
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Hanya satu yang terfikir diotakku saat ini, Firgie.
Aku sangat down dengan yang kualami, hingga kemungkinan kematianku dapat terjadi kapan saja selalu membayangiku. Akupun mulai berbicara tentang pendonoran mata pada ibuku yang saat itu telah tau penyakitku. Ibuku marah besar, dan tak ingin aku membahas tentang hal tersebut. Akupun tak ingin membuat ibuku semakin bersedih jika kemungkinan aku tiada, bahkan korneaku ingin kuberikan pada orang lain itu tentu akan sangat menyedihkannya, segera kubuang fikiran pendonoran mata itu seketika.
Namun aku tetap terfikir untuk memberi penglihatan kembali pada pria yang merupakan mantan kekasih istriku tersebut, sebab hanya dialah yang kufikir mampu membahagiakan Lyra-ku selain aku. Aku sangat tau besarnya rasa yang pernah Lyraku miliki untuk pria itu dan sebaliknya bagaimana rasa pria itu terhadap Lyra-ku.
Akupun menghubungi Dr. Rudi yang merupakan dokter pribadi keluargaku. Semua terjadi disela waktu saatku bergantian dengan Lyraku menunggu Diyara di rumah sakit.
Kuutarakan tentang niatku mencarikan donor mata untuk seseorang. Iapun segera mencarikan link dokter mata yang ia miliki di beberapa rumah sakit. Dan entah sekenario apa, keluarga yang bersedia memberikan kornea mata dari anggota keluarganya yang meninggal berasal dari Sentra Duta pula dimana tempatku tinggal. Keluarga tersebut ikhlas dengan imbalan seluruh hutang pembayaran rumah sakit kulunasi hingga penguburannya kubiayai.
Aku meminta seluruh dokter yang terlibat dalam operasi menutup rapat tentangku, jika sesuatu hal buruk terjadi, aku akan membukanya tapi jika aku tetap bertahan bersama Lyra setidaknya aku telah berbuat baik untuk hidup orang lain ...
Hingga beberapa hari yang lalu terbukalah penyakitku dihadapan Lyra-ku. Ibuku menyadarkanku bahwa aku sangat egois dengan fikirku sendiri. Arti cinta yang benar menurutku selama ini dengan mempersiapkan Lyra kebahagiaan baru mendadak lebur, aku harus sehat fikirku kini.
__ADS_1
Dan dini hari ini, aku bangun normal dengan penuh semangatku tanpa sesak kurasa. Hingga kenyataan yang baru kuketahui usaiku menjalankan Subuhku ...
Firgie, bakulan ketoprak, jl. Darmawangsa, berarti ia sudah sangat dekat dengan kami selama ini. Ia juga adalah teman dekat Shifaa, kekasih Shifaa. Ahhh, bagaimana ini??
Mendadak angan-anganku merajut asa bersama Lyra-ku seakan diujung tanduk. Firgie tak seharusnya muncul saat ini, bagaimana jika kehadirannya menggoyahkan Lyra-ku? Harusnya Firgie baru muncul setelah kemungkinan ketiadaanku. Agar aku tidak melihat kebersamaan mereka, atau kemungkinan melihat rasa yang mungkin keduanya masih miliki. Tapi kini, ia adalah kekasih adikku. Situasi apa ini? Bahkan jika aku tiada, akupun tak akan bisa menyatukan Lyra-ku dan Firgie sebab ada hati adikku yang akan hancur jika itu terjadi.
Seharian ini fikianku sungguh tak fokus bekerja, setiap gerak yang kulakukan memberi sesak pada dadaku. Mengapa seperti ini? aku tidak bisa leluasa bergerak. Sesak ini sangat menusukku ...
Itupun bayangan Firgie telah berusaha kuhilangkan, jika kubiarkan smua gundah memutari otakku bukan lagi sesak, bahkan aku seakan tak mampu bernafas rasanya.
Beberapa obat sekaligus telah kuminum bersamaan, namun sesak terus menusukku, hingga menjelang pulang ragaku tak mampu lagi bertahan. Akupun tersungkur seketika.
Beberapa saat aku tak sadar ...
Namun jauh di ruang gelapku, kudengar dokter yang kukenal beberapa kali meminta suster mengecek jantungku, tubuhku seakan mati rasa, entah apa yang mereka sedang lakukan. Hanya suara lantunan mesin kotak tut .. tut .. tutt ... seakan irama tidur untukku.
Kudengar wanita yang kucintai kini terus memanggilku, ia menangis, ia menggenggam tanganku, ia berbisik dan ia terus mengecup wajahku seraya menangis. Namun aku serasa tak ingin melihat kesedihannya. Aku tak juga ingin menyadarkan diriku, hanya air mata yang terus memaksa keluar mendengar rintihnya.
Hingga kini berganti orang didekatku, gadis kecil yang tak membuang wajah ibuku itu terdengar terus menangis pula memanggil namaku, hingga suara seorang pria kudengar kini ...
__ADS_1
"I- ni Ka- kakmu kah Shi- faa?"
"I- ya i- ni Masku yang sering kuceritakan Mass ...." lirih suara adikku kudengar.
"Di- mass ..."
"Kau mengenal Kakakku Mas??"
Entah mengapa aku ingin memastikan sosok ini, apa benar dia yang datang?? kuberusaha keras menggerakkan jariku kini.
Adikku tampak berteriak kaget, " Jari mas Dimas bergerak, tolong jaga mas-ku, Mass!! Aku akan memanggil dokter ..."
Kudengar pintu seketika tertutup dan kudengar lirih seseorang berbisik padaku,
Kau harus bertahan Dimas!! Kau sudah berjanji akan membahagiakan Lyra bukan?? Penuhi janjimu!!!
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1
🌻Ditunggu kelanjutannya yaa😊