Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Sudah Letih


__ADS_3

●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


Lanjuutt yaa👋☺..


🌷🌷🌷


2 bulan berlalu sudahh ...


Dan Mas Dimas tetap tak berkabar ...


Semua di rumah ini berjalan seperti biasa,


Shifaa dengan kuliahnya,


Mayra dengan sekolahnya,


Aldo yang sudah seperti anggota keluarga,


Firgie yang kerap datang mengantar Shifaa dan memberi senyum untuk anak-anakku,


Bik Lasmi, Mbak Dinar ...


Semua melaksanakan tugas seakan tak terjadi apapun.


Hanya bayang Mas Dimas yang tak terlihat ...


Dan akuu ...


Adakah yang tau pedihku?


Adakah yang peduli dengan sesakku?


Aku merasa kesepian,


Aku sendiri,


Aku hilang dalam angan kosongku,


Aku terpuruk lagi-lagi dalam tangisku sendiri ...


Mass Dimass ...


Kau dimana??


Cukup ... sudah cukup..!!!


Aku tak bisa kau beginikan,


Ayah, Ibu, Aldo, Shifaa semua bungkam,


Do'a ...


Do'a ...


Sabar ...


Lagi-lagi kata-kata itu yang meraka katakan.


Tentu aku berdo'a untuk suamiku ...


Pasti tanpa mereka mengingatkan,


Mas juga sudah berpesan padaku seperti itu,


Tapi aku ingin melihat bentuk suamiku..!!!


Apa ia baik-baik saja??

__ADS_1


Wajahnya ...


Senyumnya ...


Aku ingin melihatnya langsung bukan sekedar dalam angan-anganku ...


Matahari hampir tenggelam kini di awal Februari ...


Bulan ini bulanku,


Bulan yang biasanya terisi senyumku,


Tapi Februari kali ini berbeda,


Agaknya akupun telah lupa caranya tersenyum ...


Dan untuk apa pula aku harus tersenyum?


Aku terpuruk kini di ruang kotakku ...


Ragaku semakin melemah kurasa,


Namun kumenahannya sendiri,


Aku memilih menepi di sudut ruang kotak ini,


menatap pantulan diri tanpa warna ...


Seperti halnya hidupku 2 bulan ini yang tak berwarna ...


Senyum hanya kepalsuan,


Geraknya raga hanya sebatas meluntur kewajiban dalam kehidupan ...


Mereka semua biasa namun aku tak biasa,


Februariku yang indah kini meremang .


Apapun alasanmu tak muncul aku tak peduli,


Jika Mas memilih bersembunyi dibalik kedua orang tua Mas, akupun akan melakukan hal yang sama.


Bapak dan Ibuku sedang dalam perjalanan menjemputku dan anak-anak,


Telah samar hal yang benar dan salah diotakku,


Biar kumelangkah pada apa yang kurasa benar kini.


Setidaknya aku tak melihat jejakmu, barang-barangmu dan segala hal tentangmu.


Kaupun juga tak peduli padaku bukan??


Kutatap kedua malaikat kembarku yang sedang merangkak-rangkak di sekitarku. Tampak pula Mayra sedang menggambar disisiku pula saat ini. Sesekali ia mendekatiku, menyapu butiran air di pipiku, dan menciumiku. Anakku yang pintar, walau ia tidak lahir dari rahimku tapi ikatan hatinya sangat dalam padaku.


4 koper sudah kusiapkan kini, hingga terdengar ketukan dari arah luar ...


"Mbakk, mbak di dalam kah?? Mbakk ... buka pintunya Mbakk..!!!" terdengar suara Shifaa dari arah luar yang terus memanggilku namun ragaku seolah enggan bergerak.


"Bunda, Anti panggil Bunda tuhh, boleh Mayra buka pintunya Bun?" tanya Mayra dengan memposisikan wajahnya di depan wajahku, melihat aku tak merespon. Mayra tampak menyapu-nyapu wajahku berusaha menghentikan kediamanku.


Akupun seketika tersadar, "Oh ... ada apa Sayang?" ucapku terkaget tak menyadari yang terjadi sebelumnya.


"Ada Anti Shifaa di luar, Bun ...."


"Mbakk, apa yang terjadi padamu? kenapa tak jua keluar? Mbakk ... Mbak baik-baik, bukan?" terdengar teriakan Shifa yang sangat jelas kudengar kini.


"Mbak baik-baik saja Shif, kau ada keperluan hari ini bukan, pergilahh..!!!" ujarku.

__ADS_1


"Mbakk ... buka dulu, aku ingin bicara penting," ucap Shifaa kembali kini.


Shifaa ... walau ia adik mas Dimas, tetapi ia selalu ada disisiku selama ini, ia sering membantuku. Tak Adil jika aku meningalkannya tanpa permisi.


"Kau boleh membuka pintu, Sayang," ucapku pada Mayra yang segera ditanggapi anggukan dan seketika Mayra berlari kearah pintu dan membukanya.


