Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Susu Kedelai +


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


"Kalian pulang juga akhirnya," ujar mas Dimas membuka pintu dan langsung menghambur memelukku.


"Heiii, jangan peluk-pelukan di depan pintu," ucap spontan ibu yang melihat kami menghalangi jalannya untuk masuk.


"Wahh ... kayaknya ibu habis borong isi toko nih," ucap mas Dimas saat melihat Pak supri masuk dengan membawa banyak barang belanjaan di tangannya.


"Maunya sih ibu bawa sekalian tokonya tapi tangan ibu gak kuat," canda ibu yang terlihat aneh olehku. Ibu memang pribadi yang humoris sebetulnya, tapi sikap anggun dan santunnya seolah bersebrangan dengan ucapannya, jadi terkesan aneh.


"Haii cantiknya Ayah, beli apa saja tadi disana Sayang?" ucap mas Dimas sambil memeluk Mayra cukup lama.


"Lepas Ayah, badan Ayah besar..!!!" Seketika mas Dimas melepaskan pelukannya. "Ayo Sayang, ceritakan apa saja yang Mayra lakukan di Mall tadi?"


"Mayra main di timezone dengan Anty, beli buku gambar dan Mayra juga di belikan sandal oleh Uti,"


"Mayra, ayo kita ke kamar Anty, kita mewarnai disana..!!!"


"Iya Anty, Mayra ke kamar Anty dulu ya Yahh,"


"Siap Tuan Putri," goda mas Dimas terhadap Mayra dibalas kecupan yang didaratkan di dahi sang Ayah.


"Kenapa Mas di rumah? bukankah Mas sedang ada urusan maka-nya tidak bisa menjemput kami di Mall tadi."


"Iya, urusan Mas sudah selesai. Mas juga belum lama sampai."


"Dimas, ibu ingin bicara denganmu di Kamar," ujar ibu dibalas anggukan oleh Mas Dimas dan seketika mas Dimas berjalan mengikuti ibu ke kamarnya.


"Langsung istirahat di kamar dulu ya Sayang, mas segera datang," bisik mas Dimas sebelum akhirnya melanjutkan langkah ke kamar ibu.


Aku bergegas naik ke lantai atas hingga kehadiran Frista mengagetkanku. Entah mengapa ia menatapku dengan tatapan yang tak biasa, terdapat marah terlihat jelas disana. Aku berusaha tersenyum menanggapinya walau keterpaksaan masih tergambar jelas.




Dan aku telah di kamar saat ini hingga mbok Rumi mendatangiku.


"Ada apa Mbok," ujarku merasa aneh tumben mbok sampai mengantarkan minuman ke kamarku.


"Susu kedelai Non, tadi pagi ibu minta saya membuatnya," ujar mbok Rumi seketika masuk dan meletakkan 1 gelas besar susu kedelai keatas nacash sesuai arahanku.


"Terima kasih Mbok."


"Iya Non."


Tak lama kemudian pintu nampak terbuka, sosok Mas Dimas dengan senyum tulusnya langsung terekam otakku. Ia berjalan menghampiriku, segera duduk disisiku ...

__ADS_1


"Sudah sholat zuhur?"


"Sudah Mas," lirihku kulihat mas Dimas perlahan mendekatkan wajahnya diatas perutku.


"Assalamu'alaikumm sholeh dan sholehah Ayah," lirih suara Mas Dimas kemudian ia tampak melantunkan do'a yang samar tertanggap pendengaranku ....


رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِي


“Robbi hablii minash shoolihiin” [Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh]”. (QS. Ash Shaffaat: 100).


Seperti biasa ia mengusap lembut perutku, berusaha memancing pergerakan kedua bayi kami, dan sebuah hentakan lagi-lagi terasa di perutku. Moment-moment indah yang selalu menjadi rasa haru dipenghujungnya. Masih kubasuh pucuk kepala lelakiku yang asik seakan memiliki aktifitas baru yang memancing emosinya. Rasa cinta yang terus terpatri meluapkan Rasa Syukur yang tiada henti untuk sang Pencipta, dengan Mahakarya yang hanya mampu tercipta dengan KetetapanNYa.


Ia lantas memelukku seperti biasa, pelukan yang lama dan hangat tak seperti semalam, pelukan yang membuncahkan cinta yang tak terhingga, menelisik dan memenuhi ruang rasa pada gumpalan hati. Teruntuk 1 nama terpatri, nama sang kekasih hati yang berani menghalalkanku, mas Dimasku ...


"Mas Sayang Lyra, walaupun raga tak bersapa yakinlah Mas selalu menjaga Lyra, Lyra sayang Mas kan?"


