Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Mengantar Shifaa


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻PUKUL 05:00 KOTA BANDUNG


POV Dimas


Kuciumi satu persatu malaikat kecilku, hingga kemudian kutatap bidadariku yang berdiri mematung menatapku. Akupun menghampirinya, ia juga menunggu kecupan dariku sepertinya. Tapi tidak, ternyata bukan itu ... karna telah ku kecuppun ia masih tak mengalihkan pandangannya.


"Ada apa Sayang?" ujarku seraya kuraih tubuh indah Lyra-ku kini.


"Tidak apa-apa," dan hanya kata itu yang kudapati dari ke-diam-an Lyra-ku.


Akupun kembali menyusuri wajahnya, kuberikan kecupan dalam di bibir indahnya setelahnya.


Dan ia semakin mengeratkan pelukanku.


"Kau tau Mas, aku selalu takut jika semua yang ada disekitarku ini tak nyata, kebahagiaan seakan hal semu selama ini untukku, kehadiranmu, anak-anak. Semuanya seakan coretan berwarna indah yang mewarnai bingkai abu-abuku. Mass, kau tidak akan meninggalkanku kan?"


Entah mengapa kata-kata dari bibir Lyra-ku terdengar sangat indah laksana seorang pujangga, kata-kata yang sangat dalam tentang kehilangan yang selalu menjadi bayang-bayang memilukan pula untukku.


"Kenapa bicara seperti itu? Mas hanya bekerja seperti biasa, dan akan kembali di sore hari seperti biasa pula. Jangan jadikan langkah Mas berat Sayang," ucapku seraya kusapu rambut panjang Lyra-ku.


Hingga akhirnya kutatap senyum dari wajahnya, senyum kecil yang tampak dipaksakan namun tak boleh melemahkan langkahku. Karena bukan hanya untuk bekerja, akupun harus memastikan adikku sampai selamat dan tepat waktu untuk ke sekolahnya di bekasi.




Sejuk embun merasuk penuh


Hilang mimpi dan peluk raga terkasih


Sinar mentari beriring mimpi terarah


Membawa jiwa membuang kesah


Jadikan ikhtiar menjadi celah


Namun hanya pada Alloh tempat berserah



Dan embun pagi menjadi saksi perjuanganku pagi ini, memilir angin seakan tak gontai berusaha menyapu mata yang kutahan meredup, sebab kantuk masih menguasai. Dan kini sesak mulai terasa didada, lagi-lagi saatku terpaksa harus berjauhan dari orang-orang terkasihku, kehawatiran tak bisa menginjakkan Bandung dan berkumpul kembali selalu mengitari otakku.



*Astagfirulloh*,



Kuucapkan zikir pada Robbku untuk meningkatkan kembali kesadaranku. Kubuka layar ponselku, dan seketika tampaklah 4 orang terkasihku disana, Lyra istri cantikku, Baby twins yang sangat menggemaskanku, juga Mayra bidadari manisku.



Kulaju lebih jauh Teriosku dari Bandung kotaku bermukim, menuju Bekasi tempatku beranjak dewasa. Macetnya jalan sudah meniscayaan yang harus kulalui, entah sudah berapa banyak lampu lalu lintas ku lewati. Hingga akhirnya setelah 3 jam perjalanan sampailah kami ke muka bangunan besar bercat putih tempat kedua orang tuaku tinggal.



Segera ku parkirkan Teriosku setelah kumasuki gerbang besar yang telah terbuka. Adikku seketika turun saat lajuku terhenti.



"Assalamu'alaikumm buu," teriak adikku membaur kedalam rumah mencari para penghuni rumah berada.



Nyatanya penghuni rumah hanya ada ayah dan ibuku. Ayah sudah berangkat ke kantornya sedang ibu sibuk bertelepon dengan rekan di organisasinya yang sedang merencanakan kegiatan bansos di suatu panti.



Shifa segera ke kamar sang ibu, "Kau sudah tiba Nak?" tanya ibu melihat kehadiran putri cantiknya.



Shifapun hanya mengangguk dan segera merebahkan diri di kasur ibunya.



