
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Hembusan angin malam semakin merasuk menghujam diri, tampak bulan dan bintang saling berpandang tanpa kata. Hanya sorot lampu jalan menjadi saksi kesyahduan keduanya. Entah bulan yang berterima kasih pada bintang, atau bintang yang selalu bahagia akan kehangatan yang diberikan sang bulan. Sesekali bulan bersembunyi, sebab awan mulai berbisik merayunya. Namun bintang tak bergeming, ia selalu yakin bahwa bulan akan datang dan mereka lagi-lagi akan berpandang.
●●●●
"Kau kedinginan Sayang?" sebuah suara membuyarkan keheningan saat ini.
"Hahh, apa Mas?" ujarku menjawab seadanya.
"Dingin. Lyra kedinginan gak?" ujar pria di depanku kini kembali.
"Maaf gak jelas suaranya Mas," teriakku.
"Dingin Sayang. Dingin. Apa kau kedinginan?"
Suara dengan volume tinggi yang beriringan dengan hembusan angin jadi terkesan lirih kudengar, beberapa kali kudengar seksama baru akhirnya aku memahami setiap kata yang terucap dari bibir suamiku kini.
"Ohhh, iya Mas. Maaf, iya dingin."
Tak lama kemudian tangan mas Dimas menarik kedua tanganku ke pinggangnya, yang sebelumnya hanya berpegangan di sisi sweaternya.
"Mas juga kedinginan," ujarnya kemudian.
~~
10 Menit berlalu, kami melewati Jalan Braga saat ini. Baik siang atau malam hari, kawasan sepanjang Jalan Braga selalu terlihat cantik. Lampu jalan yang remang-remang berpadu dengan lampu dari banyak toko, menyuguhkan pemandangan yang romantis. Di tengah udara yang dingin sekadar nongkrong atau jalan-jalan santai di kawasan ini, romantisnya seperti berada di Eropa. Bedanya di sini hanya tidak adanya salju.
Mas Dimas masih melajukan matic yang kami naiki. Semakin malam ternyata udara semakin menyayat permukaan kulit kami. Dan Mas Dimas kembali menarik tanganku lebih erat hingga tak berjarak, terasa sangat nyaman dan hangat saat sweater mas dimas menempel ke tubuhku. Kusandarkan kini kepalaku di bahu belakang suamiku.
"Lyra lapar gak?Kita cari makan dulu yaa!!!" tanya mas Dimas dengan laju matic yang merayap lambat saat ini.
"Boleh Mas," ujarku tak ingin menolak ajakan suamiku.
5 menit kemudian mas Dimas menepikan laju motor kami di sebuah tempat makan yang sangat indah. Konsep paduan eropa bergaya klasik dengan suasana pedesaan di The Stone Cafe Bandung ini benar-benar membuat kami rileks, damai dan sejuk.
Batu-batu kali menjadi ornamen yang sangat mendominasi Cafe di Dago Bandung ini. Dengan gemercik air yang jatuh di atas bebatuan, membuat kami seakan betah berlama disini.
Stone Cafe Bandung memeliki sebuah gazebo berukuran besar serta bangunan utama yang berlantai tiga (3) plus ada balkonnya. Tidak cukup itu, untuk lebih memberikan suasana yang lebih tenang dan lebih private, the stone cafe juga dilengkapi dengan sejumlah gazebo-gazebo kecil berupa saung-saung di area outdoor yang dilengkapi dengan bantal-bantal kecil, yang akan semakin membenamkan anda ke dalam suasana santai makan sambil menikmati pemandangan kota bandung.
Kami memilih tempat di sebuah gazebo saat ini.
"Apa Lyra suka tempat yang Mas pilih?"
"Sangat suka Mas, indah dan nyaman sekali," ujarku dengan mata yang tak beralih dari tatapan suamiku.
Pelayanpun datang membawa hidangan pesanan kami setelah sebelumnya kami memilih menu sesuai selera kami.
2 porsi grilled chicken steak dipadu dengan strowberry smoothie dan Ginger milk tea menjadi menu makan malam kami di tempat yang sangat nyaman ini.
__ADS_1
Dan kamipun memakan makanan kami kini, sesekali kami bertatap dan tersenyum. Menyantap makanan dalam diam menjadi pilihan kami saat ini. Hingga beberapa saat kemudian santapan dimeja kami telah habis.
"Suatu saat kita harus membawa Mayra dan si kembar kesini. Mayra pasti suka dengan tempat ini dan sikembar dengan gajebo seluas ini mereka pasti akan leluasa bermain," ujarku.
"Benar, tempat yang nyaman keluarga besar Cikarang dan Tangerang kapan-kapan juga boleh kita ajak kesini," ucap mas Dimas seraya menyeruput Ginger milk tea-nya.