Pertanyaan yang sama lagi-lagi terlontar, kubalas ungkapannya dengan anggukan dan pelukan yang semakin kueratkan.


"Terima kasih," lirihnya.


Ia kemudian menghujani wajahku dengan kecupannya seperti biasa. Hingga sampai di bibir ia mulai menuangkan rasa lebih disana, dan aku turut membalasnya. Mas Dimas tampak membasuh bibirku dengan jemarinya setelahnya, menghilangkan sisa emosi yang tertinggal disana.


Ia mengarahkan pijatan di kakiku kini,


"Bumil pasti letih setelah terus berputar di Mall tadi, bukan?"


Akupun mengangguk sambil terus kutatap wajah tampan suamiku.


"Ibu terus memaksaku Mas dan penolakanku seakan angin lalu untuknya," lirihku.


"Begitulah ibu, jika ingin melakukan sesuatu tak ada yang bisa mengubah keinginannya. malah mas fikir ibu sudah membawa kereta bayi tadi, untungnya tidak, karena memang masih ada 3 bulan kedepan. Kata orang pamali membeli perlengkapan bayi sebelum genap berusia 7 bln," ujar mas Dimas yang terlihat mulai menghentikan aktifitas memijatnya dan duduk disisiku, akupun spontan menyandarkan kepalaku ke bahunya.


"Sayang ...,"


"Hmm,"


"Apa kau sudah mempersiapkan nama untuk baby twins kita?"


Akupun menggeleng, Mas sendiri?


"Mas akan mempersiapkan nama untuk anak yang berjenis kelamin laki-laki dan kau harus mencari nama untuk bayi perempuan kita, bagaimana?"


"Okee," ujarku dan langsung kudapat suatu nama diotakku.


"Aku sudah memperoleh nama untuk bayi perempuan kita," ujarku bersemangat.


"Hahh, secepat itu? kita masih punya waktu 3 bulan, fikirkanlah nama yang indah. Tapi jangan nama mantanmu..!!!"


"Ishh nakal, aku tidak seperti Mas yang menyelipkan nama mantan dalam nama putrinya, lagipula apa mas lupa, mas juga kan mantanku," ujarku.


"Karna hanya namamu yang selalu mas ingat. Iya ada nama Mas boleh, tapi jangan mantan yang lain," goda mas dimas kembali.

__ADS_1


"Hentikan bicara mengenai nama Mayra akan tidak baik jika mbak Friss mendengar," bisikku ketelinga mas Dimas.


"Mas juga tidak suka kau menyebut nama wanita itu. Ayo sekarang katakan.!!! nama apa yang terlintas diotak Lyra, kalau mas tidak suka. Kau harus mencari nama yang lain."


"Curang, namanya adalah ... Diyara \= Dimas dan Lyra," ujarku.


"Diyara ... hmm, tidak buruk."


"Mas setuju??" tanyaku memastikan.


Dan mas Dimas tampak tersenyum dan ngangguk.


"Yeaa, terima kasih."


"Untuk nama baby boy, menyusul ya. Karena Mas tidak ingin sembarangan memberi nama anak laki-laki pertama Mas," akupun mengangguk.


"Sudah jam 2, kau tidur sianglah. Mas akan mengecek pekerjaan Mas." Dan akupun mengangguk dengan patuh.


"Haiii Diyara cantiknya Ayah, dan baby boy tampannya ayah, kalian bantu bunda bobo yaa," lirih mas Dimas sambil menciumi perutku hingga matanya tiba-tiba menangkap sesuatu diatas nacash.


"Apa ini? susu darimana?" tanya mas Dimas.


"Itu susu kedelai, mbok Rumi yang membuatnya atas keinginan ibu," ucapku.


"Ohh," mas Dimas seketika meminum susu itu sebanyak 2 tegukan.


"Heii, kenapa jadi Mas yang meminum susuku."


"Mas hanya semastikan susu ini benar susu kedelai atau bukan, tapi susu ini benar-benar enak. Sekarang minumlah..!!!"


Dan seketika susu kedelaipun telah habis, aku membaringakan tubuhku ke ranjang saat ini, dan Mas Dimas terus menyapu kepalaku hingga akhirnya kutertidur.


Ia-pun lanjut dengan pemeriksaan laporan di laptopnya.


Beberapa saat berlalu ...




Aku terbangun, perutku terasa mulas sekali dan terus memaksa untuk memberi haknya ke tolilet. Tapi ternyata ada mas Dimas yang sedang disana ...


Ia terhenyak melihatku baru beberapa saat tertidur tampak sudah berdiri di pintu toilet.


"Perutku mulas Mas ...."


"Kau merasakannya juga? Mas sudah 2x ini ke toilet, bagaimana ini bisa terjadi??


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


__ADS_2