
Mas Dimas masih mendekapku erat. Aku membiarkannya merasakan kehangatan tubuhku.
"Ly ...."
"Hmm ...."
"Apa kau menyesal mengenal Mas?"
Kugelengkan kepalaku, masih dalam dekapan mas Dimas. Kelak aku akan merindukan wangi tubuhmu ini Mas. batinku sambil berkali kuhirup wangi tubuh mas Dimas yang terbalut sweater hijau yang ia kenakan.
"Ly, bagaimana hubungan kita kelak?"
Kuangkat tubuhku dari pelukan mas Dimas dan kutatap matanya dengan seksama.
"Mas ... mulai besok anggaplah aku tak pernah ada?" ujarku serius.
Mas Dimas tampak kaget, "Maksudmu?"
"Kau harus buang aku dari hatimu Mas, abaikan aku jika kita bertemu, jangan pernah berkomunikasi denganku, lupakan segala yang pernah kita lalui. Dihatimu harus hanya ada mbak Friss!!" ujarku dengan memberi penekanan pada kalimat terakhirku.
"Haruskah begitu Ly?"
"Harus Mas. Bahkan ini adalah keputusan paling benar selama hidupku. Tak bisa kubayangkan mas, bagaimana selama ini Mbak Friss menahan sesaknya melihat kebersamaan kita. Aku sudah sangat menyakitinya," lirihku.
"Itu akan sangat sulit Ly ...."
"Apa Mas fikir itu mudah untukku?" Dan mataku mulai berkaca, kutahan agar butir kesedihanku tak menetes di hadapan mas Dimas.
"Setidaknya biarkan aku tetap berkomunikasi denganmu Ly!"
"Tidak mas. Ini salah, cukup!!. Kau akan segera menikah bukan? Kumohon mas, cintai mbak Friss seperti kau mencintaiku, beri ia perhatian seperti kau memperhatikanku, dan yang utama jangan pernah membuatnya bersedih mas. Kau mau berusaha melakukannya kan?" lirihku.
"Kenapa Kau membicarakan hal yang Mas tau ini menyakitkanmu Ly?"
"Gpp mas, anggaplah sakitku penebus kesalahanku terhadap mbak Friss," kutarik nafas untuk menahan sesak yang kurasa. Jangan menangis Ly, jangan ... batinku.
"Friss, Friss ... kenapa setiap orang senang sekali menyebut namanya," mas Dimas tampak kesal. Tangannya mengepal menahan amarahnya.
"Mas, jangan seperti ini." Kugenggam kepalan tangannya. Mas Dimas seketika meletakkan kepalanya di bahuku dan ia terisak, kusapu rambutnya menenangkannya. Mas Dimas tampak seperti anak kecil saat ini. Akupun tak mampu membendung air mataku.
🌻10 menit kemudian
Badai seolah telah berlalu. Aku dan mas Dimas telah tenang dan telah mampu menerima takdir kami.
Aku duduk di sebelah mas Dimas. Kami saling menengok, saling menatap dan tersenyum. Rasa bahagia terasa oleh kami. Bersyukur karna keadaan pernah mempertemukan dan mendekatkan kami.
"Ly, kelak kau harus pandai menjaga dirimu!" ujar mas Dimas dengan senyum kecil di sudut bibirnya.
Aku mengangguk memberinya senyum yang sama. Senyum yang sedikit kami paksakan sebagai tanda penerimaan takdir kami.
"Ly, boleh mas tanya padamu sesuatu?"
"Silahkan mas?"
"Siapa sosok lelaki yang terus mengikutimu di pesta tadi? dari mata dan perilakunya, sangat terlihat ia menyukaimu."
__ADS_1
"Ia teman mbak Dewi Mas," kuceritakan pada mas Dimas smua tentang Mbak Dew dan Firgie. Juga kebohonganku saat pertemuan kami di Mall XX tempo hari.
