
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
"Ada apa Al? bicara yang jelas.!!!" tanyaku dengan nada sedikit meninggi.
"Mas tadi ping-san Mbak, sekarang kami di Rumah Sakit daerah Dago."
Share alamatnya aku akan kesana ..!!!!
🌻***Shifaa*** ...
18:45 saat Yaris mas Firgie kekasihku menghentikan lajunya. Suasana rumah tampak hening, garasi pun kosong. *Ada apa ini*??
Mas Firgie menatap kebingunganku seketika bertanya,
"Ada apa Shif?"
"Entah Mass, ada yang aneh. Mengapa 2 mobil Masku tidak terlihat semua. Jika Mas belum sampai harusnya ada Jazz yang standbye untuk mbakku, tapi Jazz juga tidak tampak," lirihku heran dan penuh tanya saat ini.
"Mungkin mbakmu sedang keluar?" ujarnya.
"I-ya mungkin. Ayo kita masuk Mas..!!!" ajakku tak menunggu lama aku segera menghambur kearah dalam.
Didalam rumah tampak Mbak Dinar, Bik Lasmi, serta kedua ponakan kembarku yang masih terjaga. Dirga tampak sedang berlarian diatas *baby walker*-nya diamati oleh Bik Lasmi, sedang Diyara tengah diberikan susu menggunakan botol oleh Mbak Dinar dan tak jauh dari mereka Mayra sedang asik menonton Kartun Rico di salah satu stasiun TV Swasta favoritnya.
Tak menunggu lama ku segera menghampiri Bik Lasmi yang tengah duduk dengan tatapan kosong disudut ruang tamu. Sesekali ia tersenyum menanggapi celoteh Dirga yang sedang menuju ke arahnya. Seketika pula Bik Lasmi berkaca menatap kedatanganku.
"Mbak Shifaa ...," sapanya lirih terhadapku yang segera menggapai Dirga kepelukanku dan duduk di sisinya, tampak mas Firgie juga ikut duduk di sampingku.
"Mengapa hanya ada anak-anak? Dimana Mbak dan Masku Bik?" tanyaku seraya kupaksakan tersenyum menatap Dirga yang terus melambaikan tangan kecilnya ingin menggapai wajahku.
"Mbak, Ba-pak pingsan di ruko, dan ibu sedang ke Rumah Sakit Mbakk ...." lirih Bik Lasmi dengan air mata yang terus mengalir.
"Mas pingsan?? Ini sudah kedua kalinya Mas seperti ini? Sebenarnya Mas kenapa? Oh ya Bik, apa Mbak mengatakan sesuatu?"
Bik Lasmi hanya menggeleng, tapi setelah beberapa saat ia berujar ...
"Ibu tampak sangat sedih setelah mendapat telepon dari Mas Aldo, setelah itu Ibu segera kelantai atas dan kebawah kembali dengan membawa tas. Ibu hanya bilang Bapak pingsan dan ibu harus ke Rumah Sakit. Untungnya masih ada stock ASI di kulkas, sampai besok pagi insya Alloh masih cukup."
"Ada apa sebetulnya?"
"Mas, tolong pangku Dirga sebentar," ujarku dan segera meletakkan Dirga dipangkuan Mas Firgie saat ini. Akupun berdiri menjauh dan berusaha menghubungi Mbakku.
Setelah beberapa saat,
"Assalamu'alaikum Mbak," ujarku.
"Wa'alaikumsalaam. Shifaaa ...," dan mbakku memanggilku dengan lirih disana.
"Apa sebetulnya yang terjadi Mbak??"
__ADS_1
"Mas Dimas mengalami serangan jantung, Sampai sekarang ia belum sadar. Mohon maaf pada temanmu kami tidak bisa menyambutnya saat ini."
"Jangan fikirkan itu Mbak. Mas dirawat di rumah sakit mana?" tanyaku panik sekaligus sedih saat ini.
"Dago, Dago Hospital grup Dek," ucap Mbak Lyra di sudut telfon saat ini.
Tak lama panggilanpun terhenti.
