Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Berbicara Berdua


__ADS_3

Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


Lanjuutt yaa👋☺..


🌷🌷🌷


"Mass ...," lirihku karena tak ada sosok lain sudah pasti ini suamiku.


"Mas mencintai Lyra ... sangat ... Lyra tau perasaan Mas kan??"


"Iya Masss ...."


Seketika tangan kekar mas Dimas memutar tubuhku hingga menghadapnya dan memelukku dengan kuat hingga kusulit bernafas.


"Mas, kau kenapa? jangan terlalu kuat, aku sakit," lirihku.


Disapunya rambutku kebelakang, dan mas terus mengecup wajahku. Tampak Diyara merangkak dan dan meraih tubuhku hingga berdiri dengan topangan tangannya mencengkram tubuhku.


Ma ... Ma ... Maa ...


"Mass, sudahh ... Diyara nanti jatuh ini."


Happ ... dan seketika tangan mas Dimas segera menangkap tubuh mungil Diyara yang hampir saja terjatuh karena tangan mungilnya kehilangan arah.


"Maaf Sayangnya Ayah," dan Mas Dimas terus mencium sang putri kini karena merasa bersalah terbawa emosi beberapa saat lalu hingga sang putri hampir terjatuh.


Kuangkat tubuhku kini kearah ranjang Dirga yang terlihat mulai menghentakan kakinya memberi tanda bahwa ia mulai haus, akupun menyusui Dirga kini dengan keanehan di otakku, kenapa Mas Dimas bersikap emosional seperti tadi, ia memeluk tubuhku tak seperti biasa.


Terlihat mas Dimas membawa Diyara keluar kamar saat ini. Hingga beberapa saat akhirnya Dirga terlelap kembali dan melepaskan pucuk ASIku. Akupun segera melakukan ibadah Isya-ku setelahnya.





15 Menit beralu, Mas Dimas kembali ke kamar menggendong Diyara yang telah tertidur, iapun segera meletakkan tubuh mungil Diyara ke ranjangnya dan ke kamar mandi setelahnya. Tampak sebagian rambut yang basah kini menandakan mas Dimas hendak menjalankan ibadah Isyanya.




Ibadahnyapun selesai, Mas Dimas melepas outfit formalnya menyisakan boxer dan kaos oblong berwarna putih melekat di tubuhnya.


Iapun kemudian membaringkan tubuhnya namun aneh mas Dimas tampak memberi jarak tubuhnya dan tubuhku, kemudian ia memiringkan tubuhnya membelakangiku.


Ada apa denganmu Mass?" batinku.


Kubalikkan tubuhku dan kususupkan tanganku memeluk tubuh suamiku dari belakang, "Masss," bisikku.


"Hemm??" balasnya.


"Alhamdulillah pengajian malam ini berjalan lancar," ujarku.


"Iya ...."


"Masss, apa kau sudah enggan menatapku kah?" ujarku berusaha membuang kekakuan dan mencari tau yang terjadi.


Pancinganku berhasil, seketika mas Dimas membalikkan tubuhnya dan terus menatapku. Kurasakan jemari yang terus menyapu wajahku kini, hingga kemudian terlontar kata-kata dari bibirnya, "Sayang ... terima kasih terus mendampingi mas," lirihnya.


Akupun mengangguk.

__ADS_1


"Maaf prilaku Mas tadi yang hampir mencelakai Diyara," ujar mas Dimas kembali masih menyapu pipiku.


"Mass, jujurlah ... apa ada yang mengganggu fikiranmu saat ini?" Kutatap dalam wajah suamiku seraya kusapu lembut dadanya.


Kulihat mas Dimas tersenyum kecil disudut bibirnya. Tangannya menarik kepalaku kini hingga bersandar kedadanya. Berkali-kali kecupan di daratkan mas Dimas setelahnya di pucuk kepalaku.


"Tidak ada apa-apa, sesaat Mas takut kehilanganmu tadi," ujar mas Dimas membuka hal yang mengganggu fikirnya.


"Mass, hindari fikiran yang tak masuk akal seperti itu, aku istrimu dan selamanya akan menjadi istrimu," jawabku.


Sesaat kami terdiam, hingga tiba-tiba aku terfikir rasa penasaranku akan jawaban Firgie atas tanya ibu dibawah beberapa saat lalu, akupun berinisiatif menanyakannya pada mas Dimas.


"Mas, apa yang Firgie ucapkan menjawab tanya ibu tadi."


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya, kau tidak sedang memikirkannya kan?"


"Ahh, kau cemburu Mas, lupakanlah pertanyaanku."


"Iya aku memang tidak suka kau membicarakan laki-laki itu," gusar mas Dimas.


"Tapi dia calon adik iparmu Mas ...," godaku.


"Kata siapa?? Aku berubah fikiran menyandingkannya dengan Shifaa bahkan ibupun telah membaca ketidakseriusannya," ketus mas Dimas.


"Maksudmu ibu tidak menanggapi permohonan Firgie tadi kah??"



🌻***Firgie*** ...



"Nak Firgie, jujur ini terlalu cepat buat Ibu apalagi melihat usia Shifaa yang masih terlalu muda ibu fikir untuk menikah. Apa kau benar-benar yakin Shifaa adalah pilihan hatimu dan bukan sekedar yang penting ada pasangan atau bersama dengan yang saat ini dekat. Tapi sesungguhnya hatimu tidak benar-benar memilih Shifaa. Bisa saja mungkin hal seperti itu terjadi??" tegas ibu seraya menatapku dalam.




