
Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤
Lanjuutt yaa👋☺..
🌷🌷🌷
Mas Dimas menerima ajakan bertemu Rendi, mengapa banyak kehawatiran kurasa. Terlebih drama orange jus yang membuat akalku tak terkendali pada terakhir perjumpaan kami. Hal yang sangat memalukan kurasa. Dan Mas Dimas menutupi perbuatanku malam itu.
Walau aku akhirnya menyadari saat kulihat tanda ditubuh suamiku kala itu. Ohh, buruknya aku ... untung mas Dimas menyelamatkanku tepat waktu malam itu. Jika tidak entah bagaimana aku menjalani kehidupanku setelahnya.
Adzan Isya telah berkumandang kini, bayi-bayiku masih terjaga. Tapi dengan stock ASI yang kupunya agaknya meninggalkan mereka tidak menjadi kendala lagi untukku, terlebih seperti biasa sebelum aku meninggalkan rumah, mereka telah kukenyangkan dahulu.
Dan Mayraku, ia sudah menjadi Kakak yang pintar. Ia sudah bisa membantu mbak Dinar menjaga adiknya, ia bahkan seolah tahu celoteh cadel adik-adiknya dan adik-adiknyapun merasa bahagia saat bercengkrama dengan kakak kecilnya itu.
Pintu gerbang terbuka kini, menandakan mas Dimas sudah kembali dari Masjid. Gamis katjep dengan hijab senada sudah melekat cantik di tubuhku setelah sebelumnya ibadah isya kutunaikan. Aku masih bercengkrama dengan sikembar kini, tampak Diyara terus memelukku dan tak ingin kulepaskan. Matanya terus mengejap menatapku, akupun berceloteh dahulu beberapa saat dengan malaikat cantikku yang bertanda tersebut.
Semakin kuajak bercengkrama ia semakin terus berusaha meraih tubuhku, akhirnya kugendong dan kuayun tubuhnya kini. Ia semakin menyelusup mencari penawar dahaganya, terus mendorong wajahnya ketubuh atasku.
__ADS_1
"Sepertinya Diyara mau Mik dulu Sayang," ujar mas Dimas yang telah tampak rapi dengan gaya kasual celana jeans dan kaos santai berkerah tersebut.
"Iya," ujarku. Seketika kubawa Diyara ke ruang keluarga dan kususui Diyara disana. Mata bulatnya masih menatapku. Bukan kantuk yang ia dapati, melainkan mata jernih yang semakin membulat sempurna. "Cantikku," ujarku kemudian, seraya terus kucium tubuh dengan aroma minyak telon dan bedak bayi tersebut.
"Bagaimana, kita berangkat sekarang?" ujar mas Dimas seraya matanya tak bergeming menatap jam tangan di lengannya yang mennunjukkan waktu semakin malam.
"Baiklah," kuserahkan Diyara kini kedalam pelukan mbak Dinar, tampak Diyara tiba-tiba menangis tersedu dan sangat sedih. Mas Dimas menarik tanganku kini dan memastikan segalanya akan baik-baik saja, karna biasanya setelah pergi Anak-anak juga akan diam, begitu menurut mbak Dinar.
Kumenjauh kini dari tubuh mungil putriku, hingga kusadari suatu tarikan ketika aku hendak melangkah kearah pintu. Ternyata Diyara menahan ujung jilbabku dengan jemari mungilnya. "Bunda dan Ayah hanya pergi sebentar dan segera kembali Sayang," ujarku berceloteh dengan Diyaraku sebelum aku benar-benar meninggalkannya.
•
•
Mas Dimas meraih pundakku saat La ELPalaZZo Cafe dalam sebuah gedung hotel tempat yang di tujukan Rendi telah berada di hadapan kami. Tampak disudut sepasang suami istri telah menunggu kami. Mbak Frista alhamdulillah masih konsisiten dengan hijabnya walau lekukan dan tonjolan di tubuhnya sangat jelas terlihat karena outfit berbahan strect yang ia pilih melekat ditubuhnya.
Rendi dengan gaya rambut panjang yang diikat sebagian keatas sudah menjadi ciri khasnya, dipadu dengan kemeja hitam dan celana bahan yang terkesan formal menyambut kami yang tampak casual tampil pada malam hari ini.
__ADS_1
Kamipun duduk kini, tampak Rendi dan mbak Frista menyambut kami dengan senyum ramah merona yang terlihat aneh sebetulnya dimataku. Akupun memaksa menyunggingkan senyum pula akhirnya.
Rendi mulai mengajak berbincang mas Dimas, obrolan mengenai bisnis, perkembangan usaha, penambahan outlet menjadi perbincangan awal yang cukup terlihat menarik ditanggapi mas Dimas. Hingga makanan yang kami pesan tiba akhirnya, kamipun melanjutkan cakap kami seraya terus menikmati hidangan dipiring kami masing-masing.
Dalam obrolan tampak Rendi menyatakan bahwa ia telah ikhlas dengan pengasuhan mas Dimas atas Mayra putri biologisnya. Rendi menyatakann pula bahwa ia dan Frista telah memutuskan untuk hidup di Amerika tempat asal ibu dari Rendi.
Mereka terus menyatakan hal-hal indah tentang rencana mereka dan tak ingin mengusik keluarga kami kembali. Mereka bahkan berharap tetap bisa menjaga dan memperbaiki hubungan kekeluargaan yang sempat terputus selama ini.
Hingga beberapa waktu, akhirnya makanan di meja kami telah habis. Jus orange langsung tertangap mataku seketika itu pula. Minuman yang sempat meninggalkan cerita buruk dimasanya, membuatku seakan enggan dan penuh kehawatiran untuk meneguknya. Kutatap suamiku dengan seksama, ia tampak mengangguk seolah menyatakan semua telah berbeda dan akan baik-baik saja. Akupun meneguk minuman berwarna kuning itu akhirnya walau ragu masih menyelimutiku.
Dan ... mengapa semua tampak buram setelahnya ... ada apa ini? "Mass ...," kupanggil berkali-kali suamiku tapi tak kudengar jawaban suamiku. Hingga tangan-tangan besar kurasakan terus membawaku. Dan aku tak mengingat lagi setelahnya ....
🌷🌷🌷
🌻Penasaran apa yang terjadi?? kalau gak ada kendala nanti malam up lagi😀
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1