Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Dilema 2 》Seorang Duda


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻Mas Dimas, apa pantas aku menanyakan masalah bawaanmu nanti untukku, apa memang belum waktunya aku menikah?? Ini baru masalah biaya nikah belum lagi aku bicara tentang status mas Dimas ... Bagaimana ini ya Robb ...


"Ly, Lyra ... jangan bengong Nok," ucap ibu seketika membuyarkan lamunanku.


"Oh, iya Bu, nanti Lyra tanya dulu kepada calon Lyra dia siap bawa berapa," ujarku lirih.


"Lyra ke kamar dulu ya buk, Pak," ujarku kembali sebelum akhirnya meninggalkan kedua orang tersayangku yang juga dipenuhi bimbang akan pengharapan putrinya.


🏡🏡🏡


🌻20:00 KAMAR LYRA


Aku masih terpaku dalam diam. Bagaimana cara menanyakan masalah ini pada Mas Dimas, kami baru bertemu kembali, apakah enak berbicara masalah sensitif seperti ini? Tidakkah ia akan berfikir aku matrealistis atau aku berusaha menekannya dengan mahar yang tinggi. Padahal aku seorang muslimah yang harus menerima berapapun kemampuan calon suamiku ...


Tiba-tiba ponselku berdering, tampak nama mas Dimas muncul disana, dengan meredam sesak kuangkat panggilan darinya.


"Assalamu'alaikum Lyraa," sapanya dengan penuh bersemangat.


"Wa'alaikum salam mas," ujarku lirih, berbanding terbalik dari semangat yang mas Dimas miliki, aku tampak mulai kehilangan arahku.


"Apa kau ada masalah? kenapa seperti tidak bersemangat," tanya mas Dimas.


"Tidak ada apa-apa Mas," ujarku masih menutupi.


"Kau tadi sampai jam berapa Ly? Bapak jadi jemput di kalideres?" ujar mas Dimas.


Memang hari sebelumnya aku memang bercerita akan kepulanganku lebih dahulu ke Tangerang pada Mas Dimas, juga tentang Bapak yang akan menjemputku.


"Tadi aku sampai rumah setengah 6 mas," ujarku.


"Padahal sejak sore mas menunggu kabar darimu, tapi yasudah, yang penting sekarang mas tau kamu sudah di rumah dengan baik," ucap Mas Dimas.


"Apa mas Dimas besok jadi ke Tangerang?" lirihku.


"Jadi dong, malah mas sudah gak sabar ketemu kamu dan keluargamu besok. Memang ada apa Ly?" mas Dimas kembali bertanya dan aku kembali bingung akan jawabku.


Bismillah, bantu aku bicara dengan mas Dimas ya Robb, terserah kalau mas dimas berprasangka buruk padaku, aku ikhlaskan apapun takdirku, batinku.

__ADS_1


"Mas, tadi aku bicara dengan Bapak dan Ibu tentang kedatanganmu besok."


"Lalu??" tanyanya.


"Mas, mereka sangat terbuka jika ada yang serius denganku. Tapi ...


"Tapi kenapa? Ayolah jangan sepotong-sepotong kalau bicara," ujar mas Dimas tampak sangat penasaran.


"Tapi ... mereka belum siap jika kita segera menikah."


"Lho kenapa begitu, katakanlah Ly, hal baik itu harus disegerakan," ucap Mas Dimas tampak heran dengan jawabanku.


"Mas, ma-salah-nya aku dan ke-luargaku be-lum punya cukup modal untuk bi-aya pernikahanku," ucapku terbata.


"Astagfirulloh Lyra, apa kau berfikir mas tidak akan memberi mahar untukmu?" tegasnya.


"Mas, tetap kata ibu biaya nikah itu tidak sedikit Mas, misalnya Mas memberiku 20juta, dan ditambah tabunganku tetap saja masih kurang banyak kata ibu Mas," jujurku.


"Memang kata ibu biaya pernikahan sampai berapa?" tanya mas Dimas serius.


"40 juta itu sudah paling sederhana kata ibu, Mas," jawabku. Entah kekuatan apa yang kupunya sampai kusingkirkan maluku dan menceritakan obrolanku dengan ibu sesaat lalu. Aku sudah pasrah apapun pendapat Mas Dimas terhadap keluargaku.


"Oke, dengar Mas, Lyra. Kau dan keluargamu tidak perlu memikirkan biaya pernikahan oke!!" ujar Mas Dimas.


"I-ya tidak perlu difikirkan, Mas yang akan menanggung semuanya." ujar mas Dimas kembali mantap.


"Mas, tapi aku tidak mau menyusahkan Mas," lirihku.


