Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Kehadiran Rendi


__ADS_3

●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


Lanjuutt yaa👋☺..


🌷🌷🌷


Kubuka seketika pintu dihadapanku yang tak terkunci, hingga pintu seketika menutup dengan sendirinya..


Namun tanpa warna, hanya gelap menyelimutiku ...


Mas Dimass ...


Kau benar disinikah??




Dan seketika sebuah tangan mengunci penuh tubuhku, mendekapku erat, hingga separuh wajah tampak menempel diwajahku, ia mengecup pipiku dan berbisik, "Istriku yang cantik ... I luv you honey," lembut terucap setiap kata dari bibirnya sehingga membuatku terbawa pada rasa yang ia salurkan ...


"Masss, apakah ini Kau? aku tak bisa melihatmu?" lirihku.


"Kau tak mengenali suara suamimu kah?"


Bibir yang mengecup pipiku seketika menyapu wajahku kini dengan kecupannya. Hingga kecupan itu berhenti dan seketika pula 1 bagian lampu menyala, lampu yang meremang yang hanya menampakkan sebuah meja dengan 2 kursi yang tertata sangat cantik dilengkapi lilin-lilin dalam gelas kaca beberapa meter dihadapan kami. Yaa, Balkon hotel menjadi tempat makan malam kami saat ini.


Tangan suamiku melingkar dipinggangku kini, membawaku terus berjalan ke balkon berada, dan disana dengan hiasan malam bandung, ribuan cahaya lampu ibarat jutaan bintang yang turut melengkapi kesyahduan malam kami dengan sepoi angin yang terus berhembus merasuk hingga pori-pori terdalam.


Hingga telah dekat kami dengan meja berada, barulah tampak pesona pria dihadapanku kini, pria yang tampak tampan dengan jas putih menjadi outfitnya. Ia tampak mengamati penampilanku dari bawah keatas, hingga tertangkaplah wajahku ini, dinaikkannya daguku yang sejak tadi terus kutundukkan menutupi warna tak biasa diwajahku. Ia tampak tersenyum kini, didekatkannya kembali separuh wajahnya untuk menggodaku, "warna yang cantik," bisiknya seketika membuat tersipuku kini.


Ditariknya kursi dan dipersilahkannya kududuk, iapun turut duduk dihadapanku setelahnya. Diatas meja tampak 2 piring steak dan 2 gelas orange juice menjadi sajian makan malam kami.


"Mass, berhenti menatapku seperti itu," risihku melihat mas Dimas tak bergeming menatapku.


"Pasti aku terlihat seperti badut saat ini bukan?" ujarku menutup wajahku kini dengan kedua telapak tanganku.


"Heiii, jangan ditutup..!!!" seketika mas Dimas mengambil jemariku dan mengecupnya.


"Siapa yang meriasmu?" ujarnya kemudian.


"Ibumu."


"Hahh ibu, sudah kuduga. Ia memang selalu tau yang kusukai."


"Mass, kenapa harus makan di dalam kamar?" lirihku kini.


"Kau tidak menyukainya?"


"Bukan seperti itu. Tentu bersamamu dimanapun aku menyukainya," dan kulihat mas Dimas tersenyum kini.


"Agar tidak ada yang menatap kecantikanmu selain Mas,"


"Gombal," lirihku dan seketika mas Dimas tersenyum kembali.


"Sudah berbincangnya, ayo kita makan sekarang..!!!


Dan akupun seketika mengangguk.


Kami makan dengan sangat tenang tanpa kata terucap, hanya seutas senyum yang terus mengembang tatkala kedua mata bertemu pandang, sesekali mas Dimas mengulurkan garpunya kemulutku, dan aku menerimanya, akupun beberapa kali mengulurkan garpuku dan disambut mas Dimas pula. Hingga beberapa saat tampak steak di piring kami telah habis. Kami melanjutkan dengan menyeruput minuman di hadapan kami setelahnya.


"Mas punya sesuatu untukmu, tapi tutuplah matamu dulu."


"Sebuah surprize kah?"


"Apapun itu namanya, berdirilah ...."


Akupun berdiri di tepi balkon saat ini. Menatap pemandangan indah dihadapanku, merasakan bisik angin yang semakin malam terasa semakin dingin kurasa. Sambil ku tunggu mas Dimas yang tampak masuk kedalam mengambil sesuatu untukku.


