nie Bocah, berani main-main sama kita dia!!" Tak disangka ketiga orang preman yang memang sudah punya sepak terjang yang tidak diragukan malah menahan Rendi dan mencelik leher Rendi dengan lengan besar salah seorang dari mereka.


"Serahin duit kita, dasar Bule Siala*n loe..!!! Loe kira kita kerja kagak pake tarohan nyawa apa!!" caci seorang preman bertopi kupluk.


"Geledah badannya Wan, ambil ATM, dompet sma hape tuh orang kalo dia gak mau ngasih bayaran kita. Sekalian gorok habis itu lehernya, belum tau siapa kita dia..!!! ucap pria berjenggot tebal pada sang rekan berkepala botak yang mencekik leher Rendi.


"Jangan ... jangan sakiti suami saya," Frista tampak memohon kini dengan Diyara dalam gendongannya.


"Mas, berikan saja Mass. Jangan cari masalah dengan mereka. Kita akan cari cara untuk memiliki Mayra nanti," lirih Frista kepada Rendi sang suami.


"Okee ... Okee!!! Lepasin saya, saya akan berikan bayaran kalian," ucap Rendi ketakutan akhirnya.


"Sini, dasar loe Bule," dan Rendipun menyerahkan sebuah amplop coklat di sakunya akhirnya.


"Nah, gini kan enak dari tadi."


"Awas kalau kalian membuka mulut," ancam Rendi kembali.


"Ada uang semua beres Boss, yok kita pergi!!!" Dan ketiga pria bertampang seram itu seketika meninggalkan keterpakuan Rendi.


Setelah beberapa saat ...





"Kita bawa pulang bayi ini dulu Mas, nanti kita atur rencana selanjutnya," ucap Friss menenangkan sang suami.


"Hahhh ... baiklah."



🌻**SENTRA DUTA RESIDENCE**



"Non Di-yara ... diculik Buuu, maafff," dan wanita pengasuh bayiku kini meringkuk di bawah kakiku dan terus memohon maaf.



Kujatuhkan tubuhku pula disisinya, dengan Dirga yang mulai menangis kini dalam pelukanku.






"Ada apa diatas sebetulnya? Kenapa Dirga terus menangis, kau lihat istrimu diatas dulu Nak!!" ucap Ibu heran.






"Sayang, ada apa ini?"



Dan mas Dimas tampak terkejut kini melihatku meringkuk dilantai bersama pengasuh bayiku, sedang Dirga ... ia berdiri bertopang pada bahuku seraya terus menangis.



"Mbak Dinar, kau pergilah dulu keluar," ucap mas Dimas seraya menganggukan kepalanya kearah mbak Dinar.


__ADS_1


"Bapak ... Ibu ... maafkan sa-yaa," masih terdengar lirih suara mbak Dinar yang terus menyalahkan dirinya atas musibah yang terjadi.



Mas Dimas meraih tubuh Dirga saat ini, mengayun-ayun sang putra dan memberi sang putra air putih yang tersedia di kamar. Dirga tampak haus sekali. Hingga dahaganya mulai tercukupi Dirga tampak tenang duduk di permadani dengan beberapa mainannya.



Dan diraihlah tubuhku kini kepelukan suamiku, "Lyra ... jangan seperti ini Sayang, kita akan menemukan Diyara, polisi sedang melacak keberadaan mobil yang membawa Diyara. Sabar ... sabar Sayang," bisik mas Dimas seraya terus mengecup wajahku.



Kutatap wajah suamiku kini, "Mass, benar Diyara akan kembali kan? Diyara putri spesialku ... mungkin saja saat ini Diyara-ku sedang keha-u-san Masss ...," dan lagi-lagi air mata terus keluar dari mataku.



Tampak mas Dimas menarih nafasnya panjang dan kembali menenangkanku setelahnya.



"Kau lihat disana, itu Dirga putra kita bukan?"



Akupun mengangguk.



"Kesedihanmu beberapa saat lalu, tanpa kau sadari kau juga telah melalaikan putra kecilmu yang menangis kehausan tadi," ucap lembut mas Dimas seraya terus menyapu kepalaku.



"Benarkah itu Mass??"



"Kau tak sadar rupanya, sekarang bangun ... kau susui Dirga dulu yaa, nanti kita bicarakan kembali langkah kita untuk menemukan Diyara." Dan akupun mengangguk sejadinya mendengar penuturan suamiku.



Dan mas Dimas memapahku ke sofa dengan lembut, ia meraih tubuh Dirga di permadani dan meletakkannya dipangkuanku kini.



Kususui Dirga seraya kutatap beberapa tanda ditubuhku yang seketika membuatku kembali terisak. Mas Dimas yang menyadari rasaku kembali merangkul bahuku, tampak mas Dimas menjatuhkan kepalanya kini dibahuku dan menarik nafasnya beberapa kali, meredakan sesak yang ia rasakan pula setelah drama orange jus yang melenakan kami malam ini hingga tak menyadari berbagai hal buruk telah terjadi saat itu.




"Sebentar lagi adzan subuh, Lyra mandi lebih dulu ya!!" melihatku mengangguk namun tak bergeming, mas Dimas berinisiatif membantuku membuka hijabku. Ia mencarikan pakaian gantiku dan menuntunku ke kamar mandi setelahnya.



"Lyra perlu bantuan Mas membersihkan diri?"



Akupun menggeleng.



"Baik, Mas akan tunggu di luar. Jangan dikunci pintunya ya Sayang," lirih terdengar suara mas Dimas dan kutanggapi dengan anggukanku.



🌻Dimas ...


10 menit ...


15 menit ...


25 menit ...