"Terima kasih Cantik," ucap Shifaa seraya mencolek hidung Mayra.


"Mana Bunda??" seketika sikembar segera merangkak-rangkak menuju pintu mendapati wajah Shifaa yang dikenalnya. Sepasang bayi menggemaskan seolah mencari topangan, ia meraih kaki antinya dan segera berdiri dengan tangan satunya yang terus melambai minta digendong.


Seketika Shifaa merunduk dan meraih 2 tubuh sikembar dan menggendongnya disisi kiri dan kanan tubuhnya seraya terus mencari keberadaanku di dalam kamar.


Ia sangat terkejut didapatinya aku duduk di sudut dengan 4 koper di sisiku.


"Apa ini Mbak? Kau hendak kemana?" tanya Shifaa terkejut. Iapun seketika duduk di sisiku, dan meletakkan si kembar di karpet kembali.


"Mbak, jawab???" ucap Shifaa seraya meraih jemariku. Dan dengan merangkul leherku, Mayra terus menciumiku tatkala air mataku mulai menetes kembali.


Aku masih enggan menjawab, hingga beberapa kali Shifa kembali bertanya baru aku berujar, "Maaf jika Mbak selalu merepotkanmu Shifaa, Mbak rasa tak ada alasan Mbak tetap di rumah ini," ujarku.


"Maksud Mbak apa? Ini rumahmu Mbak."


"Ini bukan rumahku, ini rumah Masmu ...." lirihku.


"Iya rumah mas Dimas juga rumahmu Mbak Lyra .....


"Stoppp..!!! Jangan lagi kau sebut nama Masmu Shif, Mbak tak ingin mendengarnya," sela-ku atas ucapan Shifaa sebelumnya.


"Ada apa Mbakk?" lirih Shifaa.


"Seharusnya kau tidak perlu heran dengan sikap Mbak, Shif, sekarang mbak tanya, dimana Masmu??" tegasku.


"Mbakk, Mas akan kembali."


"Diamm!! Sudah cukup kata-kata yang kau ucapkan untuk menyemangati Mbak selama ini..!!!" ujarku seraya kepeluk Diyara yang kini tampak menelusup mencari penawar dahaganya. Seketika Diyara menyusu dengan mata berkedap-kedip kearahku setelah kuberikan haknya.


"Mbak, bertahanlah lagi, sabar Mbak ... jangan seperti ini. Mas akan kembali," lirih Shifa kembali seraya menyapu bahuku.


"Kapan?? Sekarang jawab, bagaimana kondisi masmu?? Kau diam bukan, ayah, ibu jika kutanya semua diam. Mas Dimas sedang tidur, doakan ... selalu itu jawaban kalian. Sebenarnya, a-pa Ma-s Di-mas benar-benar ma- sih hidupkah? Atau ia ternyata sudah tidak ada?"


Seketika tumpahlah air mataku, sesuatu yang bahkan otakku tak sanggup membayangkannya selama ini, dan kini otak dan mulutku bekerjasama mengeluarkan dan memperjelasnya.


Seketika pula Shifa merangkul bahuku, "Mbakk ... hentikan fikiran itu..!!! Jangan pernah terucap kata-kata seperti itu Mbakk, Mass ....


Kulepaskan seketika rangkulan tangan Shifa dengan air mata yang berurai, "Mas kenapa?? Kau sudah mengetahui semuanya bukan? Diam-diam kau mengetahui kondisi Masmu, ayo lanjutkan kata-katamu Sayang..!!!"


Shifaa kembali terdiam dan tidak melanjutkan ucapan sebelumnya, "Hahh, kau tak menjawab, kau tidak menganggap aku mbakmu," gusarku.


"Bukan begitu Mbak, akan ada saatnya kau tau," lirih Shifaa.


"Lyraaa ...."


Seketika masuk 2 orang paruh baya kekamarku. Yaa, ibu dan Bapak telah sampai untuk menjemputku.


"Ibu Fatia, Bapak Dewo," sapa Shifaa dan mengecup lembut tangan Ibu dan Bapak.


"Kau sudah siap Nok," Ibu yang telah mendengar semua ceritaku seketika berujar seraya memelukku.


"Ibu, Bapak, kalian pasti letih mari kita minum teh di bawah," ujar Shifaa seraya menatap dalam Bapak dan Ibu.


"Shif, kamu kan anak baik. Sebetulnya Dimas apa kabar? Kamu nggak kasihan lihat Mbakmu sedih dan terus bertanya-tanya seperti ini?" ujar ibu berusaha mencari jawab seraya mengusap lembut bahu Shifa merayunya ...


"Ibu ....


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


🌻Maaf digantung lagi, up besok akan memperjelas kondisi Dimas🙏🙏


🌻Nanti malam thor baru balik ke Bekasi in Syaa Alloh, besok baru bisa normal upnya😘


__ADS_2