
POV Tante Arini
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Dimas Rud?" seorang wanita tampak berbicara dengan rekan sekaligus dokter pribadi keluarga mereka, Rudi.
"Kau lihat Rin, Dimas tertidur tapi bibirnya menyebut nama seorang gadis. Dalam istilah kami biasa di sebut Broken Heart Sindrome.
Biasanya terjadi akibat kehilangan orang yang dicintai, perpisahan atau penolakan cinta. Gejalanya bisa berbagai macam, ia akan merasa hidup teramat berat dan tidak ada semangat menjalani hari-harinya. Sementara aku akan beri resep, tapi kau jangan heran obat ini mungkin tak asing bagimu, ini obat dari gejala penyakit jantung. Karna memang dampak pada tubuh seperti orang yang sakit jantung, sesak nafas, nyeri dada, jantung yang tidak beraturan dan tubuh lemas seperti kelelahan. Tapi aku tidak bisa menjamin tingkat efektifitas obat ini.
"Lalu bagaimana Rud, tinggal menghitung hari pernikahan Dimas. Dan ia harus ada di pernikahan itu?" sang ibu tampak putus asa melihat apa yang di alami putranya.
"Dari yang sudah-sudah, dalam kasus seperti ini sebetulnya ada obat yang sangat lebih ampuh dari sebuah pil," ujar sang dokter.
"Apa itu Rud, katakanlah! Aku akan lakukan apapun agar Dimas memperoleh kesadarannya," lirih sang ibu.
"Rin, satu-satunya orang yang akan mudah membawa Dimas sadar adalah gadis yang berada dalam angannya."
"Maksudmu?" sang ibu tampak bingung.
"Cari gadis yang namanya selalu disebut Dimas Dalam tidurnya, dia yang akan mudah menyadarkan Dimas."
"Sungguhkan itu akan berhasil?"
"Memang daya tangkap tubuh itu berbeda, ada yang menggunakan cara ini hitungan jam akan kembali sadar, hitungan hari pun bisa. Tergantung Dimas menerima respon dari sang gadis."
"Oke, terserah kau ingin mengambil solusi ini atau tidak, namun resep tetap ku buatkan" ujar Rudi lagi.
"Baiklah, untuk kesembuhan Dimas akan kucari gadis itu, Lyra.."
*Beberapa saat setelahnya di kamar Dimas.
Rudi hendak keluar dari kamar Dimas setelah berbicara dengan Arini, ibunda Dimas yang telah keluar lebih dahulu dari kamar putranya.
"Om," sapa seseorang dari balik punggung sang dokter.
"Dimas ... Kau sadar? bukankah tadi??"
"Bagaimana? aktingku sangat hebat bukan om?" ujar Dimas berdiri di sisi tempat tidurnya.
"Nakal kau? Kau lihat ibumu tadi? ia sangat sedih dan bingung melihat kondisimu dan kau menganggap hanya candaan? Bagaimana jika ibumu tau? Bahkan kau tau penyakit jantung yang di derita ibumu. Ayo ikut!! Aku akan memberitahu ibumu bahwa kau baik-baik saja," geram sang dokter.
"Om ... Tunggulah sebentar!! Tidak semua yang kau lihat salah om. Aku memang sadar dan tidak selemah itu. Tapi diagnosamu sungguh benar adanya, aku terpuruk dan benar2 hilang akal om. Dan aku sangat ingin bertemu dengan gadisku, Lyra Om," lirih Dimas.
"Sadar Dimas! Kau akan segera menikah! Jangan bertindak yang aneh-aneh apalagi menyakiti keluargamu," tegas sang dokter.
"Itulah Om ... karna aku akan menikah. Jadi aku harus bertemu dengan Lyraku dulu. Dan kau pasti tau, aku tidak pernah mengingkari janjiku."
"Tidak bisa Dimas, hentikan kekonyolanmu!!"
"Please Om!!!" desak Dimas.
"Ti-dak!! Aku tidak bisa ambil resiko terhadap kesehatan ibumu, jika ia sampai mengetahuinya," ujar sang dokter lagi.
