
Kutatap wajah mas Dimas...
Mass... Sebegitukahnya engkau kehilanganku? Tubuhku seakan ingin roboh mengetahui kenyataan di hadapanku..
Mas Dimass...
Apa aku sudah begitu menyakitimu??
Apa begitu berharganya aku untukmu??
***
Dreettt.. Dreett...
Tampak ponselku bergetar..
Panggilan dari Firgie..
Segera ku angkat panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum Ly..."
"Wa'alaiikum salam Gie.." jawabku.
"Aku sudah di depan" ujar Firgie.
"Tunggu aku 5 menit lagi ya Giee!" segera ku tutup panggilannya.
Kutatap mas Dimas yang masih tampak berbaring di hadapanku.
Benakku masih di penuhi tanya melihat rambutnya yang basah.. Apakah kau benar-benar belum sadar mas, batinku.
Kudekati wajahku ke telinganya,
"Mas... Firgie sudah menjemputku di luar. Apa kau tidak ingin menatapku sebelum ku pergi?."
"Mas... buang segala kenangan tentangku! Kau harus hidup dengan baik bersama Mbak Friss. Sampai bertemu di hari pernikahanmu nanti." tambahku.
Akupun bergegas hendak meninggalkannya, hingga sebuah tangan menahanku.
Mata mas Dimas terbuka.
"Jangan pergi Lyra!!" lirihnya.
"Ternyata benar kau sudah sadar mas" ujarku.
Mas Dimas mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur. Tangannya masing menahanku, dan seketika menarikku untuk duduk di sisinya.
"Terima kasih sudah datang Lyra.." ujarnya lirih.
"Sejak kapan kau sadar mas? Atau memang sejak awal kau memang sadar?" tanyaku serius sambil menerka adakah kebohongan di mata mas Dimasku.
"Maaf Lyra..."
"Jadi memang sejak awal kau sadar? Ketidaksadaranmu hanya sebuah akting kah?"
"Maaf..." lirihnya memelas sambil terus menatap mataku.
"Kenapa harus seperti ini?" tanyaku kembali.
"Agar aku bisa menemukanmu Lyra, aku sudah mencarimu kemanapun. Heni pun tak ingin memberitahu nomer ponselmu. Tapi dengan alasan sakitku dan juga lewat perantara ibu akhirnya Heni memberi jalan untukku menemukanmu," ujarnya menjelaskan.
"Sejak kapan kau mengikutiku mas?." Terus ku serang mas Dimas dengan setiap tanya yang berkumpul di otakku...
"Sejak malam perpisahan kita, aku selalu ingin memastikan kondisimu walau dengan sembunyi-sembunyi tapi kemudian aku kehilanganmu, saat kau pindah kost. Mulai hari itu aku semakin kacau Lyra.."
"Kenapa harus kacau, bukankah sudah pernah ku katakan, kita berdua harus hidup dengan baik dan bahagia.." lirihku.
"Andai itu mudah..." gumamnya.
__ADS_1
Kulihat kepedihan tampak nyata di matanya.
"Tolong... Singkirkan foto-fotoku mas!!" jangan sampai kau biarkan 1 lembarpun tersisa." Ujarku kembali.
Ia mengangguk..
*Dreettt... Dreettt, ponselku kembali bergetar.
"Maaf sebentar.." kuberdiri menjauh dari mas Dimas saat Firgie kembali meneleponku.
"Sepertinya ini sudah lebih dari 5 menit sayang."
"5 menit lagi, oke!.." lirihku.
"Lyra, apa kau menyayangiku??" ujar Firgie serius.
"Iya" jawabku.
"Katakan kau menyayangiku Lyra."
"Nanti ku katakan secara langsung. Oke!" lirihku tak ingin mas Dimas mendengar pembicaraan kami.
"Aku ingin mendengarnya sekarang!!"
"Nanti Giee.."
"Sekarang sayang...!!"
Tampak pria yang menunggu di luar sana mulai merasa resah membayangkan gadisnya berdua bersama mantan kekasihnya tersebut*...
"Aku sayang padamu," ujarku berbisik langsung kumatikan ponselku.
Tampak Dimas disana menunduk, ia mendengar semuanya.
"Jadi kau benar-benar sudah bersama laki-laki itukah Ly??" lirihnya.
"Aku berusaha menata hidupku kembali mas." ujarku.
"Aku harus pergi sekarang. Ingat!! Kau harus hidup dengan bahagia mas." ujarku berlalu namun mas Dimas mengejarku, ia menangkapku dan menarikku dalam peluknya.
"Mas..."
"Jangan bergerak Lyra! masih ada 3 menit" mas Dimas tampak menangis di bahuku.
"Terima kasih sudah hadir sayang, smoga kau juga selalu bahagia..."
Dan iapun membiarkanku pergi.
*Seorang wanita yang sejak tadi tampak mengamati kedua sejoli di kamar, tampak buru-buru pergi saat menyadari Lyra pun akan segera keluar. Wanita itu tak lain adalah Tante Arini, ibunda Dimas.
***
"Kau sungguh tak ingin di antar nak?"
"Ada teman yang menjemputku tante" jawabku.
"Baiklah, hati-hati di jalan sayang" Tante Arini mengantarku sampai ke pintu depan.
Kembali ku kecup punggung tangannya, sudah terbiasa untukku sebagai penghormatan pada yang lebih tua.
"Assalamu'alaaikum" ujarku.
"Wa'alaikum salam Lyra"
***
"Kufikir kau tidak akan keluar Lyra" ujar Firgie saat aku telah di dekatnya.
"Gie.. maaf kau lama menunggu." lirihku.
__ADS_1
Firgie memakaikan helm di kepalaku.
"Ayo kita pulang sayang..." ujarnya.
Dan akupun naik ke atas satria merahnya..
*Di sudut jendela mas Dimas tampak menghela nafas panjang.. Berusaha mengikhlaskan Lyra bersama Firgie.
***
"Kau pakai jaketku ya Ly!!"
"Tidak perlu Gie.."
Firgie.. walau tanpa sepengetahuanmu aku bertemu Mas Dimas. Kenapa kau bersedia menjemputku?
Kenapa kau begitu baik Gie?
Bahkan saat aku tak kunjung keluar, kenapa kau tidak marah?
Dan ucapanmu, jika mas Dimas hanya berpura-pura sakit agar aku datang. Itupun juga benar...
Betapa bersalahnya aku padamu..
Bahkan setelah akting sakitnya, aku membiarkan mas Dimas memelukku..
Maafkan aku Gie..
*Entah karna kesabarannya..
Atau karna perhatiannya..
Atau karna rasa bersalahku..
Atau pula karna hatiku menginginkannya..
Tiba-tiba aku sangat ingin memeluk laki-laki di hadapanku saat ini.
Kurapatkan tubuhku ke tubuhnya..
Kusandarkan kepalaku di bahu belakangnya..
Kueratkan kedua tanganku di pinggangnya...
"Kau baik-baik saja Lyra?"
"Hemm" jawabku.
"Apa kau kedinginan."
Aku menggeleng...
Tak lama kemudian..
Firgie menggenggam tanganku dipinggangnya..
Sangat nyaman, batinku.
Sambil kurasakan desiran angin menggodaku..
*Aku tak tau apa yang terjadi padamu Lyra? Tapi aku menyukai yang kau lakukan malam ini... batin Firgie❤
****
#Salam Cinta selalu untukmu Readersku❤
Tolong dukungan like, vote, rate dan komen sebagai apresiasi karya pertamaku ini😊
#Happy Reading😍
__ADS_1