Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Keinginan Firgie


__ADS_3

Ihh ibu cerita apa sih, ko aku jadi kepikiran omongan ibu. Memang Firgie pernah cerita pernah punya pacar namanya Kiran. Tapiii pulang malam terus dan Kiran yang ngejar-ngejar Firgie, baju Kiran juga. Astagfirulloh ... ko aku jadi berfikir negatif sih ... Nggak ... Firgie bukan sosok seperti itu, batinku.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pukul 19:30


Kami sudah sampai di depan gerbang kossku.


"Gie ... maaf, aku langsung istirahat ya," ujarku.


"Oh oke ... makasih untuk hari ini ya sayang," ujarnya.


Aku mengangguk. Kukecup punggung tangannya dan langsung masuk kedalam.


Sampai di dalam langsung ku bersihkan diriku dan kutunaikan ibadah Isyaku. Selanjutnya kurebahkan diriku di atas ranjangku.


Kuingat setiap hal di rumah Firgie tadi, ibu yang begitu menyenangkan, Yasmin yang manis, Fikra yang iseng juga Firraz yang suka bicara apa adanya. Aku nyaman dengan mereka semua, serasa memiliki keluarga baru.


Namun tiba-tiba teringat pula aku pada kata-kata ibu di dapur tadi, Firgie dan Kiran. Aku jadi ingin tau seperti apa hubungan mereka dahulu dan mengapa sampai berpisah. Daripada aku berasumsi sendiri, aku akan menanyakan pada Firgie besok.


1 tahun ini Firgie sudah sangat baik padaku, alangkah tidak baik jika aku meragukannya.


Ku buka kunci ponselku..


Seperti biasa pesan dari Firgie tampak disana.


πŸ‘¨ "Lyraaa ... "


Segera ku balas,


πŸ‘© "Hemmm"


πŸ‘¨ "Lagi ngapain sayang?"


πŸ‘© "Rebahan."


πŸ‘¨ "Cape banget ya? Padahal pengen ngobrol dulu tadi."


πŸ‘© "Maaf, badan pada pegel smua, mau buru-buru mandi juga tadi."


πŸ‘¨ "Udah mandi sekarang?"


πŸ‘© "Udah"


πŸ‘¨ "Pantes wanginya sampai sini."


πŸ‘© "Ishhh kau Gie"


πŸ‘¨ "Gimana tadi di rumahku? maaf adik-adikku mengganggumu."


πŸ‘© "Enggak. Aku senang bertemu keluargamu, semuanya sangat menyenangkan."


πŸ‘¨ "Alhamdulillah, ada salam dari ibu katanya kapan-kapan suruh ajak kamu ke rumah lagi"


πŸ‘© "Wa'alaaikumusaam ... in syaa Alloh"


πŸ‘¨ "Lyraaa, apa kau sayang padaku?"


πŸ‘© "Kenapa selalu menanyakan itu?"


πŸ‘¨ "Memastikan, terkadang aku takut jika rasamu hilang."


πŸ‘© "Giee ... Aku sayanggg padamu, cukup?


πŸ‘¨ "Aku ingin mendengarnya langsung!!"


πŸ‘© "Maksudnya??"

__ADS_1


πŸ‘¨ "Aku di depan kamarmu sekarang.."


πŸ‘© "Ohh ... " segera melihat ke jendela dan benar Firgie disana.


*Segera ku buka pintu,


"Sejak kapan kau disini?" tanyaku tampak kaget melihat Firgie benar-benar ada disini.


"Kau tak senang melihatku?"


"Senang lah Giee, ayo masuk!" ujarku.


Kulirik jam dinding di depan kamarku, Pukul 20:55 saat ini.


Firgie telah duduk di tempat biasa dan aku duduk di sisinya.


"Jawab dulu Gie, sejak tadi kau belum pulang ke rumah kah?" tanyaku sambil menatapnya.


Kulihat ia menggeleng.


"Lalu, tadi kau kemana?" tanyaku lagi.


"Muter-muter aja. Tetapi otakku selalu memikirkanmu jadi aku kembali."


"Ishh kau ini," lirihku.


"Sini! tadi katanya badanmu pegal biar ku pijat."


"Memang kau bisa?" ujarku meragukannya.


"Ayolah sini!" ujarnya lagi sambil menunjuk lantai di depannya, memintaku duduk disana.


Aku seakan tersihir dan mengikuti permintaannya. Kududukkan diriku dihadapannya, membelakanginya tepatnya. Disingkapnya rambut panjangku kesamping.


Iapun mulai memijat bahuku.


"Bisa sedikit-sedikit Ly," ucapnya.