"Rupanya saat itu kau berani nakal ya Ly, kau bertemu pria lain di belakang Mas," ujar mas Dimas sambil mencubit hidungku.
"Aku hanya berfikir membantu mbak Dew mas," ujarku.
"Tapi aku menyetujui jika ia bersamamu, ia terlihat tulus dan berusaha menjagamu." Mas Dimas tampak menunduk kemudian mengangkat kepalanya kembali dan tersenyum.
"Ahh Mas, aku bahkan tidak memikirkan kesana. Kami hanya teman mas, dan setelah smua sepertinya aku akan fokus pada pekerjaan saja tidak memikirkan lelaki dahulu," lirihku.
"Maaf ya Ly, membuatmu jadi seperti ini."
"Tolong jangan berbicara maaf lagi Mas, aku sudah melupakannya. Pertemuan dan kedekatan kita tentunya tak luput dari takdirNYA. Dan hingga perpisahan ini tentunya Tuhan memiliki rencana di balik ini. Aku pernah mendengar bahwa IA tidak akan memberi ujian diluar batas kemampuan hambaNya. Bahwa yang di rencanakanNya pasti suatu kebaikan. Dan jika saat ini keadaan menghendaki perpisahan untuk kita, tentunya Ia telah mempersiapkan hal indah untuk kita kedepan."
"Ohh, kau sangat bijak Ly. Akan bertambah sulit Mas melupakanmu." Mas Dimas seketika menarik kepalaku untuk bersandar dibahunya.
"Mas ...."
"Tolong biar seperti ini Ly!! Setidaknya untuk malam ini. Bukankah esok kita akan menjadi orang asing?" Ia masih terus menatapku, menulusuri tiap inci wajahku dengan matanya.
"Jangan melihatku seperti itu Mas."
"Aku ingin merekam wajahmu Ly. Akan kubiarkan wajahmu tersimpan dihatiku."
"Simpan hatimu untuk wajah Mbak Friss saja mas!!"
"Ly, janji kau akan menjaga dirimu dengan baik ya!! Dan...perilaku tadi saat tiba-tiba memeluk mas jangan kau ulang pada pria manapun!!"
"Kau hendak curang kah Mas? tentunya aku tidak melarangmu memeluk/berbuat apapun dengan mbak Friss," ujarku bingung.
"Oh maaf, itu berbeda Ly. Friss kan akan jadi istriku, sedang kau wanita yang sendiri. Kau tau Ly wanita itu di ciptakan indah setiap bagian tubuhnya dan kau harus menjaga itu smua!" ujar mas Dimas sambil terus mengelus rambutku.
Mas Dimas masih berusaha menjelaskan sesuatu yang membuatku tak memahaminya *Masih cemburukah Ia.. setidaknya itu dalam batinku saat ini.
"Yang jelas kau wanita yang anggun dengan hijabmu. Kau harus jaga diri dan kehormatanmu Sayang. Sampai ada lelaki yang menghalalkanmu," lirih suara mas Dimas.
"Kalau yang kau maksud seperti itu aku paham Mas," ujarku sambil tersenyum kearah mas Dimas.
"Apa kau akan mengundangku dalam pernikahanmu mas?" ujarku lagi.
"Apa kau akan datang jika aku mengundangmu?" tampak serius dimata mas Dimas.
"Kenapa tidak, aku akan mendoakan kalian dengan sepenuh hatiku."
"Baik aku akan mengundangmu, tapi kau jangan datang sendiri. Ajaklah Firgie itu!!"
●POV DIMAS 》Oh ... kata-kata seperti ini aku bahkan belum memikirkan pernikahanku dan Friss. Kata-kata tentang do'amu untuk kami, ini terdengar sangat menyakitkan Ly dan bukankah ini menyakitkanmu juga?
Aku menahan sakitku Mas, setidaknya dimatamu aku benar-benar telah mengikhlaskanmu bersamanya, lirihku.
"Sayangg ...."
"Mas, jangan panggil aku seperti itu!!"
"Biarkan Ly! untuk saat ini saja."