"Ibu tidak akan tau, bukankah aktingku tadi sangat hebat?" Dimas masih berusaha merayu Rudi.
Dimas membuka laci nacas dan mengambil sebuah kertas dari dalam dalam laci tersebut.
"Bagaimana dengan ini Om? bukankah Fahmi
__ADS_1
putramu sedang membutuhkan biaya besar saat ini?" ujar Dimas sambil mengatungkan sebuah cek di tangannya. Dimas sangat tau laki-laki di depannya akan sangat luluh dengan uang apalagi ia memang sedang membutuhkannya saat ini.
"Dimas kau??"
"Jadi kau akan menolak ini Om?" tantang Dimas.
"Apa yang harus ku lakukan?" lirih Om Rudi
"Kau harus memastikan ibu membawa Lyra ke hadapanku."
"Oke ... itu saja? Aku pergi dulu!." ujar om Rudi.
"Tunggu, ada1 lagi om!"
"Hah ... katakan?"
"Kau harus selalu di belakangku jika aku membutuhkanmu," ujar Dimas lagi.
"Kembali tidur di tempat tidurmu! Pastikan ibumu tidak pernah tau hal ini." Sang dokter beranjak keluar kamar setelah mengambil cek yang Dimas sodorkan.
"Om Rudi ... Om Rudi," gumam Dimas tampak senyum puas di sudut bibirnya.
****
Pukul 16:30
"Lyra ... Kau sudah datang nak!" ujar wanita dengan longdrees batik sederhana namun tampak terlihat anggun di mata lyra.
"Minumlah dulu sebelum kita bertemu Dimas," ujarnya lagi setelah Rima datang membawa segelas air yang ia minta.
"Tidak bu, ma- af tan- te maksudku. Tadi kami mampir ke masjid dulu sholat Ashar tante."
"Oh, baguslah."
"Makanlah dulu, kau pasti lapar bukan?"
"Tidak perlu tante, saya akan langsung menemui Dimas saja," ujarku ingin agar semua cepat berlalu.
"Ohh, baiklah."
Tante Arini membawaku ke lantai 2 rumah tersebut.
Foto-foto keluarga mereka terpajang di setiap sisi tangga. Melihat foto-foto mas Dimas saja dadaku sudah sangat sesak. Bagaimana jika aku bertemu langsung denganmu lagi setelah sekian lama mas? batinku.
Tante Arini melangkahkan kakinya menuju kamar dengan pintu besar yang letaknya di sudut lanntai 2.
Kami sudah sampai di depan kamar mas Dimas, jantungku kembali berdetak tak beraturan. Hingga ibu membuka kamar tersebut.
Tampaklah disana seorang laki-laki sedang tertidur lemah di ranjangnya.
"Ayo masuk Lyra!!" ajak tante Arini mendekati laki-laki tersebut.
"Beginilah kondisi Dimas, Lyra ...," tampak butiran air keluar dari sudut mata sang ibu.
Tante Arini menggenggam tanganku, "tolonglah Dimas, Lyra!!" ujarnya penuh harap kepadaku.
"Tantee ... Apa aku bisa menyadarkan mas Dimas, bagaimana jika mas Dimas tak jua sadar?" lirihku.
__ADS_1
"Berusahalah sayang, kau disini ya.!!! Tante akan kembali lagi nanti. Panggilah Rima jika kau membutuhkan sesuatu," ujarnya sebelum berlalu meninggalkan kami.
Bayangan tante Arini sudah tak terlihat.
Ini pertama kalinya ku masuk ke kamar seorang pria, kuperhatikan sekeliling ruangan besar dengan gaya Cool dan maskulin perpaduan biru dan hitam di depanku. Kamar yang indah dan tertata rapi. Yah, tentunya ada asisten rumah tangga yang merapikan kamarmu selalu mas.
Kududuk di sisi ranjang, kutatap Mas Dimas yang saat ini terkulai lemah di hadapanku. Wajah yang dulu selalu meluangkan waktunya untukku, kini ia tertidur seperti bayi. Walau dalam keadaan sakit, wajah tampannya tak berkurang sedikitpun.
