
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Tiba-tiba kuteringat, pertanyaan mas Dimas beberapa waktu di dalam tadi, "Apakah ia ada disini". Mungkinkah ia yang dimaksud adalah Fir-gie. Tiba-tiba muncul tanya diotakku ...
Apakah mereka telah bertemu sebelumnya??
"Mengapa kau kembali lagi kesini?"
"A-kuu ... oya, aku kesini untuk memberi titipan Shifa untukmu," ujar Firgie seraya meletakkan paper bag yang ia bawa kesisiku.
"Ini juga ada nasi pecel ayam dan beberapa snack. Makanlah, kau pasti belum makan bukan?" ujarnya kembali seraya meletakkan plastik makanan disisiku kembali.
"Aku belum lapar."
"Kau menyusui 2 bayi, kau harus makan Ly," ucap Firgie kembali.
*Ahh, perhatian ini. Mengapa aku tak suka mendengarnya. 2 bayi, ia sudah tau pulakah aku memiliki 2 org anak bersama mas Dimas? Oh ya, mengapa aku lupa, ia kekasih Shifaa, tentu Shifaa telah menceritakan tentangku yang merupakan kakaknya*.
"Kau tadi ke rumahku kah? apa a-nak - anakku telah ter-tidur?" ucapku sedikit terbata, tak ingin menanyakan ini sebetulnya tapi aku ingin mengetahui keadaan putra-putriku.
"Diyara agak rewel tadi, tapi akhirnya ia tertidur."
*Mendengar Firgie menyebut nama Diyara, putriku dan mas Dimas, mengapa aku risih dan aneh*.
"Ly ... Lyra, mengapa terdiam?"
"Oh, tidak. Alhamdulillah kalau seperti itu," kagetku.
"Diyara putrimu sangat cantik, ia mirip sepertimu, Dirga juga tampan. Andai saja ....
"Maaf Gie, kau sebaiknya pulang. Kau kekasih Shifa adikku, kau harus menjaga perasaannya, terlebih kondisi suamiku juga sedang tidak baik. Kehadiranmu akan membuatnya resah," sela-ku atas pernyataaannya.
"Dimas sudah memilikimu, tak seharusnya ia masih cemburu padaku. Dan Shifaa ... ia tau aku kesini," ucap Firgie berdalih.
"Gie, mengenai Shifaa, apa kau serius padanya?"
"Aku selalu serius menjalani hubungan."
"Baguslah."
"Terima kasih Ly, kau tidak marah setelah ucapanku tempo hari," lirih Firgie.
"Sejak kapan kau bisa melihat?"
"Kau tau rupanya, darimana kau tau?" kaget Firgie seraya terus menatapku.
"Kau ingat kak Fida, ia mendengar dari beberapa karyawanmu dan menceritakannya padaku. Setelahnya mas Dimas membenarkan," ujarku mengabaikan tatapan Firgie.
"Maaf aku berbicara kasar padamu hari itu Ly ...," lirih Firgie berbicara kini.
"Aku sudah menutup masalalu, kita tidak harus membicarakan ini," tegasku.
__ADS_1
"Begitu rupanya."
"Kau pulanglah..!!!"
"Hakku ingin dimana aku berada, kau makanlah dulu Ly..!! Anggaplah bukti perhatian seorang calon adik ipar."
*Seketika aku menoleh, kata adik ipar kenapa membuatku sesak. Astagfirulloh, sepertinya aku harus terbiasa dengan keadaan baru kami*.
"Apa ucapanku salah? Atau kau tidak suka mendengarnya?"
"Berhenti membual. Kau bisa menepi jika ingin tetap disini. Dan jangan menatap istri orang lain seperti itu," ujarku.
"Oke, maaf. Tapi tolong makanlah..!!"
Tak lama Firgie telah duduk menjauh dariku. Walau kulirik ia belum membuang tatapannya dari wajahku.
Pukul 23:00 saat ini dan perutku mulai keroncongan, kutatap Firgie sudah memejamkan matanya. Tak menunggu lama, akupun melahap nasi pecel ayam dalam kotak sterefoam disisiku. Akupun memejamkan mata setelahnya dengan selimut sebagai penjagaku dari hawa dingin yang semakin menusuk.
