Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Healty World Hospital


__ADS_3

●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah Lyra❤❤


Lanjuutt yaa👋☺..


🌷🌷🌷


🌻HEALTY WORLD HOSPITAL


🌻Masih POV Dimass ...


Pukul 11.00 ketika TAXI yang membawa kami dari hotel menuju Rumah Sakit menepi. Terpampang jelas dimuka papan nama besar bertuliskan, HEALTY WORLD HOSPITAL. Menandakan kami telah sampai ke tempat yang menjadi tujuan kami.


Aldo dengan cekatan segera mengambil kursi roda di tepi dan mendudukkanku disana. Tak lama ayah dan Aldo menuju Ruang Information untuk menanyakan ruang pendaftaran berada serta mempertanyakan bagaimana sistem penanganan pasien rujukan di Rumah Sakit ini.


Ibu terus disisiku hingga seketika perutnya terasa mulas, ibupun berbisik bahwa ia hendak ke toilet dan memintaku tetap di muka rumah sakit hingga ia kembali, akupun mengangguk mengiyakan.


Beberapa waktu berlalu, ayah, Aldo maupun ibu belum juga tampak. Pandangan mataku menatap sekeliling, bukan wajah orang-orang terdekatku yang kutemui. Sebaliknya pandanganku seketika terpana pada seorang wanita yang juga sedang duduk di kursi roda sepertiku, tampak beberapa bocah kecil sedang bercanda di sekitarnya. Dan roda kursi yang diduduki sang wanita sudah disudut namun sang wanita tak menyadarinya. Seketika kehawatiranku terjadi, bocah disekitar yang sedang bercanda tak sengaja menyenggol kursi roda sang wanita hingga kursi roda itu meluncur bebas menuruni jalan beraspal khusus pasien dan ambulance yang tidak bisa menaiki undakan tangga di depan gedung rumah sakit.


Jiwa sosialku bergemuruh, segera kubangkit dari dudukku dan berlari dengan sedikit tenaga yang kupunya. Terus kutahan kursi roda yang telah berada dihadapanku kini agar tidak semakin meluncur ke bawah, sedang sebelah tanganku menyentuh dada, menahan sakit dan sesakku.


Kukutuki diriku saat ini, bahkan untuk menolong orang lainpun ragaku sangat lemah. Lelaki apa aku? Bahkan aku memiliki 3 buah hati, juga seorang istri yang tentunya harus kujaga dan harus selalu siap kulindungi. Aku harus bertahan, aku harus sembuh dan aku harus kembali ketengah orang-orang yang kucintai. Otakku terus berputar dengan fikirku hingga tak sadar lumayan lama aku telah menahan kursi roda dengan wanita yang masih tampak ketakutan terpancar di wajahnya.


Tak lama sepasang lelaki dan wanita dengan perut buncitnya tampak berlari menuju tempat kami berada, sepertinya mereka kerabat dari wanita dikursi roda ini, fikirku.


"Kakak Sonia, kakak Sonia! Kakak nggak apa-apa?" tanya sang wanita dengan kehawatiran yang teramat.


Wanita dikursi roda tampak mengangguk walaupun terlihat jelas ketakutan diwajahnya.


"Yola, pelan sikit! Tak payah lari-lari macam tu," omel sang pria mendekati kedua wanita dihadapanku.


Sepertinya pria itu adalah suami wanita yang tengah berbaan dua tersebut, ia mengomel lantaran panik melihat sang istri yang dipanggilnya Yola terus berlari dalam kondisi hamil besarnya.


Sang wanita tiba-tiba tertegun menatapku,


"Abang, lihat!" ujarnya.


"Astaghfirulloh!" sang pria memekik melihatku yang tengah menyentuh dadaku seraya bersusah payah mengatur nafasku.


Sang pria seketika membantuku berdiri dan memapahku.


"Mari, Bang! Sini saye tolong!" ujarnya.


"Yola tolong jagakan Sonia, sepanjang makcik belum datang! Abang bawakan abang ni dahulu ke atas." Dan sepasang suami istri itu tampak berbincang dengan bahasa Melayu yang masih bisa kupahami karena kami memang serumpun dengan perbedaan yang tidak begitu banyak menurutku.


Dengan dibantu seorang bapak yang sebelumnya juga melihatku duduk di kursi roda, lelaki tadi terus memapahku hingga ke kursi rodaku kembali.