Ku genggam erat jemari mas Dimas, semakin dalam ku menatapnya semakin sakit dan sesak terasa di dadaku. Kembali terbayang masa-masa aku bersama mas Dimasku. Hari-hari saat kami bersama. Teringat pula bagaimana sosok di depanku pernah begitu menyakitiku karena tidak jujur akan pertunangannya, walau kini aku telah memaafkan dan mengikhlaskannya. Mas Dimas ku ... Kenapa takdir membuat kita seperti ini. Tak terasa butiran air memaksa keluar dari mataku.
Kusapu rambut mas Dimas. Ku teliti setiap inci wajahnya, kubisikkan di telinganya "Ma-sss ... aku datang. Aku Lyramu disini," lirihku.
Kuusap-usap jemarinya, kembali ku bisikkan kata-kata di telinganya.
"Mas, tidakkah kau ingin melihatku! Aku disini mas. Aku sebetulnya marah padamu, kenapa kau sampai seperti ini? Kenapa kau tidak menyayangi dirimu? Bukankah kita sudah sama-sama berjanji untuk hidup dengan baik?"
"Mas ... bangun mass!! Aku sakit melihatmu seperti ini, merasa aku yang membuatmu seperti ini Mas, jika tidak untukku. Bangunlah untuk keluargamu! ibumu! Ayahmu! Adikmu! Juga untuk Mbak Friss!"
"Mas ... tinggal menghitung hari pernikahanmu, Bukankah kau sudah berjanji akan menjadi anak yang baik mas? Kau akan menuruti keinginan orang tuamu? Jangan sakiti keluargamu mas.!! Bukankah kau selalu menepati setiap janjimu? Bangun mas.!! Kau harus ada di hari pernikahanmu," air mata Lyra semakin tak terbendung. Hatinya sesak melihat orang yang pernah singgah di hatinya mengalami kondisi seperti ini.
Dibalik pintu tampak seorang ibu tak sengaja mencuri dengar setiap kata yang keluar dari bibir sang gadis, sang ibu turut menangis "gadis yang baik, kini aku tau mengapa Dimas sulit melupakanmu," ibu itupun kembali meninggalkan mereka.
Kembali kusapu rambut mas Dimas.
"Mas ... Kenapa kau tidak juga bangun.
Apa hatimu sudah tidak bisa menyadari kehadiranku. Untuk apa aku disini jika kaupun tak ingin melihatku," lirihku.
Tak lama terdengar sayup-sayur suara wanita dari lantai 1.
"Aku ingin bertemu Dimas tante, bagaimana keadaan Dimas? Kenapa 3 hari ini Dimas tidak menjawab telfonku? pesanku pun tidak di lihatnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Dimas? Aku ingin melihat Dimas di kamarnya!!"
"Friss ... tunggu nak!! Dimas sedang tidak ada, ia sedang keluar dengan rekan-rekannya.
Sang gadis memaksa menaiki tangga ingin menuju ke kamar sang calon suami.
*Di kamar Lyra merasa panik. "Bagaimana jika mbak Friss memergoki dirinya sedang di kamar mas Dimas?" ia bingung. Ia terus menatap pintu. Aku harus bersembunyi, fikirku. Namun saat hendak melepaskan genggamannya pada Mas Dimas, mas Dimas merespon, ia menggenggam erat tangan Lyra. Tidak melepaskannya.
"Kau sadar mas??" mata mas Dimas masih terpejam namun tangannya menggenggam erat jemari Lyra, Lyra berusaha melepaskan jemari mas Dimas, namun sangat sulit terlepas.
"Mas, kau mendengarkanku kan? Lepaskan aku mas.
Bagaimana jika mbak Fris tau aku disini?
*****
*Visual Dimas saat sedang berbincang dengan Om Rudi, dokternya...
****
#Salam Cinta ❤ dari Thor
Mohon dukungannya selalu klik Like, rate dan vote, beri komen juga jangan lupa yaa😉
#Happy reading😍
__ADS_1