__ADS_1
"Sayang ... aku sungguh bahagia pernah mengenalmu. Kau gadis yang baik Ly, semoga kelak kau menemukan seseorang sepertiku yang tulus mencintaimu Ly." Mas Dimas menggenggam tanganku dan mengecupnya.
Mas Dimasku, andai Kau benar-benar milikku..
"Andai bisa memilih. Aku akan minta dilahirkan dari keluarga lain yang tak memiliki hutang budi dengan siapapun. Sehingga aku bisa menentukan pilihanku sendiri Ly," lirih mas Dimas.
"Astagfirulloh ... jangan berandai seperti itu Mas. Kau seakan menentang takdirNya. Dan keluargamu yang sekarang itulah yang paling terbaik dalam rencanaNYa."
"Betull. Maafkan kata-kata mas Sayang..."
"Berjanjilah mas, kalau Kau kelak akan bersikap baik pada Friss. Menjaga dan mancintainya sepenuh hatimu! Jangan pernah bermain-main lagi!! Aku yakin mbak Friss memiliki banyak hal baik yang belum kau pahami dan semua karena kau menutup hatimu darinya. Buka hatimu untuk mbak Friss mas! Ia berhak memiliki cinta suaminya. Ia wanita yang akan melahirkan anak-anakmu. Pergaulilah Ia dengan baik seperti Kau menyayangi ibumu. Kau bisa berjanji mas?"
"Lyraku Sayang ... pasti beruntung orang yang memilikimu kelak. Iyaa, aku berjanji untukmu."
"Terima kasih Mas." Kuberi senyum terbaikku pada Mas Dimasku.
Jam Dinding menunjukkan pukul 21:45
"Sudah malam, pulanglah mas!!"
"Lyra ...." Mas Dimas berhambur memelukku kembali.
"Tidak bisakah esok kita bertemu lagi Ly? biarkan 1 hari lagi," bisik mas Dimas di telingaku.
"Tidak mas." Kudorong tubuh mas Dimas perlahan tampak matanya berkaca.
"Lyraa ...."
"Assalamu'alaikum," terdengar suara mbak Susi pulang diantar mas Bayu.
"Eh ada tamu," ujarnya.
Aku dan Mas Dimas seketika mengusap butiran air disudut mata kami masing-masing.
"Kami ganggu ya?" Ucap Mbak Susi melihat kecanggungan kami.
"Nggak mbak, oya kenalkan ini mas Dimas mbak."
"Mas, ini mbakku Mbak Susi dan ini Mas Bayu," ujarku saling mengenalkan mereka.
●POV SUSI 》Benar ... Ia adalah Dimas Engineering di PT . Tampan sekali dari dekat, hebat juga Lyra bisa mendapatkannya. Tapi mengapa mata mereka terlihat sembab seolah habis menangis?
"Oya, sudah malam mbak ... saya izin pulang," ujar mas Dimas yang membuatku sesak, tadi aku menyuruhnya pergi namun saat ia benar-benar akan pulang terasa sedih sekali terasa di hatiku. Mas Dimasku akan segera hilang ... esok ia tak ada lagi.
Aku mengantar mas Dimas keluar. Tampak mbak Susi dan Mas Bayu sedang bercengkrama di dalam.
Mas Dimas menggenggam tanganku. Tampak ia melihat sekeliling, dan ia mencuri pelukku kembali, mendekapku sesaat dan mencium pucuk rambutku. Kuhirup aroma tubuh mas Dimas untuk terakhir kalinya. Terdengar bisiknya, "Selamat tinggal Sayangg ...." Kemudian Ia melepaskan peluknya, tetesan air kembali tumpah dari mataku. Ia berlalu, sesekali ia berbalik kebelakang. Hingga jarak kami semakin jauh dan diambil motornya. Dan kemudian, "Aku benar-benar telah kehilangannya."
❤Tampak Mas Dimas dikediaman Lyra.
●●●●
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1