
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻 POV FRISTA
Aku benci dengan hidupku ...
Dengan berat aku telah menyetujui operasi pengangkatan payudaraku,
Namun seperti harapan tak berujung,
Bahkan aku masih harus melalui serangkaian kemoterapi karna menurut orang-orang sok pintar itu sel kanker sudah menyebar ...
Ahh, mengapa semua terjadi padaku?
Hari ini kemotrapiku yang kedua dan seperti sebelumnya tubuhku akan sangat letih, mual dan lemah.
Aku benci menghadapi ini,
Terlebih tak ada support dari siapapun ...
Kau sungguh tak adil padaku Tuhan ...
Aku harus keluar dari ruang isolasi ini, segera sebelum suster datang dan menjemput untuk melakukan kemoterapi lagi ..
Aku harus keluar dari rumah sakit ini. Harus ...
•
•
Aku sudah dilantai bawah, hingga seorang suster mengenaliku..
"Ibu Frista, mau kemana??"
"Maaf saya tidak bisa mengikuti kemoterapi lagi sus, saya letih Sus ... Untuk apa saya hidup. Biarkan saya pergi Suss!!!"
"Tapi ibu tidak bisa pergi, kondisi Ibu masih sangat lemah. Yakinlah kemoterapi akan meredakan sakit Ibu,"
"Bohong kau Sus!! Bahkan setelahnya tubuhku akan semakin lemah. Dan rambut indahku pun mulai rontok. Izinkan saya pergi Sus!!"
"Semua karena Ibu Friss tidak makan dengan baik, jadi tubuh Ibu lemah,"
"Tolong biarkan Sus!! bahkan jika matipun tak akan ada yang bersedih atas kepergianku."
"Apa yang ibu bicarakan??"
Dan disaat itu, aku melihatnya ... wanita yang mengisi hati mas Dimasku, aku melihat Lyra. Ia terlihat bersama gadis kecil, itu pasti Mayra putriku dan seorang wanita paruh baya itu, bik Lasmi ... ternyata ia masih menjadi pelayan mas dimas setelah sekian lama.
Perut Lyra membuncit, ia mengandung anak mas Dimas,
Tidak ...
Hidup ini sungguh tak adil,
Aku benci padamu Lyra ...
Sangat benci ...
__ADS_1
Mengapa kalian bisa bertemu setelah sekian lama??
Mengapa Tuhan bermurah padamu sebaliknya tidak untukku??
Baik, aku sudah melihatmu ...
Tak akan kusiakan kesempatan yang Tuhan beri untuk menghancurkanmu ...
Kukeraskan suaraku ...
Kuberontakkan tubuhku, hingga 2 orang suster tampak memegangiku. Mereka seakan takut aku bertindak buruk seperti yang kulakukan sebelumnya. Ya, aku memang pernah ingin mengakhiri hidupku. Tapi setelah melihat wanita itu, tentu aku tak akan bertondak bodoh untuk diriku. Aku memiliki mimpi kembali, harapan baru ... untuk menghancurkan hidupnya. Ya itu penyemangatku kini.
Rencanaku berhasil ...
Lyra mendengar suaraku, iapun mulai mengenaliku ...
Kulihat ia berjalan mendekatiku kini,
Akan kubuat drama ini sesuai mimpiku,
Kutarik lengan suster sekuatku. Kuberlari kedapur umum, dan aku menemukan alat yang kubutuhkan, kutemukan sebuah pisau.
Kulihat beberapa suster masih mengejarku, dan aku melihatnya, Lyra juga mengikutiku. Akupun masuk kedalam bangsal kosong disudut.
"Jangan mendekat!!!" ujarku saat kedua suster mulai memasuki bangsal yang aku masuki.
"Jangan bertindak bodoh Bu!!" ujar seorang Suster.
"Hentikan Bu, berikan pisaunya pada saya," seorang Suster tampak mendekat.
"STOP!!!" aku semakin mendekatkan pisau kenadiku.
Dan yang kutunggu akhirnya datang, Lyra yang mendengar suaraku, ikut membaur kedalam.
"Mbak Frisss," panggilnya lirih kearahku.
Ia masih Lyra yang sama, ia memiliki empati dan aku akan menggunakan kelemahanmu itu ...
"Ibu mengenal ibu Frista?"
Lyra tampak mengangguk, dan kedua suster tampak lega melihatnya.
"Tolong bantu kami Bu, jangan sampai ibu Friss bertindak bodoh," seorang suster kulihat berkata pada Lyra.
"Apa yang terjadi Mbak?" Lyra mengarahkan tanyanya padaku.
Siapp ...
Drama akan lebih menyenangkan ...
"Ka-u Lyra??" ujarku.
"Iya Mbak, aku Lyra. Apa ini Mbak? Kau ingin bertindak bodoh kah?" Lyra berujar sambil mendekatkan tubuhnya padaku.