"Mas senang melakukannya. Yang terpenting besok bersiaplah mas akan datang ke rumah Lyra," ujar mas Dimas.


"Mass, terima kasih banyak," lirihku terharu, seakan tak percaya dengan apa yang kudengar.


"Memang jam berapa Mas berangkat dari Bekasi?" tanyaku lagi.


"Jam 7 Mas janjian dengan Fahmi dan Fida. Kalau tidak macet sebelum jam 10 Mas sudah sampai rumah Lyra," ujarnya.


"Oh, baiklah."


"Oya Ly, Lyra sudah bicara pada Bapak dan Ibu tentang status mas kan?" terdengar nada yang tidak setegas sebelumnya, ada kekhawatiran disana.


"Oh iya, aku lupa membahas itu, sebentar ya Mas. Nanti Aku kabari Mas lagi," aku seketika menutup panggilan mas Dimas dan menuju Bapak dan Ibu yang tampak sedang berbicara serius disana.


"Pak, Bu, ada yang mau Lyra sampaikan," ucapku.

__ADS_1


"Tunggu nak sebelum kamu bicara ada yang mau Bapak sampaikan terlebih dahulu," ujar Bapak terlihat serius.


"Oh, apa Pak?" tanyaku bingung.


"Besok suruhlah datang pria yang serius dengan Lyra, Lyra tidak perlu fikirkan masalah biaya. Barusan Ibu bicara dengan Bapak, Ibu ada tanah peninggalan Almarhum Mbahmu di Jogya, tempo hari Pak Lek Wahyu sempat nembung (menawar) ingin membeli tanah Ibu. Nanti kita akan pakai uang penjualan tanah tersebut untuk biaya nikahmu. Jadi Lyra tenang aja Bapak pasti menikahkan Lyra," ujar Bapak yang seketika membuat air mataku tak mampu kubendung, langsung kupeluk keduanya, "terima kasih Bapak Ibu."


"Sudah jangan nangis Nok," lirih ibu tampak iapun ikut menangis melihatku tersedu.


"Buk Pak, tanah di Jogya gak perlu dijual. Barusan Lyra sudah menceritakan semuanya pada Mas Dimas, katanya kita gak perlu memikirkan biaya pernikahan. Mas Dimas akan menanggung semuanya," lirihku.


"Ya Alloh Ly, apa benar begitu? Dimas to namanya? Memang Mas Dimas itu kerja apa, kok bisa nyanggupin semua biayanya?" Ibu tampak penasaran.


"Iya Namanya Dimas Buk, mas Dimas punya beberapa usaha di Bekasi," ucapku.


"Oalahh, alhamdulillah Ly, ibu seneng kalau kamu dapat jodoh yang mapan, jadi hidupmu gak susah seperti Bapak dan Ibu Nak," tampak air mata menetes di pelupuk mata Ibu dan seketika akupun memeluknya.


"Oya Buk Pak, tapi ada hal yang belum Lyra sampaikan kepada Bapak Ibu," ujarku.


"Apa itu Nak?" Bapak penasaran.


"Mas Di-mas seorang Du-da, Pak Buk?" lirihku.


"Apa? Duda? Apa gak ada yang lajang apa Nok, yang belum pernah menikah gitu lo," ujar ibu tampak kurang senang mendapati anak gadis kesayangannya akan dipersunting oleh pria bekas wanita lain.


"Mas Dimas baik Buk, ia berpisah juga karena istrinya selingkuh, bukan karena kesalahan mas Dimas," ujarku meyakinkan Bapak Ibu dan Bapak tampak terus memperhatikanku.


"Tetap saja Ly, yang namanya duda bayangannya tuh udah jelek, apalagi karena perpisahan kecuali kalau istrinya meninggal gitu. Tapi ya tetep apapun alasannya ibu kok gak seneng kamu dapet duda, kamu itu cantik lo Ly. Bisa dapet laki-laki yang lebih baik dan yang penting masing perjaka," ucap ibu penuh emosi.


"Yasudah Bu, biarkan besok Dimas itu kemari. Bapak penasaran, seperti apa laki-laki yang sudah mengambil hati Lyra putri Bapak," ujar Bapak bijak.


"Bapak ... Terima kasih," ujarku merona, tak terbendung bagaimana bahagiaku.


"Jangan berterima kasih dulu Ly, belum tentu besok kami cocok," ujar ibu masih dengan nada tidak sukanya.


"Oya, dia duda sudah ada anak belum?" tanya ibu lagi menambahkan.


"Su-dah Bu," lirihku.


"Hahh ... ada anak pula Pakk," syok ibu.


🌷🌷🌷


🌻Ditunggu lagi kelanjutannya yaaa😨

__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2