Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Kembalinya Dimas


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like,komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Rumah besar bercat putih..


🌻Minggu Sore


Tampak seorang gadis berusia 16 tahun menghampiri Ibu Arini yang sedang termenung..


"Ibu ...."


"Kau sudah pulang, nak, bagaimana kerja kelompoknya tadi?" tanya Ibu Arini.


"Alhamdulillah semua tugas Syifa sudah kelar, Bu," jawab sang putri.


"Ibu kenapa melamun? Ibu sudah minum obat?" ujar sang putri kembali.


"Sudah Nak. Syifa ... jawab dengan jujur, Nak. Apa ibumu ini sosok ibu yang buruk?" lirih Ibu Arini.


"Ibu bicara apa? Ibu adalah Ibu yang hebat, Ibu bertahun-tahun bertarung dengan penyakit ibu dan ibu bertahan," ujar Syifa sambil memeluk ibunya.


"Bukan masalah itu Nak, tentang prilaku Ibu kepada Masmu. Sepertinya Masmu masih marah pada Ibu," lirih ibu Arini kembali.


"Mas Dimas menurutku bersikap biasa kok Bu, tidak pernah menyalahkan Ibu," Syifa tampak heran dengan pemikiran ibunya.


"Sudah 4 tahun Dimas berpisah dengan Friska tapi Ia jarang berkunjung kesini. Bahkan sampai cucu ibu semakin besar, ia mengurusnya seorang diri dan menjadikan Mayra seakan orang asing di keluarga kita," lirih Ibu.


"Itu karena Mas Dimas sibuk, Bu, buktinya Mas selalu rutin menelepon kita. Dan mas Dimas juga sebentar lagi juga akan kembali dan menetap bersama kita, iya kan, Bu?" Syifa tampak menyemangati sang bunda.


"Jika bukan karena kondisi ayahmu yang sering tidak stabil dan mengharuskan Dimas menggantikan peran ayah di bisnisnya. Ibu yakin Dimas tidak akan datang," ujar ibu masih dengan prasangkanya.


"Ibu, apapun alasan mas Dimas kembali, yang terpenting Mas Dimas akan berada di dekat kita lagi. Dan ibu bisa sepuasnya bermain dengan Mayra nanti."


"Terima kasih Syifa, kau benar-benar anak yang dewasa, ibu bangga padamu, Nak."

__ADS_1


"Oya Bu, Ibu sudah menemukan Mbak Lyra?"


"Itu dia belum Syifa, padahal dari Lyra-lah ibu berharap melihat kebahagiaan Dimas lagi," ujar ibu penuh harap.


"Sabar ya, Bu, kalau mbak Lyra jodoh Mas nanti juga didekatkan oleh Alloh," ujar Syifa.


"Pintar sekali kamu, Sayang," lirih ibu sambil mencium kening putrinya.


"Sudah istirahat sana,"


"Iya bu, ibu jangan banyak fikiran, ya," ucap Syifa sambil berlalu ke kamarnya.


Kamu benar Syifa, jika mereka berjodoh pasti Alloh akan mempertemukan Dimas dengan Lyra, tapi entah mengapa ibu ingin menjadi orang yang menyatukan mereka, batin ibu Arini.


🌻Tiba-tiba ponsel ibu berdering,


"Iya Halo, Bud," jawab ibu atas panggilan di ponselnya.


"Bu Arini, saya sudah menemukan gadis bernama Lyra yang ibu cari."


"Hahhh, Lyra ... benarkah, Bud?" ujar Ibu tampak bahagia.


"Bagus kerjamu Bud, berikan uang yang kau janjikan pada leader itu. Sekarang katakan! bagaimana kondisi gadis itu sekarang? Apa ia sudah menikah?" ujar ibu tampak bersemangat.


"Gadis itu tampak baik dan sehat, juga cantik, Bu."


"Heii jaga bicaramu, Bud," tegas Ibu.


"Maaf saya mengatakan yang saya lihat bu, hee ...."


"Apa ia sudah menikah, Bud?" tanya ibu penasaran.


"Sejak pagi saya mengikutinya Bu. Ia datang ke pengajian dan pulangnya mampir ke Swalayan, dan dia ...."


"Dia kenapa?" tegas Ibu.


"Dia tidak sendiri, Bu."

__ADS_1


"Haahh, maksudmu? Ia sudah menikah kah?"


"Sepertinya begitu Bu, karena ia terlihat sangat akrab dengan bocah kecil yang bersamanya. Dan bocah kecil itupun memanggil gadis itu dengan panggilan Bunda," ujar Budi sedikit menahan suaranya dengan penuh kehati-hatian.


Bocah kecil? Panggilan Bunda ... Seketika tumbanglah pertahanan Ibu Arini, tubuhnya melemah, ia pun bersandar di dinding kini.


Malangnya kau Dimasku, batinnya.


●●●●


Rabu Pagi,


Sebuah Avanza putih tampak masuk ke pelataran rumah besar berwarna putih saat ini.


Seorang pria terlihat turun, kemudian membuka pintu di bagian tengah mobilnya. Tampak seorang gadis kecil yang tertidur di sana.


Pria tersebut segera menggendong gadis kecilnya dan membawanya masuk kedalam.


"Kau sudah sampai, Nak?" Ibu Arini segera memeluk putra yang sangat dirindukan ketika Dimas melangkahkan kakinya ke rumah yang telah lama ditinggalkannya.


"Kemarikan putrimu, biar ibu tidurkan di kamar," ujar Ibu Arini.


"Dimas akan bawa putri Dimas ke kamar, Bu,"


"Oke biar ibu yang menidurkan Mayra ke kamarmu, ya!" bujuk Ibu Arini.


"Dimas sangat letih, Bu, Dimas dan Mayra akan beristirahat, kita akan bicara nanti."


Dimas mencium kening sang bunda dan menuju ke kamarnya bersama sang putri.


"Dim ... Dimas," panggil sang bunda.


"Biar ... biarkan, Bu, ini kali pertama setelah sekian lama Dimas pergi. Dia akan butuh waktu sendiri," bijak sang ayah.



🌻Mayra

__ADS_1


●●●●●


Happy reading❤❤


__ADS_2