"STOP!!! Jangan mendekat Lyra, hidupku sudah hancur tak ada gunanya aku hidup ..."
"Apa maksudmu Mbak?"
"Kanker payudaya telah bersarang didiriku, kau lihat ini, dengan harapan yang mereka berikan aku telah merelakan sebelah payudaku, tapi mana?? bahkan setelah operasipun aku masih harus menjalani serangkaian kemoterapi yang menyakitiku Lyra, Bagaimana jika kau diposisiku. Bukankah mengakhiri hidup adalah keputusan yang paling tepat?"
"Aku turut prihatin dengan kondisimu mbak. Tapi semua salah, ini belum akhir. Jika kemoterapi jalan yang dianjurkan dokter, pasti itu yang terbaik, ikutilah Mbak. Sakit sesaat tapi untuk kepulihanmu kemudian."
__ADS_1
"Untuk apa aku pulih?? bahkan tidak ada yang peduli padaku, aku sudah tak memiliki siapapun Lyra ..." akupun mulai menangis sejadiku.
"Kau lupa masih memiliki putri Mbak?"
"Putri?? Putri yang bahkan tak mengenalku kah?? Aku menyesal telah meninggalkannya Lyra. Andai saja putriku bisa menyayangiku, pasti aku akan lebih bersemangat hidup."
"Mayra akan menyayangimu Mbak, dia anak yang pintar."
"Kau akan membantuku dekat dengan putrikukah Ly?"
Kulihat Lyra mengangguk.
"Kau pasti sangat mengasihaniku saat ini bukan? Tidak ... tidak Lyra, aku tak akan merubah keinginanku. Aku akan tetap mengakhiri hidupku Lyra," akupun mendekatkan pisau kembali ke nadiku.
"Jangan!!! Tolong jangan lakukan seperti itu Mbak!!" lirih Lyra kembali.
"Tolonglah kami Buu, jangan sampai Ibu Friss melakukan tindakan bodoh seperti ini," seorang suster kulihat kembali bicara pada Lyra.
"Diam kalian semua!!! Kalian tidak berada diposisiku, dengan penyakitku, bahkan tak ada yang peduli padaku, aku sendirian, aku kesepian, kalian tak tahu bukan? Aku tidak memiliki siapapun, tak ada gunanya aku hidup ..." aku menangis dan terus histeris.
"Mbak, tolong. Aku akan menjadi support untukmu."
"Tolong katamu? kau benar akan mensupportku? Bagaimana caranya? Kau bahkan telah mengambil mas Dimasku, putriku. Iya kan? Kau sama saja seperti mereka, suka memberi harapan palsu." Kuarahkan kembali pisau ke lenganku dan kuberi goresan disana. Dan seketika mereka semua histeris melihat darah dari lenganku.
"Bu Frisss." seorang Suster berteriak.
"Ibu.. tolong yakinkan Bu Friss Bu? Ibu mengenal Bu Friss kan? Apa ibu mau merasa bersalah melihat ibu Friss terkapar di depan Ibu? Ibu akan ikut bertanggung jawab jika sampai terjadi hal buruk pada ibu Friss," seorang Suster tampak mulai menekan Lyra.
Kulihat Lyra terdiam, setelah beberapa saat ia mulai bicara ...
"Apa yang bisa kulakukan untuk merubah ide burukmu Mbak? Kau harus tetap bersemangat hidup,"
"Kau yakin akan melakukan yang kuinginkan Ly?"
"Aku ingin kau mengembalikan kasih sayang Mayra padaku Lyra!!" lirihku.
"Aku akan buat Mayra menyayangimu Mbak," lirih Lyra kini.
"Ada satu lagi yang kuinginkan, izinkan aku tinggal bersama kalian Lyra. Aku ingin merasakan kasih sayng putriku penuh. Aku kesepian di rumahku. Aku berjanji tidak akan mengganggu hubunganmu dan Mas Dimas, aku hanya ingin dekat dengan Mayraku, setidaknya diakhir usiaku."
Dan kutatap lagi-lagi Lyra terdiam ...
"Aku tidak bisa memutuskan hal ini mbak, aku harus bertanya pada suamiku dahulu."
"Suamimu itu dulu suamiku Lyra. Aku pernah dihatinya. Ia pasti akan mengizinkanku. Ia pasti tak tega melihat kondisiku. Bawa aku kurumahmu Lyra. Aku butuh support dari kalian ..."
Aku harus memasuki rumahmu, bagaimanapun caranya ...
Walau berbohong sekalipun ...
"Mas Dimas pasti setuju Lyra, ia bahkan akan marah dan kecewa jika kau tak menolongku, aku adalah ibu dari putrinya, wanita yang melahirkan Mayra," lirihku, kuyakinkan kembali Lyra yang sedang bimbang.
"Hmm, Baiklah Mbak."
Setelah Suster mengobati luka goresku. Akupun mengikuti langkah Lyra saat ini.
Akan kubuat harimu penuh warna Lyra ...
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1