Aku meraih Dirga kembali kepelukanku saat ini, "Sayang, kau ponakan Anti yang pintar, jangan rewel ya Sayang, setelah bermain segera tidur dengan Bibik yaa," aku menciumi ponakanku saat ini tak tega sebetulnya lagi-lagi harus meninggalkannya hanya bersama 2 pelayan di rumah.
Segera kuberikan Dirga kepada Bik Lasmi. Kuhampiri Mbak Dinar yang sedang memangku Diyara, Diyara tampak mulai terkantuk dan memejamkan matanya, tampak susu di botolnya tinggal setengah saat ini. Aku ingin mencium Diyara tapi kubatalkan hawatir ia akan terbangun nanti.
Akupun menghampiri Mayra setelahnya, "Anti sudah pulang?" tanyanya.
"Iya, Mayra setelah acara kartunnya selesai segera tidur bersama mbak Dinar yaa..!!" ucapku.
"Mayra mau tunggu bunda, Antii," celotehnya.
"Takut Bunda pulangnya malam Dek, nanti kalau Mayra merasa mengantuk jangan ditahan segera tidur saja yaa," ujarku.
Setalah beberapa saat terdiam akhirnya Mayra mengangguk.
Sekejap kemudian aku segera meminta mas Firgie mengantarku ke Rumah Sakit yang diarahkan Mbak Lyra.
Segera kuhampiri UGD tempat masku berada. Namun aku tak menemukan mbak Lyraku, hingga seseorang berkemeja Navy seketika menghampiriku. "Mbak Shifaa?" sapanya padaku.
"Iya betul," jawabku.
"Saya Aldo asisten Mas anda. Mbak sedang sholat Isya, mbak Shifa bisa masuk kedalam bertemu Mas,"
"Ohh, baiklah."
"Ayo Mas," akupun mengajak mas Firgie saat ini masuk. *Walau keadaan yang terjadi diluar rencana kami. Tapi mas Firgie juga berhak bertemu dan mengenal Mas Dimas*, fikirku.
Kubuka pintu yang membatasi kami. Berbagai selang untuk memantau kondisi Masku terpasang ditubuhnya. Layar monitor adalah sahabat terdekat yang lebih mengetahui kondisi Masku dibanding yang lain untuk saat ini.
Dan aku sangat sedih melihat kondisinya, seketika kuciumi Masku, sosok yang sering jahil menggodaku tapi kutahu itu adalah caranya menyayangiku.
"Mass, ini Shifaa Mas, Mas harus semangat, Mas adalah Masku yang hebat. Mas harus sembuh, Mas harus kembali di tengah kami. Mass ... buka mataku Mass," air mata terus saja mengalir membasahi pipiku. Hingga kusadari aku tadi masuk bersama mas Firgie, *dimana ia*?
Kubalikkan wajahku ke arah pintu, dan mas Firgie tampak masih mematung disana.
"Kemari Mas..!!!" ujarku, dan tak lama mas Firgie mendekatiku.
Mas Firgie mulai menatap masku saat ini, dan seketika ia tampak terkejut,
__ADS_1
"I -ni kakak-mu kah Shi-faa?" tanyanya terbata dan penuh tanda tanya.
"I-ya, ini Kakak yang sering kuceritakan padamu Mass," lirihku.
"*Dimas* ...," kudengar lirih mas Firgie memanggil nama Masku.
"Kau mengenal Kakakku kah?"
Dan seketika kuperhatikan sesuatu terjadi ... "*Jari mas Dimas bergerak, tolong jaga mas-ku, Mass!! Aku akan memanggil dokter* ..."
🌻Lyra ...
DAGO HOSPITAL GRUP dihadapanku, bergetar kaki ini memasukinya, berbagai fikir menyelimutiku. Hingga kumasuki ruangan yang ditujukan Aldo kini.
Dan disana ...
Orang yang kucintai tampak tertidur kutatap dikejauhanku. Serasa aku tak mampu mendekatinya. Perih dan sesak rasanya mengetahui segala kenyataan ini.