"Jam berapa ini Mas? aku hawatir si kembar rewel."
"23.05 Sayang ...."
"Sudah 1 jam kita meninggalkan rumah. Kita pulang sekarang Mas, nanti lain kali kita menikmati malam seperti ini lagi."
"Tentu, mas harap kita bisa lebih sering melewatkan waktu bersama," ujar mas Dimas seketika mengecup jemariku.
Akupun mengangguk setelahnya.
~~
"Jangan lupa pegangan seperti tadi yaa..!!" ucap mas Dimas setelah memakaikan helm kekepalaku.
Kujawab ucapan Mas Dimas dengan senyum dan anggukan kecilku.
Dan setelahnya kami menikmati pancaran lampu jalan juga pancaran berjejer lampu pertokoan yang mulai meremang. Udara dingin kembali menjadi sahabat malam kali. Berkali-kali kurekatkan lingkaran tanganku, mencari kehangatan disana. Mas Dimaspun terus menggenggam jemariku sepanjang jalan pulang kami.
Pukul 23:20 saat gerbang Sentra Duta Residence tampak di hadapan kami, beberapa orang satpam mengangguk santun melihat kedatangan kami yang tak asing untuk mereka. Ya, karena berkali-kali mas Dimas memang sering meminta menjaga khusus rumah kami saat ia sedang merasa membutuhkannya.
Dan Mang diman seketika membuka gerbang rumah kami setelah menangkap matic pemilik tuannya telah sampai.
"Rumah aman Mang?" tanya mas Dimas seketika sambil menyerahkan kunci untuk memarkirkan matic ke bagasi.
"Alhamdulilah aman Pak."
Di ruang TV Bik Lasmi dan Mbak Dinar sedang tertidur dengan pulasnya, kamipun membangunkan mereka untuk pindah ke kamar mereka masing-mading. Dan di dalam kamar adik kami Shifapun terlihat sudah terlelap, kamipun membangunkannya pula.
"Dek, bangun Dekk..!!!"
"Hmm ... Mbak sudah pulang?"
"Sudah," jawabku.
Kulangkahkan kaki ke box bayi sikembar saat ini dan alhamdulillah mereka masih tertidur dengan tenangnya. Mas Dimas yang baru saja mengecek Mayra dikamarnya terlihat tersenyum menghampiriku sebab semuanya berada dalam kondisi aman.
"Dah ayo pindah ke kamarmu," ucap mas Dimas sambil menggiring adiknya yang tampak belum sadar sepenuhnya.
"Gimana Mas tadi happy kan??"
"Hehh nih anak ngantuk-ngantuk nakal ya ngomongnya," ucap mas Dimas sambil spontan menarik hidung adiknya.
"Sakit Mass,"
Mas Dimaspun tampak membuka pintu kamar Shifaa yang tak jauh dari kamar kami di lantai 2 juga.
"Dah bobo manis yaa, jangan lupa berdo'a biar mimpi ketemu artis korea."
Shifaa mengangguk perlahan dan tak lama ia sudah terlelap kembali.
●●●●
__ADS_1
🌻PUKUL 00:10
"Terima kasih malam ini Sayang," bisik mas Dimas di telingaku.
"Sudah malam tidurlah Mas.!!!"
"Mas tidak bisa tidur,"
"Lyraa ...,"
"Hmm ...."
"Lyra sayang Mas kan?"
Akupun mengangguk.
"Lyra ...," ujar mas Dimas kembali sambil terus menyapu lenganku.
"Hmm ..," jawab dengan setengah kesadaranku.
Dan mas Dimas mulai mengecup keningku.
Kugerakkan wajahku menghindari kecupan mas Dimas, "Geli Mas ...," lirihku.
"Kita lakukan yuk..!!!"
"Mass ... "
"Kata pak Ustad tidak boleh menolak keinginan suami,"
Hahh, padahal aku sangat mengantuk, tapi mas bawa-bawa nama ustad membuatku seketika memaksa membuka mataku. Dan dihadapanku wajah suamiku sudah tampak mengiba disana.
"Mas ingin?"
Dan kutatap suamiku tampak mengangguk.
Akupun turut mengangguk mengiyakan.
•
•
•
Dan hampir penyatuan ini mencapai puncak ...
Oek ... Oekk ... Oekkk ...
Bukan 1 melainkan 2 bayi kami menangis bersamaan.
"Hahhh," terdengar keluh di bibir suamiku, setelah memakai boxernya seketika ia mengambil Baby Diyara yang menangis lebih kencang disana.
"Chayang gak mau ayah deket-deket Bunda yaa??" ujar Mas Dimas seraya meletakkan Diyara kepelukanku.
Iapun mengambil Dirga setelahnya. Mengayun-ayun Dirga agar ia sabar mengantri Mik setelah adiknya.
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy Reading❤❤