"Sudah dulu ya Jeng, kita lanjut nanti obrolannya. *Assalamu'alaikumm*," ibupun mengakhiri obrolan di teleponnya.



*Tok ... tok ... tok*...



"Ibu ...." aku memanggil ibuku kini.



"Itu suara Dimas bukan? Kau pulang di antar mas-mu kah?" ujar ibu.



Belum lagi Shifa menjawab, ibu sudah membuka kamarnya.



"Dimass," segera memeluk putra yang 2 pekan ini tak ditemuinya.

__ADS_1



"Ibuu," lirihku membalas pelukan ibu dan tak lupa mengecup keningnya.



"Shifaa, jam berapa ini? berangkat sana ke sekolah..!!!" tegas ibu saat menyadari sudah pukul 8 lewat saat ini.



Tak lama kemudian Shifa sudah bersiap ke sekolah dan meminta izin ibunya, baru setelahnya ia berangkat ke sekolah diantar Pak Supri.






"Kebetulan kau kemari Nak, duduklah.!! Ibu ingin bicara padamu..!!!" ujar ibu tampak serius diwajahnya.



"Ada pula yang ingin Dimas sampaikan tentang Shifaa Bu," ucapku pula.



"Tentang Shifaa?? apa anak itu membuat masalah??"



"Bukan, bukan seperti itu Bu."



"Lalu??" ibu tampak memancarkan wajah penuh tanya disana.



"Shifaa berniat mengambil sekolah fashion designer Buu, tapi ia takut jika ibu tidak setuju. Karena memang tidak sesuai dengan jurusan SMK nya. Menurut ibu bagaimana? Dimas sih yakin, ibuku ibu yang baik dan tak suka menekan putra putrinya kembali. Iya kan Buu?" Kukecup punggung tangan ibuku kini berusaha meredam emosinya yang mungkin saja akan timbul.



"Dimas, anak ibu yang baik. Apa kau yakin adikmu itu akan serius dengan pilihannya. Apa itu tadi?? Fashion designer??" lembut ibu meyakinkan apa yang di dengarnya.



"Kita semua tau sejak kecil Shifaa memang suka mennggambar, apa yang dilihatnya selalu di gambarnya. Juga ingatkah ibu bagaimana Shifa bisa memilihkan gaun pernikahan yang indah untuk Cahya anak bude Har. Berarti ia memiliki jiwa fashion yang tinggi. Tidakkah lebih baik kita dukung niat baik Shifaa, karena jika di paksa mengambil akuntansipun, akan tidak baik jika hati Shifaa sendiri menolaknya. Mohon maaf jika ucapan Dimas salah Bu," dan aku terdiam kini, menunggu ibu merespon segala ucapanku.



Tak menunggu lama ibu berujar, "Ibu mengikuti apa yang menurutmu baik Nak, ibu pernah salah. Kau benar ... Shifaa berhak menentukan minatnya sendiri."




Ibu mengangkat tangannya meraih kepalaku kini, "Anak ibu yang baik, kau mengatakan ibu hebat setelah ibu merusak kehidupanmu,"



Kulihat ibuku menangis saat ini, sungguh aku sudah benar-benar ikhlas tapi entah mengapa wanita dihadapanku ini, terus saja menyalahkan dirinya atas yang terjadi pada hidupku.



Ku-seka lembut air mata yang menetes di wajah ibuku. Kupeluk kembali tubuh rampingnya.



"Dimas sayang ibu, sangat sayang. Dimas tidak suka mendengar ibu menyalahkan semua yang terjadi. Ibu tau setiap kali ibu menyalahkan diri ibu, Dimas kembali teringat semuanya. Dan Dimas merasa sesak ...."



"Jangan di teruskan Nak, maafkan ibumu ini." Tampak ibuku mulai tersenyum, dan akupun teringat bahwa ibu juga hendak menyampaikan sesuatu padaku. Akupun segera menanyakannya,



"Apa yang hendak ibu sampaikan pada Dimas?"



Ibuku tampak menghela nafasnya baru kemudian ia berujar, "Kau sudah memberitahu kondisimu pada Lyra Nak?"