Hingga sebuah tangan kembali memelukku dari belakang, tangannya menyusup meraih jariku dan memasangkan sebuah cincin di jemariku.


"Maass, apa ini?"


"Aku tahu kau lebih menyukai cincin dibanding perhiasan lain yang hanya menjadi penghuni lemarimu," ujar Mas Dimas seraya meletakkan dagunya dibahuku.


"Oya, bagaimana kau mengetahuinya?" ucapku seraya kuberbalik kini menghadap wajah suamiku, kulingkarkan lenganku dilehernya saat ini.


"Aku memperhatikan kau sering menggunakan cincin yang berbeda-beda setiap hari."


"Terima kasih, kau benar dan aku menyukai cincin pilihanmu ini," bisikku ditelinga mas Dimas kini.


"Sayang ...." dan seketika sebuah wajah tampak hendak merapat ke wajahku.


"Mass," kualihkan seketika wajahku kini.


"Ada apa? Tak bolehkah?"


"Jangan disini, setiap orang bisa melihat," bisikku dan seketika sebuah tangan tampak mengangkat tubuhku dan membawanya kedalam.


"Mass, kau akan membawaku kemana?"


"Ketempat yang seharusnya."


Dengan perlahan diturunkannya tubuhku kini kesebuah ranjang besar yang meremang.


"Mass, ingat kita izin dengan orang rumah hanya untuk makan malam," bisikku.


"Tentu aku ingat, dan aku hendak menyantap hidangan makan malamku yang kedua kini."


"Suami yang mesum," lirihku.


"Dan kau tentu ingat, dilarang menolak keinginan suamimu."


"Mass ...."





"Kenapa kau terlihat menyesal melakukannya."


"Aku sedang berada dalam masa subur Mass, bagaimana jika .....


"Jangan banyak berfikir, kau memiliki suami mengapa takut mengandung."

__ADS_1


"Masalahnya anak-anak masih ....


Upppstt ...


Dan dibekap kembali bibirku dengan kecapan lembut bibirnya. Dan ia melepasnya setelah merasa puas bermain-main.


"Jangan banyak berfikir, kita tidur sejenak yaa, setelahnya kita akan kembali ke rumah."


Tak bisa berkutik, akhirnya aku pasrah terhadap dekapan yang mengunciku dengan rapat, kurasakan detak jantung beraturan menghiasi otakku hingga aku terlelap kemudian.




🌻Pukul 07:00 dan kami menyantap sarapan kami saat ini, kuterima suapan yang di sodorkan mas Dimas kemulutku. Sedang tanganku menyuapi Diyara dalam dekapanku. Tampak Mbak Dinar berada di teras, juga tengah menyuapi Dirga.



Ibuku yang sejak awal terdiam menikmati sarapannya, seketika berbicara setelah hidangan di piringnya habis.



"Kalian pulang jam berapa semalam?" tanya ibu memecahkan kesunyian yang terjadi.



"Hmm, jam berapa Sayang?" dan kedua alis dinaikkan keatas kearahku saat ini.



*Nakal, pertanyaan seperti ini dilemparkan mas Dimas padaku*, batinku.



"Hmm, jam berapa ya Bu, Lyra tidak sempat melihat jam Bu, setelah sampai langsung terlelap," ujarku.



"Kau libur hari ini kan Dim? Belilah beberapa bunga untuk diletakkan dibeberapa sisi ruangan," ucap Ibu Arini setelahnya seolah mengalihkan tanya ibuku, ibu Arini pasti telah mampu menebak kelakuan putranya, batinku.



"Tentu Bu, Sayang nanti kau ikut Maas yaa..!!" dan aku seketika mengangguk menanggapi ucapan suamiku.



Dan ibu Arini terlihat menggeleng-geleng atas ujaran putranya.






Pukul 13:30 saat sikembar telah terlelap. Dan waktu tersebut akhirnya kami pakai untuk beranjak keluar mencari bunga sesuai perintah ibu Arini. Kamipun keluar saat ini yang diluar perencanaan ternyata Mayra meminta untuk ikut jadilah kami pergi bertiga akhirnya.




Sebelum pulang kami mampir ke bakulan ketoprak Firgie dan membungkus beberapa ketoprak untuk dibawakan untuk orang rumah. Suasana memang telah berbeda, bakulan yang dulu menjadi bahan gurauan kami, sekarang sudah seperti rumah yang kami terbiasa keluar masuk didalamnya.



