Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Keputusan Dimas


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Mungkinkah Dimas semalam terus memikirkan ini? Bagaimana masalalu Lyra harus hadir disaat seperti ini?


"Sayang, kau tidak curiga dengan istrimu bukan?"


"Tidak Bu, hanya saja lelaki itu terlalu sempurna untuk Lyra. Sedangkan Dimas ....


"Diam jangan bicara lagi..!!! Kau anak ibu yang hebat, harus kau yang menjaga istri beserta anak-anakmu sendiri," ucap Ibu seketika memahami arah pembicaraan putranya.


"Sekarang kau harus makan..!! Jangan banyak memikirkan apapun..!!! Sadarkah kau karena fikiranmu kau hampir membahayakan nyawamu sendiri?? Jangan bodoh Nak, kau masih bertahan dan harus tetap bertahan hingga akhir bersama istrimu. Paham!!!"


Dimaspun mengangguk, membenarkan setiap ucapan ibunya. Walau air mata tetap memaksa keluar dari sudut matanya.


"Kau berkeringat? Apa ini? Berhenti memperburuk dirimu. Jangan menangis, hanya fikirkan Lyra dan putra-putrimu. Bagaimana mereka telah siap menyambut kesembuhanmu dengan senyum mereka," ibu kembali berujar mentransfer semangat untuk sang putra.


"Sekarang buka mulutmu!! Makan, minum obat, dan kembalilah beristirahat," tambah ibu.


"Buu ... Dimas ingin Lyra yang menyuapi Dimas."


"Hahh, anak nakal. Tangan ibumu sudah tidak berharga, setelah ada tangan istrimu. Baiklah, ibu akan menyuruh Lyra masuk. Ingat kalian harus saling menyemangati, jangan menangis di depan istrimu. Atau kau akan membuat istrimu menangis pula!!!" tegas ibu dengan suara lirih.


Ibupun seketika mengecup kening sang putra dan berlalu setelahnya.



🌻***Lyra*** ...



Setelah dipaksa ayah, akhirnya aku memakan sarapanku. ASI dalam *Cooler Bag* telah dibawa Mang Diman untuk diberikan pada bayi kembarku. Dan kini kulihat ibu keluar dari kamar mas Dimas. Ibupun seketika menghampiriku ...



"Masuklah Lyra, Dimas ingin makan dari tanganmu," ucap ibu.



"Baik Bu," lirihku.



Kulangkahkan kaki menuju suamiku menungguku, dengan berbagai fikirku, *apakah mas Dimas masih marah padaku?? Ahh entahlah tapi aku harus memastikan kembali padanya kalau aku hanya menginginkannya, tidak Firgie atau lelaki yang lain*.



Kutatap dari kejauhan, sepasang mata yang sudah menangkap bayangku, semakin dekat kami, semakin berdegub jantungku. Seakan rasa dulu kembali hadir. Harap-harap cemas ketika dulu mas Dimas selalu mengamati kerjaku di line dari balik punggungku. Dan kini harap-harap cemas jika saja lelakiku ini akan menyangsikan kesetiaanku. Tak kuduga sebuah senyum indah menghiasi wajah suamiku menyambut kedatanganku. Diangkatnya tangannya berusaha meraihku, dan akupun seketika menyambut uluran tangannya, menggenggamnya erat dan mengecupnya, tanda penghormatanku pada suamiku. Senyum indah pula kusunggingkan padanya kini.



"Sayang ...," sapa Mas Dimas seraya terus mengikuti arah wajahku berada.



Kukecup setiap bagian wajahnya seperti ia sering menggangguku dengan bulu halus di wajahnya. Bibirku tersenyum tapi entah mengapa air mataku memaksa menetes, namun segera kuseka agar tak tertangkap mata mas Dimasku.



"Lyra sayang Mas," bisikku di telinga mas Dimas, entah mengapa aku ingin mengucapkan kata sayangku pada pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya di hadapanku. Kata yang biasanya sangat malu kuucapkan.



"Katakan lagi ...," ucap mas Dimas seraya terus mengeratkan genggaman tangannya.

__ADS_1



"Lyra sayang mas Dimas, Sangat Sayang ... Lyra mau hanya mas Dimas bukan yang lain," lirihku.



"Terima kasih Sayang," lirih mas Dimas menanggapi ucapanku.



Entah mengapa aku terhanyut dalam luapan cinta yang harusnya sering kuucapkan tanpa menunggu mas sakit seperti ini. Mataku kembali basah, dan mas Dimas yang menyadarinya melepaskan genggaman tangannya dan berusaha menyeka air mataku.



Entah mengapa Mas Dimas lebih kuat saat ini. Ia tak menangis, ia bahkan terus tersenyum menatapku.



"Sayang ...,"



"Hmmm??"



"Kapan menyuapi Mas? Mas sudah lapar," lirihnya mengalihkan kesedihanku.



Akupun seketika tersenyum dan mulai menyuapi suamiku. Mas Dimas seperti biasa tak menghabiskan makannya, namun ia sangat lahap menyantap buah yang disajikan, mas Dimaspun meminum obat setelahnya.



Beberapa saat kemudian, perawat memintaku keluar ruangan. Dengan berat hati, akupun meninggalkan ranjang suamiku setelah sebelumnya kembali kuucapkan kata cintaku padanya.



"Sayang, kau pulanglah dulu bersama mang Diman, biar ibu dan ayah yang menunggu Dimas disini. Bersihkan dirimu dan temani dulu putra-putrimu. Kau seorang ibu, kau memiliki kewajiban terhadap mereka. Nanti siangan kau bisa kemari lagi, kau mengerti kan??" ucap ibu kutanggapi anggukanku. Ibu benar aku juga merindukan Mayra dan si kembar.