Perlahan kumulai mendekati ranjangnya, wajah mas Dimasku, kekasihku, orang yang selama ini tak pernah berhenti mencurahkan cintanya untukku. Dan kini ia berbaring tak berdaya ...
Kusapu kepalanya, mata ini, hidung, ini, bibir ini semua benar milik suamiku. Kutatap tubuh yang tertutup selimut dihadapanku, kisingkap dan kutatap banyak selang disana. Hal sama yang dulu pernah terjadi dengan Diyaraku. Mass, mengapa aku melihat semua ini kembali, lirihku.
Terus kukecup wajah suamiku kini, kubisikkan kata-kata penyemangat untuknya, rasa cintaku yang dalam dan pengharapanku atas kesembuhannya. Kucoba tahan air mata agar tak menetes tapi tetap bulir kesedihan ini tak mampu kebendung. Kukecup tangannya kini, namun lagi-lagi mas Dimas tak meresponku.
Hingga seorang perawat tampak masuk dan memanggilku keluar,
"Ibu, tolong pasien jangan diajak bicara terlalu banyak, usahakan jangan menangis di hadapannya. Beri semangat dan pengharapan baik. Karena pasien dengan riwayat jantung akan rentan mendengar kata/berita yang memancing emosinya, terlebih kondisi jantungnya sedang kolap saat ini."
"Bagaimana sebetulnya kondisi suami saya Sus?" tanyaku.
"Ibu bisa langsung bertanya pada dokter jaga di ruangan itu ...,"
19:40 kutatap jam dinding saat hendak memasuki ruangan sang dokter.
Kubuka perlahan pintu ruangannya, ia yang menatap kehadiran seseorang masuk, segera mempersilahkanku masuk dengan sopan.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?"
Aku memulai bicaraku saat tubuhku telah mendarat ke kursi dihadapan sang dokter.
"Dok, saya ingin menanyakan kondisi suami saya," ujarku.
"Pasien atas nama siapa Bu?"
"Bapak Dimas Anggoro, Dok," ujarku kembali.
"Bapak Dimas dengan riwayat jantung yang baru masuk sore tadi betul?"
"Iya Pak."
"Untuk bapak Dimas, kondisi jantung sedang dalam pemantauan, setelah pak Dimas sadar kita akan lihat perkembangannya, jika terjadi colab berulang terpaksa kateterisasi jantung harus kami lakukan."
"Apa itu Dok?"
"Suatu tindakan untuk Mengevaluasi aliran darah dan oksigen, menilai kekuatan otot jantung memompa darah ke seluruh tubuh, melihat seberapa baik kinerja katup jantung, juga mengobati penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Serta untuk merencanakan pengobatan yang tepat bagi pasien," ujar Dokter menjelaskan dengan sangat tenang dan kehati-hatian.
"Adakah efek yang akan terjadi dari tindakan itu Dok?"
"Tentu efek selalu ada. Akan kami jelaskan kembali jika pak Dimas memang membutuhkan tindakan tersebut. Untuk saat ini tolong pihak keluarga menjaga emosi Pak Dimas dan jangan terlalu banyak bicara itu lebih baik. Karena kita tidak tau ucapan apa yang mungkin mengganggu emosinya dan akan berpengaruh pada jantungnya."
"Baik, terima kasih Dok."
•
•
•
Mana ibu Arini dan ayah arya, mengapa mereka belum sampai juga?? Aku tidak bisa menghadapi ini sendiri, bahkan memutuskan apapun aku tidak mampu ...
Segera kutemui Aldo dan berpesan jika mungkin Shifaa datang. Dan aku segera ke Mushola Rumah Sakit setelahnya guna menjalankan ibadah Isyaku yang belum ku tunaikan ...
•
•
•
Beberapa saat berlalu, kulangkahkan kembali kakiku menuju ruangan suamiku berada, dan di sudut pintu tampak beberapa suster sedang memeriksa suamiku, apa yang terjadi??
Dengan tatapan tak terarah, kulihat seorang wanita berlari menghampiriku ...
Mbak, mas Sadar mbak ... Mas sudah sadar ...
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