Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Menghabiskan Waktu Dirumah


__ADS_3

Dengan lahap aku dan mbak Susi sama-sama telah menghabiskan nasi uduk yang telah kami beli.


"Kepasar yuk Ly!!" ajak mbak Susi padaku.


"Mbak mau masak?" Karena memang tak biasa di hari minggu Mbak Susi masak, biasanya hari minggu ia habiskan untuk jalan-jalan bersama mas Bayu.


"Iya, mbak mau masak spesial untuk yang lagi patah hati," ujarnya menggodaku.


"Ah mbak Susi ...," lirihku.


"Mbak bercanda, hari ini mbak lagi mau menghabiskan waktu di rumah. Kita masak dan bersih-bersih ya," ujarnya penuh semangat.


Mbak ingin menyibukkanmu Ly, mbak gak mau kamu mengingat ingat sesuatu yang membuat hatimu sakit kembali, batin mbak Susi.


Setelah mengambil dompetnya, kami berdua bergegas ke pasar warung bongkok. Jaraknya sekitar 200 meter dari tempat tinggal kami.


Diperjalanan kami berpapasan dengan mas Rhino. "Pada mau kemana nih gadis-gadis?" ujar mas Rhino dari arah berlawanan menggoda kami.


"Mau kepasar," Jawab Mbak Susi.


Melihat mas Rhino tiba-tiba aku jadi teringat mas Dimasku. Mas Dimas pernah berkata bahwa ia cemburu pada Mas Rhino sebab mas Rhino tinggal berdekatan denganku dan bisa melihatku kapan saja. Ahhh ... Mas Dimas, mengapa sosokmu tak bisa hilang dari otakku.


"Heiiii ... pagi-pagi udah bengong aja," ujar Mas Rhino menyadarkan lamunanku.


"Mana Dimas, suruh kesini? Bilang aku mau ngobrol. Asik tuh cowokmu diajak ngobrol nyambung," ujar Mas Rhino lagi.


Mbak Susi yang melihatnya seketika mencubit lengan mas Rhino.


"Apa sih kamu Sus, sakit tau."


"Kita duluan ya mas, keburu siang nanti panas." Mbak Susi segera menarikku menjauh dari Mas Rhino.


"Hei, ni anak-anak diajak ngobrol malah buru-buru pergi," Mas Rhino tampak heran dan kembali melangkahkan kaki menuju rumahnya.


"Eh Ly, kamu tau gak artis ini ...." Mbak Susi kembali bercerita panjang lebar mengenai gosip artis, makanan dan apapun. Sepertinya mulutnya gak mengenal letih mengajakku terus berbincang sepanjang perjalanan, tapi kutahu ia melakukannya agar otakku tak sempat memikirkan mas Dimas. Oh mbakku ....


Akhirnya sampailah kami di pasar. Mbak Susi dengan cepat membeli smua yang ia butuhkan.


Saat dalam perjalanan pulang, mataku melihat pedagang kue pancong yang terlihat sangat menggiurkan.


"Mbak ... beli itu yuk!" tunjukku pada pedagang pancong disebrang jalan yang kami lewati.


"Pancong?? ayo, mbak juga suka. Ngeliat aja kamu li?" ujar mbak Susi sambil tersenyum penuh semangat.


"Pak, pancong 2 mika yaa," ucap mba Susi setelah pedagang pancong berada tepat di depan kami.


"Iya, di tunggu ya mbak!" jawab sang pedagang.


Pedagang pancong tampak sedang membuat pesanan kami, mbak Susi yang duduk di sebelahku sedang asik menekan tombol ponsel di tangannya.


Aku menatap sekitar sambil menunggu pesanan kami matang, tiba-tiba pandangan mataku terhenti ketika melihat gerobak nasi goreng tak jauh dari tempat kami duduk. d


Ditempat itu aku pernah melihat mas dimas makan nasi goreng dengan lahapnya. Oh ... Lyra kenapa kau tiba-tiba mengingat mas Dimas lagi, batinku.


"Ayo Ly pulang!! Nih pancongnya udah jadi." Suara mbak Susi menyadarkanku.


"Iya mbak," ujarku


●●●●

__ADS_1


Tanpa menunggu lama sesampainya dirumah mbak Susi segera mengolah bahan yang ia beli, aku membantu membersihkan sayuran, mengupasnya dan menyiapkan bumbu yang digunakan.


Tugasku selesai, tinggal mbak Susi yang menyelesaikan bagian akhir merubah bahan mentah menjadi hidangan yang enak kami makan.


Kulanjutkan aktifitasku membersihkan rumah. Entah sudah berapa lama kami tak membersihkan debu di rumah ini. Kubersihkan tiap bagian rumah dari debu yang bahkan membuat lalat yang hinggapun bisa terpeleset. Tidak ada sisi bagian yang terlewat, smua telah bersih. Menyapu, mengepel, mengelap telah selesai.


Kulihat Jam Dinding di ruang TV


Pukul 11.00 saat ini.


Sudah dipenuhi keringat tubuhku, kuambil pakaian ganti dan segera menuju kamar mandi.