Ahh wanitaku, bagaimana caraku agar bisa menghilangkanmu, terasa begitu menusukku sebetulnya berada di rumah ini, karena lagi-lagi kau mempertontonkan kemesraanmu dengannya. Tapi aku hanya pria bodoh yang hanya bisa mencintai 1x. Dan tidak ingin menempatkan yang lain. Melihatmu tersenyum walau menusukku tapi telah menjadi pilihanku. Dekat denganmu, putra-putrimu mengapa ada kebahagiaan tersendiri kurasa walau semua laksana fatamorgana. Karna nyatanya kau bernafas kini dengan hembusan nyawanya.



Shifaa ...


Aku bahkan lupa mencintai, yang aku tau aku tak ingin kehilangan perhatian kembali. Terlalu tidak adil memang bersanding denganmu namun hatiku terpaut pada kakakmu. Tapi begitulah setidaknya caraku bernafas saat ini. Dengan melihatnya yang tak termiliki, yahh anggaplah semua waktuku penebus penglihatan yang kakakmu berikan. Walau nyatanya, setelah melihat aku tetap tak ubah layaknya pria buta yang merindu. Bedanya aku bisa melihat sosoknya.



Dan ibu dari gadis nakal yang ingin kusanding tampak membaca kebimbanganku, dan ia berujar kini ...



"Aku tidak menolakmu tapi tidak juga menerimamu, aku masih harus melihat kesungguhanmu nak Firgie. Shifaa anak gadis kami satu-satunya tentu aku tidak ingin segalanya terjadi seolah terburu-buru. Mantapkanlah dulu hatimu pada putri kami karna dari jawabanmu kau sedang berusaha artinya Shifaa belum benar-benar ada di hatimu," maaf kami izin ke kamar nak Firgie.





__ADS_1


Dan aku bersama Shifaa saat ini, walau ibunya membaca kebimbangan hatiku tapi tidak untuk gadis ini, sepertinya gadis ini sudah sangat besar mencintaiku. Ia terus bergelayut padaku, dan disana Lyra tampak melihat segalanya. Walau sudah kuberi jarak, tetap Shifaa senang sekali menempel padaku.


Dan aku pria normal yang senang dimanja seorang wanita, akupun menerimanya walau hayal bodohku seakan Lyra yang bersamaku.



🌻Lyra ...


Berhubung pagi tadi mas Dimas mendapat telefon untuk segera ke Bekasi bertemu rekannya, maka acara berkumpul para karyawannya harus diundur. Dan ibu Arini dan Ayah Arya memutuskan untuk kembali ke Bekasi pula karena memang pekerjaan ayah tak bisa di tinggal lama. Seperti halnya ibu dan Bapakku yang juga pulang pagi ini. Dan kondisi rumah sepilah kembali.


Menjelang sore tiba-tiba fikirku terus terfokus pada ucapan Fikra semalam, jika benar Firgie bersama Shifaa hanya untuk dekat denganku, semua tidak benar dan tak adil untuk Shifaa. Dan menurutku perlu untuk membenarkan ini. Firgiepun harus bangkit dan benar-benar menghapus aku dan menata hidupnya. Akupun memutuskan untuk bertemu Firgie sore ini akhirnya.




Dengan diantar Mang Diman, Bakulan Ketoprak Firgie telah dihadapanku kini. Dan baru beberapa langkah aku memasuki ruko seorang karyawan telah menghampiriku.


"Mbak Lyra??" sapa sang pegawai.


"Iya saya."


"Silahkan ikut saya," sopan sang pegawai menggiringku masuk ke ruangan tertutup dengan plat tertempel dipintu, "Ketuk dahulu sebelum masuk."


Setelah terdengar suara mempersilahkan, sang pegawai tampak membukakan-ku pintu dan memintaku masuk kedalam. Iapun meninggalkan kami setelahnya.


Pintupun tertutup kini, walau kami sudah sering bertemu, namun bertemu berdua dalam ruang kotak yang tertutup tampak aneh kurasa. Firgie tampak duduk di sofa dan menungguku mendekat. Matanya tak melepas pandangannya atasku. Pandangan yang sudah lama tak kutemui.


"Duduklah Ly," ucap Firgie. Ia seketika berdiri dan mengambil teh manis botol dari lemari pendingin mini di ruangannya.


"Terima kasih," ucapku.


"Jujur aku kaget menerima pesan bahwa kau akan kemari. Ada hal pentingkah Ly?"


"Gie, aku kesini hanya untuk memastikan sesuatu dan mohon kau jangan salah paham dengan kedatanganku," tegasku.


"Memastikan apa?"


"Perasaanmu pada Shifaa. Apa kau benar-benar tulus mencintainya Gie? Kau serius ingin menyanding Shifaa bersamamu-kah?" lirihku.


"Apakah semua penting untukmu mengetahuinya Ly?"


"Penting Gie, karena wanita yang kau minta adalah adikku. Maaf, jika kau bersamanya dengan tujuan lain sebaiknya kau urungkan saja niatmu."


"Tujuan lain maksudnya?" Firgie tampak membalikkan tanyanya kini padaku.


"Gie, katakan kau sudah melupakanku sepenuhnya bukan?"


"Haruskah aku jujur?"


Dan akupun menngangguk.


"Lyra ... sejujurnya hanya kau yang aku inginkan tidak wanita yang lain."


"Maksudmu Gie??"


"Lyraa ... aku tau ini tak benar. Tapi bagaimana lagi jika hatiku tak menginginkan sosok lain selainmu???


Gie ....


🌷🌷🌷

__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2