•
•
Beberapa saat berlalu, aku terjaga kembali setelah sapuan di bahuku terus kurasakan dan suara lirih kudengar.
"Ly ... Lyra,"
"Baru saja suster memanggil keluarga Dimas," lirih Firgie.
"Mas Dimas?? Ada yang terjadikah??" panikku.
"Tenang tidak hanya kau yang dipanggil, keluarga pasien yang lain juga dipanggil beberapa saat lalu," ujar Firgie.
"Terima kasih."
Penuh tanya akupun memasuki ruangan tempat suamiku berada, tampak seluruh pasien juga didampingi keluarganya. Akupun menuju ranjang suamiku, sambil mataku mencari tau apa yang terjadi sebetulnya.
Terlihat beberapa perawat sedang berada di ranjang pasien disisi mas Dimas, *apa yang terjadi dengan pasien tersebut, dan mengapa kami keluarga yang lain diminta masuk*?? batinku.
Dan beberapa saat kemudian aku menyadari sesuatu, pasien disisi mas Dimas *meninggal* ...
Kurapatkan tirai pembatas disisi ranjang mas Dimas, kutatap wajah suamiku yang terlihat pulas tertidur, hanya irama mesin kotak yang terdengar di ruangan tersebut, keadaan tampak sunyi. Hanya pergerakan langkah dan aktifitas perawat disisi mas Dimas yang masih tampak sibuk.
Hingga sebuah tangan menggenggamku, mas Dimas terbangun ...
"Lyra ...."
Akupun tersenyum.
"Bagaimana kondisi Mas, apa dada mas masih sakit?" ucapku mendekatkan wajahku kepadanya.
__ADS_1
Mas Dimas hanya terdiam menanggapi tanyaku. Tak lama ia mengangguk perlahan.
"Jam berapa ini? Lyra ti-dak tidur?" tanya mas Dimas seraya menyapu wajahku.
"Setengah 2 saat ini. Aku tidur di luar Mas," Lirihku.
"Mas ingin pulang ...." ucap Mas Dimas masih menyapu wajahku.
"Iya, mas pasti pulang tapi kondisi mas harus baik dahulu," lirihku.
Dan mas Dimas hanya menatapku.
"Lyra dengan siapa diluar?"
"De-ngan ....
"Ada apa? Ada Aldo?"
Akupun mengangguk perlahan.
*Maaf aku berbohong Mas, aku takut terjadi sesuatu padamu jika kujujur*, batinku.
Tak berselang lama, beberapa perawat mendorong ranjang dengan pasien yang meninggal tersebut keluar ruangan.
Seorang perawat tampak membuka tirai ranjang mas Dimas,
"Jangan di tutup ya Bu, kami tidak bisa mengontrol kondisi Bapak," ujarnya.
"Oh, iya Sus."
"Oya Bu, ibu sudah boleh keluar kembali," ucap perawat kemudian.
"Sayangg,"
"Hmmm?"
"Disini saja,"
"Kurasakan kening mas Dimas terus berkeringat dan ia kembali membuang tatapannya.
"Mass, aku tunggu di luar ya?" ujarku seraya membasuh keringat mas Dimas.
Iyapun mengangguk perlahan namun tak menatapku.
Kukecup keningnya baru kutinggalkan ranjangnya. Kuberbalik dan kutatap Mas Dimas terus menatapku dikejauhan.
04:00 alarm tubuhku membuat mataku terjaga, sayup solawat terdengar dari masjid jauh dari Rumah Sakit tempatku berada. Segera kuterfikir akan suamiku, apakah semalam ia bisa tidur dengan nyenyak? Dan putra-putriku apa semalam mereka bisa pulas tertidur.
Kulihat kesekeliling bayang Firgie sudah tak terlihat, baguslah mungkin ia sudah pulang. Dan kini aku menuju toilet melewati lorong, dan disana disudut, seorang lelaki tampak sedang khusuk menjalankan ibadahnya.
Firgie, lelaki itu masih menungguku ternyata.
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1