"Taraa, sudah matang ...." Suara mbak Susi penuh semangat membawa masakannya kearahku yang saat itu tengah menonton TV selepas mandi tadi.


"Hmm ... harumnya," ujarku.


"Ayo makan!!"


Kamipun bersiap dengan piring kami masing-masing.


"Enak banget mbak Soto nya ... aku jadi ingat masakan ibu dirumah," ujarku.


"Yauda kalau enak, kamu makan yang banyak ya!!"


"Siipppp," jawabku.


🌻Tak lama adzan Zuhur berkumandang.


Aku segera menjalankan ibadahku setelah makan sedang mbak Susi sedang mandi saat ini.


Kucek ponsel yang sejak semalam belum kulihat jejaknya.


Kududukkan diriku disamping mbak Susi yang tampak sedang memasang masker di wajahnya.


"Mbak, kalau kau mau pergi silahkan," ujarku melihat mbakku yang biasanya senang jalan-jalan tetapi hari ini malah menyibukkan diri dirumah.


"Aku gapapa ko sendiri," tambahku.


"Eh, ikut main aja yuk kerumah mas Bayu!!" ajak mbak Susi padaku.


"Ah, nggak ah mbak. Mbak aja sana, aku dirumah aja," ujarku.


"Benar kamu gpp dirumah sendiri?" tanyanya serius.


"Gpp mbak, apa yang perlu di hawatirkan? Aku udah besar mbak, serapuhnya aku otakku masih berfikir jernih. Kalau mbak begini aku yang malah risih, aku gpp," ujarku sungguh-sungguh.


"Oke nanti jam 5 mbak keluar ya, tapi janji Berusaha lupakan! Jangan terus diingat, lekas move on okeee!!!"


"Iya mbakku, makasih banyak atas perhatianmu."


"Adikku yang manis." Iya merangkul pundakku dan mengelusnya.


●●●●


🌻Jam 19.00 saat ini.


Mbak Susi masih belum kembali. Aku mulai bosan, ingin tidur tapi masih terlalu sore.


Tiba-tiba kufikir tentang hari esok di PT.

__ADS_1


Bagaimana jika esok aku bertemu mas Dimas? Apa yang akan kulakukan? Bisakah aku berpura tak mengenalnya? Bagaimanapun kami 1 bagian, ia adalah atasanku. Kami akan sering bertemu, bagaimana aku akan bersikap?


Otakku mendadak menjadi pusing. Oh ... biarkanlah yang akan terjadi esok, fikirku lagi.


Karna merasa bosan kubuka kembali ponselku. Coba ku lihat 1 persatu pesan didalamnya.


Firgie ... hampir 20 pesan sejak kemarin sore, isinya rata-rata menanyakan kabar, aktifitasku dan bentuk perhatian lainnya.


Kak Fida ... ada 5 pesan.


Menanyakan aku kemana dengan Firgie setelah acara kemarin, bagaimana kabarku dan kelanjutan komunikasiku dengan Firgie.


Tapi aku masih enggan membalasnya ...


Esok aku akan menceritakan padamu kak Fid.


Dan Kau Gie, terima kasih atas perhatianmu, tapi untuk saat ini aku sedang ingin sendiri, batinku..


Tak lama berselang ponselku bergetar.


Panggilan masuk, Firgie ... namanya tertera disana. Diangkat gak ya?? Ia berkali-kali mencoba menghubungi lagi walau sudah kuabaikan. Akhirnya aku putuskan untuk mengangkatnya ...


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam, akhirnya aku bisa menghubungimu Ly." Terdengar suara dari ujung sana.


"Ada apa Gie?"


"Kau baik-baik saja kah Ly?" tanyanya.


"Iya, aku baik," jawabku.


"Kau tak membalas pesanku. Apa pesanku begitu mengganggumu?"


"Maaf, aku hanya sedang sibuk seharian ini Gie."


"Besok pulang kerja ada rencana kemana? jalan yuk!!"


"Maaf Gie, sepertinya aku sedang ingin dirumah saja."


"Aku bisa main ketempatmu kah Ly? itupun jika kau mengijinkan," tanyanya lagi.


"Untuk waktu dekat ini aku sedang ingin sendiri Gie, kau tak marah kan?" jawabku.


"Hmm ... begitu ya Ly, okelah."


"Lyra, kau bisa menghubungiku setiap saat jika kau butuh teman bicara," ujarnya lagi.


"Thanks Gie."


"Oke jaga dirimu baik-baik Ly, senang bisa mendengar suaramu. Selamat istirahat ya Ly, Assalamu'alaikum," ucap terakhirnya sebelum mengakhiri komunikasi kami.


"Wa'alaikumussalam," jawabku.


Maaf Gie ... aku mengacuhkan perhatianmu.


Tapi memang aku sedang butuh sendiri saat ini. Tak ingin juga dekat denganmu hawatir semua hanya sebagai pelarianku saja.


●●●●

__ADS_1


🌻Happy Reading❤❤


__ADS_2