"Ibu, Dimas tidak ingin membahas itu untuk saat ini," lirihku.



"Dimas, sampai kapan kau menutupinya? diobati di awal lebih baik Sayang, seperti Diyara putrimu."



"Seperti Diyara, Dimas akan melihat kesedihan yang sama di wajah Lyra. Dimas tidak bisa Bu, bahkan membuka kenyataan akan menyesakkan Dimas, Dimas tidak bisa melihat kesedihan dimata Lyra kembali."



"Ini salah Nak, Tidak!!! Ini tidak benar!!! Ibu akan memberitahu Lyra," gusar ibu.



"Ibu, ahhh ... "

__ADS_1



"Dimasss, kau baik-baik saja Nak?? Dimass ...."








"Apa kondisi seperti ini sudah sering dialami Dimas Rin?" ujar Om Rudi dokter pribadi kami.



Ibu masih menatap putranya yang terbaring, ia tampak tertidur setelah meminum obat pemberian dokter Rudi.



"Ia tinggal jauh dariku Rud, bahkan akupun baru mengetahui ia memiliki jantung bawaan pula beberapa bulan yang lalu."



"Ini salah Rin, jantung itu bukan penyakit main-main. Jika ia memang sayang dengan istri dan anak-anaknya, dan ingin lebih lama bersama. Dia harus mengecek detail kondisi jantungnya, separah apa penyakitnya akan diketahui dari hasil cek tersebut," ujar dokter Rudi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.



"Dimas sepertiku ia keras dan akan kukuh dengan pendapat yang menurutnya benar."



"Kau bilang Dimas pernah pingsan, dan jika sampai tubuh tak mampu menahan sakit. Itu menandakan kondisi jantung sudah tidak memompa dengan benar. Kau tentunya tau bagaimana sakitnya jika jantungmu sedang kumat dulu. dan ingat..!!! Jantung penyakit mematikan ... sudah banyak contoh yg terjadi entah diawali dengan gejala atau sebaliknya."



"Stop katakan tentang kematian Rudd ...."



"Bujuklah kembali Dimas, jika kau ingin ia hidup lebih lama sepertimu."



"Kau tau Rud, disuatu hari Dimas pernah bicara hal tak masuk akal tentang pendonoran mata untuk seseorang jika tiba-tiba hidupnya tak lama. Anakku yang baik, entah kehidupan siapa yang hendak ia terangi. Kontan saja aku menolaknya saat itu, jangankan berbicara pendonoran, Dimas bicara kematian saja, aku tak sanggup," ibu Arini terus berujar dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.



Dan Om Rudi ia tampak terdiam mendengar penuturan Ibu Arini. Terdiam dengan wajah yang sulit digambarkan.



●●●●



"Sudah siang, tumben mas Dimas belum ada kabar? biasanya sebentar sebentar ia selalu mengecek kondisi rumah ... " kenapa perasaanku tidak enak.



●●●●



"Ahh, jam berapa ini?" Dimas tampak terbangun dari tidurnya.



"Dimass, jangan bergerak Nak," ujar Ibu.



"Dimana ini Bu? kenapa ada selang di tanganku?"



"Maaf Dimas tadi kau tidak sadarkan diri, ibu bingung, dan atas anjuran om Rudi ibu membawamu ke RS ini," lirih ibu dengan sebelah tangan menahan tubuh putranya yang hendak bangkit dari pembaringan.



"Dimas sudah sehat sekarang Bu, banyak yang harus Dimas kerjakan hari ini," Dimas tampak kukuh, ia bersikeras berdiri dan mengganti pakaiannya kembali.



"Dimas, tunggu sayang!! Dokter jantung sesaat lagi akan datang memeriksamu, Dimass ...."



Tak lama Dimas sudah tak terlihat dari pandangan sang ibu.



*Maafkan Dimas Buu, Dimas sudah tau seberapa berat penyakit Dimas. Dan biarkan Dimas melalui hari-hari Dimas, tenang bersama keluarga Dimas tanpa air mata dari istri Dimas*.



🌷🌷🌷


__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2