"Bu, segera kabari jika mas Dimas mencariku dan membutuhkan sesuatu," lirihku tak ingin sebetulnya meninggalkan suamiku.


"Pasti Sayang."


Dan akupun turun ke lantai bawah saat ini. Segera naik ke mobil yang dikemudikan mang diman, kuresapi setiap hembusan angin hingga akhirnya kuterkantuk.


🌻Pukul 09:05 saat Jazz yang kunaiki menghentikan lajunya di pelataran rumahku.


Terdengar riuh dari dalam rumah, kedua bayi kembarku tengah menangis ternyata. Diyara tampak dalam pelukan Mbak Dinar dan Dirga sedang diberikan susu oleh Shifaa, namun entah mengapa Dirga seakan menolak susu yang diberinya melalui botol tersebut.


"Ibuuu ...."


Mbak Dinar dan Shifaa tampak merona melihat kehadiranku. Aku seketika sangat sedih, melihat kedua bayiku seakan terlantar mencari ibunya. Kuambil Diyara dan Dirga kepelukanku, kuhaturkan terima kasihku ada orang-orang sekitarku dan lekas kubawa kedua bayiku ke kamar.


"Mbak, apa mbak baik-baik saja??" Teriak Shifa mengejarku yang seketika membawa 2 bayiku dengan air mata yang tak mampu kubendung.


"Mbak baik, mbak ingin ber3 saja dengan anak-anak mbak. Kau beristirahatlah Shifaa," teriakku pula menghentikan langkah Shifaa yang terus mengejar dan hawatir akan kondisiku.





Kuletakkan kini kedua bayi kembarku ke atas ranjang.


"Sayang sayang Bunda," kuciumi wajah keduanya yang tampak telah berhenti menangis dan seketika mata beningnya berkedap-kedip seraya tangannya ingin meraih wajahku. Kubaringkan tubuhku disisi mereka setelahnya.

__ADS_1


Diyara mulai menangis kembali. Ia duduk dan menenggelamkan wajahnya kedadaku, mencari-cari penawar dahaganya. Akupun seketika mengeluarkan kantung ASIku. Dan tak menunggu lama ia seketika menyesap pucuk ASIku.


Setelah Diyara kupenuhi pula hak ASI Dirga. Hingga keduanya tampak terlelap..


"Anak-Anakku, kalian jangan rewel ya, doakan selalu Ayah segera pulih dan lekas berkumpul di tengah-tengah kita. Kalian merindukan ayah kalian bukan ...."


Kuciumi malaikat-malaikat kecilku. Hingga tak terasa air mata mulai menetes melihat sekeliling kamar tampak sepi tanpa kehadiran Mas Dimas, Mas Dimas biasanya sangat senang menggodaku di kamar ini.


Hahh, semangat Lyra ...


Segera kuangkat tubuhku dari pembaringan, kebersihkan tubuhku. Dan ku pump ASI ku setelahnya, mempersiapkan kebutuhan si kembar saat aku akan menunggu ayahnya nanti.




🌻***DAGO HOSPITAL GROUP***



Pancaran sinar mentari semakin menyilaukan, lagi-lagi dokter memanggil kedua pasangan paruh baya yang sedang menunggu sang putra untuk memastikan keputusan yang diambilnya. Kedua paruh baya itu tampak meminta waktu untuk berbincang sang putra terlebih dahulu.



Ayah dan ibu seketika menghampiri sang putra, dengan tenang dan sangat hati-hati sang ibu mulai berujar mengenai kondisi jantung yang diderita sang putra. Berkali-kali ia menyemangati dan meyakinkan putranya untuk bersedia dioperasi seperti dirinya dahulu. Dan untuk optimis akan pembedahan yang akan dijalaninya sebagai upaya penyembuhan untuknya. Setelah sekian lama tampak berfikir, Dimaspun mulai berucap akhirnya ...



"Bismillah. Buuu ... Dimas siap di operasi dengan segala konsekuensi tapi Dimas tidak ingin dioperasi disini ...."



"Maksudmu?"



"Dimas mau dioperasi diluar negri."



"Kenapa Nakk??" ibu tampak bingung dengan pemikiran sang putra.



"Dimas ingin saat operasi dan pasca operasi Lyra tidak melihat Dimas," ujar sang putra.



"Bukankah istrimu akan menjadi penyemangat untukmu Nak?" tutur ibu masih menelaah pemikiran sang putra.



"Lyra adalah penyemangat Dimas, tapi cukup di hati Dimas, Dimas tak ingin Lyra melihat smua yang Dimas alami, terlebih pasca operasi Dimas nanti. Seperti tatkala Diyara tempo hari, 2 bulan kami harus di rumah sakit, 2 bulan pula Dimas melihat Diyara kesakitan atas sayatannya. Setiap detik Dimas melihat keresahan Lyra, ketakutan, juga kesedihannya. Lalu bagaimana Lyra harus melihat Dimas seperti itu. Itupun jika tubuh Dimas menerima pembedahan dan perbaikan jantung Dimas. Jika tidak ... biar Dimas tenang dengan cerita-cerita kami. Dimas tidak ingin melihat Lyra bersedih diakhir hidup Dimas ...."



"Diamm ... jangan lanjutkan.!!!. Ok kita akan operasi ke luar negri. Tapi kau harus memastikan pada ibu, tetap dengan semangat akan kesembuhanmu Nak, dan kelak kau akan kembali kepada anak dan istrimu dengan kepulihanmu..!!!!"



"Ba-ik Buu ...."



🌷🌷🌷


__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2