Setelah beberapa lama.


Sepertinya tubuhku merespon setiap pijatan yang Firgie berikan.


"Gie ... sudah hentikan ya!" ujarku lalu kumundurkan posisi dudukku ke tempat sebelumnya, bersandar pada dinding di sisi Firgie duduk. Firgie tidak boleh tau apa yang sedang kurasa saat ini, batinku


"Ada apa Ly?" tanyanya melihat resahku.


"Tidak apa-apa Gie, sepertinya badanku sudah lebih baik, makasih ya," ujarku sambil kuberikan senyum ke arahnya.


"Lyraaa ... " panggilnya.


"Hemm ...," lirihku.


"Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi sayang?"


"Pertanyaan yang mana?" jawabku tak ingat.


"Pertanyaan dalam pesanku tadi, aku ingin mendengar jawabannya secara langsung ...," ujar Firgie tampak serius di matanya.


"Tentang perasaanku padamu?" tanyaku memastikan.


Firgie mengangguk.


"Gie, harus berapa kali kuucapkan padamu. I- ya aku sayang." ucapku malu-malu. Tampak di sebelahku Firgie terus menatapku.


"Ulangi yang jelas Lyra!!" lirihnya.


"Aku malu mengatakannya Gie," lirihku.

__ADS_1


"Katakanlah Ly," matanya yang sayu saat memohon itu sungguh membuatku tak bisa menolaknya.


"Oke ... akan kucoba. Firgiee, Aku Sa-yang Padamu," perasaan malu semakin menyelimutiku saat ini..


Kulihat Firgie tersenyum dan semakin dalam menatapku.


"Giee ... berhenti menatapku seperti itu!" lirihku.


"Lyraa ... andai bisa, ingin sekali setiap saat menatapmu seperti ini, wajah manismu ini, aku sangat tenang menatapnya."


"Kau mulai menggombal Gie," ujarku.


"Tidak sayang." Firgie kemudian merangkulkan tangan kanannya di pundakku.


"Lyraa, tidak terasa ya ... waktu begitu cepat. Sudah 1 tahun ternyata kita bersama," lirih Firgie.


Aku mengangguk dan tersenyum padanya.


"Kau tau Ly, semakin hari aku semakin takut kehilanganmu," tampak Firgie meraih jemariku dengan tangan kirinya dan memainkan jemariku.


"Gie, apa kau bosan padaku?" tanyaku serius.


"Kenapa bicara seperti itu sayang ...," ujarnya.


"Karena aku mungkin tidak menarik," jawabku.


"Tidak ada seperti itu, kau sangat menarik untukku." Firgie mengeratkan rangkulannya dan mengecup pundakku lama.


"Ternyata benar kata Yasmin, tubuhmu wangi sekali." ujar Firgie lagi sambil tersenyum kearahku.


"Lyra ...," panggil firgie sambil terus menatapku.


"Hemm," jawabku seketika menatapnya.


"Bolehkah---- " ucapannya seketika tertahan.


"Kau mau bicara apa katakan saja Gie," ujarku penasaran dengan apa yang ingin Firgie sampaikan.


"Ka- u, Apa ka- u pernah me-lakukan kissing Ly?" ujar Firgie terbata.


Aku menggeleng.


"Kenapa tiba-tiba bertanya itu?" heranku.


"Apa kau menginginkannya Gie??" tanyaku menyelidik


"Bo- lehkah Ly??" ia kembali bertanya antusias.


Aku menggenggam jemari Firgie, "Gie, maaf ... aku tidak bisa melakukan apa yang kau ingin," jawabku sungguh-sungguh.


"Gie, aku hanya ingin melakukannya bersama suamiku kelak. Dan lagi akupun takut jika 1x melakukannya pasti nanti ada keinginan melakukannya lagi dan lagi," lirihku.


Kulihat Firgie mengangguk.


"Maafkan aku Ly.." ujar Firgie tampak penyesalan disana. Sebab dalam hatinya Firgiepun membenarkan perkataan Lyra.


Aku masih memperhatikan Firgie, ada rasa kasihan melihat tatapan dimata Firgie saat ini, semua di sebabkan aku tak bisa memberi apa yang Firgie minta.


Gie.. Apa begitu penting untukmu melakukan Kissing? kenapa terlintas di otakmu ingin melakukannya. Haruskah aku mengikuti keinginanmu?


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


#Thor menunggu komen dan like kalian yaaa❀


Vote dan Rate juga jangan lupa biar Karya Thor bisa di apresiasi oleh pihak NovelToon☺


#Happy Reading😍

__ADS_1


__ADS_2