"Abang ... Abang patient juge ke kat sini?" tanya Ilham panik. "Tunggu, tunggu sekejap. Saye cari juru rawat dahulu!" Sang pria bernama Ilham tersebut segera mendorong kursi roda ku ke IGD, yang di Malaysia disebut dengan Jabatan Kecemasan dan Trauma setelah beberapa saat sebelumnya menangkapku mengangguk mengiyakan atas status pasienku.


Sang wanita berbadan 2 tak lama masuk ke IGD mencari suaminya yang tengah menolongku. Bersamaan dengannya, ayah, ibu beserta Aldo tampak masuk setelah mendengar kericuhan yang terjadi diluar dan berhubungan dengan pria diatas kursi roda yang mereka langsung berfikir itu adalah aku.


"Dimasss ...," panggil ibu kini kearahku yang terbaring di ruang Emergency Departement dan sedang ditangani oleh dokter dan dua orang perawat.


"Maaf ibu meninggalkanmu tadi, apa yang terjadi denganmu Nak?" ucap ibu terlihat panik saat ini.

__ADS_1


"Oh, maaf Makcik, ini semua kerana kesalahan kami yang lalai menjaga saudara kami. Tadi kursi roda saudari kami jatuh dan berjalan sendiri meluncur kat bawah, anak makcik tolongkan dia. Tetapi kami tak sangke kalau malah abang ini akan sakit macam ni," tutur sang pria merasa bersalah pada ibu.


Ibu tampak terdiam, terlihat ia menahan marahnya sebab kecerobohan pasangan tersebut menjaga saudaranya hampir saja memperburuk kondisiku. Namun setelah berfikir beberapa saat, ibu memilih memaafkan dan tak ingin memperpanjang. Sebab keadaanku yang lebih utama, terlebih melihat sang wanita juga tengah berbadan 2.


"Ibu orang Indonesia?" sang wanita tampak mengajak ibu berbincang. Ibupun seketika heran dengan terkaan sang wanita yang langsung tepat tersebut.


"Saya juga asli Indonesia, Bu!" ujar sang wanita itu kembali.


"Nama saya Yolanda, perkenalkan ini suami saya, Bang Ilham. Maaf beribu maaf, kami benar-benar tak menyangka akan ada kejadian seperti ini hari ini. Kami juga ke sini ingin membawa kakak berobat."


Ibu menyambut tangan sang wanita bernama Yola tersebut sebagai salam perkenalan darinya. Ibu terlihat senang bertemu sesama orang Indonesia di negri orang tersebut, merekapun tampak bertukar kartu nama setelahnya.




"Adakah benar anda Tuan Arya? keluarga pesakit bagi pihak Encik Dimas?" ( Apakah benar anda bapak Arya? keluarga pasien atas nama bapak Dimas ) Seorang Pria berusia sekitar 45 tahun berseragam dokter tampak menghampiri Ayah dan Ibu.


"Iya benar. Anda Dr. Abraham Yusuf kah?" ujar Ayah menjawab dengan bahasa Indonesia.


Beberapa saat sebelumnya memang ibu menyuruh Aldo menghubungi Dr. Yusuf dan mengabarkan kedatangan mereka. Setelah prosedur pendaftaran selesai dilakukan.


"Betul. Dimanakah Encik Dimas sekarang?"


Seketika ibu membawa sang dokter bertemuku yang tengah berbaring kini di IGD.


Dr. Yusuf seketika memeriksa kondisiku, menanyakan keluhan/gejala dan riwayat penyakit jantung dalam keluarga kami. Tampak Dr. Yusuf kemudian membuat form pengantar untukku melakukan tes darah, Tes X-Ray, Tes Elektrokardiogram (EKG), Tes angiografi koroner, Tes CT Scan, dan MRI Scan.





Dengan seksama Dr. Yusuf tampak mencermati lembar demi lembar hasil pengecekanku. Memastikan diagnosis di RS sebelumnya adalah tujuan diadakan pengecekan ini kembali. Dan ternyata, setelah beberapa saat terdiam Dr. Yusuf tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bagaimana Dok?" tanya ibu tak sabar mendengar respon sang dokter.


"Oke betul ternyata ada kerosakan pada salah satu katub jantung Encik Dimas, sehingga tidak dapat mengalirkan darah dengan sempurna, terdapat juga penyempitan saluran darah kerana timbunan plak, sehingga harus kita lakukan pemasangan ring pula disaluran darah tersebut,"


"Kapan operasi akan dilakukan Dok?"