Suara air terus mengalir namun Lyra-ku tak kunjung keluar,


Hingga 30 menit berlalu, hawatirku tak terelakkan lagi. Segera kuhampiri kamar mandi yang tak terkunci disana, dan Lyraku berada di bawah pancuran air dengan tangan terus menggosok tubuhnya yang bertanda akibat perbuatanku dengan spon mandi hingga memerah dan lecet disana.


Segera kuhampiri Lyraku dan kumatikan shower yang membasahinya.


"Sayang ... apa yang kau lakukan? Kau menyakiti dirimu."


"Tinggalkan aku Mas, biarkan ... biarkan aku menghilangkan tanda-tanda ini, aku benci tanda ini, benci aktifitas yang melenakan kita ... aku benci diriku ... aku ben-ci Ma-sss ...."


"Stop!! Tidak Sayangg ... hentikan, hentikan!!! dan terpaksa aku harus berteriak kini menyadarkan kelakuan Lyra-ku.

__ADS_1


Iapun seketika terdiam mengamatiku. "Maaf," lirihku.


Kupakaikan jubah mandi ketubuh Lyra-ku, dan kuangkat seketika tubuhnya kepembaringan kami. Kukeringkan rambut panjangnya yang tampak basah dengan handuk dan dilanjut dengan hair dryer, hingga cukup kering kuhentikan aktifitasku. Kuletakkan pakaian ganti Lyraku keatas ranjang.


"Boleh mas bantu berpakaian?"


Kulihat Lyra-ku tampak menggeleng.


"Baiklah, Lyra berpakaian. Mas mandi dulu yaa ... nanti kita sholat subuh berjamaah setelahnya," ujarku dan kulihat Lyra-ku mengangguk. Akupun meninggalkannya kini.


Beberapa saat ... tubuhku telah bersih dan Lyra kini berada dibelakangku, mengikuti setiap gerakku hingga salam terucap kini. Lantunan do'a kupanjatkan setelahnya dan diamiini Lyra dibelakangku.


Lyraku tampak kembali ke ranjangnya dengan setelan homedress rayon melekat ditubuhnya.


Kugenggam tangan Lyraku kini, kusampaikan ketidaksukaanku atas prilakunya menyakiti dirinya dan kulihat ia hanya terdiam. Hingga tak lama kami terdiam, Lyra-ku mulai berujar ...


"Mass,"


"Iyaa ...."


"Berjanjilah kau akan menemukan Diyara!!"


"Aku akan berusaha Sayang," ujarku seraya kutatap wanita disisiku yang tampak memberi jarak padaku saat ini.


"Sekarang Lyra tidurlah, Mas akan mengabari jika ada berita terbaru mengenai Diyara," ujarku.


"Disaat aku belum tau bagaimana kondisi putriku, bagaimana aku bisa tidur?" lirihku.


"Sayangg, kau terlihat sangat letih, tidurlah!!"


"Mass, kita benar-benar orang tua yang buruk, andai saja kita tidak datang menemui pria itu semalam, tidak akan ada kejadian seperti ini," ucapku.


"Tidak ada gunanya menyesal Sayang."


"Masss, padahal Diyara telah memberi isyarat padaku, tapi aku tak peka. Kau ingat semalam Mas, mata bulatnya terus menatapku, tangan kecilnya menahanku, dan tangisannya mengiang hingga kepergian kita ... tapi aku mengabaikannya. Anak-ku yang malang, kau dimana Na-kkk ..." lirihku hingga menetes air mataku kembali.


"Kau tidak boleh lemah Sayang,"


"Mass, selama Diyara belum ditemukan, jangan pernah kau mendekati aku," ucapku.


"Sayangg, apa maksudmu? Berhenti menyalahkan dirimu, kita dijebak malam ini. Semua yang terjadi diluar kendali otak kita," ujar Mas Dimas.


"Apapun alasannya Mass, tolong jauhkan dirimu dariku sementara waktu. Tolong Mass ... atau aku akan terus merasa bersalah setiap melihatmu," ujarku.


"Hmmm, baiklah jika itu maumu, tapi biarkan saat ini mas menemanimu hingga kau tertidur."


"Masss ...."


Kusapu lembut pucuk kepala Lyraku kini. Hingga beberapa saat Lyraku akhirnya mau memejamkan matanya. Kukecup keningnya setelah kupastikan ia pulas tertidur.


Akupun kembali kelantai bawah setelahnya.





Dilantai bawah kutatap ibu sudah tak nampak. Ayah tampak memijat keningnya ditemani Aldo. Seorang polisi masih kulihat berdiri dimuka rumahku bersama 2 orang satpam perumahanku.


Dan Shifaa ia tampak berbincang dengan Firgie di ruang keluarga. Dalam benakku kurasa perlu menghampiri dan berbicara dengan Firgie saat ini.


"Shif, kau naiklah keatas temani mbak Lyra," ujarku.


Kududukkan diriku disisi kekasih adikku setelah kulihat adikku telah menuju lantai atas.


"Aku turut prihatin Dim, bagaimana kondisi Lyra saat ini?" tanya pria dihadapanku.


"Akhirnya ia bisa tertidur."


"Gie aku telah mendengar segalanya dari ibu, terima kasih kau sudah datang tepat waktu hingga mendapatkan nomer plat pencuri Diyara," lirihku.


"Semua tidak ada artinya Dim .... Saat kukejar, aku hanya mampu menemukan mobil itu terparkir dimuka sebuah hotel La eLpaLLazo, dan aku kehilangan jejak putrimu ...."


"Hotel apa??"


"La eLpaLLazo Hotel," ujar Firgie.


"Ahhhh ... siall."


"Ada apa?"


"Di hotel itu Rendi menjebakku dan lyra ...."


🌷🌷🌷

__ADS_1


🌻Lanjut besok yaa😊😊


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2