Sebelum pulang Mayra meminta pula mampir ke toko Donut yang cukup terkenal. Kamipun membungkus beberapa box donut untuk dibawa pulang. Hingga saat menuju mobil sebuah suara memanggil kami,



"Dimas ... tunggu..!!!"



"Masss," kugenggam erat jemari suamiku kini dan Mas Dimas seketika berpindah berdiri dihadapanku kini,



"Kau? Di-sini? Mau apa kau?? Jangan pernah terfikir untuk mengganggu keluargaku, pergi kau..!!!"



"Mayraa ..." lirih seorang wanita memanggil Mayra kini.



"Bundaa," dan Mayra tampak takut berpegangan kearahku cukup kuat.



"Tenang Bro, aku ingin berbicara baik-baik dengannmu..!!!"



"Tidak ada yang perlu dibicarakan," tegas Dimas.



"Ayolah Dim, kau tentu tak ingin aku berbuat kasar bukan?"



"Diam kau..!!!" seketika mas Dimas menarik kerah kemeja pria dihadapannya.



"Jangan ganggu keluargaku, istriku, anak-anakku ... atau aku akan memberi pelajaran padamu Ren."



"Kau sudah merasa kuat rupanya, aku mendengar operasimu Dim, hampir saja aku ingin datang melayat tapi ternyata operasimu berhasil. Sial.."



"Apa yang kau inginkan sebetulnya Ren, dan kau ber-sama wanita itu, ahhh ... aku lupa kalian memang pasangan yang cocok sejak dulu bukan??" ucap Dimas seraya tersenyum melecehkan.

__ADS_1



"Hati-hati kau bicara pada istriku.!!!"



"Ohh, jadi kalian sudah menikah rupanya, Rendi dan Frista good, kudoakaan kalian berbahagia, pergilah kalian dari hadapan kami, kami tidak ada urusan dengan kalian lagi..!!!"



"Kata siapa?? Tentu kita masih berurusan selama putriku masih bersamamu Dimas."



"Jaga ucapanmu Ren!!"



"Sayangg, bawa Mayra masuk kedalam..!!!"



Akupun seketika membawa Mayraku masuk ke dalam mobil kini.



"Mass, Mayra bukan putrimu. Berikan pada kami Mass," tampak Frista memohon kini.



"Kau menginginkan putrimu? Kemana saja kau selama ini? Berhenti membual Friss. Dan kau Ren, jangan harap kau bisa mengambil Mayraku, secara hukum Mayra putriku dan akan selamanya menjadi putriku. Kau paham.!!!"



"Kau membohongi dirimu Dim, aku ayah biologis Mayra, Mayra putriku, menyangkal seperti apapun ditubuhnya mengalir Darahku Dimas," ucap Rendi tak kalah keras.



"Kalian sudah menikah bukan? milikilah bayi lain dan hiduplah jauh dari kami, berhenti menganggu kami.!!"



"Itulah Dim, aku dan Frista sudah tak bisa memiliki anak kembali. Jadi tolong, serahkan Mayra pada kami, kami pastikan Mayra tidak kekurangan kasih sayang bersama kami," ucap Rendi.



Aku harus menyerahkan putriku pada pria bajingan dan wanita murahan seperti kalian, jangan mimpi kalian.!!!"



"Dimm, pleasee!!! Aku meminta baik-baik putriku tapi jika kau tak menggubris, aku akan mengambil paksa Mayra dari tanganmu.!!!



"Diammm Kauu!!!" *Bug ... Bug* ...



Terlihat kini Mas Dimas memukul Rendi.



"Kau memulainya Dim,"



*Bug ... Bug* ...



*Ahhh* ....



*Bug ... Bug* ...



Mas Dimas dan Rendi sama-sama terluka tapi mas Dimas terus menyentuh dadanya..



Seketika aku keluar dari mobil menghampiri suamiku ...



"Mass ...."



"Ayahhh ...." dan Mayra tampak keluar pula mengejarku.



"Mayra kemari Sayang, ikut Dady Nak,"



"Mayra tidak mau Dady, Mayra hanya punya Ayah Dimas dan Bunda Lyra, Dady Rendi jahat pukul Ayah. Mayra benci Dedy ...."



Dan seketika orang-orang sekitar mendekat membuat Rendi dan Frista seketika pergi ...



*Mass ... kau tidak apa-apa Maasss*??



🌷🌷🌷



🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


__ADS_2