"Secepat mungkin. Esok jam 8 pagi operasi akan dijalankan. Pastikan 6 jam sebelum operasi, Dimas mesti berpuasa terlebih dahulu. Adakah anda mempunyai apa-apa soalan?" ujar dokter kembali seraya menatap mata kami satu persatu.


"Cukup Dok. Kami telah jelas," ucap Ayah.


Seketika seorang perawat mendorong kursi rodaku dan membawa kami ke ruang Inap. Sebab kondisiku akan mulai dipantau saat ini. Sebuah selang infus dipasang melalui pergelangan tanganku, sebagai cairan nutrisi untukku. Akupun mengajak berbincang Aldo yang nanti malam sudah kembali ke Bandung. Berbagai hal kusampaikan padanya, dari mulai masalah bisnis hingga masalah keluargaku. Kupercayakan Aldo sebagai mata dan tanganku saat ini. Kuminta Aldo pula untuk berada di tengah keluargaku, menjaga anggota keluargaku juga mengawasi Shifaa adikku.


Hingga seketika ponselku berdering, Aldopun segera mengambilkan ponselku di nacash dan berlalu keluar sebab dilihatnya yang menelefonku adalah istriku, tak ingin masuk dalam pembicaraan kami.



__ADS_1


"Assalamu'alaikum ...." terdengar lirih suara Lyraku dibalik telefon.


"Wa'alaikumussalamm,"


"Mass, kau sudah ke rumah sakit?" tanya Lyra-ku lirih.


"Sudah, in Syaa Alloh besok pagi Mas akan dioperasi," ujarku.


"Semoga semua lancaar Maasss,"


"Iya Sayang ... Aamiin. Lyra sedang apa?" tanyaku perlahan.


"Aku sedang bermain bersama si kembar, Paa ... Pa ... Paa ... Ta ... Ta ... Taa ... kau dengar barusan suara putra-putrimu Mass?"


"Iya,"


"Mereka juga sedang mendo'akanmu Mass,"


"Iya, terima kasih sayang sayang Ayahhh, suara Mayra tak terdengar?"


"Mayra baru saja tertidur. Sejak pagi ia terus menanyakanmu, Apa Ayah sedang bertemu Pak Dokter, begitu ujarnya. Putrimu satu itu sangat menggemaskan. Ia terus saja berceloteh,"


"Sayang sekali padahal Mas ingin mendengar suara Mayra. Oya Ly-ra ...."


"Iya Mass,"


"Selama Mas tidak ada, apa masalah untukmu jika Aldo tinggal di rumah kita? Ia sudah seperti keluarga. Dan Mas akan tenang ada sosoknya di rumah."


"Sebenarnya aku agak risih ada orang lain di rumah kita. Tapi jika itu menenangkanmu baiklah. Toh kamar tamu di bawah, sedang kamarku dan Shifaa di atas."


"Itu juga pemikiranku. Sayangg ... jika esok kau sudah sulit menghubungi Mas berarti Mas sudah ditangani, sertakan saja Mas dalam do'a Lyra."


"Tentu Mas. Do'a terbaik untukmu dan seluruh keluarga kita. Oh ya, dimana ibu dan Ayah??"


"Mereka sedang ke hotel mengambil beberapa kebutuhanku."


"Sudah dulu Sayang, Mas sepertinya sangat mengantuk."


"Baik Mas. Maasss, aku sangat mencintaimu, sangatt ... Aku akan selalu menunggumu,"


"Maspun sangat mencintai Lyra, Assalamu'alaikumm."


"Mass ... tunggu Mass ... Mass ....


Tut ... Tutt ... Tuutt ....


Ahhh sudah ditutup, wa'alaikumsalam Mass, jawab dalam batinku.


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤


🌻Bab ini berisi Colab dengan Rekan Thor di Noveltoon Writing Academy yang super keren dengan Karyanya, kisah seorang gadis bernama Yola yang dijodohkan senjak dini oleh kedua orang tuanya, berlatar di negri jiran Malaysia, berisi banyak konflik dan misteri yang pasti selalu mengaduk-aduk rasa pembacanya. Monggo diintip, ada pertemuan dengan Mas Dimas di Rumah Sakit di malaysia juga lhoo ....

__ADS_1



__ADS_2